27 December 2011

malam dan segelas bir


Di suatu malam, kamu mengajak saya keluar, minum segelas dua gelas bir atau anggur kolesom cap orang tua. Bicara tentang apa saja, atau bukan tentang apa-apa. Saya tahu itu adalah bahasa kode untuk "aku sedang tidak baik-baik saja, tapi tolong jangan tanya kenapa", maka saya mengambil helm dan duduk di boncengan motormu. Dan mesin pun menderu.

Dalam perjalanan melintas pelabuhan, saya iseng berkomentar tentang seorang lelaki kurus setengah baya yang menyandang tas punggung, menunggu angkutan, ataukah jemputan. "Dia baru datang dari pekerjaannya di rig, dan membawa satu tas penuh uang untuk dihabiskan selama dua minggu sebelum harus pergi lagi selama enam minggu."

Kamu tertawa. "Mungkin dia cuma baru pulang berjualan tiket speed di pelabuhan."

"Kamu kurang imajinasi," kata saya sambil melingkarkan tangan di pinggangmu. "Sedikit khayalan tidak akan membunuh."

"Kalau aku punya setengah saja imajinasimu, aku bisa gila." Kenapa, saya bertanya.

"Hidupku tidak perlu lagi drama."

Lalu senyap hingga botol kedua. 

"Over thinking ruins you. It makes you worry and makes thing worse than it actually is."

"Seperti cerita cabut gigi-nya Dalai Lama..."

Kamu mengambil gelas dari tanganku. "Ayo kuantar pulang."

"Lho, kenapa?"

"Karena kamu sudah sangat mabuk, atau mengantuk sampai tidak bisa membedakan Ajahn Brahm dan Dalai Lama."

Kita tertawa. Kamu tertawa. Dan kita memang mabuk atau mengantuk karena saya tidak ingat meninggalkan helm kesayangan saya di sana. Tapi kamu tak sedih lagi. Dan saya tak bosan lagi.

yang lebih hangat dari minyak telon

Jadi, menurut ayah saya yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat Jawa, hari baik untuk pernikahan saya jatuh pada hari... SELASA. Jengjeng. Sedih dong kami, sebab sudah pasti hampir tak ada teman-teman dekat kami (yang lokasinya sudah di luar kota semua) yang bisa hadir dalam pernikahan kami. Selasa gitu, hari kerja, dan di tengah-tengah pula. kalau misalnya Jumat atau Senin kan masih bisa capcus sehari.

Karena saya dan Mr Defender sudah sepakat bahwa acara pernikahan ini tidak akan menjadi drama (baca: akan sepenuhnya jadi harinya orangtua saya, dan kami akan sebisa mungkin menurut baik soal lokasi, waktu, acara adat, termasuk hal-hal remeh seperti suvenir atau band pengisi acara yang nampaknya sudah pasti gamelan jawa) maka kami tidak memprotes. Apa kata mereka saja deh, lagian kami juga nggak akan bisa mengurus acara itu kan, jadi pasrah total. Lalu kami memberitahukan beberapa teman dekat kami tentang rencana ini, dan jawaban mereka sungguh mengejutkan.

"Aku pasti datang, JANJI, nanti aku pikirin enaknya cutinya Selasa ke belakang atau Jumat ke depan."
(Andi, drummer amatir (^_^) dan pekerja urban berjadwal padat, berlokasi di Jakarta)

"Wah alhamdulillah sudah dapat tanggal, harinya bagus banget lagi karena pas ulang tahunku. Nanti mau dibuatin surat sakit ya buat bolos kalau nggak bisa cuti."
(Yella, calon pegawai yang belum tahu di mana lokasi dia akan bertugas di hari pernikahan saya)

"Aku PASTI datang, sudah kupasang reminder di hapeku biar ingat untuk cuti."
(Prabu, martir kebijakan perekonomian Indonesia, berlokasi di Banten)

