29 July 2011

Patah Hati


Kemarin, dokter itu mematahkan hati dan harapanku. Aku meninggalkannya dengan marah, tanpa sapa perpisahan. Sepanjang perjalanan pendek di dalam angkot, aku memandang lalu lalang kendaraan tanpa emosi apa-apa. Kosong. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana membaginya. Termasuk denganmu.

18 July 2011

ingin jadi seberuntung kau juga, Yoko


"I was too scared to break away from the Beatles, which I'd been looking to do since we stopped touring. And so I was sort of vaguely looking for somewhere to go but didn't have the nerve to really step out into the boat myself, so I sort of hung around, and when I met Yoko and fell in love, my God, this is different than anything before. This is more than a hit record. It's more than gold. It's more than everything... When I met Yoko is when you meet your first woman, and you leave the guys at the bar, and you don't go play football anymore. Once I found the woman, the boys became of no interest whatsoever, other than they were like old school friends."
(John Lennon tentang Yoko Ono)

John Lennon dan Yoko Ono, lepas dari segala kontroversinya, adalah pasangan yang sangat menginspirasi. Mereka berdua pasangan yang semua orang yang melihat (bahkan saya yang hanya lihat dari video klip Love saja) bisa merasakan bahwa mereka begitu saling cinta, begitu saling tergantung dan saling memuja. Sejak melihat video klip itu sekitar sepuluh tahun lalu, saya sangat tertarik dengan segala hal tentang John dan Yoko. Lagu-lagu, foto, berita, kisah-kisah yang menuliskan cinta mereka. Saya pernah membuat kliping tentang John dan Yoko sewaktu SMA, dan selalu saya bermimpi untuk suatu hari nanti, hanya akan menikah jika menemukan pasangan yang bisa mencintai dan saya cintai seperti yang saya rasakan tiap melihat, mendengar, membaca John dan Yoko (kalau bisa sih yang bisa membuatkan saya lagu seromantis Oh Yoko, hehehe).

Gara-gara John dan Yoko juga, saya langsung hilang feeling sama cowok kalau ternyata sewaktu pacaran dia nggak bisa total menyerahkan seluruh perasaannya untuk saya (iya dong, kalau nggak yakin ya nggak usah aja kali, bercinta kok coba-coba). Masalah nanti putus atau nggak kan memang udah ada garisnya, tapi saya nggak suka dikasih perasaan yang setengah-setengah. Saya ingin hubungan yang jujur, saya ingin cinta yang seluruhnya untuk saya, saya tidak mau diberi cinta yang takut-takut, seperti balon udara yang diikat ujung talinya dengan batu sebagai pemberat. Melayang tapi tak bisa terbang. Nanggung. Gantung.

Saya suka orang yang mencintai dengan seluruh hatinya.

"Before Yoko and I met, we were half a person. You know there's an old myth about people being half and the other half being in the sky, or in heaven or on the other side of the universe or a mirror image. But we are two halves, and together we're a whole."
(John Lennon)

15 July 2011

Jumat Lagi

Seperti apa akhir pekan yang kauimpikan kali ini?

Akhir pekan kali ini adalah akhir pekan biasa buat saya. Saya mau mengawalinya dengan bermain bulutangkis dengan Mr Defender sore ini, lalu pulang dan memasak ayam goreng crispy saos lemon. Lalu, setelah Mr Defender datang untuk mengambil rantangan makan malamnya, saya ingin mandi berendam (di bak yang biasanya dipakai mencuci, mana ada bath tub di kos saya, hehehe) dengan air hangat dan kelopak-kelopak mawar warna-warni yang saya ambil dari puluhan karangan bunga sisa acara kantor. Lalu, saya akan tidur-tiduran sambil membaca komik Perjalanan Ke Barat karya Tsai Chih Chung yang baru saya beli.

Sabtu paginya, pagi-pagi sekali setelah subuh saya akan mencuci, lalu menyiapkan sarapan. Jam setengah tujuh pagi main tenis dengan Mr Defender dan teman-teman kuliah saya, lalu mandi dan sarapan bersama Mr Defender, sekalian mampir ke ibu tukang sayur yang hanya saya sambangi di hari Sabtu karena di hari kerja saya belanja di supermarket sore hari sepulang kerja. Siangnya saya mau mini facial sendiri di kos dengan teman-teman kos, lalu main scrabble bersama anak kos sambil menunggu masker dan lulur mengering dan rontok. Kalau sudah bosan main scrabble, kami akan nonton film-film HBO, rame-rame mencegat tukang bakso yang lewat dan makan bareng. Sore hari, nonton Master Chef, baru setelah itu mandi untuk siap-siap malam mingguan.

