Skip to main content

Posts

Showing posts from 2016

Merry merry xMas!

Setelah satu bulan penghujung tahun yang sibuk, akhirnya saya dan Mr Defender memutuskan untuk mengambil cuti dan menghabiskan Natal bersama keluarga di Kediri dilanjutkan merayakan tahun baru bersama keluarga saya di Yogya. Semalam kami sempat mengobrol dan melakukan kilas balik kejadian tahun ini. Kami merasa bersyukur atas garis besar pencapaian tahun ini dari banyak segi. 
Khususnya bagi saya, tahun ini adalah tahun terakhir saya di usia kepala dua, dan saya merasa puas bisa mencapai sebagian besar target yang daya pasang untuk diri sendiri sebelum tiga puluh. Walaupun belum semuanya tercapai, tapi saya cukup puas.
Tahun ini kami juga banyak menghabiskan waktu bersama keluarga apabila dibandingkan dengan tahun lalu. Tahun 2015 kemarin memang semuanya serba sibuk luar biasa, untunglah tahun 2016 ini saya yang sudah bertekad mengurangi kesibukan bisa konsisten. Si Racun Api mulai masuk sekolah, Mbak Rocker juga tampak lebih menikmati sekolah dibandingkan tahun sebelumnya. Kami juga…

Hidup Adalah...

... serangkaian kejadian acak, mungkin kau bisa bilang. Seperti menjalani masa SMA yang sulit namun menemukan beberapa teman yang membuatmu merasa dimengerti. Masuk salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini, mendapat beasiswa bergengsi ke negeri impian, bekerja di tempat yang dulu hanya bisa kaupandang dengan iri. Terlempar ke kota lain, pindah ke pulau lain. Menjalani kisah cinta yang indah. Patah hati. Bertemu orang baru dan menjalin kisah baru. Gagal dalam sebuah audisi. Tidak mendapatkan jabatan yang kauinginkan. Ditinggalkan teman. Merugi dalam bisnis.
Hidup hanyalah menunda kekalahan, kata Chairil Anwar yang diamini oleh Banda Neira. Seperti engkau tahu bahwa pada akhirnya hubungan ini akan berakhir juga, namun engkau terlalu buta untuk menerima. Seperti engkau tahu bahwa dia yang kaucintai setengah mati tidak membalas perasaanmu, namun engkau masih berharap pada seutas kata seandainya. Seperti engkau tahu bahwa kau muak kepada pekerjaan ini namun kau membutuhkannya unt…

Tentang Damai dan Tidak Damai

Tanpa terasa tahun ini sudah berjalan sebelas bulan, dan sebulan lagi tahun baru datang. Kami sedang mempersiapkan liburan akhir tahun, lalu berbincang tentang banyak hal, termasuk resolusi tahun baru saya yang lalu, menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.
Saya merasa sejak saya menikah, banyak prioritas yang bergeser. Kuliah di luar negeri, mengejar karir formal di kantor, sudah lama saya coret dari daftar prioritas teratas. Terutama karir, bukan terutama karena saya ingin mengabdi menjadi istri yang baik, tapi lebih karena saya merasa karir di kantor yang sekarang bukan hal yang benar-benar ingin saya kehar dalam hidup, dan karenanya tidak layak menyita begitu banyak waktu saya. Mungkin nanti saya akan menemukan karir yang saya sukai dan ingin saya kejar, tapi untuk saat ini, saya merasa cukup dengan pekerjaan yang sekarang, yang walaupun tidak menyalakan lentera jiwa di hati, tapi mampu memberikan saya penghidupan dan cukup banyak waktu luang bersama keluarga. Dan untuk s…

let's stop telling eachother how busy we are...

... because it hurts.

