Skip to main content

Posts

Showing posts from 2015

Akhir Tahun

Keluarga saya sedang berkunjung ke Tarakan dengan formasi lengkap, namun saya harus bersiap untuk tugas ke Bali. Saya sebenarnya ingin membawa anak-anak, namun tidak tega membiarkan orangtua saya yang sudah jauh-jauh kemari harus sendirian di rumah. Akhirnya saya memutuskan meninggalkan Mbak Rocker dan si Racun Api bersama ibu saya di rumah selama dua malam.
Ini adalah untuk pertama kalinya mereka berada jauh dari saya. Walaupun saya yakin mereka berada di tangan yang aman, namun tetap saja saya merasa berat. Mr Defender meyakinkan saya bahwa bagus juga memiliki beberapa hari waktu berdua, mengunjungi teman kami di sana, dan bahkan saya berencana untuk bertemu Miss Turquoise di sana, yang akan ke Bali untuk merayakan tahun baru.
Selamat tahun baru, semua!

Berbenah...

Tahun ini hampir berakhir, namun perasaan murung saya belum juga pergi.
I don't know, I wake up feeling uninspired and go to bed feeling worn out, each day and everyday. And this is so not me. My husband always said that I'm a bunch of energy ball, I never ran out of energy and I did always smile. How could this happen to me? How could the negativity got the best of me
Saya butuh merasa bersemangat lagi. Merasa punya kontrol lagi atas diri sendiri. Merasa nyaman dengan diri sendiri lagi. I miss that feeling, the feeling like I can conquer the world. I need to fix this. I need to fix myself. I need to take the control back.
Maka saya membuat daftar resolusi , just to keep myself on track the very next year. I'll share it next year. In the meantime, let me just declutter my mind.

Overwhelmed

Seperti biasa, blog ini kembali ditelantarkan :D
Truth to be told, I was overwhelmed. I was exhausted.
Dua bulanan kemarin, saya merasa mencapai titik yang sangat rendah dalam hidup. Bukan karena apa-apa, penyebabnya "cuma" kelelahan secara fisik, mental, dan emosi. Bermain sirkus dengan kerja kantoran yang ritmenya lumayan padat, dua batita yang super aktif dan menuntut perhatian penuh, katering rantangan one woman show, mengurus rumah di saat suami bertugas keluar kota, ditambah lagi aktivitas saya di sebuah organisasi sosial yang lumayan sibuk, membuat saya benar-benar tidak menyisakan waktu untuk diri sendiri.
Hasilnya, saya mau meledak. Dan pada akhirnya anak-anaklah yang pertama merasakan dampaknya. Dua malam yang lalu, Galuna minta dibacakan buku sebelum tidur. Sheva sudah tidur, dan saya lelah sekali, namun saya bacakan juga satu buku, dua buku. Dia meminta lagi, lalu saya yang sudah lelah bilang, "Sudahlah, Kak, tidur, sudah malam. Ibu capek."
Galuna memba…

Mbak Rocker dan Sekolah

Sejauh umurnya yang dua tahun lebih sedikit ini, Mbak Rocker sudah beberapa kali mengalami 'sekolah'. Yang pertama di TPA nya dulu di Samarinda yang juga memiliki kelas PAUD. Kemudian ketika tiba di Tarakan, kami 'menyekolahkan' dia di sebuah daycare montessori. Awalnya Mbak Rocker bahagia sekolah di situ, dan saya juga merasa cocok dengan metode pendidikan di situ. Mainannya banyak dan edukatif, buku-bukunya bagus, pengasuhnya bagus, pemiliknya juga sangat berpengalaman di dunia PAUD dan montessori. Cocok banget lah walaupun agak mahal.
Tapi semua berubah setelah negara api menyerang, hehehe... Tiba-tiba ada serombongan anak dari US dan Australia yang pindah dan bersekolah di situ, dan tentu saja mereka berbahasa Inggris. Karena Mbak Rocker merasa terkucilkan tidak bisa berinteraksi dengan mereka, akhirnya Mbak Rocker memutuskan untuk berhenti sekolah. Ya sudah, kami tidak mau memaksakan karena usianya juga masih terlalu muda untuk sekolah tiap hari.
Saya sendiri seb…

Lembaran Baru!

