27 December 2015

Berbenah...

Tahun ini hampir berakhir, namun perasaan murung saya belum juga pergi.

I don't know, I wake up feeling uninspired and go to bed feeling worn out, each day and everyday. And this is so not me. My husband always said that I'm a bunch of energy ball, I never ran out of energy and I did always smile. How could this happen to me? How could the negativity got the best of me

Saya butuh merasa bersemangat lagi. Merasa punya kontrol lagi atas diri sendiri. Merasa nyaman dengan diri sendiri lagi. I miss that feeling, the feeling like I can conquer the world. I need to fix this. I need to fix myself. I need to take the control back.

Maka saya membuat daftar resolusi , just to keep myself on track the very next year. I'll share it next year. In the meantime, let me just declutter my mind.


26 November 2015

Overwhelmed

Seperti biasa, blog ini kembali ditelantarkan :D

Truth to be told, I was overwhelmed. I was exhausted.

Dua bulanan kemarin, saya merasa mencapai titik yang sangat rendah dalam hidup. Bukan karena apa-apa, penyebabnya "cuma" kelelahan secara fisik, mental, dan emosi. Bermain sirkus dengan kerja kantoran yang ritmenya lumayan padat, dua batita yang super aktif dan menuntut perhatian penuh, katering rantangan one woman show, mengurus rumah di saat suami bertugas keluar kota, ditambah lagi aktivitas saya di sebuah organisasi sosial yang lumayan sibuk, membuat saya benar-benar tidak menyisakan waktu untuk diri sendiri.

Hasilnya, saya mau meledak. Dan pada akhirnya anak-anaklah yang pertama merasakan dampaknya. Dua malam yang lalu, Galuna minta dibacakan buku sebelum tidur. Sheva sudah tidur, dan saya lelah sekali, namun saya bacakan juga satu buku, dua buku. Dia meminta lagi, lalu saya yang sudah lelah bilang, "Sudahlah, Kak, tidur, sudah malam. Ibu capek."

Galuna membalikkan badan membelakangi saya, lalu sambil menangis dia bilang, "Ibu kenapa marah-marah terus..."

Perasaan saya, sebagaimana ibu bekerja lain yang anaknya tiba-tiba bilang begitu, langsung teraduk-aduk nggak karuan. Ya ampun, bisa-bisanya saya mengabaikan anak saya, padahal merekalah alasan saya melakukan segala hal lain. Bisa-bisanya saya tidak meluangkan waktu yang cukup untuk anak-anak. Bisa-bisanya saya merasa waktu saya seharian yang diambil dari mereka bisa digantikan dengan satu dua butir Kinderjoy.

Tapi kan saya sibuk. Tapi kan saya capek. Tapi kan saya cari uang untuk mereka juga.

Lalu sesuatu datang dalam penyadaran saya, begitu menyesakkan seperti sebuah tanda seru besar.



Mungkin, saya perlu menata kembali prioritas-prioritas saya.


Mulai membacakan buku setiap malam sebelum tidur jelas adalah salah satunya. 

17 March 2015

not sweating the small stuffs

Tiap-tiap kamu menyakitiku dengan cara yang paling sederhana dan seringkali tidak kamu sadari, aku sangat ingin menegurmu dan memberitahumu, bahwa kamu telah mengikis sedikit demi sedikit cinta di dalam hatiku. Namun tiap-tiap kali, detik selanjutnya datang membawa ingatan tentang kamu yang ingin memberiku seisi jagat raya seandainya bisa, lalu hal-hal kecil yang sederhana tadi terasa tidak berarti, dan aku akan jatuh cinta sekali lagi, lagi dan lagi.




27 January 2015

don't carry the world upon your shoulder

Dulu seorang sahabat saya pernah bilang, hidup itu seperti sperma. Di mana berakhirnya kita yang menentukan. Mau berakhir di selokan atau di rahim orang tersayang. Walaupun seringkali kita merasa tidak berdaya atau tidak punya pilihan, namun kenyataannya adalah kita punya kendali atas hidup kita mau dibawa ke mana. Kenyataannya adalah, kita sudah memilih dan cuma sedang dalam fase merasa berat menjalani konsekuensi dari pilihan yang kita ambil, lalu, sebagaimana lazimnya manusia kebanyakan, kita mencari kambing hitam dan merasa diri korban.

Apa pun keadaannya, kita selalu memegang kendali penuh atas diri kita, atas keputusan-keputusan yang kita ambil, di mana dan dengan siapa kita ingin berada.

