Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Jajan

Cus Demimoore (yang saya sebut demikian karena model rambutnya yang ala Demi di film Ghost), sering mengkritik saya tentang kebiasaan jajan Mbak Rocker dan si Racun Api. Banyak dan ada-ada saja lah protes Cus Demimoore ini soal jajannya anak-anak: yang kebanyakan lah, yang nggak sehat lah, yang nggak dimakan lah... Eman Bu, eman... kata Cus selalu yang cuma saya balas dengan tertawa.
Sebenarnya, bukan cuma Cus Demimoore yang hobi berkomentar tentang jajan ini. Kayaknya, banyak deh teman yang sering syok melihat si Racun Api makan oreo sambil minum es puter (terutama yang anaknya hanya ngemil granola bar dan salad zukini). Ada juga yang syok melihat Mbak Rocker sudah pintar memanggil tukang cilok, tukang bakso, tukang es, sementara dia baru berniat mengenalkan wacana jajan pada anaknya di usia SD. Belum lagi kebiasaan saya memberikan uang jajan kepada anak-anak sepulang sekolah setelah saya mengantar mereka pulang dan berpamitan kepada mereka untuk kembali ke kantor.

"Anak sekeci…

Nyes di Hati

Bulan lalu, saya bersama beberapa teman dari Komunitas Jendela Nusantara melakukan perjalanan ke salah satu pulau terluar di utara Indonesia. Perjalanan ini merupakan kelanjutan dari program mengajar mereka di daerah tertinggal. Saya membawa kedua krucil saya, Mbak Rocker dan si Racun Api, dengan kapal sungai, dilanjut perjalanan darat dan kapal kecil.
Perjalanan kali ini sangat berkesan bagi saya terutama karena saya membawa dua buah hati saya. Walaupun saya sering mengikuti acara semacam ini sejak kuliah, namun pergi bersama dua anak kali ini sangat berbeda. Bukan terutama karena kerepotan di perjalanan, namun perjalanan ini banyak menyisakan nyes di hati. Nyes melihat kondisi pendidikan di perbatasan baik dari segi sarana prasarana, ketiadaan guru-guru, maupun kurikulum pendidikan yang belum jelas karena pengajar saja nggak ada. Nyes melihat betapa timpangnya pembangunan di daerah perbatasan dibandingkan dengan Pulau Jawa. Nyes melihat masih banyaknya penduduk Indonesia yang tak t…

Ode to My Civic

Halo, semua! Dua minggu ini adalah minggu yang lumayan seru buat keluarga kami, dimulai dari ulang tahun saya yang ketiga puluh, kepulangan Mr Defender dari perjalanan dinas panjangnya, disusul dengan si Racun Api yang ndilalah ujug-ujug kena cobaan hidup, kecelakaan dalam salah satu atraksi akrobatnya di playground dan berakhir dengan jahitan telinga serta operasi tulang rawan yang membuat kami menginap tiga hari di rumah sakit. Syukurnya semua cepat berlalu dan si Racun Api saat ini sudah kembali berlaga akrobatik. Kemudian rumah kami kedatangan tamu agung, ibu saya dari Jogja yang khawatir dengan kondisi si Racun Api. Padahal bocahnya riang-riang saja, hehehe. 
Di antara semua keseruan di rumah kami, ada satu agenda yang menjadi terlupakan, yaitu mobil sedan tua saya. Sejak menikah sampai hari ini, kami menggunakan sebuah Grandcivic tahun 1990 sebagai alat transportasi. Mobil ini merupakan mobil bersejarah bagi kami. Kami membelinya dari bapak saya beberapa minggu sebelum menikah.…

Catatan Ulang Tahun

Hey orang tua, jangan umbar kata. Ingatlah bahwa kau juga penuh muda, pernah lucu pernah lugu dan tak bijaksana.
Sebentar lagi, saya akan memasuki usia kepala tiga. Pergantian usia yang menjadi momen besar bagi sebagian orang, dan menjadi penanda bagi sebagian besar wanita untuk mulai membeli produk perawatan kulit dengan embel-embel 'anti-aging'. Di sisi lain, jelang usia tiga puluh bagi banyak orang diidentikkan dengan peralihan fase dari muda menjadi dewasa. Dewasa dalam hal bersikap, berperilaku, termasuk mungkin dewasa dalam penampilan dan dewasa dalam hal sudah mapan, entah dalam wujud pekerjaan, penghasilan, atau berkeluarga. Mungkin sebagian orang memasang target menikah di usia ini, atau membeli rumah, memiliki anak atau hal-hal besar lainnya.
Hey kau yang muda, jadilah berguna bagi dirimu dan sanak saudara. Sudahi saja pestamu dan luangkan waktu, melakukan sesuatu untuk masa depanmu.
Sepenggal lirik lagu dari salah satu band favorit saya, Silampukau, mengusik pikiran …

