23 September 2011

titik.period.

Saya tidak setuju bahwa:
pacaran adalah senang-senang sama-sama, menikah itu susah dan senang bersama.
Atau lebih tepatnya, saya tidak suka orang menggunakan kalimat itu untuk menghakimi kenyataan bahwa saya dan Mr Defender, pasangan saya sekarang ini, belum juga menikah setelah berpacaran sekitar... 3 tahun? 3,5 tahun? Ehm, entahlah, saya lupa sesungguhnya di titik mana (bagi orang-orang) kami bisa disebut mulai pacaran (bahkan saya sendiri sebenarnya malas memakai kata pacar, dia adalah pasangan dan partner hidup saya).

Percayalah, saya sudah sangat lelah dengan pertanyaan (dan penilaian macam-macam) tentang belum menikahnya saya. Tapi, sangat menyakitkan dikatai 'tidak mau menjalani kesusahan bersama dalam pernikahan' atau 'mau enak dan senangnya saja pacaran'.

Tapi, ya, akan saya katakan (dan memang begitulah kenyataannya) bahwa saya (dan semoga juga pasangan) memang selalu senang selama menjalani hubungan kami yang entah apa pun lah labelnya ini, semuanya bagi kami enak, tidak ada kesusahan, tidak ada penderitaan. We're in love, we always are

It's (Not That) Complicated


Mumpung hasrat menulis sedang bagus, saya akan menulis tentang film-film yang kemarin ingin saya tulis (untuk dikenang sendiri) tapi nggak sempat sempat (baca: malas). Sekali lagi saya memberi disclaimer bahwa tulisan saya bukan resensi, tidak memuat alur, nama pemain dan sebagainya, hanya tentang perasaan saya setelah menonton film ini.

Tapi, kali ini, biarlah saya menulis sedikit. Film ini berkisah tentah Jane, seorang janda yang telah bertahun-tahun berpisah dengan Jake, mantan suami dan ayah dari ketiga anaknya, karena Jake berselingkuh darinya. Jane merasa setelah bertahun-tahun berlalu, dia dapat mengatasi kesedihan, kehilangan, kemarahan, apa pun emosi yang tersisa dari perceraian itu, tapi kemudian sesuatu terjadi dan tadaaa, Jane tiba-tiba sudah berkencan dengan Jake (yang sudah menikah lagi), padahal saat itu, arsiteknya, Adam, diam-diam menyukainya dengan tulus.

Saya suka film ini karena penuh kejutan, endingnya (menurut saya) tidak klise, dan karakter para tokohnya tidak berlebihan. Saya sangat suka bagian di mana Jane bertanya pada terapis/psikolog tentang kencannya dengan Jake. Jane mendaftar alasan yang kira-kira membuat dia bisa-bisanya bersama Jake lagi: masalah yang belum selesai, cinta yang belum hilang, balas dendam, ataukah sekedar kesepian. Film ini penuh dengan percakapan kocak namun menyentil, yang membuat saya tertawa sekaligus menangis membayangkan apa jadinya pernikahan saya 20 tahun ke depan (menikah saja belum ya). Lucu sekaligus menggelitik pas menyaksikan momen-momen Jane antara merasa bersalah atau seru-seru menantang dalam perselingkuhannya. Gemas dengan kelakuan Jake yang kadang sangat tidak gentleman. Suka dengan penggambaran hubungan Jane dan Adam yang begitu pas, tidak romantis berlebihan, juga tidak kaku. Saya kira semua wanita dewasa akan menyukai film ini sebagai versi perempuan dari film The Hangover, hahahaha.

jangan mau jadi palsu

Kamu positif palsu kalau kamu:
  1. membeli tas haute couture KW super lalu bertingkah seolah itu tas orisinal (plus mencela orang lain yang membeli dress korea KW 3 di ITC)
  2. berkampanye tentang membeli cd asli dari musisi (plus nyela mereka yang mengunduh dari internet) tapi memakai windows bajakan
  3. ikut sibuk acara selamatkan bumi dan paling getol update twitter tentang earth hour tapi hobinya jajan minuman botol plastik, meninggalkan kamar dengan lampu menyala, dan naik mobil isi satu orang kemana-mana
  4. mencoba impersonate (apa ya bahasa Indonesianya yang pas) seseorang yang kamu kagumi sampai kamu lupa siapa diri kamu
  5. punya agenda gaul rutin dengan satu geng yang membuatmu merasa lebih keren, padahal sebenarnya kamu benci setengah mati dengan acara bergosip mereka
  6. memaksakan diri nonton film yang bikin pusing cuma biar dibilang cool
  7. suka setengah mati sama Westlife tapi nggak mengakuinya karena takut dibilang cupu sama teman-teman
  8. sewaktu memilih buku di toko, selalu berpikir apa yang dipikirkan orang lain kalau kamu membaca buku itu di kereta atau busway
  9. menghujat seorang cewek berjilbab yang pakaiannya (kebetulan) terlalu ketat, sementara kamu sendiri berjilbab panjang tapi masih buka jilbab kalau pacarmu lagi apel ke rumah
  10. ikut nimbrung obrolan yang sebenarnya super membosankan hanya karena topik itu sedang hype dan kamu nggak mau dibilang kuper
  11. memanggil seseorang say, honey, darling, sister, tapi di belakang menggosip tentang alisnya yang ditato atau kukunya yang dicat merah darah
................. dan apa pun itu, yang menjadikanmu orang yang berbeda dengan dirimu yang sesungguhnya. Silakan tambahkan daftarnya.