Di tahun pertama memulai kehidupan baru di Tarakan, kami menyerahkan keputusan pencarian rumah tinggal kepada salah satu teman Mr Defender yang tinggal di kota ini. Karena keterbatasan waktu dan karena kami juga nggak sempat mencari rumah sendiri waktu itu, kami tidak mau merepotkan. Syarat rumahnya cuma satu: dekat dengan kantor. Kami juga memberitahu jumlah kamar yang dibutuhkan sekian, dengan anggaran sekian. Dapatlah kami rumah kontrakan pertama kami, yang memenuhi semua syarat yang kami ajukan.
Kami berdua dari awal sepakat akan mencari rumah baru setelah kami tinggal di Tarakan jika memang rumah yang pertama tidak cocok. Dan setelah setahun berjalan ternyata kok ya memang nggak cocok... rumahnya sudah sangat tua sehingga banyak bagian yang perlu perbaikan, namun pemilik rumah tidak berkenan memperbaiki. Di samping itu, tempat parkirnya sangat sempit dan tidak ada halaman, padahal anak-anak saya butuh lahan luas terlebih saat si Racun Api mulai belajar berjalan.
Akhirnya kami me…

Selamat Satu Tahun, Racun Apiku!

Wisanggeniku, my poison of fire.
Happiest birthday, my firecracker. Kamu tumbuh menjadi anak yang sangat tampan, aktif, dan lucu. Kamu sudah mulai berjalan sebulan yang lalu, sudah mulai mengoceh dan bermain bersama kakakmu, mulai menyobeki buku dan memreteli mainan-mainan.
Begitu senang hati ibu tiap kali menatap mata besar bulatmu, cahaya hidupku. Semoga kamu dijauhkan dari segala marabahaya. Semoga Tuhan melindungimu di setiap langkahmu, semoga semesta melapangkan jalanmu menggapai semua mimpi-mimpimu.
Jadilah bahagia, jadilah mulia. Jadilah lentera di tengah kegelapan. Jadilah seperti namamu, Wisanggeni si racun api, yang menyuarakan kebenaran di saat paling sulit. Kami mencintaimu.

Rehat

Setengah tahun ini, saya merasa luar biasa sibuk. Saya ingin punya lebih banyak waktu luang untuk keluarga dan anak-anak saya. Ingin menikmati dan menjalani hidup secara lebih perlahan. Kesibukan kantor dan perjalanan yang seakan tidak ada habisnya seringkali membuat saya merasa penat, ingin berhenti sesaat dan menghilang dari hiruk pikuk.
Minggu lalu kami berlibur seminggu di Jakarta untuk mengantar adik saya yang akan menjalani SM3T di Rajaampat. Sungguh melegakan bisa bersantai sebentar, dan terutama menghabiskan waktu bersama Mbak Rocker dan Racun Api. Saya bahkan bertemu lagi dengan beberapa sahabat lama di ibukota. Mbak Rocker banyak berenang, si Racun Api tak bosan main perosotan dan ayunan. Saya dan Mr Defender juga sangat menikmati waktu bersama yang jarang-jarang karena kesibukan kerja. Walaupun begitu kembali ke Tarakan, Mr Defender harus kembali bersiap pergi ke luar kota untuk penugasan lain.
Bulan depan, si Racun Api akan berulang tahun yang pertama. Sungguh hebat dia, …

Not sweating the small stuffs.

Tiap-tiap kamu menyakitiku dengan cara yang paling sederhana dan seringkali tidak kamu sadari, aku sangat ingin menegurmu dan memberitahumu, bahwa kamu telah mengikis sedikit demi sedikit cinta di dalam hatiku. Namun tiap-tiap kali, detik selanjutnya datang membawa ingatan tentang kamu yang ingin memberiku seisi jagat raya seandainya bisa, lalu hal-hal kecil yang sederhana tadi terasa tidak berarti, dan aku akan jatuh cinta sekali lagi, lagi dan lagi.




Happy Valentine

Pindahan itu memang menguras energi fisik dan terutama mental (dan tentunya juga menguras tabungan ya). Sudah hampir setengah tahun kami bertempat tinggal di sini, namun rasanya saya masih sering merasa asing, lalu murung. Di kota baru yang mana saya nggak punya banyak teman, masih jetlag dengan kerjaan baru di kantor, belum punya banyak aktivitas untuk menyibukkan diri. 
Saya sering pengen menampar diri sendiri karena di sini saya punya suami yang menyayangi saya, dua anak yang lucu, saya punya rumah untuk bernaung, hidup saya berkecukupan, namun saya merasa murung begini. Dan biasanya penyadaran itu bukan membuat saya bersyukur, tapi tambah murung karena merasa egois dan nggak berguna.
Biasanya saat merasa murung begitu saya jadi nggak semangat ngapa-ngapain, maunya berdiam di kamar. Nonton serial tv, baca buku atau main ponsel.
Kemarin saat saya sedang malas-malasan begitu, Mr Defender datang dan bilang, "Ada dompetku di tasmu, Yang?"
Saya menjawab tanpa mengalihkan mata…

Don't carry the world upon your shoulder.