Malam mingguan kali ini, sama seperti yang lalu-lalu, kami pergi ke pengajian ba'da magrib di mesjid Banjar di tepian Mahakam. Pulang dari sana saya mau ke Sabindo, kedai masakan peranakan favorit kami. Makan roti cane dengan kare sepiring berdua sebagai makanan pembuka, lalu makan nasi goreng pattaya, diakhiri dengan ngemil roti tisu coklat sepiring berdua tentu, dan minum limau plum peng. Pulang kekenyangan, lalu langsung tidur, agar Minggu paginya bisa bangun pagi, karena saya harus menyetrika cucian hari ini :D.

Minggunya, seperti yang sudah dibilang tadi, menyetrika! Sungguh cara yang membosankan untuk memulai hari kan? Tapi bagi saya mengerjakan tugas rumah tangga itu beneran melepas stres loh. Kalau stresnya udah tingkat berat, saya malahan membersihkan kamar mandi dan ngepel seluruh kosan (yang padahal harusnya dikerjakan mbak-mbak yang jaga kos). Enak loh jadi orang di sekitar saya kalau saya stres, hehehe. Nah setelah setrikaan selicin porselen baru deh saya mandi, lalu pergi dengan Mr Defender dan teman-temannya ke bioskop, lalu ke Gramedia. Pulang dari sana makan sambil ngobrol-ngobrol sampai sore. Sebelum magrib saya harus sudah sampai di rumah karena pengen tau siapa yang tereliminasi dari Master Chef, hehehe. Dan akhir pekan pun akan saya akhiri dengan tidur cepat (perasaan tidur cepat mulu deh) setelah menyiapkan bahan makanan yang mau dimasak untuk sarapan besok.

Ngomong-ngomong, bulan Sya'ban tinggal beberapa hari lagi nih! Dikit lagi puasa, hehehe. Waktu puasa pasti akhir pekannya beda deh. Makanya mau dinikmati kali ini selagi bisa. Gimana dengan akhir pekanmu? Semoga menyenangkan, ya!

14 July 2011

50

foto oleh Hanung
Ketenangan dan kebahagiaan hidup sejati lahir dari cara kita menjalani hidup, dari tujuan yang ingin kita capai dari hidup yang cuma sekali ini. Saya yakin itu. Selain kebahagiaan sejati itu, ada juga kegembiraan-kegembiraan kecil yang mampu melukis senyum di wajah kita setiap hari, menghapus kepenatan hari ini dan membuat kita kembali bersemangat pada tujuan besar kita.

Kegembiraan kecil itu bisa berbeda bentuknya untuk setiap orang, tetapi untuk saya adalah:

