16 May 2013

another road intersection we passed together


Dalam ketakutan yang sangat, kita saling memeluk, lalu kamu bertanya apakah aku bisa membayangkan kita masih bersama lima atau sepuluh tahun lagi.
Aku bilang, aku punya imajinasi yang bagus. Lima belas tahun lagi, kita berdua dalam celana pendek dan kaos yang ukurannya belum berubah, tertawa bahagia sehabis menonton konser temu kangen Dewa 19. Iya, saat Once dan Ari Lasso sudah tua, mungkin akan ada satu dua uban di rambut kita dan beberapa garis halus di ujung kelopak mata. Tapi kita tetap anak muda yang sama.
Seandainya. Iya, seandainya yang kamu pun tak tahu kelanjutannya apa, dan aku tidak tahu apa solusinya, aku memotong kalimatmu dengan cepat seperti biasanya. Kamu tersenyum. Aku tersenyum.

Until then, we'll just hang on.

25 March 2013

Mr Mountainbike

He's Mr Mountainbike. Yang saya panggil dengan nama yang sama seperti ayah-ibu-kakak dan orang rumahnya memanggilnya: Ciput.

He's one of a few closest friends I ever had. Mungkin karena saya orangnya tertutup, teman dekat saya sedikit sekali. Dia salah satunya. Kami berteman sejak awal-awal masa kuliah karena sama-sama suka mendaki gunung dan susur gua. Dia partner perjalanan terbaik yang bisa diimpikan seorang penikmat alam. Kuat, sabar, baik, nggak pernah mengeluh, penuh perhatian pada teman seperjalanan, ringan tangan.

Dulu saya pernah bilang nggak akan mau naik gunung kalau di tim itu nggak ada dia. Hahaha.

Dia selalu ada kapan pun saya butuh. Ke mana pun dan kapan pun saya butuh diantar dia selalu menjawab ya. Pernah lho dia nganterin saya dari kampus Bintaro ke rumah bude di Jagakarsa, dari Jagakarsa ke Cempaka Putih dan balik lagi ke Bintaro, malem-malem naik motor. Mengantar jemput ke stasiun atau bandara, wah tak terhitung seringnya. Dia juga nggak pernah menolak kapan pun saya minta tolong, apa pun wujudnya. Pindahan kos, merakit kipas angin, bahkan membelikan makan sahur saat saya sedang malas.

He's my superhero. Selalu bisa diandalkan.

Entah ya bagi dia saya teman yang seperti apa. Memanfaatkan? Ah, semoga tidak. He know I'll do the same thing for him.

Menulis ini, karena kangen sekali sama dia. Terakhir ketemu dia itu pas pernikahan saya. Semoga dia sehat selalu, diberikan kebahagiaan berlimpah-limpah dan berkah yang tumpah ruah dari langit. AMIN.

tentang menjadi 26


Kami berdua masih terjaga sampai tengah malam di malam pergantian usia saya itu. Menghabiskan sepotong chantili yang kami beli sore harinya, sambil mengobrol ringan tentang acara televisi. Lalu kami berpelukan dan tertidur tanpa sempat menggosok gigi.


21 February 2013

Cinta Kan Membawamu Kembali



Mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu.
Temani air mataku, teteskan lara. Merajut asa.
Menjalin mimpi, endapkan sepi-sepi
(Cinta Kan Membawamu Kembali, Dewa 19)

Mungkin ini pengaruh hujan, atau mungkin hormon kehamilan, tapi pagi ini ketika mendengarkan Cinta Kan Membawamu Kembali dalam perjalanan ke kantor, mendadak hati saya ikut berhujan. Lalu saya melamun sepanjang perjalanan yang sedikit kurang lancar karena banjir dan kendaraan roda dua yang menguasai jalanan dengan semena-mena.

Lagu lama Dewa 19 ini menghadirkan kembali sebuah masa. Masa yang berat, masa yang berulang beberapa kali, dan mungkin suatu saat akan hadir kembali dengan sama berat, atau mungkin lebih.

Dulu, tak terhitung jumlah kali saya berpikir untuk mengakhiri hubungan dengan Mr Defender. Selama empat tahun kami pacaran sebelum menikah, sering saya merasa bahwa saya tidak akan sanggup melanjutkan hubungan kami ke taraf yang lebih. Bukan karena saya tidak atau kurang cinta, tapi ada masa-masa di mana saya merasa tidak akan sanggup memikul tanggung jawab untuk merawat ibunya yang mengalami gangguan kejiwaan. Bisa dan maukah saya, melepaskan kebebasan, ke-individu-an saya? Bisakah saya merelakan begitu banyak waktu, sumber daya, dan emosi, untuk merawat seseorang yang tidak saya kenal, dalam kontrak seumur hidup?

