24 June 2011

Kuberikan Berpuluh Tangkai Fuchsia Scarlet*

gambar dari sini
Semua terserah padamu, aku begini adanya,
Kuhormati keputusanmu, apa pun yang akan kau katakan.
(Broery Marantika)

Semua orang punya masa lalu. Seperti Neruda, aku tidak akan cemburu dengan apa pun yang datang sebelum aku. Datanglah dengan sepuluh nama yang telah terhapus di dinding hatimu, datanglah dengan seratus kisah yang telah kaututup lembarannya, datanglah dengan sejuta cap 'I was here' milik orang lain di seluruh tubuhmu, datanglah dengan apa saja dari masa lalumu. 

Semua orang juga punya latar belakang. Sesuatu yang bukan tanggungjawabmu, sesuatu yang sudah menjadi takdirmu dan tidak ada yang bisa kaulakukan untuk mengubahnya. Apakah aku harus marah? Dari mana pun engkau datang, bagaimana Tuhan menginginkan engkau diciptakan, bukanlah kewajibanmu untuk menentukan, dan jelas bukan hakku untuk menghakimi. Bagiku, engkau tetap orang yang sama.

Dan kini semua kukatakan padamu,
agar jangan ada dusta di antara kita kasih.
(Broery Marantika)

 
 *dalam bahasa bunga, fuchsia scarlet berarti aku mempercayaimu, aku akan berada di sisimu dalam segala keadaan

23 June 2011

Jakarta

gambar dari sini

Saya, selalu ada hati pada Jakarta. Walaupun agak malas membayangkan bekerja di sana dengan segala kemacetan dan kesemrawutannya, namun Jakarta sudah menjadi rumah saya selama hampir tujuh tahun. Saya suka sekali Jakarta, bukan karena mal dan gedung pencakar langitnya, tapi karena  stasiun-stasiun lama, bangunan-bangunan tua, gedung-gedung antik dan sejarah yang dimilikinya. Saya dulu waktu masih jaman kuliah semester tiga, senang sekali pergi ke Mangga Dua naik kereta sampai Kota. Di setiap stasiun, di sepanjang jalan, saya selalu membayangkan kisah-kisah yang terjadi di daerah yang saya lewati. Karet misalnya. Dulu tempat itu merupakan tempat tinggal seorang Tionghoa yang kaya raya dan baik hati. Tanah Kusir merupakan tempat tinggal kusir-kusir delman. Kebayoran Baru. Kebayoran Lama. Tanah Abang. Saya selalu membayangkan kisah-kisah orang-orang jaman dulu, santri-santri yang belajar silat di jaman kolonial,  perkebunan-perkebunan yang luas milik tuan tanah Belanda, gadis-gadis cantik jaman dulu baik yang pribumi, yang oriental maupun noni-noni Belanda dan kisah cinta antarbangsa. Saya suka sekali membayangkan mereka semua dulu berada di atas tanah yang sama yang saya pijak sekarang, menatap jalanan yang sama, merajut cita-cita di umur yang sama.

Kesukaan saya yang lain waktu kuliah adalah naik busway. Waktu itu saya sering sekali naik busway koridor satu, tapi nggak mentok sampai Kota, cuma sampai Glodok atau Olimo untuk kemudian kembali lagi ke Blok M. Atau naik sampai Harmoni lalu pindah ke koridor dua, favorit saya, melewati Gambir, Kwitang, Senen, Galur, Cempaka Putih, terus sampai Pedongkelan, lalu turun dan naik jalur sebaliknya, melewati Pecenongan dan kembali ke Harmoni, ganti jalur ke koridor satu melewati Sarinah, Tosari, Dukuh Atas lalu kembali ke Blok M. Lumayan, karena selalu turun sebelum terminal akhir, cukup dengan 2500 waktu itu, saya bisa jalan-jalan nyaman membelah Jakarta, menatap jalanan dari balik kaca busway, memandangi gedung-gedung tua, lebih suka lagi kalau gerimis turun, saya akan sempurna diam, murung tapi bahagia, memandangi patung bundaran Hotel Indonesia, cahaya Monas waktu malam, stasiun dengan berjuta kisah perjumpaan kembali dan perpisahan, lalu merangkum semua rasa yang berbagai itu ke dalam hati saya, mengulumnya perlahan agar rasanya tak cepat hilang.