  1. melihat orang makan masakan saya dengan lahap
  2. berhasil menduplikasi masakan restoran di dapur sendiri
  3. aroma kue yang masih panas
  4. matahari terbit di puncak gunung
  5. melihat embun menetes dari daun-daun di pagi hari
  6. sinar matahari pagi (lagi! saya cinta matahari)
  7. melihat foto bunga, hujan, atau matahari dengan efek bokeh
  8. mencuci film dan hasilnya bagus
  9. membaca komik-komik Adachi Mitsuru
  10. menonton film-film HBO di Minggu siang sambil makan cemilan
  11. membaca komen-komen di blog, walaupun sedikit
  12. tahu kalau teman-teman saya selalu membaca blog ini walaupun mereka tak pernah meninggalkan komentar
  13. bermalas-malasan seharian di posko Stapala
  14. menikmati me-time, bukan dengan mojok di kedai kopi, tapi beres-beres kamar, nyetrika, mencuci sepatu-sepatu kets saya, mengepel, dan tertidur kelelahan
  15. facial
  16. spa rambut stroberi
  17. googling foto-foto Drew Barrymore
  18. tidak sengaja mendengar lagu Bob Dylan di mal atau di radio, yang mana sangat jarang
  19. nonton konser band yang bermutu
  20. jalan-jalan ke taman kota
  21. naik angkot, busway, bis kota, dari ujung ke ujung sambil menikmati jalan
  22. melihat toko-toko lawas, terutama kalau di daerah pecinan
  23. duduk-duduk di masjid sambil mengagumi interiornya
  24. memotret matahari
  25. malam berhujan yang sejuk, meringkuk di bawah selimut dengan sebuah chicklit ringan yang tidak norak
  26. menemukan blog yang bagus (rasanya seperti menemukan harta karun!)
  27. bertemu pemain bola favorit dan ternyata dia tidak sombong
  28. chatting dengan teman lama
  29. menemukan lingerie bagus yang diskon di atas 50%
  30. jalan-jalan ke toko mainan
  31. memborong kue, cemilan, dan permen untuk teman-teman kos
  32. melihat-lihat hasil jepretan Mr Defender sebelum diedit
  33. mendengar suara adik lelaki saya di telepon
  34. belajar untuk ujian (waktu kuliah dulu. saya hobi belajar, sih, hehehe)
  35. merencanakan perjalanan dengan teman-teman
  36. disapa orang dari masa lalu Mr Defender yang ternyata ramah-ramah
  37. sprei dan selimut yang baru dilaundry dan beraroma lavender
  38. pengharum ruangan aroma cemara
  39. menyiapkan kejutan untuk sahabat
  40. jadi mak comblang yang sukses
  41. melihat kebaya yang cantik
  42. cuci muka dengan teh basi (segar sekali!)
  43. melihat pasangan yang saling mencintai, yang auranya bikin saya berpaling saking silaunya
  44. mengamati tingkah laku anak-anak
  45. dibantu orang tak dikenal di jalan
  46. mendapat pujian atas baju, sepatu, asesoris, atau dandanan saya hari itu
  47. membuat powerpoint untuk presentasi
  48. menghadiri seminar yang pembicaranya inspiratif
  49. maraton DVD serial yang saya sukai
  50. ketemuan sama sahabat yang beda kota. PALING MUJARAB!!

13 July 2011

Cyin, Pertanyaan Lo Gengges Deh!


Kemarin, entah untuk ke berapa ratus kalinya saya mendapat pernyataan (sekali lagi pernyataan bukan pertanyaan) yang sama: "Kamu kok nggak nikah-nikah sih."

Saya sih sudah kehilangan selera menjawab. Soalnya, apa pun jawaban saya pasti salah deh. Mereka yang ngajak ngomong itu emang nggak niat pengen diskusi, apalagi perhatian. Niat mereka cuma mencerca dan menyudutkan, itu saja. Jadi mau saya jawab apa pun, selalu di-counter lagi sama dia. Saya sampai hafal kalau saya jawab A, mereka bakal balas B. Misalnya saya jawab, pengen kuliah lagi, pasti mereka balas, apa sih artinya pendidikan tinggi kalau nggak punya keluarga, apa yang mau diharapkan nanti di masa tua, pasti hidupnya hampa. Lalu kalau saya jawab lagi, prioritas hidup orang kan beda-beda, siapa tahu bagi mereka yang karir dan pendidikan tinggi tapi nggak membangun keluarga itu emang nggak pengen berkeluarga, kan? Siapa tahu mereka bahagia hidup sendiri. Tapi kalau saya jawab begini, pasti jadi panjang, dan saya bukannya tidak bisa mendebat, tapi saya malas.

Atau, kalau saya jawab, nantilah, umur juga belum 25 ini, masih muda, mereka bakalan balas, bagusnya nikah tuh umur segini, jadi nanti kalau pensiun  anak pertama udah lulus kuliah. Nah, di sini sebenarnya saya nggak lihat poinnya apa. Kalau poinnya masalah biaya, kan bisa nabung dan investasi dulu biar di umur berapa pun kita bisa biayain anak. Trus, kalaupun saya nikah sekarang, emang udah pasti saya bakalan langsung beranak? Kalau ternyata saya atau pasangan mandul gimana? Kalau ternyata setelah tujuh tahun baru dikasih anak gimana? Siapa sih yang bisa menjamin apa yang akan terjadi? Yang pasti cuma janji mentari terbit esok hari, itu kata sebuah papan di jalan menuju puncak Gunung Sumbing.

