24 February 2012

someone out there loves you


Setiap kali engkau merasa sedih, sepi, sendirian,
ingatlah, ada seseorang di luar sana yang mencintaimu.
Jika pun engkau merasa tidak ada,
engkau hanya belum tahu, atau belum bertemu orang itu.

dewasa

Bagi saya, kata "dewasa" bisa diasosiasikan dengan dua hal:
  1. Menjadi orang yang bisa menempatkan diri di posisi orang lain, melihat segala sesuatu dengan sudut pandang orang lain, berpikir dengan logika orang lain.
  2. Menjadi orang yang berorientasi pada saldo tabungan dan portofolio investasi, sibuk mengejar karir, membeli apa saja yang orang lain beli demi tidak kalah saing (dan merasa gaji setiap bulan selalu kurang), dan selalu mengeluh tentang segala sesuatu: bos, teman kerja, pacar, mertua, teman, kemacetan lalu lintas, politik, perdamaian dunia.
Saya, sangat takut akan menjadi versi dewasa yang kedua. Saya ingin menjadi orang dewasa seperti Katie Sokoler yang tidak membunuh anak kecil di dalam dirinya. Anak kecil yang ceria, bersemangat melihat seluruh dunia ini dan tidak berprasangka terhadap segala sesuatu.

Semoga saya tumbuh menjadi seperti itu. 




23 February 2012

It's Kind of A Funny Story


Saya suka film ini. Haha. Pasti pada tau semua deh kalau saya memang suka sama film-film tentang penyakit jiwa (bukan film tentang pembunuh psikopat atau thriller yang ujungnya orang yang bi-personality lho tapinya). Bukan, bukan karena saya sedang merawat calon mertua yang bipolar sehingga saya butuh tambahan ilmu, tapi karena entah bagaimana caranya, film-film seperti itu bisa memencet tombol pause dalam hidup saya, bikin tiba-tiba jleg!! semua berhenti dan saya jadi sadar sesuatu, lalu nangis sampai tersedak, atau ketawa guling-guling, atau cuma bengong galau seharian. Dan ada sesuatu yang tersentuh di dalam sana, sesuatu yang berubah tanpa saya sadari, jauh di dalam diri saya.

Kalau film yang ini... hm, pada dasarnya saya suka sih semua film tentang usaha mencari jati diri, menemukan passion, menemukan arah hidup yang dimau, persis yang dilakukan Craig di film ini. Dan setelah melihat film ini saya jadi makin takut punya anak, sebab saya nggak benar-benar tahu gimana membesarkan anak dengan benar tanpa harapan berlebihan. Oh well. Dan jadi makin tahu bahwa kita ini, semua orang, nyaris semuanya, sebenarnya hidup tanpa sadar apa yang dimau dan mau dibawa ke mana hidupnya. Hidup mengejar sesuatu yang padahal bukan itu sebenarnya yang kita mau. Untuk siapa? Keluarga, orang tua, atau malah bukan siapa-siapa sama sekali? Sebanyak apa kita hidup hanya untuk citra, yang semu? Bahkan, bagaimana kita tahu mana yang nyata dan mana yang semu?

Saya juga suka bahwa film ini dibuat dengan ringan tanpa mencegah esensinya masuk ke hati penontonnya. Ah, I love how everything is so natural in this movie. I love Zach. I love Jeremy Davis. And I've watch this movie a couple few times I should really stop. Hahaha.

life in slow motion

Akhir-akhir ini beberapa orang di sekitar saya bilang bahwa saya kelihatan berbeda. Kind of sparkling. Dan mereka bertanya apa yang telah saya lakukan, dengan 'tuduhan' bermacam-macam: memakai produk kulit baru, demabrasi di salon, suntik vitamin C, atau sesimpel bahagia karena akan menikah. Haha.

Sebenarnya, saya juga nggak tahu kenapa aura wajah saya berubah. Saya nggak ke salon dalam tiga bulan terakhir  (bagooossss, calon pengantin macam apa ini, hahaha) jadi raut segar saya (halah) mungkin berasal dari olahraga dan meditasi. Hell yeah I meditate!

