19 October 2011

Manjali dan Cakrabirawa


Akhirnya saya menulis juga tentang buku ini, setelah membacanya lima kali, hahaha.

Saya suka semua buku Ayu Utami, dan yang satu ini bukan perkecualian. Buku ini merupakan buku kedua dari seri Bilangan Fu, begitu kata tulisan di sampul belakangnya. Bilangan Fu sendiri merupakan buku yang juga sangat saya sukai (bahkan sebenarnya saya tidak bisa memilih mana buku favorit saya dari semua buku Ayu, semuanya sangat indah dan saya jatuh cinta!), merupakan roman yang sangat ideologis dan spiritual bagi saya, yang mungkin akan saya benci seandainya saya membacanya empat atau lima tahun lalu saat saya belum se-open minded sekarang.

Manjali dan Cakrabirawa, adalah novel yang mengambil setting waktu pada saat Marja berlibur bersama Parang Jati (dalam Bilangan Fu diceritakan bahwa Yuda menitipkan Marja untuk berlibur), jadi novel ini semacam fragmen yang belum diceritakan di tengah novel Bilangan Fu. Kalau Bilangan Fu lebih banyak bercerita dari sisi Yuda, maka novel ini bercerita dari sisi Marja si gadis kota. Dan kalau ada beberapa review yang mengatakan bahwa dalam novel ini Bilangan Fu kehilangan 'kedalaman'-nya, menurut saya tidak begitu, sebab bukankah novel ini memang mengisahkan Marja si anak metropolitan yang baru memulai hidup sadar dan sehat holistik (menurut istilah Reza Gunawan, hehehehe).

Novel ini, sebagaimana novel-novel Ayu yang lain, adalah karya yang sangat 'kaya', sangat humanis, dan dia hanya berkisah, tidak mendogma, tidak berusaha meninggalkan pesan moral atau memaksakan ending yang indah. Novel ini indah di semua bagian, hingga ending yang indah terasa tidak perlu. Dan novel ini membuat saya merasa manusia, merasa tidak hidup dalam dikotomi, merasa tidak hitam putih, sebaliknya saya adalah kanvas yang penuh spektrum warna, dan seperti kata Jerinx SID: memiliki hitam dan putih secara seimbang, sebab keduanya menjadikan kita seutuhnya manusia. 

Saya sangat suka bagian di mana Marja mencintai Yuda dan Parang Jati lebih dari eros, lebih dari percintaan pria dan wanita. Saya suka bahwa Ayu menggambarkan Marja sebagai manusia, bukan cuma perempuan, manusia yang bisa mencintai dua kekasih seperti ibu mencintai dua anaknya. Saya suka bahwa kisah Marja yang mencintai dua lelaki tidak dikisahkan seperti pengkhianatan, atau perselingkuhan, atau poliandri (karena memang bukan begitu. karena hati manusia memang sungguh tidak sesederhana itu). 
Ayu Utami resmi menjadi penulis Indonesia yang semua bukunya akan saya beli tanpa ragu, setelah Umar Kayam dan Pramudya Ananta Toer :)

11 October 2011

menjadi dewasa itu (bukan cuma karena) pilihan

gambar dari sini

Aku rindu masa belia, di mana hidup masih sederhana, di mana hari yang baru hanyalah tentang mandi matahari dan memikirkan jajanan apa yang bisa dibeli dengan uang dua ratus perak di kantong. Aku rindu masa di mana cinta belum dibuat rumit oleh keinginan memiliki dan segala pertimbangan logis omong kosong lainnya. Aku rindu pikiran muda yang belum menghitam warnanya, di mana kejahatan terbesar yang bisa dipikirkannya hanyalah bagaimana menyembunyikan nilai ulangan merah dari orang tua. Aku rindu hati yang memaafkan lebih cepat dari hilangnya lebam di muka.

Rindu masa di mana suka dan tidak suka adalah hanya tentang suka dan tidak suka.

tentang keluarga, cinta orang tua dan rock n roll

Saya belum menjadi orang tua, jadi saya memang tidak tahu apa rasanya perjuangan sembilan bulan mengandung dan bertaruh nyawa melahirkan seorang anak ke dunia. Saya juga belum tahu rasanya membanting tulang mencari nafkah menghidupi buah hati. Saya juga tidak bermaksud mengecilkan jasa para orang tua, namun tulisan ini merupakan isi hati saya, sebagai anak dan manusia.