You just need to take that control back. You don't owe the world to carry it upon your shoulders.


26 January 2015

sweet misery

P.S. : bacanya jangan serius-serius apalagi pakai tersinggung yaa, hehehe....

Jadi kemarin saya ngobrol panjang dan lama dengan Mr Defender dengan topik yang lumayan bermutu: lagu-lagu Indonesia. Tentu saja obrolan kami berdua seperti biasa cepat sekali bergeser menjadi tidak serius, hahaha. Kami jadi ngerumpiin penyanyi-pencipta lagu. Ada yang lagunya bagus saat kehidupan pribadi juga prima, ada pula yang sebaliknya. Lagu-lagu terbaiknya hadir di saat kehidupan luluh lantak.

Dan yang kami maksud dengan kehidupan tentu saja artinya PERCINTAAN, bukan politik. Oh, tentu saja kami lagi nggak ngomongin Iwan Fals dan Ebiet G. Ade ya.

Ada beberapa nama, tapi kami memutuskan memilih dua. Jadi, pencipta lagu yang lagu-lagunya lebih bagus menulis lagu patah hati adalah... (setelah mengecualikan Rinto Harahap ya tentunya):

Glenn Fredly
Coba, mana lagu Glenn yang booming di saat dia sedang kasmaran? Sejauh yang kami bisa ingat, cuma Kisah Romantis deh. Tetapi coba ingat saat Glenn bercerai dengan Dewi Sandra, dia menuliskan lagu Terserah dan Tega yang sangat indah dan memilukan (halah).
Namun tentunya tak ada lagu patah hati yang sebanding dengan lagu-lagu Glenn waktu ditinggal kawin sama Nola: Januari, Akhir Cerita Cinta, dan yang terdahsyat tentunya yang ini:


Ya Tuhanku... misalnya saya jadi Nola dan video klip ini rilis seminggu sebelum nikahan tentunya saya pengen lari-lari ke hutan belok ke pantai untuk teriak "KENAPAAAA...?" ahahahaha... ngomong-ngomong, itu jahat bener deh sutradara video klip bikin jalan cerita begitu dan milih model yang mirip Nola... ckckck...

Sheila on 7
Oke, Sheila on 7 memang mengeluarkan album yang lumayan bagus saat Eross lagi jatuh cinta sama Astrid, yaitu album 07 Desember dengan lagu-lagu manis seperti Hingga Ujung Waktu dan Saat Aku Lanjut Usia. Tetapi lagu-lagu terbaik Sheila on 7 selalu lagu-lagu patah hati. Dan beda dengan Glenn, lagu-lagu Sheila kayaknya semuanya bertema gagal move on. Coba deh Dan, Sephia, Waktu yang Tepat Tuk Berpisah, dan yang lebih jleb lagi Berhenti Berharap dengan "aaaakuuu puuulaaaangg..."

Lalu Eross menikah, hidup bahagia, dan Sheila on 7 raib entah kenapa. Sampai kemudian Sheila on 7 comeback dengan lagu-lagu bertema gagal move on: Bait Pertama, Betapa, Hujan Turun, dan Sekali Lagi.

Namun bagi saya yang paling nyess tetap lagu satu ini:


Dalem yah... seandainya Eross itu mantan pacar saya dan bikin lagu ini setelah reuni 10 tahun SMA (ketahuan yah umurnya hahaha), kayaknya saya juga galau dan garuk-garuk tembok deh. Yah, begitulah lagu ini sukses bikin saya dan Mr Defender ngepoin akun media sosial mantan orang tercinta masing-masing (eh saya doang sih, gak tau dia ya. pokoknya gitu deh)

13 January 2015

random

Sebenarnya banyak yang mau ditulis, tentang lucunya Galuna yang sudah bisa nyanyi dan joget ngikutin hi-5 di tivi dengan memakai kacamata hitam pilihan sendiri, tentang Sheva yang kata tetangga gantengnya kayak baby Adam anaknya Shireen Sungkar, tentang Maya karya Ayu Utami yang sudah ketiga kalinya saya baca dan masih menyisakan nyes di hati, tentang Hits Kitsch yang jadi salah satu album terbaik 2014 versi Rolling Stone, tentang Tarakan yang begini dan begitu. Sangat banyak yang mau diceritakan sampai bingung sendiri. Dan bertanya-tanya, bagaimana orang-orang lain itu bisa begitu rapi mendokumentasikan hidup di blog dan Instagram, sedangkan saya untuk memotret anak yang sedang lucu-lucunya saja sering tidak sempat saking sibuknya tertawa dan menggodanya.