"Siap! Kalau nggak terbentur sama jadwal ujian pasti datang kok."
(Hanung, fotografer dan mahasiswa tua, berlokasi di Surabaya)

"Insya Allah dateng. Bener-bener harus dateng."
(Viona, pegawai dan seleb dunia maya, berlokasi di Surabaya)

Saya dipenuhi rasa bahagia yang menghangatkan hati, sebab hari itu saya hanya memberitahukan tanggal pasti pernikahan kami kepada lima orang, dan kelima-limanya tanpa kecuali tidak keberatan untuk menempuh jarak yang jauh dan merelakan tiga hari dari jatah cuti yang hanya dua belas hari setahun (pun masih dipotong cuti bersama) untuk menghadirinya. Well, sebenarnya ada dua orang lagi yang udah dikasih tahu tapi belum merespon, bahkan smsnya pun belum terkirim karena sedang berada di tengah hutan tanpa sinyal, hehehehe. Ditunggu kabarnya ya Mund! 

Dan untuk semua teman-teman lainnya yang saya tahu selalu dengan tulus mendoakan keberhasilan hubungan kami, mereka yang selalu menyemangati dan turut berbahagia dengan rencana pernikahan kami, terima kasih banyak!



Update terbaru:
Jawaban dari Mundhi, pekerja yang berkantor di belantara timur Indonesia: Kenapa sih harinya Selasa? Gak ada pilihan lain apa dari orangtua?

Dan Mr Defender menjawab: Ada beberapa pilihan tanggal Mun, tapi harinya Selasa semua!

Mundhi: ..................................

Hahahaha! Tapi biar begitu Mundhi tetap memastikan datang (dan beserta orang tuanya yang sudah menganggap Mr Defender anak sendiri). Buat saya itu sangat menyentuh hati, apalagi mengingat rute (juga waktu dan biaya) yang akan ditempuh Mundhi untuk menghadiri pernikahan kami: Manado-Makassar-Surabaya-Kediri-Jogja.

Jawaban dari Bustanul, pegawai pajak yang berlokasi di Mamuju:
Insya Allah aku usahain, acaranya di rumahmu?

Saya  hampir nangis loh,  soalnya Mamuju itu kan  jauh banget... plesetan dari maju mundur jurang, dan saya bahkan nggak bisa membayangkan posisinya dalam peta Indonesia dan apakah mata uangnya rupiah atau barter hahaha.

Terima kasih teman-teman semuanya, kalian benar-benar membuat saya bahagia. Bahkan membaca kembali sms-sms kalian pun membuat saya berkaca-kaca.

23 December 2011

ada tangan Tuhan dalam tanganmu yang menyapaku pagi ini

Ada yang mendesak keluar dari dada dan turun ke mata,
di pagi itu, saat dalam senyummu engkau sentuh tanganku,
dan kaukatakan dalam sorotnya yang kautahu aku akan mengerti.
Aku, dan hanya aku, karena itu sudah cukup.
Aku cinta, katanya.
Itu, dan hanya itu, karena sudah lebih dari cukup.
Akan kugali lubang lebih dalam lagi untukmu menumpahkan rindu dan dendam.
Aku berjanji.

15 December 2011

satu kali sebelum semboyan 35


pernah kutanyakan, bagaimana rasanya menjadi saksi jutaan perpisahan.
dan engkau menjawab:
seluruh dindingku adalah deras air mata,
pilar-pilar penyanggaku adalah janji yang menguatkan,
dan bangku-bangku berderet itu,
keping-keping harapan dan penantian.

13 December 2011

musim basah


Desember datang mengantarkan sahabat terbaiknya, Hujan, kepada Bumi yang melayu. Mengembalikan segurat hijau cerah di senyum Bumi, meriuhkan harinya oleh tawa anak-anak kecil yang bermain bola di lapangan becek, di hari ketika Bumi menari bersama Hujan.