Jakarta juga adalah kota yang menyimpan semua kisah saya dengan Mr Backpack. Jalan-jalan di sepanjang koridor busway itu tahu bagaimana saya dulu melewatinya dengan berseri-seri, dengan merindu, juga dengan menangis. Bagaimana saya dulu, saat sedang rindu masa lalu, menatapi lampu-lampu jalanan dari balik kaca busway, atau memandangi lampu-lampu di bekas lapangan terbang Kemayoran sambil mengenang Mr Backpack yang telah berlalu, atau berjalan tanpa arah di Jalan Sabang. Bagaimana saya dulu, meskipun ditemani Ren mengitari Monas, Gambir, Senen, dan Istiqlal, tetap saja merasa kosong. Lalu, bagaimana saya perlahan-lahan sembuh, lalu bertemu orang lain, on off dengan Mr Backpack, hingga masa-masa saya bersama Mr Defender dan bagaimana saya bertahan dalam hubungan jarak jauh kami.

Banyak sekali kenangan, yang manis, yang pahit, yang asam dan pedas, yang gurih dan legit, yang saya tinggalkan di Jakarta ketika saya berangkat ke Samarinda untuk bersama dengan Mr Defender, setengah tahun lalu. Waktu itu saya meninggalkan Jakarta dengan bahagia dan penuh harapan, tapi sekarang kok rasanya kangen ya?

17 June 2011

Because You're Amazing Just The Way You Are

Kepada Mr Defender.
Aku cinta kamu, tahu.
Aku cinta kamu. Menurutmu aku cerewet bertanya dan mengingatkan kamu makan dan istirahat seakan-akan kamu ini anak kecil. Percayalah, aku tahu dan membaca semua teori yang bilang kalau terlalu perhatian pada pria akan membuat pria itu lari. Tapi aku tetap melakukannya karena aku tahu kamu bakalan migren seharian kalau telat makan.
Aku cinta kamu. Aku tahu aku membuatmu kesal dengan bilang 'ih iri deh Yella dibikinin lampion cinta sama pacarnya' atau 'Andi so sweet banget deh kalau lagi naksir cewek'. Percayalah aku tidak sedang membandingkan. Aku justru ingin kamu tahu bahwa kamu sangat berarti buat aku, sampai-sampai aku tetap mencintaimu meskipun nggak pernah dikasih kejutan atau kata-kata romantis, hehehe.
Aku cinta kamu. Aku selalu bercerita tentang siapalah cowok yang memberiku email-email manis dan sms-sms yang penuh perhatian. Percayalah aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku cuma ingin menunjukkan bahwa dengan semua yang aku lalui pun, aku bertahan untuk mencintai kamu, dan hanya kamu.

Aku cinta kamu. Aku selalu bercerita padamu tentang semua pria yang pernah ada dalam hidupku, juga teman-teman pria yang aku sayangi seperti saudara. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa terancam. Aku hanya ingin kamu tahu tentang mereka dari aku sendiri, tidak mendengarnya dari orang lain. Aku ingin kamu tahu seluruhnya tanpa sedikit pun rahasia, agar kamu tahu bagiku semuanya hanya masa lalu.

Aku cinta kamu, juga ketika aku sedang marah, ngambek, dan bilang kalau aku benci kamu. Aku cinta kamu, lengkap dengan segala kekuranganmu.

Aku cinta kamu. Tanpa tapi. Tanpa meskipun. Tanpa seandainya.

14 June 2011

rintik pertama

gambar dari sini

Pada suatu kemarau yang sangat panjang, Bumi menulis surat kepada Hujan. Apa kabar, ia bertanya.

