Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Upin Ipin, Kapal Nabi Nuh, dan Kritis dalam Beragama

Suatu sore saya menonton serial Upin dan Ipin bersama kedua anak saya. Saya sendiri, juga Mr Defender, cukup menyukai serial satu ini. Selain terutama karena penggambaran karakternya yang sangat realistis (bandingkan dengan anak jagoan di serial Shiva atau Adit Sopo Jarwo, misalnya), juga karena jalan ceritanya yang (lagi-lagi) realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sore itu di Upin dan Ipin, anak-anak Kampung Durian Runtuh pergi mengaji. Digambarkan Ustadz yang mengajar ngaji orangnya menyenangkan dan senang menceritakan kisah nabi. Kali itu, dia bercerita tentang bahtera Nabi Nuh. Namun belum selesai dia bercerita, waktunya habis dan dia memutuskan ceritanya akan dilanjutkan esok hari.
Karena terbawa cerita seru dan penasaran dengan kelanjutannya, Upin Ipin mengobrolkan kisah Nabi Nuh dalam perjalanan pulang mengaji dengan sahabat-sahabatnya: Ehsan, Fizi dan Mail. Rupanya Mail sudah pernah mendengar cerita Nabi Nuh, sehingga anak yang lain menanyakan kelanjutannya. Perta…

Merdeka!

Tujuhbelasan ini anak-anak saya yang sudah mengerti sedikit bahwa tiap tujuhbelasan ada berbagai perayaan, ikut meramaikan hari ulangtahun kemerdekaan dengan segenap keriaan. Mulai dari ikutan berbagai rangkaian acara di sekolah dampai berpartisipasi di acara tujuhbelasan di RT kami yang setiap tahunnya meriah. Kalau tahun-tahun sebelumnya anak-anak saya cuma bisa menonton, di tahun ini mereka sudah ikut berbagai macam lomba. Lomba lari kelereng, memasukkan jarum ke dalam botol, makan kerupuk, balap karung dan aneka lomba khas hari kemerdekaan lainnya, semuanya mereka ikuti.

Nggak tanggung-tanggung, pulang dari gelanggang tujuhbelasan, anak-anak saya membawa hadiah banyak sekali. Sampai di rumah mereka masih dengan keringat berleleran seperti habis membajak sawah, bercerita dengan bangganya betapa mereka menang ini itu. Di sana juga mereka makan, karena memang disediakan makanan prasmanan seperti sedang hajatan, lengkap dengan aneka jajanan ringan dan minuman sirup aneka rasa.

Meliha…

Kacang Polong dan Caca Boudin

Sebagai seseorang yang menjalani masa remaja dan dewasa muda bersama orang-orang 'jalanan', misuh atau mengucapkan makian menjadi hal yang biasa buat saya. Biasa bukan dalam artian saya biasa misuh-misuh setiap hari, tapi lebih ke saya paham bahwa kadang pisuhan atau kata umpatan itu tidak bermakna apa-apa. Tidak bermaksud buruk, kadang hanya sebagai ungkapan ekspresi (seperti jancok-nya Sujiwo Tedjo) dan bahkan kadang dalam konteks pujian (misalkan dalam "Jancok ayu tenan arek iku"). Intinya, saya sangat menolerir kata umpatan sepanjang bukan yang kasar dan merendahkan, misalkan anjing. Walaupun saya sangat menyukai anjing, tetapi saya mengerti bahwa bagi sebagian orang dikatai anjing terasa merendahkan. Kalau saya pribadi sih, lebih tersinggung kalau dipanggil maling, hehehe.

Setelah saya menjadi orang tua, bisa dibilang saya tidak terlalu menyaring 'keanekaragaman bahasa' yang diperoleh anak-anak dari pergaulan dengan anak-anak tetangga maupun teman-teman…