22 September 2011

kita semua begitu




Lagu yang sesuai dengan isi tulisan nggak penting saya (boleh dibaca sambil diputar lagunya biar lebih 'dapat' suasana hati saya pas menulis ini)

Saya punya seorang sahabat, Miss Turquoise, yang pernah mengalami patah hati berat dan membutuhkan waktu yang (menurut banyak orang) sangat lama untuk sembuh dari patah hatinya itu. Banyak orang, bahkan di lingkungan pertemanan kami berdua yang heran kenapa butuh waktu yang lama sekali untuknya sembuh dan melupakan mantan pacarnya itu.

Kemarin, seseorang bertanya kepada saya, bagaimana saya dan Mr Backpack bisa berpisah 'baik-baik' dan tetap berhubungan baik pasca perpisahan kami. Dia bilang, sebenarnya dia nggak percaya ada yang namanya putus baik-baik (kalau baik-baik ya nggak putus dong, begitu logikanya). Maka, maksud sebenarnya pertanyaannya adalah, apakah saya dan Mr Backpack benar-benar putus baik-baik dan apakah saya dan Mr Backpack saat ini sebenarnya cuma pura-pura tetap berteman baik padahal dalam hati masih ada yang mengganjal. Sebab, ia sendiri sudah setahun putus dengan pacarnya dan sampai sekarang, jangankan untuk berteman, bertegur sapa sekedarnya pun ia tak sudi.

"Kok lo bisa sih putus dengan tenang dan santai banget gitu?" begitu ia bertanya. "Apa emang lo udah benar-benar sedewasa itu dalam sebuah hubungan?"

Oh, saya nyaris tertawa. Seandainya saja dia tahu betapa saya pernah meneror Mr Summer, mantan pacar pertama saya karena tidak rela dia pindah ke lain hati (akan saya tulis tersendiri nanti), atau bahwa saya pernah sampai sakit seminggu, mengasihani diri seperti orang putus asa, bahkan sampai melakukan perjalanan keliling Kalimantan sewaktu baru putus dengan Mr Ladykiller (nanti akan saya tulis juga kalau sempat tapi yang ini nggak janji, soalnya kalau ingat masa itu rasanya saya pengen terjun ke sumur sambil teriak 'what  the hell was I thinking?!'). Ya, intinya, saya juga nggak sedewasa itu kali. Saya juga pernah mengalami masa-masa kelam setelah putus cinta, baik yang norak menye-menye maupun yang benar-benar menyakitkan hati.

Tapi, menjawab jujur pertanyaannya, apakah saya dan Mr Backpack putus baik-baik? Jawaban saya adalah, tidak tahu. Saya tidak tahu definisi pasti putus baik-baik. Tetapi, saya dan Mr Backpack berpisah karena di antara kami memang sudah tidak ada percikan-percikan kembang api di mata dan tarian kupu-kupu di perut yang mendebarkan hati itu. Jangan kira kami berdua (atau setidaknya saya) kurang berusaha untuk mempertahankan. Tapi seperti yang dulu pernah saya tulis di sini, yang terjadi antara saya dan Mr Backpack itu sungguh hanya alam semesta yang tahu. Mungkin itu kebenaran dari kalimat klise 'kalau nggak jodoh mau apa lagi'. Saya dan Mr Backpack tidak ada keluhan tentang satu sama lain, tapi setelah menjalani hubungan selama tiga tahun lebih (dengan dua kali putus sambung) kami memutuskan bahwa kami bukan orang yang tepat untuk satu sama lain.

Dan untuk pertanyaannya, apakah saya hanya pura-pura berteman, maka saya bisa menjawab tegas, tidak. Saya tulus dengan seluruh persahabatan dan doa saya untuknya, sebelum dan sesudah saya putus. Perpisahan kami (juga perpisahan saya dengan semua mantan saya) tidak mengubah apresiasi saya kepadanya, bagi saya dia masih orang yang sama: baik hati, lembut, sederhana, dan sangat gentleman.

Apakah ada yang penasaran, apakah saya menyesal? Tidak. Saya tidak menyesali tiga-empat tahun kebersamaan saya dengan Mr Backpack. Tidak pernah menganggap itu sebagai kesia-siaan, meskipun kami akhirnya berpisah (sejujurnya sih saya memang nggak pernah berpikir 'sayang ah, udah tiga tahun masa  harus pisah' saya lebih berpikir 'masa sih mau seumur hidup sama orang yang salah'). Masa saya bersama Mr Backpack sangat indah dan menyenangkan, dan dia adalah orang yang banyak mengubah saya menjadi orang yang lebih baik dan dewasa. Tapi, saya juga tidak menyesal berpisah dengannya. Memang sih, setahun lalu saya masih sering terkenang padanya, terutama saat saya jalan-jalan keliling Jakarta di malam hari, atau saat saya mendaki gunung. Bahkan sekarang pun, kenangan tentang dia kadang-kadang masih muncul, menyisakan perasaan yang manis, namun hanya itu saja. Saya tidak berandai-andai kami bersama lagi. Bahkan seandainya waktu bisa berulang pun, saya akan mengambil keputusan yang sama. Tapi, itu tidak mengubah kenyataan bahwa Mr Backpack pernah menjadi bagian penting dalam hidup saya, pernah saya cintai dan mencintai saya, pernah memberi saya begitu banyak kebahagiaan, dan selamanya akan seperti itu. Mr Backpack adalah sebagian dari diri saya yang tidak akan bisa saya mutilasi, suka atau tidak.