Tak ada jawaban dari Hujan. Seminggu kemudian, Bumi menulis lagi. Di awal musim, apel-apel meranum. Mereka matang sempurna karena cukup panas matahari. Anak-anak bermain layangan dengan riang setiap hari tanpa khawatir petir. Jadi, tenanglah menyelesaikan apa pun urusanmu di sana.

Masih tetap tanpa jawaban. Bumi menulis lagi, terus dan terus. Langit begitu biru dan cerah. Jajanan tukang es laku keras. Pantai-pantai selalu dipenuhi turis. Ia menceritakan semuanya dengan ceria. Tak lupa dibubuhi ikon senyum paling manis dan sebentuk kecup dari bibirnya yang memerah karena terlalu banyak makan stroberi. Tapi ia juga menulis, sekarang anak-anak kecil kangen berhujan-hujan. Mereka bertanya kapan mereka bisa menghanyutkan perahu kertas di selokan. Dan para petani ingin mulai menanam padi. Akan menyenangkan sekali kalau engkau bisa datang.

Bumi tidak menunggu jawaban. Ia menulis dengan riang, bahkan meskipun ia tak yakin apakah Hujan sempat membaca surat-suratnya. Dikirimkannya buah-buahan hutan yang dikeringkan, kismis kering yang harum, dan manisan ceri. Dipilihnya daun-daun yang bagus dan sempurna lalu diselipkannya di antara halaman puisi Neruda kesukaannya, ditunggunya sampai mengering. Ditulisnya pesan cinta di baliknya dan dimasukkannya ke dalam amplop surat-suratnya.

Mungkin sudah ratusan surat dikirimkannya, namun tak ada satu pun balasan dari Hujan. Bumi mulai lelah mencari kata-kata untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Dipandanginya kotak surat yang kosong dengan lesu, dengan harap yang nyaris padam apinya. Ah, biarlah. Diterbangkannya rindunya bersama angin yang melintas.

Berhari-hari Bumi mengabaikan kotak suratnya. Ia lelah berharap-harap setiap hari.

Tapi pagi itu, ketika ia bangun untuk menyapa matahari, dilihatnya setangkai bunga bakung berwarna putih bersih mencuat dari semak-semak di bawah jendelanya. Bumi berseru riang dengan rindunya yang tertahan. "Hei lihat! Hujan akan segera datang. Lihat, dia mengirimkan setangkai bunga bakung."

Esok harinya, di sudut yang lain, muncul beberapa tangkai lili merah muda. Bumi begitu bahagia. Hujan sangat romantis, bisiknya kepada kupu-kupu. Lihat, hari ini juga dia mengirimkan bunga desember merah menyala. Indah, bukan? 

Bumi tidur dengan mimpi paling indah di malam musim yang hangat itu.

Keesokan paginya, begitu membuka mata, inderanya menangkap wangi yang paling disukainya. Aroma tanah basah dan air yang segar. Parfum terbaik di dunia. Sebelum Bumi sempat tersenyum, suara yang paling disukainya mengalun. Gemericik air menimpa ranting dan daun-daun. Musik yang selalu dimainkan Hujan.

Bumi berlari, membuka lebar jendelanya. Di luar sana, Hujan tersenyum padanya, mengajaknya menari. "Selamat pagi, Cantik," katanya.

"Aku suka mawar kering dan buah berinya." Rintik-rintiknya yang pertama mengecup kening Bumi.
"Terima kasih untuk bunga bakung, lili, dan kembang desember itu. Cantik."

"Aku  bahagia, kamu mau menungguku selama ini."
"Terima kasih untuk akhirnya datang sehingga penantianku berakhir indah."


"Aku senang membaca semua suratmu. Aku senang kamu bergembira selama aku tidak ada."
"Terima kasih sudah memberiku perasaan bahagia yang luar biasa hari ini, perasaan ini membuat segala kerinduan menjadi layak ditanggung."

Hujan meraih jemari Bumi dan menggenggamnya. Curahnya membasahi sisa-sisa musim kering yang panjang, menghapus semua dahaga, dan memunculkan benih-benih kehidupan dari semesta yang kembali menghijau.