Everybody's Changing

Pernah nggak sih, ketemuan sama teman lama secara tak sengaja, lalu dapat komentar, "Kamu berubah, ya." Pernah? Saya sering.
Terus, pernah nggak setelah diklaim berubah oleh si teman lama itu, hubungan kalian berubah renggang? Saya juga pernah.
Apakah saya sebagai pihak yang diklaim berubah itu memang merasa berubah? Ya iyalah, bray, namanya juga hidup. Memangnya ada orang yang bertahun-tahun nggak berubah selain keluarga The Cullens dan Syahrul Gunawan? Sejujurnya, ada kali ya. Tapi kodrat manusia itu kan memang berubah ya, seiring perputaran bumi dan planet-planet. Ya nambah umur, nambah ijazah, nambah anak, rumah, mobil, pokoknya berubah lah.
Buat sebagian orang termasuk saya, perubahan yang dialami bukan cuma perubahan superficial yang tampak di luar, tapi mungkin isi jeroan saya banyak berubah, termasuk cara pandang saya terhadap hidup, yang mungkin membuat perubahan saya langsung terasa sehingga langsung menuai klaim: KAMU BERUBAH!
Tapi coba deh, ya, pikir lagi, apa s…

Merantau

Sudah lebih dari sepuluh tahun saya hidup di rantau, dalam artian jauh dari orang tua dan keluarga. Selama sepuluh tahun itu saya berubah-ubah aktivitas dan pekerjaan: mahasiswa, karyawan, lalu mahasiswa lagi dan karyawan lagi. Selama itu juga status dan predikat saya berubah-ubah: dari single and available, in a relationship, single lagi, it's complicated (serasa status facebook ya, hahaha) sampai pada in a relationship with 50% chance of marriage, kemudian engaged, married, married with a kid, married with two kids...  Bahkan saya juga berpindah kota, negara, dan pulau selama sepuluh tahun ini.


Semua perjalanan dan tahapan kehidupan itu saya lalui dalam keadaan jauh dari keluarga inti. Bahkan saya melahirkan kedua anak saya tanpa didampingi ibu saya, yang dulu saya kira pasti akan ada menemani di sisi ranjang di ruang bersalin, sebab siapa lagi yang akan menenangkan saya?

Tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelum merantau, saya akan menjadi sangat detached dari keluarga inti s…

Mudik

Mudik rasanya lekat sekali dengan kebiasaan (atau bahkan kebudayaan) bangsa kita di saat hari raya Idul Fitri. Wajar sih, karena sebagian besar warga Indonesiia beragama Islam dan merayakan Idul Fitri. Idul Fitri atau lebaran menjadi momen untuk berkumpul bersama keluarga dan bermaaf-maafan. Idul Fitri juga disertai dengan momen sungkem dan halal bi halal keluarga besar yang sudah setahun tidak bertemu entah karena kesibukan atau karena memang tinggal berjauhan. Bahkan acara reuni sekolah atau teman kuliah pun seringkali dilakukan pada momen puasa dan lebaran.
Nah di momen mudik ini semua yang bekerja di luar kota rasanya wajib banget untuk pulang kampung. Biarpun tiket susah atau macet di jalan, mudik tetap jalan terus. Sampai-sampai meliput arus mudik menjadi agenda tahunan setiap stasiun televisi. Rasanya kayak nggak afdol kali ya lebaran nggak di kampung halaman. Bahkan berbagai kecelakaan bis, kereta, sampai tragedi tol Brebes pun tidak menggentarkan semangat para pemudik untuk …

Mata yang Enak Dipandang

Saya punya beberapa teman perempuan yang mempunyai kualitas yang menurut saya langka: mata yang enak dipandang. Bukan mata yang indah secara fisik, atau mata yang dibalut make up mata yang sempurna dan alis yang paripurna, tetapi yang punya kemampuan ajaib meneduhkan hati mereka yang menatapnya. Bukan hipnotis lho ya, cuma menyejukkan, begitu.
Saya paling sering mendatangi teman-teman dengan mata yang enak dipandang ini setiap saya sedang  ada masalah, rindu rumah, penat, atau cuma resah yang nggak jelas juga sebabnya apa. Pokoknya sewaktu perasaan saya nggak enak. Biasanya secara otomatis saya terpikirkan si teman ini, lalu saya mendatangi mereka, dan mereka hampir selalu available serta menerima saya dengan tangan terbuka. Kadang saya menceritakan masalah saya pada mereka, dan mereka mendengarkan dengan penuh perhatian, menggenggam tangan saya, menemani saya ngobrol dengan secangkir teh hangat dan cemilan. Kadang mereka memberikan nasihat, kadang juga tidak, namun mereka mendengark…