Sadar nggak sih, kalau jaman sekarang ini semua orang kayaknya terlalu sibuk bahkan untuk meluangkan waktu untuk teman, keluarga dan orang tercinta? Seberapa sering obrolan diawali dengan "ke mana aja?" atau "sibuk terus?" dan kita tampaknya menikmati dan bahkan bangga dengan menjadi sibuk. Padahal sibuk belum tentu sama dengan produktif.
Seringkali kita (atau saya aja sih) pulang terlambat menemui anak-anak atau tidak menjemput mereka di sekolah dengan alasan lembur (walaupun memang lembur). Kita menunda-nunda liburan impian atau mengerjakan suatu proyek sidegig dengan alasan nggak ada waktu. Nggak memasak masakan favorit karena sudah terlalu capek akibat seharian sibuk. Bahkan untuk kencan dengan pasangan aja sering nggak sempat dengan alasan apa lagi kalau bukan sibuk.
Pun saat bersama orang tercinta, kita harus sering-sering menengok ponsel, membalas pesan singkat atau email, bahkan mengangkat panggilan yang konon katanya penting dan urgen…

Tentang ART

Bukan art seni ya. Tapi asisten rumah tangga.
Banyak yang suka nanya gimana caranya saya bisa mempertahankan pengasuh anak saya lumayan lama. September ini sudah genap dua tahun dia bekerja di keluarga kami.
Dari banyaknya drama ART yang sering saya dengar dan baca, pertanyaan teman saya tadi rasanya memang tidak berlebihan. Memang susah sih jaman sekarang cari ART yang sesuai harapan. Kalaupun sudah dapat, lebih sulit lagi membuat dia betah lama-lama dengan kita. Mirip mirip lah ya sama jodoh, hahaha, nyarinya susah, memeliharanya lebih susah.
Tapi sebenarnya saya juga nggak punya rahasia apa-apa lho. Jangankan ke ART, rahasia bikin suami betah saja saya nggak punya. Selain mungkin saya memang beruntung, kunci langgengnta hubungan saya dengan ART cuma satu: kompromi.
Kompromi artinya luas. Yang terutama tentu saja sejak awal kompromi dengan nilai uang yang akan kita keluarkan untuk membayar jasanya. Kasih gaji yang layak, yang sesuai UMR kalau bisa. Nggak ada tapi. Nggak ada "t…

Anakku Sudah Sekolah!

Iya, si Racun Api pembuat onar, pasukan huru-hara anti perdamaian itu sekarang sudah masuk sekolah di sekolah yang sama dengan Mbak Rocker. Penyebabnya apalagi kalau bukan ingin bareng dengan kakaknya. Ya sudahlah, akhirnya kami masukkan juga dia ke kelas percobaan.
Sudah sebulan sekolah eh kok dia betah dan kakaknya juga jadi lebih semangat sekolah sekarang, syukur banget! Padahal saya sudah siap mental hangus uang pangkal kalau ujug-ujug si Racun Api nggak mau sekolah lagi, hehehe... Sekarang kesibukan pagi jadi bertambah karena ada dua yang harus dimandikan, disiapkan baju, tas, dan bekalnya... belum lagi huru-hara yang selalu adaa saja di detik-detik sebelum berangkat. Ya kaos kaki nya belum ada lah, topi yang terselip entah di mana, tempat minum yang kurang rapat ditutup lalu merembes ke mana-mana...
Saya senyum-senyum sendiri setiap kali berhasil mengantar mereka ke gerbang sekolah dengan drama pagi yang selalu berbeda setiap hari. Sampai juga saya di titik ini, saat anak-anak …

(Lemari) Minimalis

Beberapa bulan ini, setelah overdosis tulisan Leo Babauta dan Joshua Becker, saya mencoba hidup dengan (lemari pakaian) minimalis. Sebenarnya tujuan gerakan minimalisme ini banyak ya, dan sebagian besar memiliki tujuan yang lebih dalam daripada sekedar ingin rumah yang rapi dan tidak dipenuhi timbunan barang tak terpakai. Tetapi untuk saya pribadi saat ini, saya memulai dengan menyederhanakan lemari pakaian saya.
Sebenarnya ide untuk memiliki pakaian dengan jumlah terbatas ini mula-mula tidak saya peroleh dari gerakan minimalisme, tetapi dari Steve Jobs yang setiap hari memakai baju yang sama. Juga Presiden Obama yang hanya memiliki dua warna setelan jas, karena terlalu banyak keputusan penting yang harus dia buat dalam satu hari sehingga waktunya terlalu berharga untuk dihabiskan dengan mengambil keputusan mau pakai baju apa. Juga ada gerakan The Uniform yang viral di mana seorang perempuan kantoran memilih memakai satu model baju yang sama, celana hitam dan kemeja putih. Dia tidak …

Lentera Jiwa

Suatu hari, saya menemukan video Nugie ini di Youtube.