Jadi, saya pikir, sebenarnya saya sama saja dengan Miss Turquoise dan teman yang bertanya pada saya itu. Kami sama-sama belum (atau mungkin tidak akan) melupakan mantan pasangan, walaupun mungkin caranya berbeda. Saya, tentu saja juga sedih, kehilangan, bahkan sempat bertanya-tanya apakah saya sudah membuat keputusan yang benar. Tapi pada akhirnya saya merasa lega dengan apa yang telah saya lakukan. Saya telah menutup satu pintu dan membuka kesempatan bagi pintu lain untuk terbuka. Dan sekali lagi saya ingin bilang, bahwa sekalipun perasaan cinta (yang romantis) antara daya dan Mr Backpack mungkin sudah meredup saat kami berpisah, namun saya tetap luar biasa sedih dan luar biasa kehilangan setelah perpisahan itu. Siapa sih orang yang nggak sedih berpisah dengan pasangannya? Reaksi kita semua terhadap perpisahan itu sebenarnya sama kok. Tidak ada orang yang bisa benar-benar  menjadi 'orang dewasa berkepala dingin' (apa pun artinya itu) ketika berpisah dengan orang yang dicintainya. Sama seperti yang dikatakan Bob Dylan di lagunya, "you make love just like a woman, you ache just like a woman, but you break just like a little girl".

20 September 2011

kebebasan (menikmati) musik

gambar dari sini
 Saya seorang yang visual, menyukai segala sesuatu yang visual (foto, gambar, lukisan, bahkan saya lebih suka membaca komik atau buku dongeng anak yang banyak gambarnya daripada novel tebal), namun selain itu, saya juga (bahkan cenderung lebih) adalah seseorang yang sangat audio, atau katakan sajalah sangat musikal. Saya salah satu yang tergambar dalam survey tentang musik yang diadakan majalah Rolling Stones tahun lalu, bahwa jika saya diharuskan untuk membuang semua jenis hiburan yang bisa saya dapat kecuali satu, maka musiklah yang akan saya pilih untuk tidak dibuang. 
Sejak TK saya mendengar berbagai jenis musik dari bapak saya yang seniman (amatir) kerawitan namun juga menyukai lagu-lagu Iwan Fals, Rahmat Kartolo,  Ebiet, God Bless, Koes Plus, Michael Jackson, dan tentu saja Beatles :D dan ibu saya yang penggemar Iga Mawarni, Anggun, Dian Piscesa, Betharia Sonata, dan (pada dasarnya) semua penyanyi cewek era mudanya. Saya mendengarkan semua kaset  yang ada di rumah (termasuk lusinan kaset tembang jawa full orchestra gamelan milik bapak saya yang merupakan warisan dari kakek saya) dan menonton semua acara musik di TVRI (oh silakan mengejek). Saya juga senang memainkan alat musik (tapi tidak bisa menyanyi) yang dimulai dengan belajar memainkan saron dan gambang waktu kelas satu SD karena selalu diajak bapak saya ke tempatnya latihan gamelan, belajar harmonika dari almarhum om saya, bermain gitar (asal-asalan) milik sepupu, lalu ikut les ansambel dengan tekun selama dua tahun sewaktu SMP. Dalam kurun waktu dua tahun itu alat musik  yang berhasil saya kuasai (sekadarnya) adalah rekorder, tamborin, pianika, keyboard, dan berbagai jenis alat musik ritmis seperti marakas, triangel, dan entah apa lagi namanya (sejujurnya saya holaholo ala orang linglung kalau kebagian main alat musik ritmis waktu itu, habis cuma berapa kali beraksi sepanjang lagu). Jaman itu juga adalah masa-masa saya menikmati musik dengan tulus, saya mendengarkan semua band pop rock yang sedang ngetop waktu itu, lagu-lagu cinta klasik berbahasa Inggris, Britney Spears dan Mandy Moore dan Jessica Simpson, juga simfoni-simfoni Bach dan Beethoven. Saya yang waktu itu mendengarkan musik tanpa memisahkan genre (seperti yang saya lakukan sekarang) dan tanpa berkomentar musik ini keren musik itu sampah (yang sekarang sedang saya usahakan saya hentikan setelah saya lakukan bertahun-tahun). Waktu itu saya belum punya akses informasi yang luas dari majalah musik atau internet seperti sekarang, paling dari koran atau majalah langganan bapak ibu (saya menggunting semua artikel tentang musik dan membuat klipingnya, waktu kelas 3 SMP sudah ada sekitar 4 kliping dengan tebal masing-masing 5 cm) tapi seluruh opini saya tentang musik kesukaan saya waktu itu (Beatles, Gigi, Metallica, Koes Plus, Naif, The Corrs, di antaranya) adalah dari musik yang saya dengar, bukan opini orang yang saya baca (well, saya dan banyak orang sekarang rasanya sering sekali menghina Kangen Band and the gank lebih karena apa kata majalah Rolling Stones dibanding karena beneran nggak suka, akui sajalah -- eh dan jangan salah, saya bukan fans Kangen Band, ini contoh saja).

Saya merindukan masa-masa itu, di mana kebahagiaan mendengarkan dan memainkan musik masih belum tercampur gengsi bisa menonton gigs besar dan konser tunggal berharga sejuta rupiah, belum tercampur kebanggaan membeli CD musisi indie atau demi sekedar bisa nyambung ngobrol dengan sesama pecinta musik 'bermutu' lainnya. Saya rindu masa SMA di mana saya pelajar miskin yang setiap siang sebelum les selalu mampir ke tempat teman yang punya kaset satu rak penuh demi mendengar koleksinya yang mungkin cuma bisa saya beli sebiji tiap bulan (makasih ya Tia, selalu kangen masa-masa itu). Saya rindu masa saya memainkan semua lagu yang saya suka (termasuk jingle iklan dan soundtrack Putri Huan Zhu) dengan keyboard atau rekorder sampai tetangga sebelah rumah muak. Saya rindu masa-masa pertama kalinya saya jatuh cinta pada John Mayer atau Bob Dylan tanpa punya pengetahuan cukup tentang musik mereka.

