30 November 2012

Bukan Teman Bermain yang Menyenangkan

Guru favorit saya, Ajahn Brahm, pernah bilang, jangan biarkan siapa pun merenggut kebahagiaanmu. Orang lain boleh memakimu, merendahkanmu, berbuat jahat padamu, namun jangan biarkan perbuatan mereka itu mempengaruhi diri dan kebahagiaanmu. Jangan biarkan diri dan pikiranmu terpengaruh oleh kejahatan yang dilakukan orang lain padamu.

Hal sederhana ini adalah misi terbesar saya saat ini. Saya sangat ingin bisa begitu. Tetap tenang dan bahagia apa pun sikap dan pikiran orang pada saya, bagaimana pun buruk perlakuan orang pada saya. Saya ingin bisa, walaupun sulit: biarkan saja, jangan lekati, lepaskan, dan lanjutkan hidup. Alangkah bahagianya jika bisa.

Saya sepenuhnya sadar bahwa dalam menjalani hidup saya selama dua puluh lima tahun ini, saya telah membuat banyak keputusan yang tidak populer dan mungkin sulit dimengerti oleh orang lain, bahkan oleh mereka yang saya sayangi dan menyayangi saya. Keputusan-keputusan yang disayangkan (bahkan mungkin disesalkan) oleh banyak orang. Keputusan-keputusan yang bagi banyak mata tampaknya salah, egois, atau mengecewakan.

Dan sebagai konsekuensi atas keputusan-keputusan tidak populer yang saya ambil, saya harus siap dengan berbagai reaksi. Kekecewaan orang-orang yang saya cintai. Wajah bertanya-tanya orang-orang yang tidak mengerti bagaimana saya bisa mengambil keputusan-keputusan yang mereka anggap gila. Juga penghakiman, cercaan, sikap bermusuhan dan segala bentuk rasa tidak suka.

Beberapa waktu yang lalu saya menghadapi semua itu dengan sangat defensif. Saya membela diri, stand up for what I believe, saya akan berpanjang lebar menjelaskan alasan saya, dan ketika mereka menyatakan ketidaksetujuannya (seringnya bukan dengan cara yang baik) saya akan mendebat untuk mempertahankan. Lalu mereka mulai mencerca dan berkata kasar, dan akhirnya saya akan terpancing untuk membalasnya, demi kepuasan sesaat dalam hati karena merasa mampu membela diri sendiri.

Namun, semakin ke sini, semakin saya sadar bahwa setiap kali saya membela diri, saya hanya akan menyakiti diri saya lebih jauh lagi. Dengan berbantahan, saya membuka diri saya untuk disakiti oleh mereka, saya membiarkan mereka menyakiti saya sekali lagi dan sekali lagi.

Butuh waktu yang lama bagi saya untuk sampai pada penyadaran sederhana itu. Sekarang, setelah perlahan-lahan saya memahaminya, saya memutuskan untuk membiarkan saja orang berusaha menyakiti saya (dengan kata-kata dan sikap) namun hal itu tidak akan saya biarkan menyakiti saya. Seandainya seseorang marah, atau mencerca, jauh lebih mudah untuk diam, membiarkan dia mengatakan apa pun yang dia inginkan, lalu berlalu. Tidak perlu memikirkan apa yang mereka katakan, apalagi menanggapinya. Tidak perlu menjadikannya status di twitter, bahkan tidak perlu membicarakannya dengan pasangan saya. Karena hal itu sesungguhnya tidak penting, dan tidak akan saya biarkan menyakiti hati saya. Jika saya menceritakan kejadian yang tidak menyenangkan itu kepada pasangan atau sahabat, sesungguhnya saya malah membiarkan orang itu menyakiti saya lagi. Saat saya mengingat perbuatan buruk orang, maka sebenarnya saya cuma membiarkan perbuatan itu menyakiti pikiran saya lagi. Saya cuma akan merugi. Untuk apa coba?

Nah, ternyata, hal yang saya temukan adalah, ketika saya berhenti menanggapi, orang-orang secara ajaib berhenti mengganggu saya. Mungkin bagi mereka nggak asyik juga kali ya, mencela sampai berbusa-busa tapi yang dicela cuma diam. Paling pol cuma berkata "Sudah?" lalu berlalu. Mungkin saat mulai mencerca, orang memang mengharapkan untuk balik dicerca, sehingga ketika saya diam saja, mereka tidak menemukan kesenangan, dan akhirnya berhenti mengajak saya "main" karena saya bukan teman bermain yang menyenangkan lagi bagi mereka.


14 November 2012

Love Is Not Overrated

Dulu, sebelum saya dan Mr Defender menikah, banyak sekali orang, baik itu saudara, kerabat, teman, yang dekat maupun yang kenal-kenal gitu doang, yang sering menasihati bahwa nantinya setelah menikah, cinta itu jadi sesuatu yang nggak relevan. Marriage is all about commitment. Trus ada juga yang bilang, daya tarik fisik dan seks itu akan jadi hal yang nggak penting setelah menikah nanti. Yang penting ya itu tadi. Komitmen, komitmen, komitmen. Komitmen untuk terus bersama walaupun badai menerpa bahtera perkawinan (halah). Komitmen untuk menerima pasangan kita apa adanya, berkompromi dengan segala kekurangan pasangan, komitmen untuk bertahan walaupun kondisi yang berjalan tidak sesuai harapan, dan sebagainya-dan sebagainya.