Lagu ini sudah lama merupakan lagu favorit saya, namun untuk alasan yang sama sekali berbeda dengan kisah yang ditayangkan di video klipnya. Saya hampir menangis melihat video klipnya, sungguh ini video klip yang bagus dan bisa menyampaikan makna lagu yang tidak akan dimengerti dengan baik tanpa menyaksikan videonya. OMG, this is brilliant!

Sudahkah kamu menemukan lentera jiwamu? Saya belum :P namun Nugie membuat saya percaya tidak ada kata terlambat atau terlalu cepat jika suatu hari nanti saya menemukannya.




Perdebatan-Perdebatan Kecil

Saya dan Mr Defender sangat menyukai percakapan mendalam tentang hal-hal sepele dan kejadian sehari-hari. Hal yang remeh untuk dilakukan, namun menurut kami itu membuat kami lebih kokoh sebagai pasangan dan selalu menemukan hal-hal baru tentang satu sama lain. Silly little things that we are :D
Nah, ini rangkuman hal-hal yang kami perdebatkan minggu ini (seperti yang saya bilang, kami punya sudut pandang yang berbeda dalam banyak hal). Beberapa serius, namun lebih banyak remeh. Come, laugh with us (or laugh at us!):

Menahan Diri

Puasa, artinya menahan diri dari hawa nafsu. Bukan cuma menahan diri dari lapar dan haus dan marah-marah dan bercinta siang bolong.

Tapi seharusnya juga, puasa membuka akun gosip. Puasa menggunjingkan orang lain. Puasa menyakiti perasaan orang di sekeliling kit. Puasa berbohong. Puasa nyinyir. Dan puasa dari merasa diri lebih suci karena kita berpuasa.

Memangnya kita tahu siapa yang bakal duluan masuk surga?

Plis deh berhenti mempertanyakan kenapa warung sebelah masih buka dan nggak menghormati orang yang berpuasa. Harus banget ya puasa minta dihormati? Puasa artinya menahan diri dari godaan, bukannya menyuruh pergi semua godaan. Kalau semua godaan hilang, di mana menahan diri-nya puasa? Di mana esensi puasanya?

Kalau sedikit-sedikit protes tentang kenapa tidak menghormati orang yang sedang berpuasa, mendingan nggak usah puasa deh. Karena artinya nggak kuat puasa kan? Kalau kuat puasa, ya puasa aja, nggak usah minta segala macam pemakluman, pakai pengumuman lagi, pamer ya kalau lagi …

Ramadan Kareem

Seperti biasa, bulan puasa selalu jadi the busiest times of year. Ya di kantor, ya di kehidupan sehari-hari, semuanya kayaknya jadi lebih sibuk dibanding bulan-bulan lainnya. Di kantor sibuk karena kebetulan puasa itu pas di akhir semester pertama yang mana semua laporan bakal jatuh deadlinenya dan banyak kegiatan yang harus dicairkan dananya. Dan semua mau cair sekarang, nggak bokeh ditunda karena kan mau hari raya. Di kehidupan sehari-hari juga nggak kalah sibuk, karena puasa identik dengan bulan kumpul-kumpul dan silaturahmi, semua maunya buka bersama, ngabuburit,  dan kumpul bareng. Dan si kegiatan sosial juga nggak kalah ramenya. Ada saja kegiatan sosial kayak ke panti asuhan, baksos, kumpulkan sedekah. Bagi saya karena anak sudah sekolah agendanya juga bertambah karena Juni juga bulan di mana tahun ajaran berakhir.
Sibuk, sibuk, sibuk. Padahal tahun lalu saya lebih sibuk lagi: buka katering rantangan dan jualan takjil, hahahaha.
Saya sebisa mungkin ingin lebih banyak di rumah, …

Tahun Kelima

Kemarin kami merayakan hari jadi pernikahan yang keempat. Artinya tahun ini kami menjalani tahun pernikahan yang kelima. Konon tahun kelima memasuki tahapan yang kritis dalam sebuah pernikahan, di mana akan banyak godaan dan cobaan. benarkah begitu? Kita lihat saja nanti setahun ke depan.

