30 April 2012

Tuhan selalu bersama para pejuang

... karena itu aku yakin dia selalu memelukku.
Walaupun yang aku perjuangkan bukan tanah air,
bukan perdamaian dunia,
bukan nama-Nya, yang aku masih tak mengerti kenapa kita begitu keras kepala.

Aku percaya,
Tuhan bersama mereka yang tak pernah putus asa,
mereka yang menjaga bara harapan dalam dadanya,
bukankah itu iman yang sesungguhnya?

gambar dari sini

24 April 2012

cuplikan cerita cinta hari ini

Bos, masa-masa pacaran pas kuliah itu enak banget ya? Tinggal dijalani aja nggak usah mikirin masa depan, beli rumah, nabung buat kawin, merencakanan punya anak berapa, apa pendapat orang lain dan apa lagi orang tua karena hidup itu ya cuma gini doang kok. Beli es krim sama makan bakso berdua juga udah seneng, dinyanyiin lagu Piknik 72 pakai gitar rasanya udah dunia milik berdua. Nonton javarockingland itu surga. Sekarang saat untuk pertama kalinya kata bipolar disorder ada dalam sejarah cinta gue, dan saat ongkos psikiater dan cicilan KPR untuk pertama kalinya berkorelasi dengan hidup gue, gue baru sadar betapa lo dan gue yang waktu itu sangat, sangat bahagia. Dan kalau orang bilang memang inilah dunia nyata, apakah yang lo dan gue jalani dulu itu nggak nyata? Apakah perasaan kita yang dulu itu cuma euforia, banjir endorfin yang akhirnya akan surut juga? Gue nggak tau ya apakah gue yang sekarang masih gue yang dulu bikin lo jatuh cinta, atau apakah gue masih bakal inget dengan lo yang dulu sempurna bagi gue, saat kita sudah mempertengkarkan hal-hal yang bahkan nggak sedikit pun pernah terlintas di otak gue bakal terjadi dalam hidup gue bersama lo. 

Tapi yang gue tahu, gue tetap mencintai lo sama besar seperti dulu. Mungkin lebih. Dan gue berdoa semoga saat gue merasa tersesat dan nggak kenal lagi dengan hidup yang gue jalani, gue akan selalu ingat pada seorang cowok ganteng bermata belo menyanyikan Kasih Jangan Kau Pergi dengan gitar yang membuat gue jatuh cinta, yang sekarang bersama gue menjalani kisah yang aneh ini.

And then everything will be just fine.

Berlalu

Karena sesuatu hal, tiba-tiba saya terkenang pada Mr Ladykiller, salah satu lelaki yang pernah mengisi hidup saya, yang kisah dengannya entah kenapa kadang tidak ingin saya kenang. Namun, setelah waktu berlalu, ternyata saya mampu mengingat kembali perasaan saya padanya dulu, cinta yang lembut namun menggelorakan, rasa sakit yang menyiksa namun padanya ada keindahan. Dan saya mencoba membahasakan kembali dengan jujur, salah satu masa yang dulu saya anggap paling memalukan dalam hidup saya, namun kini akhirnya bisa saya syukuri.

Mungkin ini yang ingin dikatakannya kepada saya ketika saya telah tak mau lagi mendengar. Saya merasa sekarang dia sedang tersenyum kepada saya, merasa lega sudah menyampaikan maksudnya, walaupun tidak melalui kata-kata.

Tidak ada yang salah, W. Maafkan jika pernah membuatmu merasa begitu.


Selamat berlayar di lautan luas! Doaku selalu untuk kebahagiaanmu.

adalah.hidup


Hidup adalah sinar matahari pagi yang hangat, air kran kamar mandi yang mengalir deras dan jernih, suapan pertama nasi panas dengan abon sapi yang nikmat. Tapi hidup juga adalah darah yang merembesi luka yang belum lagi mengering dan isak tertahan di dalam hatimu.

Hiduplah sehidup-hidupnya hidup. Karena kita tak akan sempat menyesal.

23 April 2012

Mr Dhammasangani

Engkau laksana ibu bagiku, tempatku bisa menumpahkan segala air mata dan pengaduan kecilku, kemanjaanku pada hidup, juga protes-protes kecilku pada tuhan.
Engkaulah ibu yang mengajarkanku tentang air yang jatuh mengalir membawa apa pun yang dilewatinya. Hidupmu adalah sungai, Nak.
Engkaulah ibu yang memelukku tanpa kata, namun hangatmu mencairkan segala.
Engkaulah ibu yang dekapannya menguatkan.
Engkaulah ibu, di dalam matamu kutemukan cinta tak bersyarat bisa jadi kenyataan.

