31 May 2011

Argopuro


Aku ingin mengajakmu ke Argopuro. Kalau kau terlalu lelah untuk mendaki, biarlah kita berjalan kaki empat hari. Merasakan mistis Danau Taman Hidup yang selalu menawan hati setiap pendaki. Kuselimuti engkau dan kuberikan segelas susu agar tidurmu lelap seperti Soe Hok Gie. Berdua akan kita lewati kabut dan hutan cemara, menyapa merak-merak cantik di padang edelweis. Kau tahu, Dewi Rengganis sangat cantik, tapi jangan jatuh cinta padanya. Cukuplah engkau jatuh cinta pada rusa-rusa yang berlarian di lembah yang masih perawan. Tersenyumlah, sambutlah aku, inilah duniaku, semoga kau jatuh cinta padanya sebagaimana aku.

30 May 2011

Bumi dan Hujan

gambar dari folder seorang teman
Kata mereka, laki-laki itu seperti hujan. Hujan membasahi bumi dan dari dalamnya muncul kehidupan. Maka jadilah perempuan seperti bumi yang menanti dan menerima dengan lapang, kapan pun hujan datang. Dan bumi tidak mengeluh meski kemarau teramat panjang.

26 May 2011

tak bisakah kita saling mencintai saja selamanya tanpa ikatan apa-apa?

Aku memang bukan yang pertama, bukan satu-satunya, dan mungkin juga tidak akan menjadi yang terakhir (hey, hidup ini penuh misteri kan?). Tapi kamu dengan sadar  memberikanku sesuatu yang kau tahu bisa setiap saat aku lukai, patahkan, dan hancurkan: hatimu.


(mengutip sebagian kata Om Bob)

24 May 2011

merajut masa depan

gambar bunga angelica (dalam bahasa bunga berarti kamu inspirasiku) dari sini
lebih baik, lagi dan lagi, dari hari ke hari.
tertera pesanmu,
dalam tatap hangat setiap malam.
cinta dalam harap.
semoga ada aku dalam citamu.

23 May 2011

Kapan Menikah?

Saya sama sekali tidak terganggu dengan pertanyaan itu kok. Apalagi kalau yang bertanya adalah kenalan, teman, atau saudara yang sudah lama tidak bertemu, dan tidak tahu kabar terakhir dari saya. Siapa tahu maksud mereka adalah 'Sedang merencanakan pernikahan ya? Kalau ya, ditunggu undangannya.' Juga sahabat atau keluarga, yang saya percaya bahwa mereka bertanya karena sungguh peduli pada kelangsungan hidup dan kebahagiaan saya. Yang untungnya orang-orang terdekat saya justru adalah orang yang paling jarang bertanya, karena mereka tahu benar mengapa saya belum menikah sampai hari ini.

Kalau yang bertanya hanya bermaksud basa-basi, paling saya juga akan menjawab sambil bercanda 'nanti nunggu gajian' ala Okke Sepatumerah atau 'nanti nunggu harga cabe turun, katering mahal' ala @roidtaufan. Ngapain capek-capek menjelaskan alasan kita, atau apalagi marah, kalau yang nanya juga cuma basa-basi kan? Begitu pula kalau saya mengucapkan selamat kepada teman yang baru menikah, lalu dijawab dengan 'kapan nyusul?' palingan saya akan bilang 'doain aja ya' atau 'nyusul ke mana? ke kamar pengantin maksud lo?' (Walaupun sekarang saya jadi malas bilang selamat di media sosial, karena selain si pengantin yang nanya kapan nyusul, orang-orang pun akan memberi komentar serupa.)