Saat ini, jujur saja saya sering menilai orang dari selera musiknya (yah wajar aja sih, mungkin sebagian besar pecinta musik juga begitu) dan saya sedang berusaha keras menghilangkan kebiasaan ini. Terlepas dari saya benci media (TV) yang mengekspos musik yang itu lagi-itu lagi, saya sesungguhnya berpikir tidak ada jenis musik yang boleh dianggap 'hina', karena bukankah musik itu sesungguhnya media berekspresi? Well, mungkin ada juga sih yang bermusik untuk uang (dan saya rasa itu yang bikin musisi dan penikmat musik 'beneran' gerah). Tapi saya tidak setuju dengan pelecehan terhadap musik apa pun, sesungguhnya, apalagi jika itu bukan karena kita beneran nggak suka (mungkin banyak yang udah say no duluan sebelum mendengarkan Smash) tapi karena opini orang lain, biarpun orang lain itu adalah majalah musik atau orang-orang keren di sekitar kita.

Yah, bagi saya juga, ini mungkin saatnya bertanya kembali, kapan terakhir kalinya membeli CD musik karena suka, bukan karena pengen sok-sokan beli CD asli musisi indie (ini bukan kegiatan yang jelek, mulia bahkan, hanya saja pastikan kita beneran suka musiknya, bukan karena gengsi-gengsian aja). Kapan terakhir kali saya membeli tiket konser karena benar-benar suka, bukan cuma karena semua teman juga nonton dan takut dianggap nggak keren. Mengunduh mp3 ilegal mungkin kejahatan ya terhadap si musisi, tapi kalau membeli CD asli, nonton konser, apalagi pura-pura ngefans padahal cuma demi gengsi, ini sih namanya kejahatan terhadap diri sendiri. Itu namanya pembunuhan karakter sendiri, itu yang namanya palsu dan tidak jujur pada diri sendiri. Dan adakah kejahatan yang lebih besar dari itu?

13 September 2011

yakin dengan komentar anda?


Kemarin saya nggak enak badan, jadi saya tidak masuk kantor. Siang hari saat saya tidur-tiduran di bawah selimut (yang mana hari berhujan jadi terasa sangat nikmat) saya iseng-iseng berkirim pesan dengan Miss Sunshine, sahabat perempuan saya yang berdomisili di ibukota.
Blablabla dan blablabla, lalu dia mengirim : baca versi online koran X deh, sedih baca komentar-komentarnya.

Saya, karena penasaran, tapi sedang nggak bisa online karena laptop ditinggal di kantor, akhirnya ngesot ke kamar sebelah meminjam laptop dan modem demi membuka laman yang dimaksud. Dan di situlah saya baca sebuah berita tentang kegagalan tim eskpedisi Gunung Elbrus mapala kami mencapai puncak karena badai salju. Beritanya sih fakta ya, tapi lalu di bawahnya banyak sekali komentar pedas, mulai dari yang membodoh-bodohkan manajemen dan atlet, menyayangkan, mempertanyakan sumber dana, sampai menjelek-jelekkan mapala kami, melenceng dari isi berita. Miss Sunshine mencantumkan komentarnya juga, menyatakan kebanggaannya menjadi bagian dari manajemen ekspedisi dan terutama menjadi bagian dari mapala kami.

Waktu itu saya nggak seemosional Miss Sunshine sih, soalnya sejak beberapa waktu lalu Mr Defender memaksa saya menempelkan tulisan 'berpikir dengan pola pikir orang lain, melihat dari sudut pandang orang lain' di cermin. Jadi pas mau emosi otomatis ingat. Yah kan di mana-mana yang namanya berkomentar lebih mudah, lagipula yang namanya penonton kan maunya melihat hasil, mana mau mereka melihat proses di balik jungkir baliknya mapala kami mengumpulkan dana dan memberangkatkan atlet ke Rusia. Jadi ya sudahlah. Tapi kemudian, saya jadi merasa tertohok juga kalau ingat betapa mudahnya saya selama ini juga memberikan komentar di berita, thread, atau postingan di dunia maya.

Selama ini, alangkah mudahnya saya memberikan komentar, misalnya terhadap kebijakan pemerintah, berita kerusuhan, atau kejadian apa pun, dari sisi saya. Walaupun saya selalu mencantumkan identitas (tidak seperti mereka yang menjelekkan mapala kami dan tentunya memilih anonim) tapi kemarin setelah dipikir lagi, ternyata saya juga nggak jauh beda dengan mereka. Menghakimi hanya dengan sepotong berita yang bahkan tidak bisa saya yakini kebenarannya, apalagi repot-repot melihatnya dari sudut pandang orang yang diberitakan. Kadang lucu juga sih, kalau sadar bahwa kebebasan berpendapat justru membuat kita jadi orang yang kurang beradab dan tidak bertanggung jawab. Coba, sering kan ngomentarin RT-an dari tweet seleb atau politikus yang kita bahkan nggak tau apa yang terjadi. Asal nyela, asal ikut menghakimi, hanya karena banyak orang yang juga melakukannya. Coba kalau kita sendirian, jangankan menghujat, jangan-jangan kita malah ikut mendukung.