Selalu akan ada rintik hujan pertama, sepanjang apa pun kemaraunya :)

Jalan-jalan yang Bersimpangan

gambar dari sini

Waktu itu zaman peralihan antara Mr Backpack dengan Mr Mountainbike. Saya memang perempuan egois. Apakah waktu itu Mr Defender menyadarinya?

Saya bertemu dengan Mr Defender saat hati saya sedang berada di titik beku. Setelah hubungan saya dengan Mr Backpack jatuh suhunya ke titik minus, saya dan Mr Backpack seperti selembar tiket kereta eksekutif yang bertanggal hari kemarin. Mahal, tapi sudah tak berguna. Dan tak bisa direfund. Begitulah kami. Segala yang sudah kami perjuangkan dari banyak hal, ternyata berakhir karena kami sendiri. Karena saya tidak sabar dalam penantian yang seringkali menenggelamkan harap. Karena Mr Backpack terlalu hati-hati sehingga saya bosan dengan perjalanan yang begitu datar. Karena segalanya mulai berjarak, bukan hanya tubuh tapi juga perasaan kami. Saya semakin sulit untuk terdengar riang di telepon. Mr Backpack kehabisan cerita, atau mungkin enggan menceritakan ke mana saja dia membawa bacpacknya.

Lalu hari itu datang. Saya bertemu Mr Defender. Pertemuan kami adalah takdir (saya tidak ingin menyebut kebetulan). Saya sedang menjalani masa ‘1000 days of Mr Backpack’, merefleksikan ulang seluruh kenangan, mencoba mencari apa yang salah. 

Saat itu, saya juga sedang dekat dengan Mr Mountainbike. Kami berdua memang tidak banyak memiliki kesamaan, namun dia selalu mengasihi saya, lebih dari seorang teman biasa. Mungkin baginya saya sahabat, atau adik yang tak pernah dia punya, atau perempuan yang ingin diberinya janji masa depan. Entahlah. Saya merasa, setelah segala yang saya punya dengan Mr Backpack tidak berhasil, mungkin hubungan paling sederhana seperti yang saya miliki dengan Mr Mountainbike adalah yang seharusnya. Saya merasa sungguhan jatuh cinta, berusaha memparalelkan hati dengan otak saya. Dan rasa-rasanya saya sungguh berhasil. Aku ingin melihat matahari terbit denganmu, kata saya. Tapi Mr Mountainbike menjauh. Tidak, kita belum siap, katanya, meninggalkan saya dalam ketidakmengertian.

Maka di sanalah saya, perempuan yang mematahkan hatinya sendiri. “Aku sedang tidak berminat menjalin hubungan, jadi mari jadikan segalanya kasual,” saya berkata pada Mr Defender sebelum dia yang mengatakannya. Maka berjalanlah segalanya secara alami. Kencan yang kasual, sebagai teman istimewa. Seluruh hubungan kami dibangun dari obrolan, yang ringan dan yang berat. Yang seluruhnya begitu berbeda. Saya adalah tuan putri yang manja namun liar dan tak beradab. Dia adalah petarung yang memiliki hati seorang raja.

Lalu, kami terus berjalan dan mengitari lingkaran yang sama. Berhenti di titik yang sama. Melompat di momentum yang sama. Mungkin ini takdir. Bersamanya saya menemukan hal yang tak pernah saya yakini saat masih bersama Mr Backpack, dan merasakan sesuatu yang tak berhasil saya paksakan kepada Mr Mountainbike. Hal dan sesuatu yang bukan cinta. Hal dan sesuatu yang kecil tapi menentukan segalanya. Hal dan sesuatu yang entahlah.

Sepanjang ingatan saya, ketika itu, dan sampai saat ini, Mr Defender tidak pernah menjanjikan apa-apa, namun saya begitu yakin untuk berjudi dengannya. Bahkan ketika hubungan saya dan Mr Defender masih di awal mula, saya ingat Mr Backpack menawarkan saya sebuah rencana perjalanan yang sempurna, lengkap dengan peta dan layar kapal yang sudah terbentang. Saya tidak mengatakan penolakan, tapi saya tidak pergi. Saya sudah sepenuhnya memilih perjalanan tanpa rencana bersama Mr Defender.