Mungkin, saat itu level stress saya dua kali lipat perempuan lain yang mempertimbangkan untuk menikah. Dan iman saya kepada kekuatan diri sendiri pun naik turun. Ada saatnya saya merasa kuat, terutama apabila ibunya sedang dalam fase normal, atau fase depresi yang tidak terlalu membuat saya lelah. Lalu, ketika beliau tiba di fase manik dan mulai menjadi orang gila yang sesungguhnya, lalu kami harus membawanya ke rumah sakit jiwa karena perilakunya mulai membahayakan orang lain, iman saya pun surut. Lalu saya akan menangis. Lalu dalam kesedihan itu kadang setitik rasa putus asa muncul dan membuat saya ingin pergi, mengakhiri semuanya.

Sungguh, saya ingin menjadi orang yang kuat untuk Mr Defender. Namun seringkali saya menatap bayangan di cermin itu begitu rapuh, siap hancur kapan saja. Dan setiap kali saya membicarakan ini dengan Mr Defender, kami berdua akan menangis, hancur bersama.

Mungkin, kami masing-masing adalah alasan untuk menjadi kuat bagi satu sama lain

Dengarkan batin jiwamu, dendangkan cinta.
Seperti dulu, saat bersama.
Tak ada keraguan.

Ketika kami memutuskan untuk menikah pun, begitu banyak dinding yang harus dirobohkan. Keraguan keluarga Mr Defender bahwa saya akan sanggup mengorbankan banyak hal dalam hidup saya untuk merawat ibunya. Kekhawatiran, semacam ketidakrelaan orang tua dan keluarga saya. Berbagai pertanyaan. Berbagai keraguan yang melemahkan. Dari diri kami sendiri dan orang lain. Semuanya kadang membuat saya berpikir untuk mundur, namun saya selalu tertahan. Saya mencintainya. Mungkin terlalu mencintai sampai dada ini rasanya sesak karena tidak muat menampungnya.

Lalu, ketika akhirnya kami benar-benar menikah pun, segalanya tidak lantas menjadi mudah. Bahkan mungkin tantangan yang sebenarnya baru dimulai. Apa yang selama ini hanya saya lihat dari jauh dan saya sentuh sesekali saja, sekarang menjadi kenyataan saya setiap hari. Saya harus menerima bahwa saya harus merelakan bayak kesempatan dalam hidup: karir yang lebih baik namun dengan jam kerja yang tidak memungkinkan saya untuk merawat ibunya, kesempatan bersekolah di luar negeri (kepada siapa kami harus menitipkan ibu selama dua tahun), bahkan sekedar waktu bersenang-senang yang lebih banyak. Saya tidak pernah bisa liburan karena hingga saat ini belum berhasil mendapatkan asisten rumah yang bisa bertahan menghadapi ibu di fase maniknya. Saya tidak akan tenang keluar rumah di malam hari terlalu lama sebab saya khawatir kesalahan itu terulang: kami terlambat pulang dan ketika kami sampai di rumah ibu menghilang dan kami harus berkeliling kota mencarinya semalaman. Saya harus sering-sering meminta maaf kepada tetangga yang terganggu oleh suara berisiknya melempar barang dan menyalakan televisi dengan volume maksimal, harus setiap hari menanyakan apakah ibu membuat keributan, apakah ada yang terluka, apakah ada kerusakan atau biaya berobat yang harus kami ganti. Saya pikir waktu akan membuat saya lambat laun menerima, namun nyatanya yang saya bisa hanyalah membiasakan diri, menguatkan diri untuk terus berjalan. Sebab saya sudah sejauh ini.

Sebab cinta sudah membawa saya sejauh ini. Dan cinta selalu membawa saya kembali kepada Mr Defender, seberat apa pun jalan yang harus saya lalui, sejauh ini.

Suatu hari nanti, mungkin saya akan bisa.

Cinta kan membawamu, kembali di sini.
Menuai rindu, membasuh perih.
Bawa serta dirimu. Dirimu yang dulu mencintaiku.
Apa adanya.





20 February 2013

15 tahun lagi nonton apa?

Pagi tadi suami memutar album lama Dewa 19 dalam perjalanan kami ke kantor. Jadilah sepanjang berkendara dari rumah ke kantor itu kami ngobrolin Dewa 19-Dewa-Mahadewa yang kebetulan sama-sama kami sukai. Terserahlah orang nggak suka Ahmad Dhani dan (terutama) artis-artis produk RCM, tapi kami berdua bisa dibilang fans berat Ahmad Dhani, ya ngefans sama musiknya, pandangan hidupnya, kejeniusannya, pilihan-pilihan yang dia ambil dalam hidup, dan cara dia membesarkan anak-anaknya. Yang nggak suka atau bahkan anti, no offense lho ya...

Trus suami bilang gini, "Seru kali ya kalau 15 tahun lagi pas kita umur 40-an dan si Dhani udah tua dia bikin konser temu kangen Dewa. Nanti kita nonton yaa..."

Saya mengiyakan dong. Sekarang aja udah kangen banget pengen nonton konser Dewa (sama Ari Lasso maupun Once). Trus kami lanjut ngomongin band-band lama Indonesia yang pengen kami tonton 15-20 tahun lagi, dengan personel yang udah tua-tua.