Awalnya saya tertarik meditasi karena iseng. Di kosan ada seorang teman beragama Hindu yang rajin yoga, dan dia memperkenalkan saya kepada temannya yang lain, yang beragama Budha, yang mengikuti meditasi di klenteng. Si teman ini, wih, wajahnya berseri tapi lembut, seperti Dewi Kwan Im, haha. Katanya dia begitu karena rajin meditasi. Dan katanya meditasi di klenteng itu terbuka untuk semua agama dan kalangan. Cuma, kelas meditasinya nggak selalu ada, kadang-kadang aja, nggak rutin.

Ya sudahlah saya coba. Bagaimana rasanya? Sama aja kayak meditasi yang ada di youtube, tarik nafas-hembuskan, gitu-gitu aja kok. Heran juga bagaimana orang-orang bisa mendapat pencerahan dengan bermeditasi. Semacam cuma duduk bengong, lalu tadaaaa.... hidupmu membaik.

Lalu, saya mencoba bermeditasi sendiri di kamar dengan menggunakan petunjuk yang diajarkan di klenteng. Duduk, diam, tenang, dalam postur yang baik, bernafas teratur, dan mencoba untuk tidak memikirkan apa pun. Konon katanya meditasi itu bukan mengosongkan pikiran, tapi menenangkan pikiran dari segala hiruk pikuk dan terhubung kembali dengan seseorang di dalam sana: diri kita yang sejati. Maka saya mencobanya, menit-menit hening itu, sepuluh menit setiap hari. Duduk, rileks, bernafas. Mencoba merasakan setiap pergerakan kecil dalam tubuh saya. Hela nafas, detak jantung, aliran darah. Sadar akan fungsi-fungsi tubuh saya, sadar akan sekitar saya. Fokus. Jika ada selintas pikiran yang datang, seperti instruksi tutor, saya tidak berusaha menyingkirkannya, tetapi mencoba menjauh dan membiarkan pikiran itu berlalu. Seperti membayangkan sehelai daun di atas sungai yang mengalir menjauhi kita.

Dan seterusnya. Dan seterusnya. Ajaibnya, meskipun saya tidak tahu apakah teknik meditasi saya benar atau salah, saya merasa membaik. Saya merasa tenang dan rileks. Padahal kan beban hidup nggak berkurang dengan meditasi. Misalkan kita banyak utang kartu kredit, ya tetap saja utangnya nggak ilang. Pacar yang hobi selingkuh masih tetap akan menjadi brengsek. Bos yang menyebalkan, teman yang suka menikung, they all persist. Nggak berubah sama sekali. Dunia tetap sama, tapi cara pandang kita terhadap semuanya yang mengubah segalanya.

Oke, posting ini mulai agak-agak sok bijak. Bukan gitu juga sih maksudnya, cuma mau menjelaskan apa yang saya dapat dari meditasi. Tentu saja meditasi nggak mengubah saya serta merta menjadi searif Tong Samchong atau punya wajah dan aura menenangkan seperti Aa Gym. Saya masih orang yang sama yang bisa emosi dan terganggu karena hal sesepele kasir Robinson yang lelet. Perbedaannya adalah, saya sekarang lebih sadar akan segala hal. Sadar bahwa saya marah, sadar bahwa saya emosi, sedih, dan sebagainya. Sadar bahwa hidup itu ya cuma begini kok, suatu hari semuanya berlalu. Sadar tiap kali bernafas, sampai sadar terhadap rasa lapar dan apa yang saya makan. Nggak berarti saya langsung jadi vegetarian kok, nggak berarti langsung makan sehat juga, tapi saya lebih sadar: oh ini saya makan bakso, oh bakso itu dibuat dari blablabla, oh bakso itu begini. Itu kegiatan yang sesederhana makan bakso aja jadi begitu, haha. Jadi kalaupun saya akhirnya tetap makan bakso, ya saya makan dengan sadar (ealah emang selama ini gak nyadar ya, hahahahaha).