Seperti biasa kami tidak pernah membuat perayaan yang khusus. Tidak ada hadiah, cuma kue dan makan malam berdua di rumah saat anak-anak bersama Cus. Tidak ada obrolan panjang dan mendalam juga, karena kami berdua sedang sama-sama lelah, hahahaha... Jadi makan malam santai kemarin benar-benar santai, cuma ngobrol ngalor ngidul sambil menikmati hidangan spesial hari jadi pernikahan.
Kalau menilik tahun-tahun ke belakang, pernikahan kami sebenarnya jauh lebih tidak stabil di tahun awal di mana kami masih berjuang dengan berbagai pengobatan untuk penyakit ibu mertua saya, mencoba mengumpulkan aset, dan kehamilan pertama. Namun sejak kehadiran Mbak Rocker dan disusul dengan si Racun Api, segalanya terasa…

Di Balik Foto Keluarga yang Sempurna

Setiap melihat foto anak-anak saya di Instagram, saya sering banget mendapatkan komentar semacam "how cute!" atau "envy" atau "perfect family". Memang ya, kalau lihat foto anak-anak saya yang lagi imut lucu nggemesin gitu kayaknya kehidupan sempurna ya. Apalagi sewaktu saya masih usaha katering rantangan, duh kayaknya semua orang merasa kehidupan saya kayak "having-it-all-together" deh. Kenyataanya? Yuk mari take a peek of my (morning) life back then:

Jam 4
Biasanya saya sudah bangun. Anggaplah ini hari sibuk saya di mana saya ada pesanan nasi kotak untuk siang, maka saya akan memulai hari dengan memasak nasi dan sayur serta lauk isian nasi kotak yang sudah saya siapkan dari malam sebelumnya. Sambil nunggu matang sambil nyesep teh hangat.


Jika hidup saya diinstagramkan saat ini: I am Astri Nugraha, hahahaha....

Selamat 31

Hari ini Mr Defender berulang tahun. Sejak semalam, begitu Mr Defender tidut saya sudah nyicil bikin ayam bumbu bali, semur telur, goreng tempe orek... Lalu saya buatkan nasi kuning dan pergi tidur... Paginya sebelum Mr Defender dan anak-anak bangun saya membuat tumpeng dan hiasannya...sederhana yang penting siap dimakan untuk sarapan.
Begitu birthday boy bangun kami makan tumpeng untuk sarapan... Saya membuat kue vanilla chantili bersama Mbak Rocker setelah itu dan baru selesai siang menjelang sore untuk tiup lilin bersama... rasanya priceless sekali walau dengan segala kesederhanaan dan ke-apaadanya-an kami berempat saja. 
Mr Defender bilang jauh-jauh hari nggak mau kado. Saya sendiri memang juga nggak ada ide ngasih apa, apalagi bulan lalu saya membelikannya jam tangan sport anti air. Jadi memang kayaknya nggak butuh kado dianya, dan kami berdua sudah melewati masa harus selalu ngasih kado walau ujung-ujungnya nggak berguna. Hehehe. Jadi kami berdua sekarang lebih menghargai kebe…

Inggris dan Puan Kelana

Ketika mendengar sekilas lagu Puan Kelana milik Silampukau ini, saya langsung berniat untuk suatu kali menulis blogpost tentang lagu ini. Namun akhirnya niat itu lama terabaikan sampai akhirnya saya menulisnya hari ini setelah tadi pagi, playlist yang saya setel random memutar lagu ini, ketika pikiran saya sedang galau mikirin beasiswa keluar negeri. Ini, saya pikir, ini pasti yang di atas sana lagi bercanda deh...