Tapi apa iya segalanya harus selalu didokumentasikan?

12 January 2015

Mencintaimu Apa Adanya (?)



Dulu, saya pernah menulis di sini tentang komitmen itu nonsense, hahahaha. Sekarang, karena beberapa obrolan dengan teman dekat dan beberapa tulisan yang menarik di dunia maya dan media sosial, saya jadi tergelitik untuk menulis tentang menerima pasangan kita secara apa adanya, benarkah ada?

Seorang teman pernah bilang, bahwa nggak ada yang namanya cinta yang menerima apa adanya. Ada sih, tapi itu Bruno Mars doang kali ya, hahaha... Bapak saya juga pernah bilang sambil bercanda bahwa kalau saat pacaran, kalau pacarnya jatuh bakal dibilang "hati-hati ya sayang..." tapi kalau sudah lama menikah bakal "kalau jalan lihat-lihat dong..." hahaha intinya, segala kekurangan yang nggak tampak di saat kita masih dimabuk kemesraan, nantinya akan terlihat saat kita sudah hidup bersama dan menjejak tanah alias menghadapi kenyataan. 

Kata seorang teman yang lain, hal itu sah-sah saja, misalkan kita berubah demi pasangan atau ingin pasangan kita berubah sesuai ekspektasi kita, selama itu menjadikan kita orang yang lebih baik. Misalkan pasangan yang malas trus kita berhasil ubah jadi rajin, good for you then. Toh mengubah diri menjadi lebih baik atau untuk membahagiakan pasangan (atau biasa dibahasasopankan dengan berkompromi) adalah bentuk cinta, begitu lanjut pendapat si teman.

Dia lalu bertanya, kami sendiri bagaimana? Setujukah dengan dia (dan pendapat yang diterima umum)

Saya? Saya bersyukur bahwa andaikan kata-kata bapak saya benar, berarti saat ini saya dan Mr Defender masih dimabuk kemesraan, hahaha. Saya sendiri sih, (nggak tahu Mr Defender ya) nggak pernah tuh ingin mengubah orang lain. Dan itu termasuk (atau terutama) orang yang saya cintai. Saya nggak pernah punya mimpi mengubah apa pun dari Mr Defender, baik itu hal-hal besar seperti pandangan hidup maupun hal-hal kecil semacam kebiasaannya mendengkur. Soal yang terakhir, terganggu sih iya, tapi ya sudah mau gimana lagi.

Hm.. ikhlas, pasrah dan males itu batasnya tipis ya? Hahahahaha.

Apakah saya mencintai dan menerima Mr Defender apa adanya? Ya, ya, dan YA! Setidaknya sampai saat ini begitu, dan saya bahagia dengan itu. Apakah saya berkata begini karena kami punya kesamaan dalam segala hal? Tentu tidak! Bahkan pandangan kami tentang cara mendidik anak saja beda. Saya rasa, pada akhirnya kami hanya harus tahu kapan harus mengalah dan siapa yang harus mengalah. Apakah ini juga artinya berkompromi? Tentu, tapi tidak dengan saling mengubah satu sama lain. Misal: saya yang kadang-kadang OCD sama kebersihan dan kerapian melihat Mr Defender dengan seenaknya menaruh handuk bekas pakai di lantai kamar, ya sudah saya ambil aja handuk itu dan move on. Jadi saya jemur handuk itu dan hidup bahagia selamanya.  I don't sweat small stuffs. 

And what about the big stuffs? Hm, entahlah, rasanya sih saya baik-baik saja dengan segala yang ada pada Mr Defender, baik yang saya suka maupun yang saya (nyaris) tidak tahan. Mungkin karena saya memilih pasangan dengan prinsip take it or leave it atau lebih tepatnya lagi take me as I am or watch me as I go :D jadi dalam hubungan kami (rasanya) belum pernah terjadi tuh saya memprotes pilihan model rambut atau cara beribadah Mr Defender. Nggak ada juga ceritanya dia melarang saya memakai lipstik warna tertentu atau menentukan dengan siapa saya harus bergaul. We simply accept each other as what we are, just like Bruno Mars' song.

And I think it's a good thing. Jadi maaf ya, teman-teman dan bapakku sayang, kali ini saya terpaksa tidak setuju dulu dengan kalian :D



P.S. Mr Defender bilang: trus kalau segitu banyaknya yang pengen kamu ubah dari orang itu, apa dong yang sebenernya kamu suka dari dia dulu?
Well, it's really something to think about, man!