Lalu hidup terus berputar, dan Mr Backpack menemukan teman seperjalanan yang sempurna untuknya. Saya memandangi mereka melambaikan tangan, dan saya tahu bahwa perempuan itu sangat beruntung telah memilih orang sepertinya. Saya iri pada perjalanan yang akan dilaluinya. Namun saya tetap tidak bisa membayangkan menjawab ya pada Mr Backpack.

“Seandainya kamu mau menunggu beberapa saat lagi, waktu itu aku akan kembali,” Mr Mountainbike berkata kepada saya lama kemudian. “Aku sangat menyesal menggantungkan jawabanku padamu. Tapi saat aku kembali semuanya sudah terlambat.”

Ah, momentum. Lagi-lagi momentum. Bagaimanapun momentum membuat saya tidak perlu memilih. Semesta telah mengatur segalanya hingga jalan-jalan itu tidak bersimpang pada saat yang bersamaan hingga saya hanya harus menyusurinya, tanpa harus bersusah payah menentukan arah. Begitu banyak kemungkinan yang ditakdirkan Tuhan memasuki kehidupan saya. Saya mengambil seluruhnya, mencoba peruntungan saya. Sebagian pergi, sebagian lagi saya tinggalkan. Namun selalu ada yang tinggal. 

Ya. Selalu.

13 June 2011

Pedometer

Minggu lalu, saya membeli pedometer. Buat yang belum tahu, pedometer itu alat yang dipakai buat ngitung langkah kaki kita. Biasanya pedometer bentuknya digital, tapi saya beli yang manual, bentuknya seperti bel sepeda. Setiap kali saya berjalan, saya pencet pedometernya, dan karene pedometernya manual seperti cap penanda hari tanggal bulan tahun itu, setiap kali melangkah saya akan meninggalkan bunyi berisik 'ctik ctik'.

Nah, karena saya terobsesi dengan iklan Anlene jalan sepuluh ribu langkah sehari, saya jadi agak berlebihan dengan si pedometer. Misalnya, saya jadi selalu mengambil jalan alternatif yang lebih jauh. Trus saya jadi sangat rajin beredar di kantor, memfotokopi, mengantar surat ke ruangan lain (yang biasanya males-malesan) sekarang dilakukan penuh semangat. Beli apa-apa nggak minta tolong office boy lagi. Kalau mau pergi ke suatu tempat dan ada barang yang ketinggalan sehingga saya harus balik lagi, saya bukannya menggerutu tapi malah bahagia karena ada kesempatan menambah angka di pedometer. Dan yang lebih ekstrim lagi, setiap nganggur nggak ada kerjaan, saya selalu jalan mondar-mandir sambil ctik-ctik dengan si pedometer (oke, kalian boleh tertawa).

Tadi pagi, saat menemani Mr Defender ke tempat pencucian motor, saya lagi-lagi mengisi waktu dengan mondar-mandir. Kalau lantainya setrikaan, udah bukan licin lagi, hangus dia, hahaha.

"Kamu lagi ngapain sih?" Mr Defender keheranan melihat saya sok peragawati sambil men-ctik-ctik pedometer.
"Aku lagi menambah langkah biar 10.000. Nih lihat, masih pagi udah 2700 langkah," saya menunjukkan pedometer padanya dengan congkak.

"Ya ampun, kamu norak banget sih. Berisik tau ctik-ctik. Lagian pedometer itu kan dipakai buat zikir."

Saya bengong. "Zikir? Aku kan belinya di toko olahraga, ini buat hitung langkah kaki tau."
"Iya, tau. Tapi bisa dipakai buat macem-macem juga. Kayak buat ngitung barang di gudang, trus buat ngitung pengunjung toko. Inget kan di pintu Gramedia selalu ada mas-mas yang pakai pedometer tiap ada orang masuk toko? Tapi yang paling banyak buat zikir."

