26 November 2015

Overwhelmed

Seperti biasa, blog ini kembali ditelantarkan :D

Truth to be told, I was overwhelmed. I was exhausted.

Dua bulanan kemarin, saya merasa mencapai titik yang sangat rendah dalam hidup. Bukan karena apa-apa, penyebabnya "cuma" kelelahan secara fisik, mental, dan emosi. Bermain sirkus dengan kerja kantoran yang ritmenya lumayan padat, dua batita yang super aktif dan menuntut perhatian penuh, katering rantangan one woman show, mengurus rumah di saat suami bertugas keluar kota, ditambah lagi aktivitas saya di sebuah organisasi sosial yang lumayan sibuk, membuat saya benar-benar tidak menyisakan waktu untuk diri sendiri.

Hasilnya, saya mau meledak. Dan pada akhirnya anak-anaklah yang pertama merasakan dampaknya. Dua malam yang lalu, Galuna minta dibacakan buku sebelum tidur. Sheva sudah tidur, dan saya lelah sekali, namun saya bacakan juga satu buku, dua buku. Dia meminta lagi, lalu saya yang sudah lelah bilang, "Sudahlah, Kak, tidur, sudah malam. Ibu capek."

Galuna membalikkan badan membelakangi saya, lalu sambil menangis dia bilang, "Ibu kenapa marah-marah terus..."

Perasaan saya, sebagaimana ibu bekerja lain yang anaknya tiba-tiba bilang begitu, langsung teraduk-aduk nggak karuan. Ya ampun, bisa-bisanya saya mengabaikan anak saya, padahal merekalah alasan saya melakukan segala hal lain. Bisa-bisanya saya tidak meluangkan waktu yang cukup untuk anak-anak. Bisa-bisanya saya merasa waktu saya seharian yang diambil dari mereka bisa digantikan dengan satu dua butir Kinderjoy.

Tapi kan saya sibuk. Tapi kan saya capek. Tapi kan saya cari uang untuk mereka juga.

Lalu sesuatu datang dalam penyadaran saya, begitu menyesakkan seperti sebuah tanda seru besar.



Mungkin, saya perlu menata kembali prioritas-prioritas saya.


Mulai membacakan buku setiap malam sebelum tidur jelas adalah salah satunya.