Yah, mau gimana pun juga yang kayak gitu udah jadi konsekuensi kebebasan berekspresi dan berpendapat sih. Nggak berharap juga orang bakalan lebih beradab dalam memanfaatkan informasi dari internet. Yang penting buat saya kejadian kemarin itu cukuplah menjadi sebuah tamparan dan balasan atas apa yang selama ini saya sering lakukan (walaupun nggak bisa jadi pembenaran ya buat mereka yang komentar anonim di artikel dimaksud). Semoga di kemudian hari saya bakalan ingat kejadian ini dan ingat betapa nggak enaknya menjadi pihak yang dihakimi, sebelum saya mengomentari orang lain, walaupun itu hanya di dunia maya.

kemarin saat ini esok selamanya*

Life'll only be crazy as it's always been
Wake up early, stay up late, having debts
Things won't be as easy as it often seems
And yet you want me
This cliché's killing me
Still I need more I need more
This I’ve never thought before

Chi trova un amico, trova un tesoro*
We can look for many other foreign lines to make me survive your love
You said "To the future we surrender.
Let's just celebrate today, tomorrow's too far away.
What keeps you waiting to love?
Isn't this what you've been dreaming of?"


Life's to live and love's to love

Sundays will be empty as it's always been
Watching TV, wake up late, playing dead
Mondays won't be easy with no plans and schemes
Now that you’re still here
The silence shouts it clear
You’re still here
The silence shouts it clear


To the future we surrender
Life's to live and love's to love
To the future we surrender
Life's to live and love's to love


To the future we surrender
Life's to live and love's to love
To the future we surrender
Life's to live and love's to love


*one who finds a friend finds a treasure (italian proverb)



You said "To the future we surrender. Let's just celebrate today, tomorrow's too far away. What keeps you waiting to love? Isn't this what you've been dreaming of?" Life's to live and love's to love.
(Float)


Senyum-senyum sendiri menemukan selembar foto dari masa tiga tahun yang lalu, saat kami masih sering nonton di bioskop 21 murah dan menghabiskan waktu menunggu dengan foto-foto di photobooth yang juga murah, di mana kita bisa mengedit background dan efek-efeknya sendiri (entahlah ini bentuk layanan atau justru kemalasan si empunya photobooth, hehehe). Dan kita menghabiskan puluhan menit mencoba semuanya di semua foto karena toh nggak ada lagi orang lain yang mengantri (siapa juga yang bakalan foto-foto di situ selain orang kurang kerjaan). Norak? Tahu kok.

Tapi, sekarang, tiga tahun setelahnya, segala hal norak terasa manis. Mengingatkan bahwa kita pernah sekanak-kanak itu, se-dimabuk asmara itu, mengingatkan betapa jauhnya kita sudah bersama di jalanan yang seringnya tak datar. Bahwa seperti yang dibilang di film Just Married, masa-masa yang sulit tidak pernah terekam di foto, namun masa-masa sulitlah yang mengantarkan kita dari foto bahagia satu ke foto norak yang lain. Mengingatkan bahwa di antara apa pun itu kesulitan, kita selalu bahagia. Bertahun-tahun ke belakang, hari ini, dan mudah-mudahan juga nanti.


*) dari lirik lagu Seumur Hidupku milik Boomerang


sepotong senja untuk pacarku*

senja di pelabuhan tanjung laut, april 2011
Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.
(Seno Gumira Ajidarma)

Saya adalah orang yang melankolis. Mungkin seluruh dunia sudah tahu. Walaupun dalam menyikapi berbagai hal saya selalu pragmatis, namun sebenarnya saya melihat seluruh kehidupan dari sisi emosional, bahkan spiritual. Mungkin saya punya bakat depresif. Mungkin saya ingin jadi penulis atau penyair, namun tidak punya bakat :D
Ada sesuatu antara saya dan senja, walaupun saya tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata seperti Seno Gumira Ajidarma. Saya selalu menyukai senja, dan membayangkannya sebagai momen di mana matahari memberikan kecupan terakhir untuk bumi, dan meninggalkannya dalam kelam yang panjang, sebelum bertemu lagi esok hari.

*) dari judul cerpen Seno Gumira Ajidarma

10 September 2011

Mendung Meracau


Hari ini adalah hari Sabtu yang biasa. Ada masalah remeh temeh: saya yang jadi susah masak di kosan karena kos 60 kamar (betul sekali, 60 kamar, nggak salah baca) ini penuh sehingga listrik sering turun dan mbak penjaga kos yang karena hamil jadi ngomel-ngomel kalau kami masak di dapur (tapi sebenarnya sih dia memang selalu ngomel walaupun nggak hamil), dan lagi-lagi, karena beralasan sedang hamil dia nggak mau lagi membersihkan kamar mandi dan membuang sampah ke TPA yang selama ini juga tugasnya, sehingga kosan kami sangat kotor, berantakan, jorok, dan nggak nyaman (karena nggak semua anak kos mau dan sadar untuk menjaga kebersihan, sebagian lagi sebagai aksi protes 'loh ini kan kerjaanmu mbak, buat apa kamu dibayar coba'). Dan saya jadi agak malas berada di kos (yang ngomong-ngomong, karena isinya 60 orang, jadi super berisik). Tapi selain masalah remeh temeh itu ada juga keceriaan-keceriaan kecil : cuaca mendung dan hawa sejuk sepanjang hari, setumpuk DVD yang saya jarah dari kamar Mr Defender untuk menemani saya 40 hari ke depan (karena lagi-lagi ditinggal tugas ke luar kota), teman-teman satu blok di kos yang sangat menyenangkan.