Saya masih ngeyel. "Zikir kan pakai tasbih..."
"Tasbih kan cuma 99 biji. Banyak orang yang zikirnya sampai jutaan kali, tau. jadi pakai pedometer biar gampang."
"Ooooo..." Saya manggut-manggut, ingat kalau bos di kantor juga punya pedometer kecil yang berbentuk cincin. Tadinya sih saya pikir dia juga terobsesi sama Anlene, tapi setelah mendengar penjelasan Mr Defender, saya jadi yakin dia pakai itu untuk berzikir.

Waktu diantar kembali ke kantor saya jadi mikir. Bukan mikirin orang yang menggunakan pedometer untuk zikir sih. Tapi karena baru sadar betapa nggak banget-nya saya. Bukan, bukan karena saya menggunakan pedometer untuk jalan kaki ataupun karena saya ingin berjalan ala Anlene. Saya cuma malu karena segitu terobsesinya saya sama langkah kaki, tapi kedodoran di hal-hal lain (berzikir cuma salah satunya). 

Oke, klise bukan? Tapi saya benar-benar merasa 'jlebb' di dalam hati. Bisa-bisanya saya mondar-mandir menekan pedometer, bagaimana dengan orang yang sudah saya buat kesal atau sedih? Berapa banyak hari ini? Bagaimana dengan senyum yang saya berikan hari ini? Berapa kali saya sudah mengeluh dan mengumpat dalam hati? (Iya, saya memang belum mikirin berzikir sampai jutaan kali. Saya mau mikir yang simpel-simpel aja. Dan jangan salah sangka, saya mikirnya sambil tetap jalan ke mana-mana pakai pedometer kok, saya kan persisten.)

"Udah, kenapa jadi manyun sih? Jalan terus aja pakai pedometernya. Kenapa sih kalau dibilangin sesuatu dipikirnya mesti sampai gitu?"

"Bukan gitu. Aku lagi mikir mau beli pedometer lagi."
"Hah? Buat apa?"

"Buat ngitung berapa kali kamu bikin aku sebel, manyun, nangis, berapa kali kamu telat jemput aku, batalin janji, nggak ngasih aku kado ulang tahun, dsb dsb. Hahahahaha." 
"Idihhhh..."

Saya tertawa sendiri. Mana mungkin begitu kan? Sebenarnya saya pengen bilang, saya mau beli pedometer untuk menghitung berapa kali kamu sudah membuat saya tersenyum setelah kecapekan, sedih, marah, kecewa, berapa kali kamu membuat saya senang dengan kejutan-kejutan kecil dari kamu, berapa kali kamu mengucapkan kalimat yang menyenangkan hati, berapa kali kamu menyejukkan hati saya yang sedang kelam, berapa banyak kebahagiaan yang sudah kamu kasih ke saya... tapi nanti pedometernya pasti nggak cukup. Iya kan, iya kaaaan? :-P