Dan karena jadi lebih sadar (mungkin nggak sesadar diri orang lain yang meditasinya lebih dalam dan dengan cara yang baik dan benar) maka hidup rasanya bergerak lebih lambat. Rasanya tiap mau ngapain itu bener-bener dipikir, disadari akibatnya (walaupun kadang keterusan juga hehehe), dan karena itu hidup serasa slow motion banget. Setiap detik terasa begitu bermakna, dan hiruk pikuk sekitar menjadi lebih sedikit efeknya buat saya. Itu saya lho, pengalaman setiap orang yang bermeditasi mungkin berbeda.

Dan kalau gara-gara itu wajah jadi lebih berseri, buat saya itu bonus yang alhamdulillah banget, hehehehe. Amiiiiiinnn.

22 February 2012

Buku Harian


Baru-baru ini, saya menyadari bahwa banyak aktivitas yang dulu saya sukai dan tidak bisa tidak saya lakukan, sekarang ini, sudah lamaaaaa sekali tidak saya sentuh. Misalnya, membuat satu folder khusus berisi lagu-lagu yang sesuai dengan mood saya hari itu (dulu saya mengerjakannya setiap malam sebelum tidur), menyimpannya di mp3 player dan mendengarkannya esok harinya, sambil beraktivitas (sekarang, rasanya lagu di ipod saya itu-itu saja selama berbulan-bulan karena tidak sempat menggantinya). Atau, mencoba resep baru, mengganti beberapa bahannya dengan bahan apa saja yang saya mau (eksperimen ceritanya), dan menulis ulang si resep. Banyak deh aktivitas saya yang hilang, entah karena pertambahan usia (jiah!), kesibukan (ketahuan deh dulu pas kuliah banyakan nganggurnya) atau karena yah memang udah nggak pengen lagi. Menulis buku harian adalah salah satunya.

Saya ingat banget kalau sejak SD sudah menulis buku harian. Semua-muanya saya curhatin di buku itu, mulai dari diomelin guru di sekolah, teman yang nyebelin, orang tua nyebelin (haha). Kayaknya frekuensi menulis saya waktu SD itu jarang disebabkan karena saya hanya menulis saat lagi sedih atau kesal. Kalau lagi senang mana ingat nulis-nulis buku harian segala, hahaha. Lalu waktu SMP buku harian saya penuh nama-nama cowok yang lagi saya taksir. Saya sampai ketawa sendiri membaca buku harian saya waktu SMP, nama cowok yang saya taksir berganti tiap dua tiga bulan, dan saya menulis berbagai lirik lagu jaman itu di buku harian. Lucu. Norak. Berani-beraninya saya ngatain abege jaman sekarang alay, padahal saya waktu SMP super-alay.

Sewaktu SMA, saya lebih sering menulis. Saya menulis tentang semua hal, banyak menulis puisi, mengarang lagu-lagu pendek, macem-macem lah. Saya menulis banyak sekali tentang hubungan saya dengan orang tua, dengan sahabat terdekat saya, dengan beberapa teman yang memusuhi saya semacam di film Mean Girls. Banyak pertengkaran dengan teman-teman terdekat saya, banyak kegalauan yang mulai nampak ke permukaan, dan banyak rintangan yang jika sekarang saya baca kembali, I wonder how I could survive through those times. I was much more lonely back then. Nggak ada yang saya rasa benar-benar memahami saya ketika itu. Sekarang, seberat apa pun masalah yang saya hadapi, saya punya Mr Defender di sisi saya untuk membantu melewatinya. Saya punya Mr Cajoon, Mr Dhammasangani, Miss Sunshine yang selalu mendukung saya. Dulu, walaupun hidup saya jauh lebih meriah, tapi jauh di dasar hati saya sering merasa sepi. Mungkin itu sebabnya saya sekarang tak lagi menulis diary. Sekarang saya bisa menceritakan apa saja kepada orang-orang terdekat.