Kepada para orang tua yang terhormat,
Sadarkah kalian bahwa terkadang kalian memberi beban yang berat kepada anak, baik yang masih anak-anak maupun yang sudah dewasa? Semacam keinginan atau keharusan agar anak itu menjadi rangking satu atau masuk sepuluh besar, agar si anak menjadi orang berprestasi, kuliah di universitas negeri dengan mengambil jurusan  mayor (baca: standar), kerja di tempat yang gajinya besar, menikah, dan sebagainya-dan sebagainya.

Oke, mungkin saat ini ada orang tua yang mengatakan bahwa apa yang mereka inginkan itu adalah untuk kebaikan si anak sendiri. Oh ya? Benarkah? Yakinkah semua usaha memasukkan anak ke sekolah mahal bahkan sejak dari playgroup, ikut les ini itu sampai si anak nggak punya banyak waktu untuk bermain di alam bebas seperti anak-anak di film Laskar Pelangi itu adalah demi membuat anak bahagia? Bukan cuma biar para orang tua bisa pamer anaknya sekolah di SD unggulan atau juara satu di kelas? Bukan? Baiklah.

Tidak ada yang salah dengan memberikan pendidikan terbaik untuk anak, begitu para orang tua mengatakan. Mereka rela memberikan apa pun asal anaknya sukses. Benarkah? Untuk siapa sukses itu? Sungguhkah untuk si anak sendiri? Bagaimana dengan anak-anak yang mungkin berbakat menjadi drummer, komikus, atau penata cahaya film, tetapi bakatnya mungkin dimatikan sejak dia masih SD dengan beragam les yang sesungguhnya ia tidak perlu?

Atau, pernahkah para orang tua merenung, mungkinkah saat ini, anaknya yang sedang kuliah semester terakhir di Teknik Informatika ITB, sebenarnya sedang menyesal mengapa dulu tidak masuk kedokteran hewan, mengapa ia memilih jurusan bergengsi yang tidak diminatinya? Kemungkinan alasan anak itu cuma dua: ingin pekerjaan yang menjanjikan setelah lulus, dan ingin membuat orang tua bangga. Bahkan alasan pertama pun ujungnya adalah untuk membuat orang tuanya bangga.

Orang tua sering membuat anaknya merasa bersalah dengan jurus 'capek-capek mama kerja buat nyekolahin kamu tapi kamunya begini' atau 'mama iri sama mamanya si A yang pintar dan berprestasi' yang akhirnya memacu si anak untuk berusaha lebih keras demi membahagiakan orang tuanya. Mungkin bagi orang tua, semuanya itu untuk kebaikan si anak. Kebaikan yang seperti apa? Apakah sukses sekolah, kerja dengan gaji besar itu menjamin si anak hidupnya baik dan bahagia?

Jika seandainya anak kalian hidup sebagai musisi miskin yang tak laku, diremehkan orang namun tetap bahagia karena dia sedang menghidupi mimpinya, apakah para orang tua tetap bisa bangga dan bahagia? Atau, apakah kalian bisa percaya anak itu bahagia? Mungkin tidak. Padahal, anak itu sungguh bahagia.

Mengapa para orang tua begitu ingin anaknya hidup aman secara finansial, lulus kuliah langsung dapat bekerja dengan layak tanpa kesulitan hidup berarti? Mengapa orang tua tidak banyak yang membiarkan anaknya hidup susah demi mengejar mimpinya? Putus sekolah demi menjadi musisi, misalnya. Atau berhenti kuliah untuk menjadi pemain bola. Mengapa jarang orang tua yang mengizinkan anaknya mencicipi kerasnya kehidupan, bekerja dengan tangannya sendiri mengejar apa yang menjadi panggilan hidupnya?

Mengapa orang tua mengukur kebahagiaan anak dengan ukurannya sendiri? Saya yakin semua orang tua ingin anaknya bahagia, begitu pun si anak ingin orang tuanya bahagia, karena itulah mereka sering mengorbankan mimpinya demi mimpi orang tuanya. Apakah akhirnya anak itu bahagia? Mungkin dia bahagia karena telah membuat orang tuanya bahagia, namun apakah secara pribadi, individu, dia sungguh bahagia? Mungkin tidak.

