21 September 2012

mengubah dunia

Yang terpenting bukanlah berusaha mengubah dunia, tapi bertahan agar dunia tidak mengubah kita menjadi orang lain yang bukan kita.

btw, senang akhirnya Jokowi menang :)

20 September 2012

the conversation

Take some rest.
I will.
You know what, you worried too much.
Yeah?
You listen too much.
So?
I love it when you became an opinion earless bitch just like you were the first time we met.
Wow, that's a harsh way to say I love you.
You know, you don't need to understand why some people talked behind you, why most people acted like they have the right to tell you what to do, why they judged... You don't need to please everybody. This is your life and they have nothing to do about it, you live it! So why are you so focused on what people say, or think about you? Why would you care?
Because I live in a society?
Fuck the society. They don't love you anyway. I do.
I'll try, okay? Just give me some time.

19 September 2012

meleleh adalah detik ini

Sesungguhnya, Miss Sunshine, kamu adalah satu orang yang paling aku takutkan reaksinya saat aku memberitahukan keputusanku untuk berputar haluan. Mengenalmu sekian lama membuat aku bisa membayangkan responmu, ketidaksetujuanmu, keterusteranganmu nanti saat mengatakannya. Dan yang lebih menyebalkan adalah fakta bahwa pendapatmu sangat penting bagiku. Sebab penerimaan darimu berarti sekali untukku. Sebab melanjutkan hidup dengan pilihan ini, sambil menyadari bahwa kamu tidak menerimanya, sepertinya akan menyakitkan.

Ternyata reaksimu hanyalah: aku sayang kamu. semoga kuat melewati semua ini. Dan kemarin kamu berkata: aku pengen di sana sama kamu, pengen nemenin kamu melewati semua ini.

Namun kalimat yang paling indah adalah ini, kawan: kata siapa aku mengerti keputusanmu? aku nggak ngerti. masih banyak pertanyaan di otakku. tapi aku mendoakan.



Kamu adalah bukti nyata dari semua quote tentang persahabatan.

18 September 2012

downgrade?

Siang kemarin pada jam istirahat makan siang, kami berbaring sebentar di kamar, berbicara tentang banyak hal. Lalu Mr Defender bilang pada saya, "Ning, kamu inget nggak dulu kamu pengen beli tas Coach?"

"Inget. Tapi nggak dalam waktu dekat ya. Kan sekarang orientasinya kitchen set sama pasang paving block hehehe."

Mr Defender berkata, "Aku sedih karena jangankan Coach, sekarang kamu nggak bisa lagi beli Guess atau Mango. Aku sedih kamu harus pikir-pikir dulu sebelum beli CnK atau Kickers."

Saya merasa tersentuh sekali. Oh dia tahu ya ternyata merek-merek tas dan sepatu yang saya sukai. Hahaha, bercanda. Saya terharu karena saya bahkan nggak sadar bahwa saya pikir-pikir dulu untuk sepasang Kickers (dan berakhir membeli Bucheri atau Fladeo saja). Setelah diingat-ingat lagi, saya baru sadar bahwa sejak menikah saya jadi 'downgrade' segala merek barang yang saya pakai, dari Guess ke Elizabeth, dari Anna Sui ke Oriflame, dari Body Shop ke Mustika Ratu, dan masih banyak lagi. Termasuk pindah dari Rudy Hadisuwarno dan Natasha ke salon rumahan, hahahaha.

Padahal saya dengan inisiatif sendiri kok melakukan itu. Dengan senang hati malah. Soalnya sejak saya sadar bahwa cicilan rumah itu kalau kata Syahrini sesuatu banget, dan harga perabotan untuk mengisinya nanti (sedikit demi sedikit) juga lumayan sesuatu, maka saya juga harus melakukan penghematan yang sesuatu banget. Tapi saya juga nggak mau menderita-menderita amat, makanya saya sebisa mungkin melakukan penghematan di pos-pos yang tidak mengurangi esensi kenikmatan hidup. Toh parfum Oriflame wangi-wangi aja kok. Toh muka saya nggak berubah jerawatan hanya karena nggak facial di Natasha. Toh Fladeo atau CnK atau bahkan Louboutin kan sama-sama diinjak juga. Kenyamanannya memang beda sih, tapi bedanya sebanding kok dengan penghematannya.

