29 November 2011

tentang kita, yang kini tak lagi peka

headline Kompas awal November tahun lalu

Katanya, di dunia jurnalistik, bad news is good news. Suatu kejadian yang buruk adalah sesuatu yang bagus dari segi pemberitaan, karena sesuatu yang buruk itu langka, dan tidak diharapkan. Makanya berita seperti kecelakaan, bencana alam, perang, krisis, kerusuhan, perceraian para artis menjadi sasaran para pemburu berita. Mungkin, seiring dengan semakin mudahnya kita memperoleh informasi sekarang ini, informasi menjadi sesuatu yang hanya lewat sambil lalu saja di telinga kita. Tidak sempat masuk ke otak, apalagi hati.

Sadar nggak sih, kalau sekarang ini kita bisa dengan mudahnya membuat candaan tentang berita buruk? Atau melontarkan komentar yang tidak berempati seperti:
"Aceh kena tsunami tuh azab buat GAM." Saya dengar langsung dari seorang kerabat.

"Wah, Ritz pasti dibom sama pendukung Liverpool yang nggak pengen MU datang deh." Komentar jahat dari seorang teman, menanggapi komentar saya (yang mungkin juga jahat) "Aduh tiket nonton MU gue gimana cara reimbursenya dong!" (tidak sensitif sekali, padahal banyak nyawa melayang)

"Kaliurang habis tuh kena lahar Merapi, habis tempatnya dijadiin hotel mesum sih." Yang ini saya baca di twitter, yang membuat saya sedih karena ketika itu adik perempuan saya terpisah dari keluarga, desa tempat keluarga saya tinggal disterilisasi, dan anjing saya hilang tak sempat diselamatkan.

Pernahkah kita pikirkan betapa sedihnya orang-orang yang sedang tertimpa musibah ketika mendengar komentar kita yang seolah-olah mengecilkan bencana yang mungkin memporakporandakan kehidupan mereka? Kita bicara tentang bencana sambil makan siang, dengan ringan seperti sedang membahas pertandingan bola. Kita berspekulasi, menyalahkan sana-sini, berkata harusnya begini harusnya begitu, tanpa berbuat sesuatu yang nyata untuk mereka, bahkan meskipun hanya doa.

Kita jadi tak ubahnya infotainment.

Kita haus akan pemberitaan yang wah. Kita senang mendengar tragedi. Seakan hal buruk yang menimpa orang lain bisa membuat kita merasa lebih baik. Ah, sungguhkah kita sudah sebebal dan sejahat itu?

28 November 2011

and maybe this is what they called unconditional love


untuk dia.
aku ingin mengatakan ini:
kita akan bisa melewati ini semua.

P.S. dan untuk kalian semua yang menyemangati dari pinggir arena, terima kasih untuk dukungan dan doanya. you know who you are.

25 November 2011

sepatu

Pengakuan. Saya (pernah) punya lebih dari 50 pasang alas kaki. Terdiri atas sepatu olahraga, sneakers, high heels, wedges, flat shoes, sandal-sandal cantik, flip flop, sendal gunung, hampir semua model sepatu dan sandal (waktu itu) saya punya. Ada yang dibeli dengan tabungan beberapa bulan, khususnya yang sepatu kantor dan olahraga, tapi sebagian besar berasal dari rak diskon (untungnya ukuran saya 35 up to 36 sehingga sewaktu sale di mana-mana penuh ukuran itu dengan harga super miring, bahkan sering saya dapat sepatu Yongki dengan hanya 20 ribu rupiah saja) atau hasil jalan-jalan di Melawai.