Kalau saya jawab, belum siap (yang seharusnya sudah merupakan jawaban final yang tak terbantahkan) mereka akan 'menyemangati' saya, apa lagi sih yang mau disiapin, udah lulus, udah kerja, udah mapan (yang seharusnya mereka juga sadar ukuran mapan itu beda untuk setiap orang, ukuran 'lulus' juga beda, ada kan yang menganggap tamat SMA sudah lulus, yang lain mungkin harus S3 dulu untuk menyebut dirinya lulus). Kayaknya nggak ada yang menyinggung masalah kesiapan psikologis di sini. Paling-paling mereka bilang, kalian kan pacaran udah tiga tahun. Terus? Emang jangka waktu pacaran berkorelasi ya dengan kesiapan kita menikah? Dalam pandangan saya, kesiapan menikah itu adalah sesuatu yang personal, belum tentu pas pacar siap kita juga siap, begitu juga sebaliknya. Dan bisa saja seseorang siap menikah justru di saat dia sedang jomblo. Dan belum siap menikah juga tidak bisa diartikan orang itu tidak yakin dengan pasangannya. Siapa tahu mereka memang nyamannya pacaran kan?

Atau lagi, kalau saya jawab, nantilah, masih enak sendiri, pasti lebih dihujat lagi. Pacaran dosa-lah, bikin fitnah lah, ngapain kelamaan pacaran lah. Lha wong saya-nya sendiri nyaman-nyaman aja kok pacaran lama, kok dia yang repot. Memangnya saya ganggu mereka dengan saya pacaran? Saya kan nggak pernah pamer kemesraan di depan umum atau melakukan apa pun yang bisa bikin kami dirajam atau diarak keliling kampung, kenapa juga banyak yang berisik. Kalau soal dosa, biarkan Tuhan yang menentukan deh. Tuhan kan menyuruh menjauhi zina. Menghakimi bahwa yang pacaran itu zina kayaknya udah dosa juga deh. Kan kata hadis nabi sebagian prasangka adalah dosa. Siapa tahu mereka pacarannya ngaji bersama dan jadi relawan korban kebakaran kan?

Sekali-kali pengen deh rasanya menjawab "nunggu kamu cerai, kan aku maunya kawin sama suamimu". Biar diam itu mulut bawel. Saya bosan jawabnya, masa kalian nggak bosan sih nanya?

Saya sering (banget) membahas kelakuan orang-orang yang rajin banget nanya kapan nikah ini dengan Mas Hanung, sahabat saya sejak kuliah, yang selalu menjawab pertanyaan kapan menikah dengan jawaban 'nunggu hidayah' (nah loh). Kalau kata Mas Hanung sih, mereka itu social slave, yang sebenarnya nggak peduli sama kita tapi nanya karena emang merasa harus nanya, dan merasa berhak menghakimi orang yang belum menikah dengan hukuman sosial. Baik para jomblo maupun lajang berpasangan akan sama-sama tertekan, yang jomblo makin stres karena belum punya calon, yang berpasangan frustrasi karena terus dikomentari 'pacaran mulu nggak nikah-nikah'. Padahal siapa tahu mereka belum menikah karena ada halangan, kan? Atau siapa tahu dia memang nggak berorientasi menikah? Apa hak kita menghakimi, Gusti Allah saja membiarkan Hitler panjang umur lho, masa kita mau menghakimi orang yang melajang? Kalaupun melajang itu salah, biarkan saja Tuhan yang menghukum di hari kiamat deh.

Revolutionary Road

How do you break free without breaking apart?

Itu adalah pertanyaan besar sepanjang film ini, yang terus terngiang sampai bertahun-tahun setelah saya menonton film ini. Oke, saya tahu saya selalu menulis tentang film yang sudah bertahun bahkan belasan tahun lalu, tapi tulisan tentang film di blog ini memang bukan sebagai resensi serius, atau setidaknya tulisan yang mencerahkan seperti rekomendasi film-film dari Icha. Semua tulisan tentang film, musik, buku, apa pun di blog ini hanyalah curahan perasaan saya terhadap karya orang lain. Bukan mengomentari karyanya, hanya menceritakan perasaan yang tinggal dalam hati saya setelah menonton, mendengarkan, membaca, melakukan perjalanan, pergi ke suatu tempat, dan seterusnya. Agar kelak bertahun lagi saya masih bisa membacanya. Jadi mungkin yang akan kalian temukan hanyalah tulisan tentang film-film lama, buku-buku yang mungkin tidak populer atau tidak tergolong karya sastra, dan sebagainya (lah kok malah jadi kayak nulis disclaimer ya saya? hehehe).