Selamat musim hujan bagi yang merayakan. Menyemangati diri untuk menikmati saja, lengkap dengan banjir dan cucian yang tak kering-kering :)

12 December 2011

dan aku akan tetap menjadi diriku, hanya (semoga) lebih baik

Saya pernah bertanya kepada beberapa teman terdekat saya: seandainya suatu hari lo ketemu sama diri lo sendiri sebagai orang lain, lo bakal suka nggak sama diri lo itu?

Sebenarnya itu adalah kegelisahan saya sendiri yang (mungkin) pada saat itu merasa bahwa saya (mungkin) tidak akan menyukai diri saya sendiri seandainya saya ini orang lain. Banyak sifat saya sendiri yang tidak saya sukai, misalnya: saya orang yang nggak bisa menyembunyikan perasaan nggak suka, saya egois, saya sering menilai diri sendiri terlalu tinggi dan sering meremehkan orang (karena kebiasaan menjadi yang nomor satu), saya  bersikap buruk justru pada orang-orang yang paling mencintai saya, saya sering berlebihan menanggapi suatu masalah dan merasa paling malang di dunia, saya hedonis dan belum banyak yang saya lakukan untuk orang lain, dan sebagainya.

Dan yang paling saya benci... saya (kadang) munafik. Dalam banyak hal. Misalnya, saya melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin saya lakukan karena saya pengen dianggap baik. Ini lebih banyak kaitannya dengan perintah agama sih. Dan walaupun itu secara norma baik, tapi hati saya tetap tersiksa karena saya tahu itu bukan saya. Contoh kecilnya, saya sebenarnya sangat ingin memeluk Miki, anjing saya, dan saya sebenarnya tidak keberatan mencuci seluruh tubuh saya tujuh kali termasuk salah satunya dengan tanah setelahnya, namun seringkali tidak saya lakukan lebih karena orang lain merasa itu tidak pantas dilakukan oleh saya yang muslim dan dianggap mengerti agama.

Itu contoh yang kecil tentang hal kecil. Masih banyak lagi kemunafikan saya, dan mungkin tentang hal-hal besar, dan itu sangat menggelisahkan saya karena pada dasarnya saya ingin menjadi diri sendiri dan diterima orang lain sebagai diri saya sendiri. Saya yang (dianggap) tidak menjaga pergaulan dengan lawan jenis karena punya pacar dan berteman akrab dengan cowok-cowok, masih suka ngomongin orang kalau lagi sama sahabat terpercaya, tidak lembut dan sabar hati seperti tokoh utama sinetron Ramadhan, suka datang ke gig musik, termasuk yang kadangkala digelar di pub, tidur setenda dengan teman-teman cewek dan cowok saat naik gunung, ikut meditasi di klenteng, berteman sama orang-orang yang alkoholik, dan memelihara anjing pula. Inilah diri saya yang sebenarnya.

Saya sadar bahwa saya muslim yang memilih untuk melaksanakan perintah agama. Bahwa kemudian ada perintah lain yang saya langgar, bagi saya bukan alasan untuk berhenti melakukan perintah lainnya. Sebab menjadi beragama bukan ijasah kelulusan yang mensyaratkan saya untuk harus sudah menjadi 100% baik ketika memeluknya. Makanya saya tidak setuju dengan yang mengatakan muslim tapi kok begini, solat tapi kok begitu. (Setidaknya bagi saya) setiap perintah agama itu adalah ibadah, sama saja dengan solat, puasa, berinfaq, berbuat baik pada orang tua. Hanya karena kita belum melaksanakan salah satunya, tidak berarti kita harus meninggalkan semuanya kan? Sebagai manusia, sebagai muslim saya terus mencari dan terus berproses, mungkin tidak seluruh prosesnya adalah kemajuan, bisa jadi saya jalan di tempat atau malah mundur, tapi itulah proses saya, dan saya tidak merasa bahwa kesalahan-kesalahan yang saya lakukan adalah aib. Kesalahan-kesalahan itu ingin saya akui dengan lapang dada, dengan penyesalan yang tulus, namun tidak akan saya ingkari bahwa saya melakukannya.