Sewaktu saya pindahan dari Jakarta ke Samarinda, Mr Defender sangat syok dengan paket yang berisi baju, sepatu, tas, dan asesoris saya yang jumlahnya mencapai 20 kardus Aqua besar (jangankan dia, saya pun syok). Lalu ketika akhirnya lemari di kos baru saya nggak muat menampung itu semua dan akhirnya sebagian besar dari 20 kardus itu terpaksa tetap dikardusin, setiap saya naksir baju, sepatu, atau tas di mal, Mr Defender selalu nyindir, "Itu baju-baju yang di kardus juga belum dibongkar, mending beli lemari aja dulu (loh?)." Yang akhirnya membuat saya menghibahkan sebagian besar isi kardus itu kepada mereka yang lebih membutuhkan. Walaupun belinya pakai uang sendiri, dan bajunya juga bukan baju-baju mahal, tetap aja rasanya malu juga punya sebanyak itu baju dan sepatu padahal badan cuma satu, kaki cuma dua. Mr Defender pernah bercanda bahwa saya bisa ganti baju tiga kali sehari selama dua bulan tanpa dicuci dan belum akan kehabisan baju, hahahaha.

Nah, singkat cerita, sekarang ini saya cuma punya sekitar 15 pasang sepatu, yang terbagi menjadi sepatu kantor, sepatu pesta, sepatu olahraga, sneakers, dan sandal buat main. Berbulan-bulan saya nggak beli sepatu, mengingat pengalaman 20 kardus itu, sampai suatu hari, saat saya naksir sepasang kitten heels lucu KW Christian Louboutin....

bagus ya? (melihat, membelai dengan sayang, mencoba, dan meletakkan kembali di rak)
loh, kok dilihat aja, nggak dibeli?
enggak ah, kan katanya yang di kardus aja masih adaaaa
kan udah lama nggak beli sepatu, nggak apa dong, beli aja
enggak ah, mahal
masa? (membalik sepatu melihat harganya) murah kok, 400 ribu buat sepatu kantor
mahal ah, aku jarang-jarang beli yang segitu, beli yang diskonan aja di bawah 300
ya gapapa sekali-kali
iya sih tapi sepatu kantor aku udah ada enam...
yah, cuma enam, sepatu futsal aku aja ada 20 lebih...
APAAAAA??? 20? sepatu futsal doang??
ya kan ada yang buat lapangan rumput, vinyl, karpet, lantai biasa...
trus ngapain selama ini komentarin sepatu aku?
ya aku pikir sepatu kamu yang 50 biji itu harganya sama kayak sepatu futsalku, makanya kupikir kamu boros banget...
(syok berat, soalnya tahu kalau sepatu futsal termurahnya dia itu harganya 600-an ribu,  kebanyakan seri yang nggak keluar di Indonesia dan biaya kirimnya bikin pengen seppuku, bahkan ada yang harganya mencapai ribuan euro. sakit!!)

Arrrrggghhh! Ini sebenarnya siapa yang boros siiihhh??

24 November 2011

Obsesi

gambar dari sini

Tentang Mr Summer
Saya dan Mr Summer pernah saling tergila-gila. Mungkin kadarnya berbeda terhadap masing-masing. Mungkin juga Mr Summer bukan tergila-gila, tapi hanya sedang penasaran. Seperti anak kecil yang menginginkan mainan baru yang dipajang di etalase toko, lalu setelah mendapatkannya ia akan tidur dan makan dan mandi bersamanya berhari-hari tanpa mau sedetik pun lepas, untuk kemudian melupakannya seminggu kemudian. Mungkin. Tapi saya lebih senang membayangkan (dan meyakini) bahwa waktu itu perasaan kami sesederhana ini: saling cinta. Walaupun cinta tak pernah sederhana.

Tentang Musim Panas Abadi
Barangkali semua benda yang nampak maupun tak nampak punya masa kadaluarsa. Juga dengan cinta. Juga dengan ketertarikan. Ada yang terus dimiliki biarpun sudah kadaluarsa, ada yang terlepas dari tangan sekalipun masanya masih lama. Maka tibalah kami di hari itu. Hari di mana saya akhirnya dipaksa melihat, dan mengakui, bahwa perasaan Mr Summer untuk saya tak lagi sama. Atau barangkali perasaannya memang selalu sama, hanya saja kami tak menyadarinya. Bahwa mungkin hatinya tidak benar-benar pernah menjadi milik saya. Entahlah.

