06 May 2012

I should have bought ya flowers, he said.

Beberapa hari (atau pekan) yang lalu saya mengobrol lama dengan Mr Summer tentang banyak hal, sampai kemudian tibalah kami pada satu topik yang tidak pernah kami bicarakan: kegagalan hubungan kami di masa lalu.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, perpisahan dengan Mr Summer merupakan salah satu titik yang rasanya sukar diabaikan dari hidup saya, saking hancur leburnya perasaan saya waktu itu. Sekarang sih tentu saja perasaan sakit dan terluka itu sudah sembuh, buktinya kami sudah berteman baik lagi.

Kemudian kami membicarakan perempuan itu. Lucunya, saya bisa tersenyum mengingatnya. Lalu Mr Summer berkata, hey, aku minta maaf.

Kenapa? Karena memilih dia dibandingkan aku? It's ok, you can't force love.




No I didn't sorry for the things I've done. I'm sorry for those things I didn't do.

Alis saya terangkat. Hal-hal seperti apa?

I loved you, you know that. Before her, I loved you first. Entah apakah kamu sadar, but I did love you. Kamu tahu fase di mana kamu sudah bersama dengan si A (he mentioned Mr Skater, the one I never mentioned here or anywhere)  lalu tiba-tiba kita bertemu di X dan semuanya jadi awkward?

Saya bertanya kenapa.

I was about asking you to leave him and be with me.

Really? But why? And btw, you were with your  dream girl at that moment. And btw again, Mr Skater and I were just friends. With benefits, maybe. hahaha.

I was jealous. Cemburu yang nggak jelas, walaupun saat itu aku sedang bersama cewek yang aku cintai. Dulu aku nggak tahu kenapa, tapi kemudian aku tahu. Dan setelah aku tahu kenapa, aku sadar sebenarnya aku bukan cemburu karena kamu sedang bersama Mr Skater. Aku cemburu karena melihat bagaimana dia memperlakukanmu. Kamu tahu, hal-hal seperti bunga mawar di hari Valentine, menggandeng tanganmu saat kalian sedang di jalanan, dan bahkan dia tidak melepaskan tanganmu saat kalian di depan umum. I was not really jealous. I was sorry for I didn't do the same thing when we were together. And then I realized, it wasn't us, it weren't you, it was me. It was me that messed us. I was the one that ruined us, that made things between us didn't work. And when I saw you, with another man who treated you so well, I just wanted one more shot.

Oh, wow, I didn't notice. Tapi terima kasih kamu sudah berniat begitu. Aku tersanjung, kata saya. Kamu habis dengerin lagu Bruno Mars atau gimana?

Dia tertawa. Yah, begitulah perasaanku dulu. Aku belajar sangat banyak dari perpisahan kita. Aku memperlakukan pacar-pacarku dengan sangat baik setelah itu. Jadi sebenarnya semua mantan pacarku berhutang padamu, bisa dibilang begitu.

Saya tertawa. So I made you a gentleman?

A better man. Dan terima kasih untuk itu.

Kami sama-sama tertawa. Lalu percakapan itu berakhir karena jam sudah menunjukkan pukul dua siang, saya harus kembali ke kantor dan dia harus istirahat makan siang.

And life goes on as it should.




pandora


Kumampatkan seluruh isi kota ke dalam sebuah botol,
namun tak pernah aku sanggup melemparnya ke laut.
Kubiarkan dia diam di pojok laci,
hingga kaca-kacanya berdebu.

Jika nanti suatu hari,

aku tak sengaja melepaskan sumbatnya,
biarlah berhamburan isinya.
Di dalamnya ada sepotong coklat,
darimu di hari Valentine pertama kita.
Harum parfummu;
tertinggal di rajutan sweter hitam itu.