Tapi, rasanya akan menyenangkan juga kalau saya kembali menulis, dan bukan secara digital. Akan menyenangkan rasanya membaca diary itu bertahun-tahun lagi ketika rasa telah berlalu dan hanya bisa sedikit kita kenang lagi. Mungkin tulisan akan membawa kita kembali ke masa lalu, atau sebaliknya, menyimpan kita di masa depan, seperti Voldemort yang hidup kembali melalui buku hariannya, hehe.

Ayo semangat menulis lagi!


14 February 2012

Cintamu, Tuhan

gambar dari sini
Di masjid, pada penjaga tua yang menjaga sendal-sendal dalam loker, yang mengucapkan terima kasih sekali pun engkau tak memberinya sekedar ongkos parkir.
Di sebuah kantor, pada seorang pegawai baru yang tak lupa tersenyum pada cleaning service yang mencucikan gelasnya setiap hari,
atau rekan kerja yang menggantikan tugas seorang teman yang cuti melahirkan, dengan riang tanpa gerutu.
Di warung pojok, di mana si ibu pemilik memberi bonus sepotong gorengan pada seorang langganan di penghujung bulan,
dan pada si pelanggan yang mengucap syukur-sudah tiga hari ia makan nasi sayur tanpa lauk demi mengirim biaya kuliah untuk adiknya di kota lain.
Pada doa seorang ibu setiap pagi, semoga anakku selamat sampai di sekolah.
Ada cintamu di mana-mana.

09 February 2012

selingkuh?

Semalam, saya dan Mr Defender membahas sebuah topik yang seru: perselingkuhan. Hahaha. Lucu nggak sih, sepasang anak manusia yang mau menikah, yang seharusnya bertukar rayuan malah begadang mendiskusikan perselingkuhan? Hehe.

Tadi malam awalnya saya sedang galau. Mr Defender juga sedang galau. Mungkin semacam rasa takut menjelang pernikahan kali ya. Takut, tapi mau dan nggak sabar nunggu. Semacam perasaan ketika mengantri Tornado untuk pertama kalinya deh. Dan karena kami pasangan yang 100% terbuka sampai ke aib yang sekeci-kecilnya, maka semuanya diomongin. Dan beginilah hasilnya:

Pertanyaan pembuka dari saya: kamu takut nggak sih dengan pernikahan ini? semacam takut ada hal yang tadinya kamu bisa lakukan sekarang, tapi nanti setelah nikah jadi gak bisa?

Mr Defender: kenapa kok nanya gitu? hmm... jangan-jangan kamu yang takut ya?
Saya: hmm, iya sih, apalagi dengan special case kita ini, aku jadi lebih banyak takut dibanding kalau nikah sama yang lain, misalnya, hahahahaha.... trus aku kadang takut lho, mungkin nggak sih 20 tahun lagi aku jadi tante-tante yang nggak asik trus kamu naksir cewek lain yang lebih oke?

Mr Defender: ya mungkin aja sih, kan kita nggak pernah tau. tapi semoga nggak ya.

Ini adalah yang sangat saya suka dari Mr Defender. Dia selalu jujur dan nggak muluk-muluk janji untuk hal yang belum tentu bisa dia tepati, bahkan untuk hal seperti ini.

Saya bilang: iya sih, nggak ada juga yang jamin 20 tahun lagi perasaan kita gimana. tapi selain faktor perasaan, apa sih yang bikin cowok selingkuh?

Lalu Mr Defender bilang, kalau versi dia yaaa (kalau ada cowok yang gak setuju ya gak usah protes, kan ini versi dia) cowok itu selingkuh karena dua hal aja, yang pertama naluri dan yang kedua servis. Kenapa naluri? Karena pada dasarnya cowok itu suka sama barang baru yang kelihatan lebih bagus. Karena cowok memang diciptakan dengan otak seperti itu. Bahkan pernah dibuat riset dengan objek tikus, ternyata tikus jantan bakalan bosan setelah 7 kali berhubungan seksual dengan tikus betina yang sama, bahkan meskipun tikus betina itu dicat, diberi wewangian, dan sebagainya. Tikus jantan itu harus bercinta dulu dengan betina lain, baru bisa lagi dicampurkan dengan betina pertama. Enough said. Gak usah protes ala-ala: tapi kan kita bukan binataaaang... karena percayalah, bagi semua makhluk mamalia, seks itu kebutuhan primer, sama seperti makan dan tidur.