Saya tidak tahu kelak akan jadi orang tua seperti apa. Tapi saya berjanji anak saya harus bahagia dengan caranya sendiri, dengan ukurannya sendiri, dengan mimpinya sendiri. Saya tidak ingin anak saya nanti memparalelkan kebahagiaannya dengan kebahagiaan saya sebagai orang tuanya. Sebab dalam hati saya tidak percaya individu yang tidak bahagia bisa membahagiakan orang lain. Saya percaya pada prosedur pemakaian masker oksigen di pesawat: semua orang harus menolong dirinya sebelum menolong orang lain. Orang baru bisa menolong orang lain dengan menolong dirinya sendiri. Seorang anak harus bahagia sebelum membahagiakan orang tuanya.

tulisan ini dibuat sebagai pengingat, semoga kelak saat menjadi orang tua saya tidak bertranformasi menjadi tipe orang tua yang saat ini saya benci, apa pun kondisinya nanti

thank you for loving me

Pulau Beras Basah, April 2011

Berharap aku bisa memainkan lagu ini untukmu dengan biola beberapa minggu lagi :)

Terima kasih, untuk selalu mengangkat telepon dariku jam berapa pun itu. Terima kasih untuk kesediaanmu mengantarku ke mana pun dan kapan pun saat aku membutuhkanmu. Terima kasih untuk kerelaan menahan hasrat membeli sepatu futsal demi tiket PP Balikpapan-Jakarta setiap dua bulan, selama dua tahun penuh. Terima kasih untuk seluruh minggu pagi yang kauhabiskan menemaniku mengangkut belanjaan dari pasar.
Terima kasih untuk tidak mengambil hati semua yang kukatakan saat aku sedang PMS. Terima kasih untuk tidak pernah pergi saat aku marah. Terima kasih untuk selalu percaya bahwa dalam segala perdebatan dan pertengkaran, aku selalu cinta.
Terima kasih untuk seluruh perjalanan dan tamasya yang kita lakukan bersama. Terima kasih untuk semua sesi-sesi foto gila di pinggir jalan raya. Terima kasih untuk kesediaanmu menghamburkan pertamax ymenemaniku keliling jalanan Samarinda tiap malam sebelum tidur.
Terima kasih untuk selalu bersedia membeli tiket ekstra dan menemaniku ke mana pun aku terbang, untuk selalu menggenggam tanganku yang dingin hingga lampu sabuk pengaman dipadamkan, untuk terjaga sepanjang penerbangan selama apa pun itu, memastikan aku tidak sesak nafas, dan selalu menjawab aku yang bertanya berapa lama lagi kita mendarat tiap lima menit sekali. Terima kasih untuk mengerti bahwa tidak semudah itu bagiku menginjakkan kaki ke gedung bioskop. Terima kasih untuk memahami bahwa aku tidak bisa menyetir dengan kecepatan di atas 60 dan selalu senewen jika di depan kendaraanku ada truk beroda enam.
Terima kasih untuk memberikanku waktu bersama teman-teman perempuanku walaupun itu di malam Minggu. Terima kasih untuk tetap membiarkanku keluar malam dengan teman-teman lelakiku kapan pun aku mau. Terima kasih untuk tidak bersusah payah mengecek inbox ponsel atau meminta password emailku. Terima kasih untuk membiarkanku naik gunung atau melakukan perjalanan berhari-hari ke tempat-tempat tanpa sinyal operator. Terima kasih untuk selalu mengizinkanku pergi ke Rolling Stone Party dan ke konser artis apa pun yang aku mau.  Terima kasih untuk tidak protes pada dua rak buku penuh komik atau rak sepatu yang kini tak muat lagi. Terima kasih untuk tidak berusaha memodifikasiku menjadi perempuan yang lebih sempurna.
Terima kasih untuk tidak pernah menanyakan masa laluku, sekaligus kesediaanmu mendengarkan jika aku ingin menceritakan. Terima kasih untuk tidak pernah membandingkanku dengan orang dari masa lalumu. Terima kasih untuk menerima dan memaafkan kesalahan dan aib-aibku di masa lalu.
Terima kasih untuk memanggilku cah ayu dan bukan sayang atau beb atau mama. Terima kasih untuk selalu mengatakan aku cewek tercantik dan terkeren di dunia. Terima kasih untuk semua rekaman gitar lagu-lagu cinta untukku. Terima kasih untuk kata-kata aku sayang kamu yang kauucapkan setiap hari dan semua sms-sms cintamu dalam bahasa Jawa yang selalu membuat hariku lebih berwarna.
Terima kasih untuk selalu menyediakan bahu, telinga, dan genggaman tanganmu untukku setiap kali aku menangis. Terima kasih untuk bertanya di saat memang harus dan tidak bertanya saat kesedihanku tidak butuh alasan. Terima kasih untuk selalu memberiku alasan tersenyum kembali setelah deraian air mata.
Terima kasih untuk selalu menegurku jika suatu hari aku terlalu judes pada waiter Pizza Hut yang lelet. Terima kasih untuk selalu mengingatkanku saat aku terlalu banyak mengeluh. Terima kasih untuk selalu mengajakku jogging pagi setiap kali kau merasa pipiku bertambah chubby. Terima kasih untuk selalu jujur berkata aku tidak pantas memakai warna biru dan hijau atau jika bajuku mirip emak-emak arisan.
Terima kasih untuk menjadi teman diskusi yang menyenangkan tentang musik dan film dan agama dan spiritualisme dan hidup. Terima kasih untuk sebagian pandangan hidup yang sama dan sebagian lagi yang berbeda. Terima kasih untuk selalu berpikiran terbuka dan sekaligus menerima keterbukaanku. Terima kasih untuk menjadi manusia yang memandang dunia ini tidak dengan kacamata norma. Terima kasih untuk tidak menilai manusia dengan apa yang asalnya bukan dari hati. Terima kasih untuk jiwamu yang merdeka.
Terima kasih untuk tetap menjadi lelaki yang sama yang membuatku jatuh cinta. Terima kasih untuk tidak membiarkanku mendominasi atau mengubahmu menjadi seperti yang aku mau. Terima kasih untuk tetap menjadi dirimu, yang tetap tak pernah memberiku bunga, yang tetap menyisakan dua malam dalam seminggu untuk futsal dan teman-teman prianya, yang tetap punya ruang dan hidupnya sendiri. Terima kasih untuk tetap menjadi individu yang bahagia.
Terima kasih untuk tetap menjadi dirimu yang mencintaiku.