Jajan

Cus Demimoore (yang saya sebut demikian karena model rambutnya yang ala Demi di film Ghost), sering mengkritik saya tentang kebiasaan jajan Mbak Rocker dan si Racun Api. Banyak dan ada-ada saja lah protes Cus Demimoore ini soal jajannya anak-anak: yang kebanyakan lah, yang nggak sehat lah, yang nggak dimakan lah... Eman Bu, eman... kata Cus selalu yang cuma saya balas dengan tertawa.
Sebenarnya, bukan cuma Cus Demimoore yang hobi berkomentar tentang jajan ini. Kayaknya, banyak deh teman yang sering syok melihat si Racun Api makan oreo sambil minum es puter (terutama yang anaknya hanya ngemil granola bar dan salad zukini). Ada juga yang syok melihat Mbak Rocker sudah pintar memanggil tukang cilok, tukang bakso, tukang es, sementara dia baru berniat mengenalkan wacana jajan pada anaknya di usia SD. Belum lagi kebiasaan saya memberikan uang jajan kepada anak-anak sepulang sekolah setelah saya mengantar mereka pulang dan berpamitan kepada mereka untuk kembali ke kantor.

"Anak sekeci…

Nyes di Hati

Bulan lalu, saya bersama beberapa teman dari Komunitas Jendela Nusantara melakukan perjalanan ke salah satu pulau terluar di utara Indonesia. Perjalanan ini merupakan kelanjutan dari program mengajar mereka di daerah tertinggal. Saya membawa kedua krucil saya, Mbak Rocker dan si Racun Api, dengan kapal sungai, dilanjut perjalanan darat dan kapal kecil.
Perjalanan kali ini sangat berkesan bagi saya terutama karena saya membawa dua buah hati saya. Walaupun saya sering mengikuti acara semacam ini sejak kuliah, namun pergi bersama dua anak kali ini sangat berbeda. Bukan terutama karena kerepotan di perjalanan, namun perjalanan ini banyak menyisakan nyes di hati. Nyes melihat kondisi pendidikan di perbatasan baik dari segi sarana prasarana, ketiadaan guru-guru, maupun kurikulum pendidikan yang belum jelas karena pengajar saja nggak ada. Nyes melihat betapa timpangnya pembangunan di daerah perbatasan dibandingkan dengan Pulau Jawa. Nyes melihat masih banyaknya penduduk Indonesia yang tak t…

Ode to My Civic

Halo, semua! Dua minggu ini adalah minggu yang lumayan seru buat keluarga kami, dimulai dari ulang tahun saya yang ketiga puluh, kepulangan Mr Defender dari perjalanan dinas panjangnya, disusul dengan si Racun Api yang ndilalah ujug-ujug kena cobaan hidup, kecelakaan dalam salah satu atraksi akrobatnya di playground dan berakhir dengan jahitan telinga serta operasi tulang rawan yang membuat kami menginap tiga hari di rumah sakit. Syukurnya semua cepat berlalu dan si Racun Api saat ini sudah kembali berlaga akrobatik. Kemudian rumah kami kedatangan tamu agung, ibu saya dari Jogja yang khawatir dengan kondisi si Racun Api. Padahal bocahnya riang-riang saja, hehehe. 
Di antara semua keseruan di rumah kami, ada satu agenda yang menjadi terlupakan, yaitu mobil sedan tua saya. Sejak menikah sampai hari ini, kami menggunakan sebuah Grandcivic tahun 1990 sebagai alat transportasi. Mobil ini merupakan mobil bersejarah bagi kami. Kami membelinya dari bapak saya beberapa minggu sebelum menikah.…

Catatan Ulang Tahun

Hey orang tua, jangan umbar kata. Ingatlah bahwa kau juga penuh muda, pernah lucu pernah lugu dan tak bijaksana.
Sebentar lagi, saya akan memasuki usia kepala tiga. Pergantian usia yang menjadi momen besar bagi sebagian orang, dan menjadi penanda bagi sebagian besar wanita untuk mulai membeli produk perawatan kulit dengan embel-embel 'anti-aging'. Di sisi lain, jelang usia tiga puluh bagi banyak orang diidentikkan dengan peralihan fase dari muda menjadi dewasa. Dewasa dalam hal bersikap, berperilaku, termasuk mungkin dewasa dalam penampilan dan dewasa dalam hal sudah mapan, entah dalam wujud pekerjaan, penghasilan, atau berkeluarga. Mungkin sebagian orang memasang target menikah di usia ini, atau membeli rumah, memiliki anak atau hal-hal besar lainnya.
Hey kau yang muda, jadilah berguna bagi dirimu dan sanak saudara. Sudahi saja pestamu dan luangkan waktu, melakukan sesuatu untuk masa depanmu.
Sepenggal lirik lagu dari salah satu band favorit saya, Silampukau, mengusik pikiran …