Untuknya, yang aku percaya bahwa di putaran roda sebelumnya, entah yang keberapa, dialah rahim yang meniupkan padaku kehidupan.

sampai maut memisahkan kita

Jauh di lubuk hati sana, saya ingin menikah secara agama Katolik. Bersama-sama dalam susah dan senang, sehat dan sakit, hingga maut memisahkan. Saya jatuh cinta pada konsep janji yang tak bisa ditarik kembali, yang (walaupun mengerikan) berarti bahwa keputusan menikah itu adalah sebuah langkah yang besar, berani, dan karenanya tidak semudah itu diambil.


gambar dari sini

05 April 2012

the way you tried

Kata-kata Mr Defender yang membuat saya menangis, entah karena sedih atau bahagia:
"Cah ayu, kalau aku bisa punya keluarga yang normal aku pasti akan dengan senang hati ngasih itu buat kamu. Kalau ada pilihan biar aku bisa nggak nyusahin kamu, nggak bikin kamu sedih dan kepikiran, aku pasti milih itu. Tapi aku nggak bisa. Kalau aku bisa pasti aku kasih itu buat kamu."

(semacam) patah hati

Entah kenapa, bulan-bulan menjelang pernikahan ini saya sering merasa galau. Bukan galau karena ragu-ragu menikah sih, cuma saya jadi sering ingat masa lalu. Masa lalu bukan cuma dengan mantan, tapi juga dengan teman, sahabat, orang tua, sekolah, kampus. Sering sekali ingatan saya ter-flashback dengan sendirinya. Ingat masa-masa SMA, sahabat-sahabat saya, apa yang dulu saya senang untuk lakukan, apa saja yang pernah saya lewati. Dan saya jadi rindu masa-masa itu. Rindu sekali, tak pernah serindu ini.

Mungkin hidup saya setelah pernikahan akan jauh lebih berwarna dari masa-masa itu. Atau mungkin juga tidak. Masa itu tidak akan terulang. Saya bisa punya masa lain yang lebih indah, atau mirip, tapi tetap saja bukan masa itu.

So it's a funeral I think.

Farewell, the former me. Thank you for making me me.

muhasabah diri, cailah

Saya sering banget mendengar komentar "lo sih enak blablabla..." atau "jangan bandingin sama hidup lo yang blablabla..." atau "lo sih ga tau betapa menderitanya gue, karena lo blablabla...."

Di-iri-in orang adalah hal yang benar-benar membuat saya melongo se-melongo-melongo-nya. 

Serius deh, apa sih yang bisa bikin kalian iri sama saya?
I'm not pretty, I mean I'm not even a nine or eight, there's a lot of hard ten girls out there to be envy. Jadi nggak mungkin lo iri sama gue karena gue cantik (yaiyalah, ngarep lo, hahahahaha). Gue juga nggak pinter-pinter amat, masih banyak teman seangkatan gue yang sekarang ini udah lulus S2, yang IP-nya sangat-sangat wow sementara gue ini mediocre, pas-pasan, kaum marjinal. Jadi nggak mungkin juga kan lo iri karena prestasi akademik gue.

Kerjaan? Saya sangat bersyukur dengan pekerjaan yang meskipun gajinya sedang-sedang aja tapi gue nggak pernah merasa underpaid, masih banyak orang di luar sana yang susah cari kerja. Tapi pekerjaan saya bukan pekerjaan yang bisa disombongin ke orang-orang, baik soal gajinya maupun tingkat ke-keren-an pekerjaannya. Saya cuma seorang staf semacam sekretaris yang kerjanya cuma nyatet dan mendistribusikan surat-surat, booking tiket dan hotel untuk perjalanan bos gue, bahkan sampai bikin minum dan beli snack macam OB. Saya juga jarang dapat perjalanan dinas atau pelatihan buat mengembangkan karir. Sementara teman-teman dengan pendidikan yang sama persis seperti saya mungkin punya pekerjaan yang lebih keren: auditor, akuntan, account representative pajak dan punya penghasilan tahunan dua tiga kali lipat dari saya (dan saya juga nggak iri kok, saya yakin mereka yang penghasilannya lebih banyak pasti bekerja lebih keras dari saya).

Hidup? Biasa aja. Standar gaya hidup saya jauh lebih sederhana kalau dibanding teman-teman yang lain. Saya memang punya calon suami luar biasa baik, tapi mohon diingat juga saya wajib merawat ibunya yang bipolar disorder, so it's not easy after all. Keluarga saya sendiri bukannya nggak banyak masalah, tapi nggak bakalan juga ditulis di sini. Bukan keluarga yang bisa lo iriin kan?

Jadi kenapa? Kenapa lo mesti iri sama hidup gue yang kalau diukur mungkin submarjinal ini? Mungkin lo iri karena lo melihat apa yang tampak dari luar aja, dan mungkin tampak luar gue emang super buat lo, alhamdulillah. Masa iya gue harus menampakkan semua hal yang nggak enak di hidup gue sama lo dan pasang muka suram? Gue bukan acting happy sih, gue trying to be (and look) happy. Kenapa lo enggak? Dan mencoba untuk nggak iri sama gue (dan entah siapa lagi) yang belum tentu hidupnya lebih beruntung dari lo. Percaya deh, iri sama orangatau terus-terusan mengasihani diri cuma bikin hidup lo tampak makin menyedihkan.