Skip to main content

Catatan Ulang Tahun

Hey orang tua, jangan umbar kata. Ingatlah bahwa kau juga penuh muda, pernah lucu pernah lugu dan tak bijaksana.

Sebentar lagi, saya akan memasuki usia kepala tiga. Pergantian usia yang menjadi momen besar bagi sebagian orang, dan menjadi penanda bagi sebagian besar wanita untuk mulai membeli produk perawatan kulit dengan embel-embel 'anti-aging'. Di sisi lain, jelang usia tiga puluh bagi banyak orang diidentikkan dengan peralihan fase dari muda menjadi dewasa. Dewasa dalam hal bersikap, berperilaku, termasuk mungkin dewasa dalam penampilan dan dewasa dalam hal sudah mapan, entah dalam wujud pekerjaan, penghasilan, atau berkeluarga. Mungkin sebagian orang memasang target menikah di usia ini, atau membeli rumah, memiliki anak atau hal-hal besar lainnya.

Hey kau yang muda, jadilah berguna bagi dirimu dan sanak saudara. Sudahi saja pestamu dan luangkan waktu, melakukan sesuatu untuk masa depanmu.

Sepenggal lirik lagu dari salah satu band favorit saya, Silampukau, mengusik pikiran saya beberapa waktu yang lalu ketika saya menulis resolusi untuk tahun baru. Dari luar, saya tidak tampak sama sekali seperti party girl (dan memang bukan, sih), tapi percayalah, saya menjalani masa muda dengan bersenang-senang, cukup menantang, sedikit nakal dan bahkan beberapa di antaranya melanggar hukum walau tak jadi catatan kriminal. Tentu saja saya sudah meninggalkan sebagian besar 'pesta' masa muda saya. Namun, sudahkah saya meluangkan, benar-benar menyediakan waktu untuk melakukan sesuatu demi masa depan saya? Atau lebih jauhnya, menjadi berguna bagi diri sendiri dan sanak saudara? Mungkin belum.


Dalam banyak hal, saya merasa bahwa entah mengapa dan bagaimana, bersamaan dengan pesta, saya juga meninggalkan banyak hal yang bermakna dalam hidup, salah satunya keinginan untuk mengabdi dan berguna bagi sesama. Di masa muda saya memandang diri saya di masa depan akan menjadi seperti Butet Manurung, seperti Andri Rizki Putra, atau Leonardus Kamilius yang mengabdikan hidupnya untuk sesama dalam bidang yang mereka pilih. Tidak, saya tidak pernah bermimpi jadi corong  yang menyuarakan perubahan semacam Robi Navicula, Farid Stevy Asta, Ayu Utami atau Andrew Lumban Gaol. Saya tahu saya tidak punya cukup bakat dan kharisma untuk menjadi seperti mereka. Role model saya lebih membumi: Butet, Andri, dan Leon. Salah satunya bahkan sempat berinteraksi langsung dan saya sangat bahagia menjadi bagian mimpinya: Sekolah Masjid.

Ya, di suatu titik dalam hidup saya, saya pernah punya cita-cita mulia, pernah ingin mengabdikan hidup untuk menjadikan dunia ini lebih baik. Saya mengajar gratis di sebuah sekolah darurat di perkampungan kumuh pemulung. Saya mengumpulkan buku-buku bacaan untuk dikirimkan buat anak-anak di pedalaman Kalimantan. Saya menulis dan mencetak buletin amal untuk dijual, lalu dananya disumbangkan ke konservasi orangutan. Lalu kemudian saya meninggalkan itu semua, dan merasa baik dengan sesekali menyumbangkan sejumlah rupiah tak berarti ke beberapa organisasi amal. Saya merasa baik hanya dengan melihat dari jauh dan merasa berkontribusi. Mengapa? Entahlah. Mungkin saya mulai sibuk bekerja, lalu sibuk mempersiapkan pernikahan, lalu sibuk mengurus keluarga, atau mungkin saya mulai melihat kehidupan lain di luar hidup sebagai relawan, yang lebih gemerlap, lebih menjanjikan gelak tawa dan keceriaan.