Dewa
Seru kayaknya nonton Dewa lagi, dengan dua vokalis (tambah yang Mahadewa dan Judika juga boleh deh) dengan personel yang lama main lagi (Aksan, Erwin, tapi kayaknya nggak mungkin ya, katanya kan mereka cabutnya nggak 'baik-baik').
Kla Project
I love them so much! Ini band yang lagu-lagunya berlirik bak puisi pujangga. Saya sih termasuk klanis yang kecewa karena Kla nggak bikin album lagi, tapi daripada bikin terus tapi kualitasnya jadi menurun atau musiknya jadi aneh (contohnya, sebut saja Slank).
Gigi
Mauuu... nonton Gigi yang personel lama, ada Ronald sama Baron juga... the best formation ever!
Tattoo
Apa kabarnya ya band ini sekarang? Hehehe.
Slank
Walaupun sekarang Slank juga sering konser dengan membawakan lagu-lagu lamanya yang dahsyat, rasanya kangeeeen banget pengen lihat Slank main dengan formasi lama, sama Bongky-Pay-Ipang. 
Sheila on 7
Saya dan Mr Defender sukaaa sekali nonton Sheila live karena Eros itu dahsyat banget! Hebat! Keterlaluan! Hahaha. Apalagi saya ya, sering banget kayaknya nonton Sheila dari pensi ke pensi, dari panggung ke panggung di masa awal-awal Sheila. Soalnya versi live-nya Sheila biasanya beda sama yang di versi rekaman, terutama gitarannya si Eros, bahkan kadang di live satu dengan lainnya juga beda-beda. Pasti seru mengingat jaman-jaman ABG di konser Sheila 15 tahun mendatang.

Udah sih itu aja yang kami sepakati. Ada beberapa yang masuk nominasi juga (cailah) tapi akhirnya kami drop, kayak The Fly, /Rif, Base Jam, dll. Nanti deh dilanjutin daftarnya kalau nggak lupa, hehehe.

15 February 2013

Selingan


Suatu siang saya mengobrol dengan Mr Cajoon. Waktu sudah menjadi sesuatu yang absurd, sebab saya tidak ingat itu percakapan tahun berapa. Bahkan saya tidak yakin apakah percakapan itu terjadi di dunia nyata ataukah di jendela maya. Atau mungkin malah hanya dalam pikiran saja, siapa tahu? Saya cuma ingat itu siang yang teduh, tidak menyengat. Kami saling bicara tanpa makna, bicara tentang bukan apa-apa. Lalu saya bertanya.

"Ted Mosby, kapan HIMYM-mu selesai?"

Dan dia menjawab, "HIMYM-ku masih lama, nggak tahu sampai season berapa."

Saya tertawa. "Nggak pa-pa, aku masih mau main sampai season berapapun, sampai kamu ketemu sama the mother of Ted's kids."


14 January 2013

bangun dari hibernasi

Blog ini mati suri ternyata. hahaha. Masih dikunjungi setiap hari untuk mengecek apakah ada postingan baru dari blog-blog favorit di blogroll, tapi sama sekali tidak ditulisi lagi :) Sebenarnya banyak sih yang mau ditulis, tapi rasa malas (dan kadang, takut menulis sesuatu yang akan disesali) selalu lebih besar dari rasa ingin menulis itu.

Well, tahun sudah berganti, dan saya mendapatkan hadiah tahun baru yang terindah dari alam semesta: janin berumur (saat ini) empat bulan yang tumbuh sehat walaupun menempuh tiga bulan pertamanya dalam hiperemesis dan kondisi kehamilan yang mengkhawatirkan (yang mungkin merupakan salah satu alasan blog ini hibernasi selama waktu di atas). Begitu cemasnya saya akan kondisi kehamilan ini, sampai-sampai saya baru mengabarkan berita gembira ini kepada orang-orang setelah trimester pertama lewat. Tapi syukurlah, sekarang si janin tumbuh sehat, normal dan sempurna menurut USG dokter.

Kabar lainnya, akhirnya saya memberanikan diri untuk minta dipindahkan dari unit kerja saya yang lama, yang situasi dan suasana kerjanya sudah tidak menyehatkan untuk saya. Dan sejak akhir tahun lalu, saya sudah menempati ruangan baru, dengan suasana kerja baru yang syukurlah lebih menyegarkan dan dinamis, dengan teman-teman seruangan, partner kerja yang lebih menyenangkan serta menyehatkan jiwa. Dan saya sangat bahagia menemukan lagi semangat kerja yang sudah hampir setahun menguap entah ke mana. Memang perubahan itu perlu. Terus menerus perlu.

Kami sudah pindahan ke rumah baru, dan menjadi penghuni pertama di perumahan yang fasilitas umum, termasuk jalannya belum sempurna. Air PDAM belum terpasang, jalanan masih tanah, suasana masih berisik karena masih banyak pembangunan rumah yang berjalan, developer yang kurang sekali pelayanannya... banyak sekali duka yang dirasakan, namun sukanya jauuuuhhh lebih banyak. Dan segala kesusahan yang kami rasakan di masa-masa ini, kami yakin kelak akan menjadi bahan tertawaan kami saat kami menengok ke belakang.

Yah, begitulah. Hidup ternyata cukup menyenangkan. :)