Dan saya ingin dicintai dan diterima sebagai mana adanya saya. 100% diri saya, tanpa sedikit pun bahan palsu dan KW di dalamnya. Amin.

06 December 2011

kegalauan sebelum menikah

Menikah itu keputusan yang berat bagi sebagian orang.  Walaupun Icha pernah tulis bahwa ternyata marriage is not that scary (lucky you, Cha, I envy), nikah itu ya gitu doang, tapi sepertinya buat saya  oh yes, marriage is that scary. Pernikahan adalah hal yang sejak dulu membuat saya galau segalau-galaunya, dan kalau bisa pengen ditunda-tunda aja terus. Hahaha. Dalam pernikahan kan kita harus menyesuaikan diri dengan orang lain, walaupun orang lain itu pasangan sendiri. Dan kalaupun bagi sebagian orang, termasuk saya misalnya, beruntung bahwa dia dan pasangan tidak terlalu banyak membutuhkan penyesuaian karena sudah kenal luar dalam, tetap saja banyak hal-hal yang harus disesuaikan: teman-teman, pekerjaan, dan terutama keluarga.

Kita tidak bisa memilih keluarga. Pasti ada saja kelakuan ayah, ibu, adik kakak kita yang menjengkelkan. Tapi mereka adalah keluarga yang Tuhan berikan untuk kita. Juga dengan keluarga pasangan. Kita tidak bisa memilih pengen mertua seperti apa, bagaimana pun adanya orang tua pasangan, itu yang harus kita terima, kalau memang mau sama anaknya. Bagi yang punya mertua dan keluarga besar pasangan yang asyik, ya syukur. Kalau dapat yang biasa-biasa saja dan nggak reseh pun masih untung. Dapat yang reseh pun nggak boleh protes kan ya, kan beda dengan beli barang cacat yang bisa dikembalikan. Ya sudahlah, suka-suka Tuhan mau kasih kita mertua kayak apa, toh hidup ini nantinya break even point kan ya, kalau dikasih cobaan dengan mertua, pasti dikasih juga plus plus di sisi kehidupan lain kan ya. Dan kalau kita tabah menjalaninya, pasti nanti karma baiknya kembali ke kita. Dan entah kenapa kok saya lebih suka pakai istilah karma baik daripada pahala, hahaha.

Ini ceritanya saya sedang galau, karena membayangkan kehidupan pernikahan saya yang mungkin akan sedikit berbeda dengan banyak pasangan lainnya. Sebab Mr Defender adalah anak tunggal dari seorang ibu yang karena suatu kondisi penyakit dan kejiwaannya, tidak bisa tinggal sendirian. Yang artinya, sejak awal pernikahan sampai seumur hidup saya atau ibunya (tergantung siapa yang lebih panjang umur ya, kan umur nggak ada yang tau) saya harus tinggal bersama mertua yang terganggu secara kejiwaan. Tadinya sih saya yakin saya pasti bisa ya, cewek-cewek di sinetron aja bisa, masa saya enggak sih. Tapi ternyata setelah masa percobaan selama sebulan, hidup berdampingan sama calon mertua itu nggak semudah yang dibayangkan. Serius deh. Apalagi kalau membayangkan ibu ini nggak bisa ditinggal sama sekali, saya jadi stress.