Saya tanya: trus cewek harus gimana dong biar suaminya nggak selingkuh?

Mr Defender bilang, cowok nggak akan selingkuh kok kalau dia cinta sama pasangannya. Nah masalahnya, nggak ada jaminan cowok yang sekarang cinta mati sama kamu bakal tetap cinta mati 10-20 tahun mendatang. Masalah perasaan emang susah sih. Jadiiiii, kalau menurut Mr Defender, ya berusahalah membuat pasangan selalu jatuh cinta. Menjaga fisik salah satunya. Cowok kan pada dasarnya suka jadi juara, jadi dia bakalan bangga kalau pasangannya cantik (dan pintar, dan bohai, dan pintar masak, dan perhatian, dan sebagainya). Jadi berusaha biar wajah semulus Diana Pungky, bodi seseksi Aura Kasih, itu sama sekali nggak salah kok.

Nah, yang kedua, servis. Pada dasarnya cowok semodern apa pun menurut Mr Defender, pasti senang dengan perhatian istrinya yang remeh temeh semisal: dimasakin, dipijitin, disiapin bajunya, bahkan hal seremeh dibuatkan teh sepulang kerja. Kalau seorang cowok merasa nggak dihargai, akan sangat mudah bagi dia mencari perempuan lain yang bisa memenuhi kebutuhannya akan penghargaan itu. Makanya banyak orang rela membayar untuk seks (yang semestinya gratis) demi mendapat pelayanan yang mungkin nggak bisa (atau nggak mau) diberikan oleh pasangannya.

Jadi apa kesimpulannya? Simpulkan sendiri lah, lha wong kami juga cuma ngayal babu, hahahahaha....
And even I never know, I wish I love you all my life....

08 February 2012

semoga bahagia

 Minggu lalu, saya dan Mr Defender makan sekotak nasi hantaran dari keluarga tetangga yang baru saja  meng-aqiqah-kan anaknya. Nasi hangat dengan dua tusuk sate kambing, tongseng dan acar yang nikmat, dengan sehelai kertas yang memajang foto si bayi dan nama dan tanggal lahirnya, lengkap dengan sebaris doa "Semoga menjadi anak yang soleh, berguna bagi orang tua, bangsa, dan agama".

Lalu saya dan Mr Defender terlibat percakapan panjang, gara-gara tulisan di selembar kertas itu. Bukan, bukan percakapan tentang nama yang akan kami berikan kepada anak kami nanti atau berapa anak yang ingin kami besarkan, tapi tentang sebaris kalimat itu.

Semoga menjadi anak yang soleh, berguna bagi orang tua, bangsa, dan agama.

Bahkan sejak baru lahir ke dunia, seorang anak sudah dibebani harapan setinggi itu. Soleh, berguna bagi orang tua, berguna untuk bangsa, berguna bagi agama. Bayangkan betapa beratnya! Tengoklah kita sendiri, berapa umur kita? Adakah harapan tersebut terpenuhi di umur kita yang sekarang? Belum?

Ah, itu kan cuma doa. Doa harus setinggi mungkin, dong. Benar. Tapi sadarkah para orang tua bahwa mereka, dengan atau tanpa sadar mungkin telah memaksakan ini dan itu kepada anak-anak mereka, walau dengan alasan demi kebaikan si anak. Dan mungkin maksudnya memang benar demi kebaikan. Orang tua mana yang tidak menginginkan kebaikan anaknya?

"Apakah anak yang baik pasti bahagia?" Mr Defender bertanya kepada saya. Pertanyaan yang kami sama-sama sudah tahu jawabannya.