Padahal dalam hati, saya tahu, saya sebenarnya bisa tetap menjalani cita-cita (mulia) saya seandainya saya mau dan punya sedikit saja tekad. Dan padahal saya juga tahu, di luar keluarga yang saya bangun dengan suami dan kini anak-anak saya, dunia baru yang saya temukan sama sekali tidak memberikan rasa puas yang saya kira saya inginkan. Saya yang dulu lebih mudah bersyukur. Saya yang dulu menghargai hal-hal kecil yang alam dan orang lain berpikir. Saya yang dulu merasa penuh, merasa cukup dan tergenapi, bahkan di tengah segala keterbatasan yang saya miliki. Dan lihatlah saya sekarang, saya memiliki banyak hal yang mungkin belum diraih orang lain di usia yang sama, namun ada sebagian sisi diri saya yang merasa sangat kekurangan.

Hey anak muda, teruslah berkarya. Selagi muda, taklukkanlah dunia. Dan pasti kelak tuamu terperangkap rindu, akan cerita yang kaubagi pada anak cucu.

Di atas segala hal, saya ingin menjadi teladan yang baik untuk anak-anak saya ketika mereka bertumbuh dewasa. Saya ingin menjadi ibu yang ketika mereka mengenang saya nanti, mereka bisa merasa bangga. Bukan karena ibunya CEO, bukan karena ibunya membelikan mereka segunung lego terbaru, dan tanpa mengecilkan peranan ibu rumah tangga, saya ingin mereka tidak mengenang saya sebatas sebait lagu pengantar tidur atau semangkuk sup favorit penyembuh pilek. Saya ingin mereka mengenang ibunya sebagai seorang manusia, seorang perempuan, yang berusaha membuat perubahan. Yang menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik, lebih ramah, dan lebih nyaman untuk ditinggali. Walaupun hanya dalam bentuk mengajar anak-anak putus sekolah atau menyediakan perpustakaan gratis bagi mereka yang tidak mampu.

Iya, misi hidup saya, saya temukan di usia yang jelang tiga puluh ini, ternyata cukup sederhana. Dan saya sangat ingin segera memulainya.

Comments

  1. Mbak, ultahnya kapan nih? Selamat ya ;) Semoga makin bijak dan makin disayang keluarga.. Dan berkat tak berhenti mengalir! Hohoho salam kenal ;)

    ReplyDelete
  2. terima kasih, Grace... hehehe... beberapa hari yang lalu sih... makasih ya doa baiknya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

bagian tersulit adalah berputar haluan

Saat pertama kali belajar menyetir, salah satu yang membuat saya takut adalah saat saya harus putar balik di jalan yang cukup ramai. Mengapa menakutkan? Karena saya mudah panik, butuh keberanian untuk membelokkan mobil dengan sedikit menghambat kendaraan-kendaraan lain di belakang yang terus mengklakson, dan kadang harus memotong arus jalan pengendara lain yang berlawanan arah dengan saya, yang memelototi saya dengan kesal karena merasa perjalanannya terganggu. Proses memotong jalan itu sangat tidak nyaman untuk saya ketika itu, sebab apabila panik, seringkali saya buru-buru melepas kopling tanpa diimbangi gas yang hasilnya mesin mati, atau kurang tepat mengukur seberapa banyak saya harus memutar setir, yang akhirnya membuat mobil saya mentok di trotoar, lalu saya harus memundurkannya dan membelokkannya kembali. Merepotkan.

Karena itu, saya sering memilih untuk nggak putar balik di tempat ramai itu dan jalan terus, lalu nanti belok kanan di perempatan, lalu belok kanan lagi di peremp…

Nyes di Hati

Bulan lalu, saya bersama beberapa teman dari Komunitas Jendela Nusantara melakukan perjalanan ke salah satu pulau terluar di utara Indonesia. Perjalanan ini merupakan kelanjutan dari program mengajar mereka di daerah tertinggal. Saya membawa kedua krucil saya, Mbak Rocker dan si Racun Api, dengan kapal sungai, dilanjut perjalanan darat dan kapal kecil.
Perjalanan kali ini sangat berkesan bagi saya terutama karena saya membawa dua buah hati saya. Walaupun saya sering mengikuti acara semacam ini sejak kuliah, namun pergi bersama dua anak kali ini sangat berbeda. Bukan terutama karena kerepotan di perjalanan, namun perjalanan ini banyak menyisakan nyes di hati. Nyes melihat kondisi pendidikan di perbatasan baik dari segi sarana prasarana, ketiadaan guru-guru, maupun kurikulum pendidikan yang belum jelas karena pengajar saja nggak ada. Nyes melihat betapa timpangnya pembangunan di daerah perbatasan dibandingkan dengan Pulau Jawa. Nyes melihat masih banyaknya penduduk Indonesia yang tak t…