Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2011

malam dan segelas bir

Di suatu malam, kamu mengajak saya keluar, minum segelas dua gelas bir atau anggur kolesom cap orang tua. Bicara tentang apa saja, atau bukan tentang apa-apa. Saya tahu itu adalah bahasa kode untuk "aku sedang tidak baik-baik saja, tapi tolong jangan tanya kenapa", maka saya mengambil helm dan duduk di boncengan motormu. Dan mesin pun menderu.
Dalam perjalanan melintas pelabuhan, saya iseng berkomentar tentang seorang lelaki kurus setengah baya yang menyandang tas punggung, menunggu angkutan, ataukah jemputan. "Dia baru datang dari pekerjaannya di rig, dan membawa satu tas penuh uang untuk dihabiskan selama dua minggu sebelum harus pergi lagi selama enam minggu."
Kamu tertawa. "Mungkin dia cuma baru pulang berjualan tiket speed di pelabuhan."
"Kamu kurang imajinasi," kata saya sambil melingkarkan tangan di pinggangmu. "Sedikit khayalan tidak akan membunuh."
"Kalau aku punya setengah saja imajinasimu, aku bisa gila." Kenapa, …

yang lebih hangat dari minyak telon

Jadi, menurut ayah saya yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat Jawa, hari baik untuk pernikahan saya jatuh pada hari... SELASA. Jengjeng. Sedih dong kami, sebab sudah pasti hampir tak ada teman-teman dekat kami (yang lokasinya sudah di luar kota semua) yang bisa hadir dalam pernikahan kami. Selasa gitu, hari kerja, dan di tengah-tengah pula. kalau misalnya Jumat atau Senin kan masih bisa capcus sehari.
Karena saya dan Mr Defender sudah sepakat bahwa acara pernikahan ini tidak akan menjadi drama (baca: akan sepenuhnya jadi harinya orangtua saya, dan kami akan sebisa mungkin menurut baik soal lokasi, waktu, acara adat, termasuk hal-hal remeh seperti suvenir atau band pengisi acara yang nampaknya sudah pasti gamelan jawa) maka kami tidak memprotes. Apa kata mereka saja deh, lagian kami juga nggak akan bisa mengurus acara itu kan, jadi pasrah total. Lalu kami memberitahukan beberapa teman dekat kami tentang rencana ini, dan jawaban mereka sungguh mengejutkan.
"Aku pasti datang,…

ada tangan Tuhan dalam tanganmu yang menyapaku pagi ini

Ada yang mendesak keluar dari dada dan turun ke mata, di pagi itu, saat dalam senyummu engkau sentuh tanganku, dan kaukatakan dalam sorotnya yang kautahu aku akan mengerti. Aku, dan hanya aku, karena itu sudah cukup. Aku cinta, katanya. Itu, dan hanya itu, karena sudah lebih dari cukup. Akan kugali lubang lebih dalam lagi untukmu menumpahkan rindu dan dendam. Aku berjanji.

satu kali sebelum semboyan 35

pernah kutanyakan, bagaimana rasanya menjadi saksi jutaan perpisahan.
dan engkau menjawab:
seluruh dindingku adalah deras air mata,
pilar-pilar penyanggaku adalah janji yang menguatkan,
dan bangku-bangku berderet itu,
keping-keping harapan dan penantian.

musim basah

Desember datang mengantarkan sahabat terbaiknya, Hujan, kepada Bumi yang melayu. Mengembalikan segurat hijau cerah di senyum Bumi, meriuhkan harinya oleh tawa anak-anak kecil yang bermain bola di lapangan becek, di hari ketika Bumi menari bersama Hujan.
Selamat musim hujan bagi yang merayakan. Menyemangati diri untuk menikmati saja, lengkap dengan banjir dan cucian yang tak kering-kering :)

dan aku akan tetap menjadi diriku, hanya (semoga) lebih baik

Saya pernah bertanya kepada beberapa teman terdekat saya: seandainya suatu hari lo ketemu sama diri lo sendiri sebagai orang lain, lo bakal suka nggak sama diri lo itu?
Sebenarnya itu adalah kegelisahan saya sendiri yang (mungkin) pada saat itu merasa bahwa saya (mungkin) tidak akan menyukai diri saya sendiri seandainya saya ini orang lain. Banyak sifat saya sendiri yang tidak saya sukai, misalnya: saya orang yang nggak bisa menyembunyikan perasaan nggak suka, saya egois, saya sering menilai diri sendiri terlalu tinggi dan sering meremehkan orang (karena kebiasaan menjadi yang nomor satu), saya  bersikap buruk justru pada orang-orang yang paling mencintai saya, saya sering berlebihan menanggapi suatu masalah dan merasa paling malang di dunia, saya hedonis dan belum banyak yang saya lakukan untuk orang lain, dan sebagainya.
Dan yang paling saya benci... saya (kadang) munafik. Dalam banyak hal. Misalnya, saya melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin saya lakukan karena saya pengen…

kegalauan sebelum menikah

Menikah itu keputusan yang berat bagi sebagian orang.  Walaupun Icha pernah tulis bahwa ternyata marriage is not that scary (lucky you, Cha, I envy), nikah itu ya gitu doang, tapi sepertinya buat saya  oh yes, marriage is that scary. Pernikahan adalah hal yang sejak dulu membuat saya galau segalau-galaunya, dan kalau bisa pengen ditunda-tunda aja terus. Hahaha. Dalam pernikahan kan kita harus menyesuaikan diri dengan orang lain, walaupun orang lain itu pasangan sendiri. Dan kalaupun bagi sebagian orang, termasuk saya misalnya, beruntung bahwa dia dan pasangan tidak terlalu banyak membutuhkan penyesuaian karena sudah kenal luar dalam, tetap saja banyak hal-hal yang harus disesuaikan: teman-teman, pekerjaan, dan terutama keluarga.
Kita tidak bisa memilih keluarga. Pasti ada saja kelakuan ayah, ibu, adik kakak kita yang menjengkelkan. Tapi mereka adalah keluarga yang Tuhan berikan untuk kita. Juga dengan keluarga pasangan. Kita tidak bisa memilih pengen mertua seperti apa, bagaimana pun…

snow on the sahara

Hidup kini berkali lipat lebih melelahkan untukku. Aku yang kecil, yang lari dari duniaku yang pernah sederhana, yang tersesat di teritorimu dan tak mampu berlari lebih jauh lagi. Sungguh, aku ingin sekali pergi. Bersamamu. Membuang semua yang mengikat di dunia ini, dan menemukan kebahagiaan untuk kita sendiri.
Hanya saja, aku tak tahu apakah masih ada kebahagiaanmu, jika kita tak lagi di sini.
Tapi satu yang pasti, aku saat ini tidak bahagia. Dan aku tidak siap dengan segala hal yang harus kurelakan untuk bersamamu, hanya untuk menjadi tidak bahagia. Ah, sekarang aku bahkan tidak mengerti, apa itu bahagia. Tanpamu aku merana. Tapi bersamamu, di titik ini, aku sangat menderita.
Kita sama-sama tidak bahagia, berpisah ataupun bersama. Dan aku tidak tahu apakah masih ada jalan menuju negeri bahagia, untuk kita.