Mengetahui bahwa laki-laki yang kita cintai memendam cinta untuk perempuan lain itu, saya pikir rasanya memuakkan. Namun ternyata tidak. Rasanya sakit, namun entah mengapa masih indah. Juga walaupun dia berbohong dan mengingkari janji dan kata-katanya sendiri. Tapi entah kenapa saya tak bisa benci. Yang saya lakukan hanyalah bertanya pada diri sendiri, apa kekurangan saya dibandingkan perempuan itu. Walaupun saya tahu perasaan tidak bisa dipaksakan.

Saya yakin Mr Summer memiliki hati yang hanya untuk saya. Atau akhirnya akan menjadi hanya milik saya. Kalaupun saat itu dia mencintai gadis lain, saya meyakinkan diri bahwa itu semu. Bahwa nantinya ia pasti akan menjadi hanya milik saya, karena saya yakin tidak ada orang yang bisa mencintainya lebih dari saya. Kami diciptakan untuk satu sama lain. Dan saya yakin nantinya dia akan menyadari itu dan mengejar saya balik. Saya yakin hanya bersama saya dia akan bahagia.

Keyakinan itu membuat saya mengingkari banyak hal. Saya menjadi tidak bisa melihat bahwa Mr Summer mencintai orang lain, dan orang lain itu juga mencintainya, dan walaupun saya menjadi pihak yang dicurangi, namun saya harus tetap menghormati itu. Dan siapa yang bisa membenci dua orang yang begitu saling cinta?

Tentang Apa yang Saya Sesali
Saya menyesal karena sebentuk cinta itu telah berubah menjadi obsesi. Saya menyesali titik di mana saya tidak bisa menerima kenyataan. Tidak menghormati perasaan orang lain, bahkan meskipun orang itu menyakiti saya. Dan sebenarnya dia tidak menyakiti saya. Sayalah yang menyakiti diri saya, dan membiarkan dia menyakiti saya. Obsesi sayalah yang menyakiti saya. Obsesi juga menjadikan saya manusia yang tidak menghormati diri sendiri. Mengiba cinta orang lain dan menyalahkan orang lain atas ketidakbahagiaan saya. Membenci dia yang mendapatkan apa yang saya inginkan.

Ya, ketika itu saya membencinya. Perempuan itu. Kini setelah tahun berlalu dan saya sedikit terdewasakan, bisa saya mengerti bahwa dia hanya menjalani garis hidupnya. Bahwa kebetulan saya tersakiti oleh lintasannya, itu bukan kehendaknya.

Saya menyesal karena pernah membuat diri saya hanya menjadi figuran dalam kehidupan saya sendiri.

Tentang Apa yang Saya Lepaskan, Saya Rindukan, dan Kini Saya Syukuri
Hidup bertahun-tahun dalam sebuah obsesi itu menyesakkan. Saya tak tahu lagi apakah saya sungguh menginginkannya atau semua itu hanya keinginan menang semata.

Entah di titik mana saya disadarkan, namun akhirnya saya tahu bahwa saya telah melewati itu semua, dan melepaskan obsesi saya. Sungguh, bukan waktu yang menyembuhkan. Bertahun-tahun berlalu dan obsesi itu tetap tinggal. Namun, di detik ketika saya memutuskan saya ingin melepaskan, detik itu juga ia terbang, menguap bersama udara. Dan saya merasa lapang.

Saya merasa bahagia, bahwa saya dulu mencintainya. Dan kami pernah punya kisah yang manisnya terasa hingga kini, dan pasti akan lebih manis lagi nanti, ketika kami kebetulan bertemu di usia setengah abad untuk mengenang masa lalu, sebagai teman baik. Saya merasa ringan, bahwa saya bisa melepaskan tanpa melupakan. Bahwa saya bisa mengenang genggaman tangannya sama seperti mengenang rasa ketika pertama kali naik sepeda. Dia adalah bagian dari kisah hidup saya, dan itu tidak bisa saya ubah. Peristiwa akan tetap tinggal, kitalah yang terus berubah.
Semoga hidup selalu manis padamu, hai pria musim panasku.