Sekarang ini, saya sedang menemani Mr Defender lembur agar semua tugasnya bisa selesai sebelum dia berangkat ke luar kota Senin ini. Saya tidak pernah suka pekerjaan Mr Defender (dan itu juga sebabnya saya berhenti) namun bagian yang paling tidak saya suka adalah karena sebagian besar waktunya (6-7 bulan dalam setahun) dihabiskan di luar kota (dan bukan untuk berlibur, cuma pindah tempat kerja). Saya sendiri tidak bisa membayangkan hidup seperti itu (terutama karena saya bukan makhluk soliter atau makhluk virtual. Saya butuh kehadiran teman-teman saya secara fisik, karena itu saya tidak suka pergi ke tempat terpencil dalam waktu lama kalau tujuannya untuk bekerja). Dan saya tidak terlalu suka terlalu sering ditinggalkan, sebab saya tahu saat Mr Defender pergi bertugas dia akan sangat sibuk sehingga saya jarang  dapat berkomunikasi dengannya lewat pesan singkat atau telepon. Tapi saya berusaha suportif, lagipula untuk saat ini pilihan yang tersisa buat kami tidak banyak. Berusaha bersabar sampai kami punya kemungkinan untuk mengubah hidup kami ke arah yang kami mau.

Jadi, Sabtu ini tetap Sabtu yang biasa, kami tidak bisa bersepeda atau jalan-jalan karena mendung menggantung tebal dan air hujan sudah mulai membasahi jendela. Saya, seperti biasa, memandangi rintiknya jatuh ke tanah dari balik kaca. Membayangkan hujan seperti lelaki pengembara yang selalu pulang pada bumi, perempuannya.

09 September 2011

Norwegian Wood


Sebelum memulai postingan ini saya akan membuat pengumuman: Norwegian Wood adalah salah satu buku yang paling saya suka. Saya sudah membacanya sekitar 40-50 kali dan masih tetap merasa tersihir setiap kali membacanya. Dalam satu kata, buku ini bagi saya adalah kepahitan, bitterness. Mungkin dalam kondisi tertentu, di suatu titik buku ini bisa menginspirasi seseorang untuk bunuh diri, atau minimal mengembara tanpa kabar. Kalau saya sih, membaca buku ini bisa membuat saya diam seharian, berpikir dan merenung seminggu berikutnya, dan membekas sampai sekitar dua minggu setelahnya. Demikian setiap saya membacanya, siklus itu selalu berulang. Mr Defender bilang membaca buku ini seperti menyiksa diri a.k.a self torturing buat saya, hahahaha. Saya setuju dengan komentar seseorang (lupa) di halaman belakang buku ini, yang kira-kira berbunyi: begitu halusnya Murakami menulis sehingga apa yang ditulisnya tanpa disadari menggerakkan sesuatu dalam diri pembacanya, sesuatu yang bahkan si pembaca sendiri tidak tahu apa.

Ah ya, tapi kali ini saya tidak akan menulis tentang buku ini, tetapi filmnya. Sejak melihat trailer film ini di HBO beberapa bulan yang lalu, saya langsung ingin menontonnya. Bukan saja karena trailernya bagus, tapi terutama saya memang ingin menyaksikan visualisasi buku ini. Saya menunggu-nunggu, membayangkan adegan Naoko dan Watanabe berjalan di padang, membayangkan Naoko dengan jas hujan kuning di hari bersalju, dan secara umum saya membayangkan Naoko. Wajahnya, bahasa tubuhnya, kecantikannya yang sempurna dan misterius.


Lalu ketika akhirnya saya menonton film ini, apa ya... latar belakang filmnya memang secantik yang saya bayangkan. Juga Naoko. Filmnya seperti diambil di negeri khayalan, begitu indah, saking indahnya terasa tidak nyata (apa ya kata pengganti bahasa Indonesia yang tepat untuk whimsical?). Tapi yang agak sayang sih karena sudut pandang 'aku' di buku ini hilang, jadi terasa ada yang mengganggu, sebab keseluruhan emosi yang timbul saat membaca buku ini dibangun dari keakuan Watanabe, keacuhtakacuhannya menghadapi segala hal, cara hidupnya yang mengalir, dan karakternya yang tak berkarakter namun justru itu menjadikannya menonjol. Dalam film ini, penonton yang belum membaca tidak akan tahu latar belakang perilaku seksual Watanabe, dan jadinya Watanabe malah terlihat seperti seks maniak (atau mungkin cuma perasaan saya). Film ini jadinya seperti cuma berkisah tentang Watanabe dan cinta segitiganya dengan Naoko dan Midori, padahal yang di buku, sebagian besarnya adalah tentang hidup dan kematian itu sendiri. Ikatan Watanabe dengan masa lalunya tidak terasa menonjol, dan hubungan Watanabe dan Midori di film ini sangat terasa seperti happy ending love story, padahal sebenarnya tidak tepat begitu. Tapi mungkin itu adalah interpretasi si pembuat film saat membaca buku ini, sedangkan saya memperoleh interpretasi yang berbeda saat membacanya. Bukankah justru itu menariknya sebuah karya?


Yang saya paling suka dari film ini justru penokohan Midori, yang paling mirip dengan karakter di buku, bahkan lebih berwarna. Juga gaya berpakaian Kiko Mizuhara yang memerankan Midori, saya suka sekali gaya vintage yang tidak suram, ceria, manis tapi juga lembut. Juga, tentu saja, lagu-lagu the Beatles yang menjadi nuansa film ini, seperti juga bukunya.

15 tahun ke depan

15 tahun ke depan, saat kewajiban saya kepada negara dalam bentuk ikatan dinas ini sudah berakhir, dan orang tua saya sudah bahagia karena saya sudah memenuhi keinginan mereka untuk menjadi pegawai negeri, dan jika beban pikiran saya akan adik-adik sudah berkurang karena mereka sudah dewasa, inilah yang saya inginkan: Sebuah rumah, besarnya sedang saja, akan lebih baik kalau rumah itu seluruhnya dari kayu, berbentuk panggung, dari terasnya saya bisa memandang halaman dan pohon-pohon mangga, jambu, air rambutan, juga tabueia kuning dan merah muda. Mungkin juga tanaman cabai, tomat, timun dan jeruk nipis yang siap dipetik. Di sela-selanya anak-anak saya, seandainya Tuhan memberikan, akan berlarian dengan bebas, telanjang kaki, mungkin bermain petak umpet atau belajar naik sepeda. Saya, di siang hari yang panas, akan berada di teras, membuat boneka atau gantungan kunci dari kain felt, atau membuatpunch buah dan muffin keju, atau menulis cerita pendek dan melukis gambarnya sendiri untuk mereka, seperti buku dongeng bergambar. Atau mungkin saya hanya duduk diam membaca buku apa saja yang baru saya beli, mungkin sambil mendengarkan salah satu CD Bob Dylan.