Contoh beberapa kegalauan saya:
  1. Saya pengen ambil S2 di luar negeri, insya Allah kalau ada beasiswa. Mr Defender juga sama. Masalahnya siapa nanti yang bakalan tinggal sama ibu kalau kami di luar negeri? Di luar sana kan pembantu mahal.
  2. Saya dan Mr Defender bekerja di instansi yang sering memutasikan pegawainya ke seluruh Indonesia. Kalau di Samarinda masih ada keluarga dekat. Yang saya nggak kebayang, nanti kalau kami mutasi ke tempat yang jauh dari mana-mana dan kulturnya beda dengan kami. Kalau ikut kami, apakah ibu bisa menyesuaikan diri? Apakah di tempat baru ada dokter yang cocok dengan ibu dengan fasilitas yang cukup?
  3. Saya suka jalan-jalan. Dan kayaknya nggak seru aja jalan-jalan sambil bawa ibu. Sebut saya egois, tapi saya nggak mau. Kalau masalah yang ini sih mungkin bisa diatasi dengan ninggalin di rumah dengan pembantu sih ya, tapi tetap bikin galau.
  4. Males aja membayangkan nggak bisa ngapa-ngapain semau saya, kayak misalnya pengen ikutan Earth Hour tapi si ibu nggak mau (bahkan untuk hal sesimpel ini aja jadi nggak simpel kalau ada orang lain ya, hehehe), trus mau pergi seharian sama pasangan juga nggak bisa, banyak hal-hal kecil yang harusnya simpel tapi jadi ribet karena harus dikompromikan.
Masih banyak sih, tapi cukup ini dulu deh. Hahaha. Untungnya, pasangan saya adalah orang yang bisa membuat saya yang egois ini (sekarang) rela mengkompromikan itu semua (sekarang sih, entah nanti ya) demi bisa bahagia berdua. Mungkin banyak hal seru yang terlewat kami alami nanti, karena harus merawat ibu (yang mana sekarang ini saya belum bisa seratus persen ikhlas sih melakukannya, masih merasa itu jadi beban. boleh sebut saya egois atau durhaka, tapi sejujurnya saya merasa terbebani karena mendadak harus mengurus orang lain, walaupun orang lain itu ibu Mr Defender). Tapi kan namanya hidup orang macem-macem ya, mungkin saya nggak bisa dapat suatu hal, tapi akan memperoleh hal manis lainnya.

Sering sih kalau lagi kesal dan bete dan capek saya protes ke Tuhan, kenapa sih Tuhan? Kenapa harus saya yang mengalami ini? Kenapa saya nggak dapat mertua yang masih sehat dan bisa tinggal sendiri aja? Kenapa Mr Defender harus anak tunggal sehingga saya jadi harus merawat orangtuanya seumur hidup? Dan kenapa lain yang nggak selesai. Dan Tuhan bertanya balik, tebak, kenapa coba? Pastinya ini karma buruk saya di masa lalu, atau sebaliknya, akan menjadi karma baik saya nanti kalau saya tabah menjalaninya. Atau lebih gampangnya sih, ini ujian yang akan membuat saya lebih kuat dan lebih berkarakter. Cailah.

Wish me luck, and wish me patience, and wish me persistency.

snow on the sahara


Hidup kini berkali lipat lebih melelahkan untukku. Aku yang kecil, yang lari dari duniaku yang pernah sederhana, yang tersesat di teritorimu dan tak mampu berlari lebih jauh lagi. Sungguh, aku ingin sekali pergi. Bersamamu. Membuang semua yang mengikat di dunia ini, dan menemukan kebahagiaan untuk kita sendiri.

Hanya saja, aku tak tahu apakah masih ada kebahagiaanmu, jika kita tak lagi di sini.

Tapi satu yang pasti, aku saat ini tidak bahagia. Dan aku tidak siap dengan segala hal yang harus kurelakan untuk bersamamu, hanya untuk menjadi tidak bahagia. Ah, sekarang aku bahkan tidak mengerti, apa itu bahagia. Tanpamu aku merana. Tapi bersamamu, di titik ini, aku sangat menderita.

Kita sama-sama tidak bahagia, berpisah ataupun bersama. Dan aku tidak tahu apakah masih ada jalan menuju negeri bahagia, untuk kita.