Yes I kow perfect guy doesn't exist. But yes, I have a perfect boyfriend. So perfect I couldn't ask for more.
Yes I'm a lucky girl.

10 October 2011

tahun kesekian

Kata orang, selembar foto bisa bicara lebih banyak daripada seribu kata.
Hari ini aku memandangi ratusan fotomu dan aku di layar komputerku, mengingat masa-masa ketika foto-foto itu terjepret. Ratusan kali akhir pekan, puluhan liburan long weekend dan cuti bersama yang kita habiskan bersama. Kota-kota dan pulau-pulau yang kita datangi, lorong-lorong jalan yang pernah menyaksikan kita berjalan di atasnya, bergandeng tangan.
Hari ini, beberapa tahun yang lalu (biarlah nominalnya rahasia agar orang-orang penasaran) kita memutuskan menjadi teman seperjalanan. Dan sejak hari itu, sudah sering kita menapaki jalanan terjal, turunan dan tanjakan, kelok-kelok kehidupan, tersesat, berdebat tentang arah mana yang harus diambil. Bertahun sudah kita berjalan beriring, saling menguatkan, bertukar beban di pundak, beristirahat ketika memang harus. 
Perjalanan kita tanpa peta, tanpa rencana, pun tak pasti apakah esok kita masih berjalan bersama. Namun dengan siapa pun aku menghabiskan sisa perjalananku nanti, perjalananku denganmu akan tetap seindah seperti saat aku mengenangnya sekarang.
I love you.

07 October 2011

tanpa facebook, twitter, dan BBM

Saya punya nomor ponsel dan alamat email.

Saya juga punya alamat tinggal yang nyata ada.

Kalian yang benar-benar peduli, bisa menghubungi saya di sana. No social media, for now.

(sedang rindu jaman di mana tanpa ponsel pun semua baik saja. lebih baik, malah)