Oh, ya, rumah saya. Rumah saya terletak di pedesaan, di pulau mana saja boleh, asalkan berpenduduk ramah dan baik hati. Ada sawah dan sungai di sekeliling, ada tetangga-tetangga baik hati yang tak lupa menyapa setiap kali berpapasan dan berbagi makanan entah itu tape ketan atau kroket kentang. Mungkin saya akan menjadi dosen, guru SD, tukang jahit atau penjual kue. Mungkin Mr Defender menjadi ayah anak-anak saya, mungkin juga tidak, tapi saya lebih suka membayangkan ya. Mungkin dia masih bekerja di tempat yang sekarang, tapi saya lebih suka membayangkan tidak. Saya lebih suka membayangkan dia menjadi pelatih sepakbola atau guru olahraga di sekolah. Atau menjadi gitaris kafe seperti dulu. Atau mungkin kami akan membuka rumah makan kami sendiri di pinggir kota. Rumah makan kecil, dengan lima sampai sepuluh meja, mungkin menjual pancakes dan wafel, mungkin juga sop iga.

Di hari libur kami akan mendaki gunung, atau hiking di hutan, atau bersepeda di bukit terjal. Kami akan berkemah. Kami akan mengajari anak-anak kami bermain gitar, keyboard dan biola. Dan mereka akan memainkan lagu-lagu yang indah untuk kami. Rumah itu akan penuh dengan pelukan dan ciuman dan ucapan terima kasih dan maaf dan tolong, penuh dengan buku, musik, tanaman, dan binatang, penuh dengan energi, mimpi kanak-kanak, dan cinta. 

15 tahun ke depan. Usia saya akan di penghujung kepala tiga, dan hidup mungkin sedang seru-serunya untuk dinikmati.

15 tahun, semoga waktu yang cukup untuk mewujudkannya.

08 September 2011

di sudut pecinan


Saya adalah pengagum bangsa China. Mulai dari kebudayaan masa lalunya yang luar biasa bahkan sejak zaman awal mula peradaban (terima kasih National Geographic atas jendelanya yang membuat semua orang bisa sedikit mengintip dunia), kecintaan mereka terhadap negeri sendiri, tradisi, dan leluhur, juga pemikiran-pemikiran orang besar dari masa lalunya yang luar biasa. Baik itu Sun Tzu sang jenderal perang maupun Konfusius dan Tao. Everything Chinese is beautiful to me. China, saat ini adalah salah satu negeri yang budayanya paling ingin saya pelajari selain Jawa dan India. Sekarang ini sebagian besar bacaan saya adalah sari-sari pikiran pembesar China jaman dulu. Dan kecintaan saya juga termasuk pada hal-hal lain yang lebih pragmatis: etos kerja pendatang China yang luar biasa, kemampuan (dan kemauan) mereka beradaptasi (coba perhatikan keturunan tionghoa di sekitar kita, mereka pasti bisa berbahasa mandarin/kanton dan bahasa daerah tempat tinggalnya sama baik), keramahan para pemilik toko China (khususnya sangat terasa di kota ini di mana penduduk aslinya, maaf saja, tidak menganggap konsumen adalah raja).

Sekarang ini, dan dari sejak mula saya tinggal di Samarinda, tempat-tempat favorit saya untuk apa saja hampir semuanya milik keturunan Tionghoa. Mulai dari Kedai Sabindo tempat minum teh tarik dan makan roti cane, Anne's Ice Cream, restoran masakan China IMB, Pontianak, Kepiting Asap Borneo sampai kedai sarapan pagi Surya (nanti semuanya saya reviu satu per satu beserta foto, janji!) Bahkan tempat belanja  (kelontong) favorit saya adalah Mega Swalayan, swalayan peranakan yang menjual bahan makanan dari Malaysia dan Hongkong (yang tidak dijual di tempat lain). Saya membeli kedua sepeda saya di toko sepeda milik seorang cici (yang juga menjual buku-buku konfusius) dan mendapat diskon (yang bahkan lebih murah dari harga di situs resmi Polygon) serta layanan purnajual yang mengesankan.

Beberapa teman saya sering bilang saya tidak cinta bangsa sendiri karena kebiasaan saya memilih toko China ini. Tapi mungkin pada dasarnya saya memang bukan seorang nasionalis (dan maaf saja, buat saya nasionalis itu tidak jauh berbeda dengan sukuisme dan fanatisme agama, atau maniaknya suporter bola). Saya hanya pembeli biasa yang menginginkan pelayanan terbaik dengan harga terbaik (lagipula kalau sedang di rumah saya selalu memilih toko orang Jawa, saya suka bertransaksi dengan bahasa Jowo kromo inggil :D). Saya cuma penikmat dunia yang kebetulan jatuh cinta dengan kebudayaan mereka. Salah? Kalau ingin toko-toko milik pribumi laku ya jangan cuma modal menyuruh orang nasionalis, dong. Kalau pelayanan lebih baik pasti orang juga nggak akan ragu beralih kok. Dan jangan juga menuduh orang lain, suku lain, bangsa lain memonopoli atau malah punya rencana konspirasi. Mereka cuma bekerja lebih keras dan mungkin lebih cerdas. Kita-nya yang harus bisa bersaing.