08 November 2011

Perempuan Berkalung Sorban


Idul Adha kemarin saya habiskan di rumah orangtua teman saya (yang sudah saya anggap om dan tante sendiri) di Balikpapan, karena Mr Defender pulang ke Pulau Jawa untuk merayakan Idul Adha bersama keluarga besarnya. Sesiangan itu saya nonton film Perempuan Berkalung Sorban yang diputar di SCTV. Dan... saya sangat menyesal kenapa dulu nggak nonton film ini ketika diputar di bioskop, atau minimal menontonnya setelah DVD-nya keluar. Telat banget, ahahahaha.

Sebenarnya ada beberapa alasan kenapa waktu itu saya nggak tertarik nonton film ini. Pertama, judulnya norak. Dan dari judul itu saya menyimpulkan film ini paling-paling kayak Ayat-Ayat Cinta atau Ketika Cinta Bertasbih, yaitu film-film cinta yang (menurut saya loh) nggak beda sama film-film chicklit macam Eifell I'm in Love atau Dealova, bedanya cuma Parisnya diganti Mesir dan Shandy Aulia diganti Oky yang berkerudung. Film yang sama sekali nggak meninggalkan bekas apa-apa di hati setelah menontonnya. Jadi, saya bikin sumpah darah sama diri sendiri nggak akan menghamburkan uang untuk nonton film beginian di bioskop.

Kedua, poster filmnya juga membuat saya menyimpulkan bahwa film ini mirip-mirip film Ayat-Ayat Cinta. Dan ketiga, pemainnya Revalina, yang membuat saya agak curiga film ini akan berasa sinetron yang penuh kalimat-kalimat yang hanya mungkin ditemukan dalam buku, yang bahkan Aa Gym sekalipun tidak akan memakainya di dalam tabligh-nya saking tidak real-nya kalimat itu. Haha, jahat ya saya menghakimi film ini.

Tapi ternyata, Perempuan Berkalung Sorban tidak seperti itu. Film ini lumayan bagus, apalagi ide awalnya, yaitu tentang perempuan yang merasa Islam itu tidak adil terhadap perempuan, lalu berusaha protes dengan caranya sendiri, namun terhalang oleh cinta kasih dan baktinya kepada orangtua. Cerita setelah Revalina dan Oka Antara mau dirajam mending di-skip aja, ya-sudahlah-yaaa, yang penting dari awal film sampai pas adegan Reva dirajam itu saya suka. Dan film ini memang agak lebay sih endingnya, tapi saya suka karena sebenarnya ini film tentang budaya (agama termasuk budaya juga kan ya), bukan film dakwah (atau film cinta pakai embel-embel dakwah). Film ini mengingatkan saya pada My Big Fat Greek Wedding, dan film apa saya lupa judulnya tentang seorang gadis India muslim yang pacaran backstreet, walaupun tema yang diusungnya lebih berat, dan bisa dibilang sensitif (apalagi buat khalayak Indonesia yang sumbunya pendek :D). 

jadi penasaran sama film '?' yang juga dibuat oleh Hanung dan katanya dilarang itu.

04 November 2011

rileks

gambar dari sini

Ketika Anda memandang, ia tak dapat dilihat. Ketika Anda mendengarkan, ia tak dapat didengar. Ketika Anda menjangkaunya, ia tak dapat digapai. Ketika yang terjadi dalam pembelajaran itu tidak jelas, janganlah terlalu keras bekerja untuk memahami segalanya. Melainkan, rilekslah dan biarlah mata pikiran Anda melihat apa yang sedang terjadi. Biarlah persepsi Anda dan intuisi Anda menjadi pemandu Anda.

Anda tidak mungkin mengenali segalanya, tetapi Anda bisa terbuka terhadap yang tak dikenal dan rileks menghadapi misteri.

Ketika Anda sadar akan sumber segalanya, Anda kenali jantung nikmat.

(Tao Te Ching oleh Lao Tzu)