Sumarah

Tahun ini berawal dengan cukup berat bagi orang-orang di sekeliling saya: seorang anggota keluarga inti sakit, seorang kolega yang cukup dekat dengan kami kehilangan posisi penting di tempat kerjanya, dan beberapa kawan lama mengalami masa-masa yang sulit. Bukan cara paling menyenangkan untuk mengawali tahun baru, tentunya. Belum lagi cuaca yang tidak menentu, pemadaman listrik yang rasanya kok makin sering saja di pulau kecil kami, dan kenyataan bahwa hujan tidak turun di salah satu hari favorit saya dalam setahun: tahun baru imlek. 
Sangat mudah untuk pupus harapan bahkan sebelum bulan Februari dimulai. Namun, minggu lalu kami mengalami satu kejadian yang lucu-lucu menyebalkan. Sepatu anak laki-laki saya, si Racun Api, tertukar di sekolah. Sepatu ini sepatu biasa sebenarnya, namun sedang hits di kalangan anak seumurannya. Sekolah anak-anak saya, Mbak Rocker dan si Racun Api, memang mewajibkan anak-anak melepas alas kaki sebelum memasuki sekolah. Ini bukan pertama kalinya si Racun A…

Cerita Odong Odong

Kemarin, anak-anak sedang luar biasa aktif dan rewelnya. Setelah seharian nggak tidur siang menurut laporan pengasuhnya, sore-sore ketika saya pulang kantor mereka minta diajak makan "epsi", istilah Mbak Rocker untuk KFC. Sebagai ibu bekerja yang sadar diri kurang banyak meluangkan waktu dengan anaknya, maka saya pun seperti biasa menebus rasa bersalah itu dengan memanjakan mereka dalam hal jajanan, hahaha... Pergilah kami berempat ke KFC, di mana mereka seperti biasa nggak hanya makan, tetapi main perosotan. Kebetulan juga lantai kedua gedung KFC itu memiliki tempat bermain ala-ala Timezone, dan anak-anak, seperti yang sudah diduga, minta lanjut ke lantai dua.
Magrib sudah menjelang, anak-anak belum juga puas bermain. Padahal saya, duh, boyok sudah mau copot rasanya setelah seharian tadi bekerja di kantor, bolak-balik kantor-rumah-sekolah-pasar-kantor lagi, belum lagi menangkapi si Racun Api yang maunya loncat saja dari ujung perosotan. Belum lagi badan saya rasanya lengke…

Selamat Tahun Baru

Di akhir tahun lalu, saya sempat berpindah tempat menulis. Bukan hanya berpindah tempat, sebenarnya, tetapi secara keseluruhan saya mengubah apa yang saya tulis, karena... yah karena. Just because. Sebelumnya saya merasa bahwa tulisan di blog ini kurang positif, dan saya ingin menjadi orang yang lebih positif, lebih ceria, menuliskan hal yang lebih bermanfaat apalagi karena sekarang saya telah menjadi istri dan ibu. Jadi menulislah saya tentang berbagai hal itu: tentang bagaimana menjadi seorang ibu.

Lalu saya menyadari bahwa blog baru saya tidak mencerminkan diri saya. Saya merasa menulis apa yang tidak saya minati. Tentu apa yang saya tulis itu nyata dan tidak palsu: saya menulis tentang traveling, tentang tips-tips memerah ASI dan hal kekinian lain berdasarkan apa yang saya alami, namun tetap saja itu bukan diri saya. Diri saya, tidak akan menulis hal-hal seperti itu, karena... yah karena. Dan lagipula, bukankah sudah banyak tulisan bermanfaat seperti itu, tidak ada orang lain yan…