Keterangan : Gambar di atas adalah bangunan favorit saya di Samarinda, sebuah ruko empat lantai milik orang China, lantai satunya toko musik dan olahraga, lantai dua dan tiga rumah tinggal, dan lantai paling atas adalah taman dengan sebuah kuil.

07 September 2011

berkata hai pada Tuhan

gambar dari sini

Beberapa pergulatanku dengan diri sendiri dan (mungkin) Tuhan akhir-akhir ini. Dibagi di sini, sekedar untuk membagi kegelisahan dan perenungan saya.

Yang pertama, Tuhan, sungguhkah agama berasal dari-Mu (ya, sekarang aku menulis namamu dengan huruf besar, walau aku sangat yakin bagimu tak ada bedanya. Bukankah Engkau tak perlu dimuliakan untuk menjadi mulia, karena mulia adalah keniscayaan bagiMu, sama juga tak ada bedanya aku menyebutmu Tuhan, Allah, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, God, Yahweh, atau bahkan kalau aku memanggilmu Dear Darling, Pelita Hati, Cintaku, aku yakin Engkau tahu aku mengacu padaMu)? Sungguhkah Tuhan, Engkau menciptakan cara bagaimana Engkau ingin disembah? Ataukah sesungguhnya Engkau tak memerintahkan apa pun kecuali kebaikan, lalu manusia sendiri yang menciptakan berbagai cara untuk menyembah dan memujiMu?

Tuhan, pertanyaanku yang kedua, apabila Engkau menjawab ya pada pertanyaanku yang sebelumnya, sungguhkah hanya satu agama yang Engkau izinkan pemeluknya memasuki surgaMu? Sungguhkah, Tuhan? Sungguhkah orang-orang baik dari agama-agama selain yang berasal dariMu akan terusir dari pintu surgaMu? (Oh, tentu aku tidak akan mempertanyakan mengapa, seandainya jawabanMu adalah ya. Engkau Tuhan. Segalanya adalah kuasaMu.)

Pertanyaanku yang ketiga, Tuhan, sungguhkah Engkau menganggap mereka yang menistakanMu, atau mereka yang tidak menyembahMu dengan cara yang Engkau mau sebagai musuhMu? Dan seandainya ya, sungguhkah Engkau memerintahkan mereka yang menyembahMu sebagaimana Engkau haruskan untuk memusuhinya? Untuk memeranginya dengan namaMu, demi kejayaan agama yang Engkau turunkan ke dunia, walaupun itu mengorbankan kedamaian, juga nyawa orang-orang baik yang mungkin menurutMu tersesat, juga nyawa orang-orang yang mungkin tidak mengerti, dan sekalipun itu nyawa orang-orang jahat, sungguhkah mereka harus menerima hukuman selain dariMu? Bukankah Engkau menunggu hingga hari pembalasan, Tuhan? Mengapa manusia di dunia harus menegakkan hukumMu sebelum Engkau? Bukankan mudah saja bagiMu menurunkan hukuman? Mengapa harus manusia yang menghukum dengan tangannya?

Yang di atas adalah dua pertanyaan. Baiklah, yang kelima. Tuhan, adakah kesempatan bagiku untuk mengetahui semua jawaban pertanyaanku dariMu, bukan dari mereka yang merasa memahamiMu, atau dari kitab yang semuanya mereka klaim dariMu? Adakah kesempatanku untuk tahu (bukan hanya yakin dan percaya) sebelum nanti di hari perjumpaanku denganMu di alam yang lain? Adakah aku bisa beruntung seperti rasulMu dan mereka yang Engkau pilih untuk langsung berbicara denganMu? (Oh, aku tahu aku sangat hina dan tidak pantas mengajukan permintaan berbicara denganMu di dunia ini, tapi bukankah Engkau menciptakan aku sebagai manusia sama seperti para rasulMu? Engkau yang menjadikan aku dan mereka baik atau jahat, karena Engkaulah yang menciptakan otakku, hatiku, Engkau memilih dari ibu dan bapak mana aku dilahirkan,  Engkau yang menentukan level pendidikan dan sifat kedua orangtuaku, juga sejauh mana mereka mengenalMu. Engkau memilih di lingkungan mana aku dibesarkan, siapa guru yang mendidikku, siapa temanku, siapa yang membentuk pribadiku, dan dengan demikian, dariMulah segala yang ada padaku berasal, Engkau yang menjadikanku aku. Oh Tuhan, sungguh sering aku ingin bertanya, adilkah Engkau memasukkan seseorang ke surga karena dia rajin beribadah, sementara dia lahir dari keluarga yang taat pada perintahMu, dan Engkau memasukkan yang lain ke neraka karena lalai, sedang dia tak pernah diajarkan menyembahMu? Tapi Tuhan, pertanyaan itu tidak relevan, karena Engkau Tuhan, dan semuanya adalah kuasaMu.)

Tuhan, aku senang bercakap-cakap denganMu, dan aku merasa entah bagaimana Engkau di dalam diriku menjawab, Engkau bicara dalam bisikan perlahan, Engkau memegang jantungku dan memberiku keyakinan. Dan aku percaya semua orang bisa bertanya, dan Engkau akan menjawab, namun kami dan juga mereka mungkin tidak memahami bahasaMu, kami mendengar apa yang kami ingin dengar. Dan mungkin kami salah menginterpretasikan maksudMu, juga padaku kali ini. Namun aku lega sudah bertanya, Tuhan.

Terima kasih, Tuhan. Mahabesar dan Mulia Engkau.