10 June 2011

di antara wajan dan ulekan

gambar dari sini

Memasak bagi saya adalah terapi.
Ada yang tersembuhkan dalam diri saya setiap kali mengiris bawang, mencincang daging, memisahkan daun-daun bayam dari batangnya. Ada kebahagiaan kanak-kanak yang mungkin tidak dimengerti orang lain ketika saya menemukan tomat segar di pasar. Ada percakapan dalam bahasa yang hanya saya dan pisau bergagang coklat itu yang mengerti.
Banyak wajah yang terbayang ketika saya mengupas wortel atau mengaduk santan agar mendidihnya bagus. Banyak kenangan yang datang, dalam lamunan kosong ketika sendirian menyiapkan makan malam. Ada yang legit seperti kolak pisang, ketika saya mengingat keceriaan bersama teman-teman. Ada yang begitu manis namun menyisakan ngilu di gigi saat kenangan tentang para Mr He Was melintas. Ada yang mengental bak kuah capcay, seperti kerinduan untuk pulang. Ada yang pedas, yang menghangatkan seperti wedang jahe yang menyentuh tenggorokan. Kesalahan-kesalahan yang saya buat di masa lalu, penyesalan-penyesalan akan hal yang saya lakukan atau yang tidak saya lakukan, kekecewaan yang saya pendam, perlahan-lahan saya lepaskan, sepeti saya membersihkan minyak dan lemak dari wajan.
Saya memasak apa saja. Resep-resep yang saya pelajari dari dapur ibu saya, masakan-masakan baru dari buku atau internet, dan apa saja yang melintas di kepala saya. Saya membaca berulang-ulang, mencoba menakar kocokan telur seperti apa yang dimaksud dengan sudah mengembang, menentukan apakah kemiri atau ketumbar yang harus ditambahkan agar muncul rasa opor ayam seperti buatan ibu. Saya bersenandung, meninabobokan terung dan paprika, menghibur pepaya muda dan jamur kancing.
Segala perasaan saya tumpahkan ke dalam masakan saya. Rindu. Kebencian. Rasa bosan. Kekecewaan. Penyesalan. Rasa marah. Tapi yang terbanyak adalah cinta. Saya mendapatkan kembali semangat saya untuk memasak saat membayangkan orang-orang yang saya cintai makan masakan saya dengan gembira. Bahkan juga membayangkan mereka yang dulu pernah saya cinta dan mencintai saya, meski sekarang tidak lagi. Saya membayangkan membuat seloyang macaroni schotel untuk Miss Little Girl. Membayangkan Mr Backpack dan Mr Ladykiller duduk di satu meja, menyantap ayam teriyaki sambil bercakap-cakap. Membayangkan memasak opor ayam dan sambal goreng untuk keluarga saya di hari raya. Juga memanggang berloyang-loyang brownies untuk menemani obrolan sore dengan sahabat-sahabat saya. Lalu saat semua wajah menyatu di pelupuk pata saya, saya akan memejamkan mata, dan ketika saya membuka kelopaknya, saya akan mendapati Mr Defender di depan saya, memakan apa pun yang ada di kotak bekalnya dengan ceria, dan mengembalikannya kepada saya dalam keadaan licin tandas.
“Terima kasih,” katanya, lalu dia akan mengusap jari saya yang terluka karena pisau atau punggung tangan yang tak sengaja terkena minyak panas saat menggoreng ikan. “Lain kali hati-hati ya.”
Saya tersenyum. Luka-luka itu sama sekali tidak sakit. Mereka adalah luka yang membantu saya mengobati luka yang sesungguhnya. Luka yang sama sekali tak tampak. Di sana, di tempat yang hanya aku dan pisauku yang tahu.

Ayah

gambar ayah dan adik saya pada liburan akhir tahun 2008

Senin kemarin saya pergi karaoke dengan teman-teman kos. Malam itu yang ikut cuma empat orang (kami berempat penggemar karaoke sejati yang selalu ikut acara senang-senang ini, yang lain sih cuma figuran hehehe). Biasanya acara karaoke kami seru karena masing-masing punya selera lagu karaoke yang berbeda. Deni si macho anggota tim basket universitas, entah kenapa suka sekali lagu India (korban Briptu Norman dia) dan lagu-lagu galau menyayat hati (setiap kami karaoke dia selalu menyanyikan Bukan Dia Tapi Aku-nya Judika). April si ibu guru (yang bersuara paling bagus di antara kami semua) sukanya lagu-lagu yang butuh skill kayak lagunya Celine Dion atau Whitney Houston (pintar ya dia, dengan demikian dia akan nyanyi sendiri, nggak ada yang nimbrung, minder soalnya). Vina, sukanya nyanyi lagu-lagu Top40 saat ini dan...jengjengjeng... lagu dangdut koplo! Saya? Karena suara yang standar dan tanpa skill, nyanyinya lagu-lagu imut yang mudah dinyanyikan macam lagu-lagunya SNTR, Ratu, Maia, BCL, dan M2M. hahaha.