"Nanti kalau bikin selamatan untuk aqiqah anak, kita tulis saja Semoga menjadi anak yang berbahagia. Nggak apa kalau anak kita nggak berguna bagi kita, nggak apa kalau dia nggak jadi anak soleh, lagipula apa definisi soleh? Siapa yang menetapkan ukuran? Biarlah dia nggak nasionalis, asal dia bahagia. Kita akan lebih bahagia jika dia bahagia daripada melihat dia berguna."

  Saat itu saya tahu apa yang dimaksudkan orang sehati sejiwa. I feel you. I'm glad it's you the person I be with.

07 February 2012

hujan edelweiss


Beberapa tahun lalu, ketika kami menghabiskan malam di sebuah lembah kaki gunung, saya pernah berbicara begitu banyak tentang Mr Defender kepada salah satu teman terbaik saya Mr Cajoon. Salah satu perkataan saya yang masih saya ingat sampai hari ini, adalah seperti ini:
terlepas dari aku suka sama dia, dia itu salah satu orang paling baik, paling kuat, paling bermoral yang aku tau, dan dengan siapa pun aku berjodoh nantinya, aku nggak akan menyesal pernah ngomong kayak gini tentang dia
Di masa-masa itu, alangkah sering saya mengucapkan 'entah kami berjodoh atau tidak...', 'entah siapa pun jodohku nanti...' atau 'entah apakah hubungan ini berjalan berapa lama...' setiap kali saya membicarakan Mr Defender dengan teman-teman saya. Lucu, kalau dipikir-pikir, sebelum bersama Mr Defender saya adalah orang yang tidak pernah memikirkan suatu hubungan akan dibawa ke mana, saya hanya menjalani, menikmati setiap detik dan mensyukuri setiap kenikmatan yang dibawa oleh hubungan itu. Kalau sudah waktunya berhenti, kalau jodoh sudah kadaluarsa, ya sudah. Tidak pernah saya memproyeksikan sebuah hubungan dengan masa depan. Itu hanya akan menghilangkan kesenangannya dan memberi banyak beban pada hubungan itu.

Bersama Mr Defender, untuk pertama kalinya dalam sejarah saya berhubungan dengan seseorang, saya begitu bahagia dan sekaligus putus asa bahwa hubungan itu tidak akan bertahan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya begitu menginginkan sesuatu namun sekaligus tidak berdaya karena tahu bahwa mungkin mustahil saya akan memperoleh sesuatu itu. Lucu, bahwa cinta bisa menjadikan seseorang begitu kuat dan sekaligus rapuh pada saat yang sama.
seumur hidup aku nggak pernah secengeng ini, kan?

Malam itu, kabut gunung membuat jarak pandang begitu pendek. Gulita total. Namun, yang saya lihat hanyalah hamparan padang edelweiss. Putih dan mendamaikan.

02 February 2012

catatan di suatu kamis pagi


Tuhan,
hari ini kau menegurku dengan lembut.
Aku menerimanya, Tuhan. Sama seperti aku menerima bahwa sebulan yang lalu kau begitu manis padaku dan membawakanku banyak oleh-oleh, banyak kejutan kecil yang indah di setiap langkah kaki yang kutapakkan.
Tuhan, aku tidak ingin bertanya mengapa.
Aku tahu jawabanmu: memang sudah seharusnya dan sudah waktunya.
Tidak, Tuhan, aku bukan lelah memprotes, aku memang menerimanya, sama seperti aku tidak bertanya mengapa bintang bersinar dan mengapa langit berwarna biru.
Tuhan, boleh aku mengaku? Dulu aku menghibur diri di saat-saat seperti ini, aku berkata bahwa setelah ini engkau menyiapkan hadiah untukku, untuk menebus hari ini.
Itu pun tidak jelek kan? Namun, kini aku bahkan tidak perlu begitu.
Bukan, aku bukan berputus asa, aku hanya menerima.
Bahwa hidup hanya harus dijalani. Aku tidak perlu nilai A, tidak perlu menorehkan apa-apa, tidak perlu berusaha hanya agar ada yang mengenang namaku kelak, lama setelah aku tiada. 
Hidup tidak perlu pesan moral apa-apa.