Sebenarnya saya nonton film ini sejak masih new release. Saya nonton dengan seorang sahabat lama saya yang langsung merasa bosan di setengah jam pertama. Tapi film ini bagi saya meninggalkan kesan yang mendalam, bahkan meskipun film ini bukan film yang ingin saya ingat setiap alurnya, juga bukan film yang ingin saya tonton lagi. Sejujurnya, saya ingin berhenti menontonnya di awal-awal cerita. Saya tidak sanggup. Film ini memukul saya terlalu keras, dan menyisakan sakit yang dalam, meninggalkan bekas luka. Saya melamun berhari-hari, merasa kosong, setelah menonton film ini. Hampa. Itulah satu-satunya perasaan yang tertinggal, sama seperti perasaan yang ditinggalkan film seri Mildred Pierce dan beberapa lagu cinta Iwan Fals. Saya merasa terasing, sepi, sendirian, tanpa tujuan.

Pada dasarnya saya memang orang yang sangat sentimentil (tapi hanya terhadap karya seni, bukan dunia nyata, hehehe). Tidak banyak momen atau manusia yang saya tangisi dalam hidup, tapi tak terhitung lagu, adegan film, potongan cerita dalam buku, bait puisi, bahkan chapter komik yang membuat saya menangis sedih, bahagia, haru ataupun nelangsa. Bahkan matahari terbit, lereng gunung, plang nama toko, tarian, kolase, lukisan, rangkaian bunga dan origami pun bisa membuat saya menangis. Cengeng kan? Saya memiliki sisi sensitif yang aneh, yang saya sendiri tidak mengerti.

Revolutionary Road juga adalah film yang membuat Mr Defender memahami saya. Masa-masa itu adalah fase di mana pertengkaran seperti ini sering terjadi:

Saya  : Keluar yuk.
Mr Defender : Kemana?
Saya  : Ngopi di tempat itu.
Mr Defender : Tapi ini panas banget. Masa ngopi jam segini? Eh lagian kamu kan nggak minum kopi.
Saya  : ..........................
Mr Defender : Kok diam? Kenapa?
Saya  : ..........................
Mr Defender : Eh, yaudah, yuk kita kesana yuk.
Saya  : Nggak. Udah males.

Saya tidak suka ditolak untuk permintaan kecil yang tidak merepotkan. Saya tidak suka ditolak untuk sesuatu yang sepele namun sangat saya butuhkan. Dan saya tidak memberi kesempatan kedua. Membujuk saya setelah menolak saya hanya akan membuat saya lebih sedih dan marah. Entah kenapa. Ini juga salah satu sisi sensitif saya yang aneh, yang di tahun pertama hubungan kami sering membuat saya mendiamkan Mr Defender.

Lalu Mr Defender menonton Revolutionary Road dan dengan cara yang tak terjelaskan, ia mengerti sepenuhnya, dan tidak pernah menolak pada saat saya benar-benar membutuhkannya secara psikologis. Dan secara ajaib ia menjadi tahu kapan saya bisa ditolak, kapan saya harus ditolak, dan kapan seluruh kemauan saya harus diikuti. Saya rasa Revolutionary Road adalah film yang sangat berjasa :) walaupun efek murungnya masih terasa pada saya, hingga hari ini.

08 July 2011

dari sudut pandangnya

Sore hari sebelum asar, kabur dari kantor ngemil mi instan untuk snack sore :-P. Ngobrol kesana kemari tentang keuangan keluarga, tentang kami dan orang-orang lain yang punya kewajiban (atau mungkin lebih tepatnya tanggung jawab) untuk berkontribusi kepada keluarga besar secara finansial.

Mr Defender : Cah ayu, kadang kan kita bilang beruntung banget mereka yang keluarganya berkecukupan, yang bisa menggunakan seluruh penghasilannya untuk dirinya sendiri tanpa harus terbebani dengan keluarga, nggak harus menyisihkan ini itu, kalau mau liburan, belanja pakai satu bulan gaji juga santai aja, mau investasi dengan seluruh tabungan juga bisa.

Saya : Terus?

Mr Defender : Sebenarnya justru kita lagi yang beruntung. Kita dikasih jalan sama Tuhan buat membalas kebaikan orangtua yang sampai kapan pun nggak akan bisa kita balas. Yang nggak semua orang beruntung bisa merasakan jalan ini.

Saya : ^^