25 March 2013

Mr Mountainbike

He's Mr Mountainbike. Yang saya panggil dengan nama yang sama seperti ayah-ibu-kakak dan orang rumahnya memanggilnya: Ciput.

He's one of a few closest friends I ever had. Mungkin karena saya orangnya tertutup, teman dekat saya sedikit sekali. Dia salah satunya. Kami berteman sejak awal-awal masa kuliah karena sama-sama suka mendaki gunung dan susur gua. Dia partner perjalanan terbaik yang bisa diimpikan seorang penikmat alam. Kuat, sabar, baik, nggak pernah mengeluh, penuh perhatian pada teman seperjalanan, ringan tangan.

Dulu saya pernah bilang nggak akan mau naik gunung kalau di tim itu nggak ada dia. Hahaha.

Dia selalu ada kapan pun saya butuh. Ke mana pun dan kapan pun saya butuh diantar dia selalu menjawab ya. Pernah lho dia nganterin saya dari kampus Bintaro ke rumah bude di Jagakarsa, dari Jagakarsa ke Cempaka Putih dan balik lagi ke Bintaro, malem-malem naik motor. Mengantar jemput ke stasiun atau bandara, wah tak terhitung seringnya. Dia juga nggak pernah menolak kapan pun saya minta tolong, apa pun wujudnya. Pindahan kos, merakit kipas angin, bahkan membelikan makan sahur saat saya sedang malas.

He's my superhero. Selalu bisa diandalkan.

Entah ya bagi dia saya teman yang seperti apa. Memanfaatkan? Ah, semoga tidak. He know I'll do the same thing for him.

Menulis ini, karena kangen sekali sama dia. Terakhir ketemu dia itu pas pernikahan saya. Semoga dia sehat selalu, diberikan kebahagiaan berlimpah-limpah dan berkah yang tumpah ruah dari langit. AMIN.

tentang menjadi 26


Kami berdua masih terjaga sampai tengah malam di malam pergantian usia saya itu. Menghabiskan sepotong chantili yang kami beli sore harinya, sambil mengobrol ringan tentang acara televisi. Lalu kami berpelukan dan tertidur tanpa sempat menggosok gigi.