Dulu seorang sahabat saya pernah bilang, hidup itu seperti sperma. Di mana berakhirnya kita yang menentukan. Mau berakhir di selokan atau di rahim orang tersayang. Walaupun seringkali kita merasa tidak berdaya atau tidak punya pilihan, namun kenyataannya adalah kita punya kendali atas hidup kita mau dibawa ke mana. Kenyataannya adalah, kita sudah memilih dan cuma sedang dalam fase merasa berat menjalani konsekuensi dari pilihan yang kita ambil, lalu, sebagaimana lazimnya manusia kebanyakan, kita mencari kambing hitam dan merasa diri korban.
Apa pun keadaannya, kita selalu memegang kendali penuh atas diri kita, atas keputusan-keputusan yang kita ambil, di mana dan dengan siapa kita ingin berada.

You just need to take that control back. You don't owe the world to carry it upon your shoulders.

Sweet Misery

P.S. : bacanya jangan serius-serius apalagi pakai tersinggung yaa, hehehe....
Jadi kemarin saya ngobrol panjang dan lama dengan Mr Defender dengan topik yang lumayan bermutu: lagu-lagu Indonesia. Tentu saja obrolan kami berdua seperti biasa cepat sekali bergeser menjadi tidak serius, hahaha. Kami jadi ngerumpiin penyanyi-pencipta lagu. Ada yang lagunya bagus saat kehidupan pribadi juga prima, ada pula yang sebaliknya. Lagu-lagu terbaiknya hadir di saat kehidupan luluh lantak.
Dan yang kami maksud dengan kehidupan tentu saja artinya PERCINTAAN, bukan politik. Oh, tentu saja kami lagi nggak ngomongin Iwan Fals dan Ebiet G. Ade ya.
Ada beberapa nama, tapi kami memutuskan memilih dua. Jadi, pencipta lagu yang lagu-lagunya lebih bagus menulis lagu patah hati adalah... (setelah mengecualikan Rinto Harahap ya tentunya):
Glenn Fredly Coba, mana lagu Glenn yang booming di saat dia sedang kasmaran? Sejauh yang kami bisa ingat, cuma Kisah Romantis deh. Tetapi coba ingat saat Glenn bercerai denga…

Random

Sebenarnya banyak yang mau ditulis, tentang lucunya Galuna yang sudah bisa nyanyi dan joget ngikutin hi-5 di tivi dengan memakai kacamata hitam pilihan sendiri, tentang Sheva yang kata tetangga gantengnya kayak baby Adam anaknya Shireen Sungkar, tentang Maya karya Ayu Utami yang sudah ketiga kalinya saya baca dan masih menyisakan nyes di hati, tentang Hits Kitsch yang jadi salah satu album terbaik 2014 versi Rolling Stone, tentang Tarakan yang begini dan begitu. Sangat banyak yang mau diceritakan sampai bingung sendiri. Dan bertanya-tanya, bagaimana orang-orang lain itu bisa begitu rapi mendokumentasikan hidup di blog dan Instagram, sedangkan saya untuk memotret anak yang sedang lucu-lucunya saja sering tidak sempat saking sibuknya tertawa dan menggodanya.
Tapi apa iya segalanya harus selalu didokumentasikan?

Mencintaimu Apa Adanya (?)

Dulu, saya pernah menulis di sini tentang komitmen itu nonsense, hahahaha. Sekarang, karena beberapa obrolan dengan teman dekat dan beberapa tulisan yang menarik di dunia maya dan media sosial, saya jadi tergelitik untuk menulis tentang menerima pasangan kita secara apa adanya, benarkah ada?
Seorang teman pernah bilang, bahwa nggak ada yang namanya cinta yang menerima apa adanya. Ada sih, tapi itu Bruno Mars doang kali ya, hahaha... Bapak saya juga pernah bilang sambil bercanda bahwa kalau saat pacaran, kalau pacarnya jatuh bakal dibilang "hati-hati ya sayang..." tapi kalau sudah lama menikah bakal "kalau jalan lihat-lihat dong..." hahaha intinya, segala kekurangan yang nggak tampak di saat kita masih dimabuk kemesraan, nantinya akan terlihat saat kita sudah hidup bersama dan menjejak tanah alias menghadapi kenyataan. 
Kata seorang teman yang lain, hal itu sah-sah saja, misalkan kita berubah demi pasangan atau ingin pasangan kita berubah sesuai ekspektasi kita, se…