Sumarah

Tahun ini berawal dengan cukup berat bagi orang-orang di sekeliling saya: seorang anggota keluarga inti sakit, seorang kolega yang cukup dekat dengan kami kehilangan posisi penting di tempat kerjanya, dan beberapa kawan lama mengalami masa-masa yang sulit. Bukan cara paling menyenangkan untuk mengawali tahun baru, tentunya. Belum lagi cuaca yang tidak menentu, pemadaman listrik yang rasanya kok makin sering saja di pulau kecil kami, dan kenyataan bahwa hujan tidak turun di salah satu hari favorit saya dalam setahun: tahun baru imlek. 
Sangat mudah untuk pupus harapan bahkan sebelum bulan Februari dimulai. Namun, minggu lalu kami mengalami satu kejadian yang lucu-lucu menyebalkan. Sepatu anak laki-laki saya, si Racun Api, tertukar di sekolah. Sepatu ini sepatu biasa sebenarnya, namun sedang hits di kalangan anak seumurannya. Sekolah anak-anak saya, Mbak Rocker dan si Racun Api, memang mewajibkan anak-anak melepas alas kaki sebelum memasuki sekolah. Ini bukan pertama kalinya si Racun A…

Cerita Odong Odong

Kemarin, anak-anak sedang luar biasa aktif dan rewelnya. Setelah seharian nggak tidur siang menurut laporan pengasuhnya, sore-sore ketika saya pulang kantor mereka minta diajak makan "epsi", istilah Mbak Rocker untuk KFC. Sebagai ibu bekerja yang sadar diri kurang banyak meluangkan waktu dengan anaknya, maka saya pun seperti biasa menebus rasa bersalah itu dengan memanjakan mereka dalam hal jajanan, hahaha... Pergilah kami berempat ke KFC, di mana mereka seperti biasa nggak hanya makan, tetapi main perosotan. Kebetulan juga lantai kedua gedung KFC itu memiliki tempat bermain ala-ala Timezone, dan anak-anak, seperti yang sudah diduga, minta lanjut ke lantai dua.
Magrib sudah menjelang, anak-anak belum juga puas bermain. Padahal saya, duh, boyok sudah mau copot rasanya setelah seharian tadi bekerja di kantor, bolak-balik kantor-rumah-sekolah-pasar-kantor lagi, belum lagi menangkapi si Racun Api yang maunya loncat saja dari ujung perosotan. Belum lagi badan saya rasanya lengke…

Selamat Tahun Baru

Di akhir tahun lalu, saya sempat berpindah tempat menulis. Bukan hanya berpindah tempat, sebenarnya, tetapi secara keseluruhan saya mengubah apa yang saya tulis, karena... yah karena. Just because. Sebelumnya saya merasa bahwa tulisan di blog ini kurang positif, dan saya ingin menjadi orang yang lebih positif, lebih ceria, menuliskan hal yang lebih bermanfaat apalagi karena sekarang saya telah menjadi istri dan ibu. Jadi menulislah saya tentang berbagai hal itu: tentang bagaimana menjadi seorang ibu.

Lalu saya menyadari bahwa blog baru saya tidak mencerminkan diri saya. Saya merasa menulis apa yang tidak saya minati. Tentu apa yang saya tulis itu nyata dan tidak palsu: saya menulis tentang traveling, tentang tips-tips memerah ASI dan hal kekinian lain berdasarkan apa yang saya alami, namun tetap saja itu bukan diri saya. Diri saya, tidak akan menulis hal-hal seperti itu, karena... yah karena. Dan lagipula, bukankah sudah banyak tulisan bermanfaat seperti itu, tidak ada orang lain yan…