lautan syukur hari ini

terima kasih semesta, untuk: senyum anak-anakku, tingkah mereka yang lincah, celoteh-celoteh mereka yang menghangatkan hati dan pelukan mereka yang membuat setiap hari sangat berarti.Mr Defender untuk segalanya, I am cheesy like that.sinar matahari pagi yang hangataku punya cukup uang untuk sarapan mi ayam hari ini, kutahu tak semua punya kemewahan ini.I feel pretty today, thank God.


prioritas vs opsi

Hari-hari terakhir ini sedang sedikit berat, tetapi tidak segitu beratnya. Biasalah, office stuffs, saya mencoba untuk tidak membawa masalah kantor ke dalam hidup saya sehari-hari, tapi kenyataannya permasalahan di kantor kadang bikin bete di rumah juga.
Tapi setiap kali masalah apa pun menyita terlalu banyak ruang di kepala saya, saya selalu ingat: prioritas! Mengapa saya harus menghabiskan banyak waktu untuk murung karena sesuatu atau seseorang yang bahkan tidak peduli? Ada keluarga, ada suami dan anak-anak yang membutuhkan saya, yang mencintai saya apa pun yang sedang kami lalui.

Benar,  kan?

Age is Just A Number

True, but this year will be my last 20s :D Sejujurnya saya merasa tetap berumur 23 sih, hahahaha. Tahun ini saya merayakan dengan agak fancy bersama teman-teman kantor, sebelum kemudian mendadak harus berangkat ke Jogja untuk menemani suami saya diklat. Yeay, life's so good... Balik lagi ke usia, walaupun saya bilang bahwa saya tetap merasa muda, kadang terselip juga panik di hati saat sadar usia bertambah tapi pencapaian kita segini-gini aja atau banyak target yang belum tercapai. Hayo, ngapain aja sih selama ini? Hahaha. Kalau saya sendiri sih, dari sekian banyak target yang saya pasang untuk diri saya sebelum memasuki usia kepala tiga, cuma satu yang belum tercapai, dan sepertinya juga belum akan tercapai tahun depan. Tapi minimal saya sudah menuju ke sana, jadi langkah juga terasa lebih ringan. So I think I'm gonna enjoy the last year of being twenty something.

Margin

Beberapa waktu yang lalu, berdasarkan beberapa reviu yang saya baca di sana sini, saya membaca buku ini. Intinya tentang margin. Apakah margin itu? Intinya, margin, baik dalam hal finansial, energi, maupun emosi, adalah 'ruang kosong' atau selisih antara kapasitas maksimal kita dengan kapasitas yang kita gunakan saat ini.
Laksana koper, margin adalah ruang kosong di dalam koper yang sengaja kita sisakan untuk membawa oleh-oleh tambahan saat pulang liburan nanti. Margin adalah ruang kosong di gudang yang kita sisakan untuk menyimpan barang bekas. Margin adalah energi yang kita sisakan agar seandainya ada pekerjaan di akhir hari, kita masih sanggup. Margin adalah uang yang kita sisihkan untuk berjaga-jaga seandainya tiba-tiba kita harus ke dokter di tanggal tua.

Resolusi 2016

Saya biasanya tidak membuat resolusi awal tahun, hehehe. Lebih senang mengalir saja mengikuti takdir (halah!). Namun tahun 2015 yang lalu, saya merasa sedikit... hmm, apa ya? Out of control? Losing my grip? Semacam itulah. Intinya saya merasa hidup saya perlu lebih ditata di tahun 2016 ini, saya ingin lebih memiliki kontrol atas diri saya, I want to take the control back.

Jadi, beberapa malam menjelang new year eve, saya sering meluangkan waktu duduk di depan agenda, merenungkan dan mencatat berbagai hal, mencoba menemukan apa yang saya lakukan dengan salah di tahun lalu dan apa yang akan saya perbaiki.


So here it goes, my so called 2016 resolutions.

Make my family on top of my list, whatever the situation is. Keluarga menjadi perhatian terbesar saya tahun ini, terutama karena tahun lalu saya merasa kurang memberikan waktu, tenaga dan perhatian untuk anak-anak saya. Tahun ini saya berniat menjadikan anak-anak dan suami prioritas pertama, yang artinya antara lain adalah... it's OK t…