Soalnya sejak akad KPR, memang keuangan nggak seleluasa dulu, yang bisa shopping begitu saja tanpa pikir-pikir. Sekarang mau nonton XXI aja dijadwal sebulan sekali, hahahaha. Bukannya miskin sih, tapi namanya juga lagi mengencangkan ikat pinggang ya, demi bisa membeli si perabot rumah lebih cepat.

Saya nggak tahu kalau ternyata pasangan saya kepikiran dengan semua itu. Jadinya saya antara pengen nangis dan tertawa.

"Sudahlah Ko, aku sudah puas kok ngerasain pakai tas Guess. Sudah pernah juga ngerasain pakai tas tiga puluh ribu beli di Melawai. Jadi nggak apa kalau pakai yang sekarang. Kalau ada uang kan nanti beli Coach atau LV bisa kapan aja. Bahkan Ligwina Hananto aja menolak pakai LV sebelum standar hidupnya naik lho. Lagian kita kan sekarang downgrade bukan karena jatuh miskin atau apa, tapi emang diniatin buat rumah dan isinya."

"Iya, tapi aku tetap sedih, nggak bisa bikin kamu hepi dengan bisa beli ini itu kayak dulu."

Dan jadi deh akhirnya saya nangis. Bukan karena nggak bisa beli tas Coach tentunya, tapi saya terharu sekali, beruntung sekali saya punya suami yang mikirin segala-galanya, memperhatikan saya sampai hal sekecil-kecilnya, bahkan sadar kalau saya berganti merek bedak dan sabun tanpa saya kasih tau. I'm so damn lucky.

Dan siang itu kami kembali ke kantor dengan saya bernyanyi-nyanyi riang, I was smiling like the happiest girl on earth, I don't even need that Coach bag!

13 September 2012

Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan

Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa kemana
(Payung Teduh)

bagian tersulit adalah berputar haluan

Saat pertama kali belajar menyetir, salah satu yang membuat saya takut adalah saat saya harus putar balik di jalan yang cukup ramai. Mengapa menakutkan? Karena saya mudah panik, butuh keberanian untuk membelokkan mobil dengan sedikit menghambat kendaraan-kendaraan lain di belakang yang terus mengklakson, dan kadang harus memotong arus jalan pengendara lain yang berlawanan arah dengan saya, yang memelototi saya dengan kesal karena merasa perjalanannya terganggu. Proses memotong jalan itu sangat tidak nyaman untuk saya ketika itu, sebab apabila panik, seringkali saya buru-buru melepas kopling tanpa diimbangi gas yang hasilnya mesin mati, atau kurang tepat mengukur seberapa banyak saya harus memutar setir, yang akhirnya membuat mobil saya mentok di trotoar, lalu saya harus memundurkannya dan membelokkannya kembali. Merepotkan.

Karena itu, saya sering memilih untuk nggak putar balik di tempat ramai itu dan jalan terus, lalu nanti belok kanan di perempatan, lalu belok kanan lagi di perempatan selanjutnya.

Padahal, proses berputar haluan dengan memotong jalan itu paling lama hanya berlangsung lima menit. Tapi saya sering memilih memutar ke jalan yang jauh demi menghindari senewen karena diklakson sana-sini.

Ada satu hal yang saya lupa, bahwa saya akan merasa lega sekali saat telah berhasil berputar haluan dan menghemat waktu karena tidak harus membelah setengah kota untuk mencapai tujuan yang bisa saya capai dalam lima belas menit, apabila saya mau berputar balik meskipun harus menebalkan telinga dari klakson-klakson yang mengganggu itu.

Lambat laun, seiring bertambah canggihnya kemampuan menyetir saya, putar balik tidak menjadi masalah lagi. Pun ketika saya dihujani klakson, saya tetap percaya diri di belakang kemudi. Toh saya tidak melanggar lampu lalu lintas. Toh yang saya potong jalannya bukan ambulans atau iring-iringan gubernur dengan voorijder.

Dan yang lebih penting, toh saya yang menyetir dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap mobil dan arah tujuan saya. Klakson-klakson dan suara teriakan akan selamanya berada di luar sana, tak akan ada yang bisa menyakiti saya.