Nah, tapi hari itu kami semua mendadak berubah tema, menyanyikan lagu jadul, diawali dengan Ibu Guru April yang dengan sintingnya menyanyikan Nurlela, plus dengan gaya Vina Panduwinata jaman dulu kala. Maka bertebaranlah lagu-lagu Jangan Ada Dusta di Antara Kita, Kemesraan, Lelaki dan Rembulan, Deru Debu, Hidupku Bagai di Sangkar Emas, dan lagu-lagu Nike Ardilla yang tidak saya kenal (saya sampai heran, sebenarnya anak-anak ini hidup di tahun berapa ya). Sampai saatnya giliran April, dia menyanyikan lagu Ayah dari Broery Marantika.

Karena suara dia bagus, saya termenung sepanjang dia menyanyi itu. Malahan, kalau bukan karena Deni yang sibuk berpantomim ala deklamasi 17 Agustusan, saya pasti sudah menangis karena lagu Ayah.

Ayah. Saya adalah penggemar berat ayah saya. Saya selalu membanggakan ayah saya, kepada semua orang. Ayah saya adalah laki-laki yang hebat, suami yang hebat, ayah yang hebat. Ayah saya menjadikan kami anak-anaknya hidup sederhana agar bisa memberi pendidikan kepada anak-anak orang lain. Ayah saya memberikan kesempatan pada puluhan anak-anak di tempat terpencil untuk bisa mengecap bangku sekolah. Dia bukan hanya memberikan uang, tapi tenaga, pikiran, dan kasih sayangnya untuk mereka. Ayah saya seorang suami romantis yang tak pernah lupa membawa segala oleh-oleh cantik untuk ibu sepulang dari dinas luar kota. Dan dia ayah yang hebat. Ayah yang selama tiga bulan mengantar saya ke sekolah yang jaraknya 40 km dari rumah dengan sepeda motor di pagi yang dingin, lalu kembali lagi ke rumah dan masih harus pergi ke kantor setelahnya. Ayah yang memenuhi rumah kami dengan semua majalah, kaset, dan buku-buku yang saya mau sejak saya masih tiga tahun. Ayah yang setiap minggu mengajak saya dan adik-adik ke pantai untuk mengumpulkan cangkang kerang dan ke toko buku bekas di mana kami boleh membawa pulang sebanyak yang kami mau. Ayah yang langsung setuju tanpa bertanya harga setiap saya mau les ini itu. Ayah yang mendukung saya sepenuhnya saat ayah teman-teman melarang naik gunung dan susur gua. Buat saya, dia ayah terbaik. Ayah juara satu seluruh dunia.

Dan kemarin, bersamaan dengan saya membayangkan ayah saya yang begitu segalanya buat saya, saya teringat Mr Defender, yang ayahnya pergi untuk selamanya sejak dia masih di dalam kandungan. Saya ingat seorang sahabat saya yang bilang pada saya bahwa dia tidak tahu bagaimana cara bergaul dengan bapak-bapak karena tidak pernah tahu rasanya punya ayah. Dan perasaan saya tiba-tiba teraduk-aduk. Saya punya begitu banyak kebahagiaan dengan ayah saya, dan mereka tidak punya sama sekali.
Maka saat itu, dan saat ini, saya melipatgandakan rasa syukur saya atas kebaikan Tuhan memberikan ayah yang begitu baik dan keren untuk saya. Dan karena saya sampai kapan pun memang tidak akan pernah bisa membalas segala kebaikan ayah saya langsung kepadanya, satu-satunya cara yang bisa saya lakukan hanyalah berusaha memberikan seorang ayah yang tak kalah  hebat untuk anak-anak saya di masa depan. Seperti kata Pidi Baiq, anak-anak memang butuh uang (dan segala benda seperti ponsel terbaru atau alat tulis Sanrio) tapi mereka juga butuh untuk merasa bangga pada siapa orang tuanya.

Semoga Mr Defender dan semua laki-laki di dunia yang tidak sempat merasakan ikatan ayah dan anak seperti yang saya punya, akan menjadi ayah yang hebat untuk anak-anaknya. Dan semoga sahabat saya dan semua perempuan di dunia yang tidak beruntung mengenal ayahnya, nantinya akan bersama seorang suami yang mampu menjadi ayah baginya, dan ayah yang terbaik untuk anak-anaknya. 
Semoga semua ayah di seluruh dunia diberkati!