Waktu itu, karena memang belum menikah, dan belum tahu bagaimana rasanya mengarungi bahtera rumah tangga (apa sih) saya setuju-setuju saja sebab semuanya memang terdengar masuk akal. Cinta yang membuat orang menikah, tapi pada akhirnya komitmenlah yang membuat pernikahan bertahan. Kira-kira begitulah.

Tapi, setelah menikah, saya menemukan bahwa ternyata saya dan Mr Defender adalah jenis manusia yang berbeda dari orang-orang tadi, sebab kami berdua sama-sama menganggap komitmen itu taik kucing. Bahkan kami berdua sebenarnya sama-sama benci terikat pada sesuatu (dan seandainya hidup dalam norma yang berbeda mungkin kami bakalan tinggal bersama tanpa menikah, saling mencintai selamanya tanpa ikatan apa-apa). Ini mungkin memang pandangan hidup yang ekstrim, tidak ideal, dan saya juga nggak bilang bisa diterapkan kepada semua pasangan. Intinya sih, mempertahankan pernikahan dengan berpegang teguh pada komitmen semula itu tidak bisa berlaku untuk kami berdua. Kenapa? Sebab kami sama-sama meyakini bahwa, kami hidup bersama karena cinta. Jika cinta sudah tidak ada, alasan mempertahankan pernikahan karena "sudah berkomitmen" itu akan terdengar menyedihkan bagi kami. Apanya yang membahagiakan dari kehidupan pernikahan di mana cinta sudah hilang?

Mr Defender pernah bilang, bahwa dia berharap nantinya selamanya bersama saya karena memang ingin, karena suka, karena cinta, bukan karena harus, bukan karena sebaiknya memang begitu. Dan kalaupun sudah menikah berpuluh tahun dan punya keturunan, alasan kami tetap tinggal serumah nanti tetap karena saling menginginkan, bukan karena apa kata orang kalau kita bercerai, bukan demi anak-anak yang butuh orang tua lengkap, bukan demi orang tua kita tidak menanggung malu karena kegagalan pernikahan kita.

Saya pernah bertanya, "Jadi nanti kalau suatu hari kamu nggak cinta lagi sama aku, kamu bakalan pisah sama aku?"

Dan dia menjawab, "Kalau nanti itu terjadi, memangnya kamu sendiri masih mau hidup sama orang yang nggak cinta lagi sama kamu?"

Jawaban yang sangat cetar bukan? Hehehe. Intinya ya kami berdua memang memandang cinta dan pernikahan seperti itu. Nggak perlu banyak komitmen dan janji, karena tidak ada yang menjamin bagaimana perasaan kita esok hari. Dan dengan tidak membebani diri kami dengan komitmen-komitmen itu, kami memberi lebih banyak ruang bagi cinta untuk bertumbuh. 

Apakah kami tidak pernah bertengkar? Sering, tentang hal kecil maupun besar. Mulai dari handuk yang belum dijemur sampai soal agama dan Tuhan. Tapi kami berdua sepakat untuk tidak saling berusaha mengubah satu sama lain, sebab kalau segitunya kita pengen mengubah seseorang, apa dong yang sebenarnya kamu sukai dari orang itu? Tapi pada akhirnya kami berdua baik-baik saja, bahkan kami sama-sama tidak melihat hal-hal yang tidak kami sukai dari diri masing-masing sebagai kekurangan. Itu cuma perbedaan, dan perbedaan tidak akan menjadi jurang pemisah selama kami masih saling mencintai.

Ya, lagi-lagi cuma cinta yang bisa membuat kami bertahan. Bukan kompromi, bukan komitmen, bukan pernikahan itu sendiri.

(Ini cuma cerita kami loh, bukan untuk mendebat atau mengecilkan arti pernikahan dan komitmen bagi mereka yang memang menghormatinya)

02 November 2012

sweetness

Beberapa hari yang lalu, melalui jendela maya, saya bercakap-cakap dengan seorang teman baik dari masa lalu. Setelah beberapa kalimat darinya yang seperti biasa, tanpa filter, saya bertanya padanya,  kira-kira seperti ini, "Kamu tetap lebih suka aku seandainya waktu itu aku tidak mengambil pilihan ini ya?"

Dan dia di seberang sana berkata, "Sekarang aku 99% suka kok. Seandainya kamu nggak memilih jalan ini, aku 100% suka. Bedanya cuma 1% aja."

Hey kamu, sebenarnya saya ingin bilang, "Aku nggak peduli kamu mikir apa tentang aku." dan sebenarnya saya memang sudah lama tidak peduli kepada apa yang orang lain pikirkan, tapi kata-katamu sungguh manis, dan saya bahkan tidak peduli sekalipun itu bohong :)