Tapi yang paling malesin adalah, orang yang sudah bertanya dan sudah dijawab seadanya, tapi masih saja 'mencecar' dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya seperti 'nunggu apalagi sih? kan udah lulus kuliah, udah sama-sama kerja' atau 'ngapain lama-lama pacaran, dosa loh' atau bahkan 'keburu jadi perawan tua, lewat usia subur lo ntar'. Yang begini ini bikin capek, kita seperti petarung yang dipaksa mempertahankan diri (lebay). Maksud saya, ya sudahlah, orang kan belum nikah juga karena ada alasannya. Dan nggak semua orang menganggap pernikahan itu cuma prosesi setelah lulus kuliah dan kerja, atau bercinta secara halal tiap hari, atau untuk bereproduksi doang (lagian spesies manusia juga nggak akan punah sekalipun saya nggak nikah kan??). Atau apalagi demi agar tidak dicap perawan tua atau nggak laku. Maaf, tapi buat saya pernikahan itu sesuatu yang besar, makanya saya nggak mau buru-buru. Dan kehidupan lajang saya dengan segala kenikmatan dan keribetannya juga sesuatu yang berharga, makanya saya nggak ingin mengakhirinya buru-buru.

Jadi, tenang saja, nanti suatu hari, saya akan sampai juga pada momentum itu, di mana saya merasa cukup dengan kelajangan saya, lalu ingin membangun sesuatu yang baru bersama pasangan. Saat itu akan datang sendiri, tak perlu dikarbit atau diinduksi. Dan segala komentar, pertanyaan, bahkan mungkin cemoohan dari siapa pun, tidak akan membuat saat itu datang lebih cepat. Jadi, simpan saja semuanya untuk mereka yang membutuhkan (kalau ada), dan yang jelas itu bukan saya. Terima kasih.

18 May 2011

Seribu Anak Panah (3)

gambar dari sini

Mereka ada di mana-mana.
Bahkan dalam wangi cologne entah milik siapa
dalam sekilas lewatnya yang melemparkanku ke masa lalu.
Mereka ada di jalanan, di pasar dan di lorong-lorong mal
Memenuhi udaraku dengan sesak yang anehnya,
terasa nyaman.

16 May 2011

12 ruas


Setiap kali
aku melihat punggung lelaki
bahkan punggung pacarku sendiri
aku selalu teringat
punggungmu yang kokoh
yang selalu menampung semua tangisku
karena aku tak bisa menangis di dadamu.
Setiap kali
aku teringat
di baliknya aku bersembunyi
dari preman, dari suitan nakal
dari panas dan curah hujan.
Setiap kali pula
aku tak bisa berhenti membayangkan
di mana engkau berada
dan siapa wanita yang kini
memiliki punggung itu untuknya sendiri.
Aku tak bisa berhenti bertanya
apakah dia juga suka menggigitnya?
Dan aku selalu bertanya
apakah dia juga akan menangis
memandangi punggung itu menjauh
ataukah dia
akan berlari
dan memeluk punggung itu
memintanya tinggal.

10 May 2011

yang kudoakan dengan ikhlas

gambar dari sini

Dulu, di blog lama, rasanya saya pernah menulis panjang lebar secara komprehensif tentang mantan-mantan saya di masa lalu (ebuset deh mantan-mantan, berasa Liz Taylor). Entah mengapa akhir-akhir ini saya sering terserang "memory attack" -itu istilah jadi-jadian saya untuk menyebutkan kenangan masa lalu yang tiba-tiba muncul karena secara kebetulan saya mengalami sesuatu hal yang berhubungan dengan masa lalu itu. Sesuatu itu bisa jadi sebuah film, sepotong lirik lagu, atau hanya bau parfum seseorang yang kebetulan lewat. Lalu, saya jadi membayangkan, gimana ya kalau bertahun-tahun lagi saya nggak ingat apa pun tentang mantan yang ini (bahkan mungkin untuk mengenang wajahnya saja saya butuh waktu beberapa menit, seperti Watanabe Toru dalam Norwegian Wood).

Akhirnya, saya memutuskan bahwa ada banyak hal yang saya ingin ingat dari hubungan saya dengan mantan-mantan saya. Biarlah kenangan manis menjadi film yang saya suka untuk diputar ulang dan kenangan menyedihkan menjadi pembelajaran dan pengalaman yang memperkaya hidup saya.

Jadi, saya ingin menuliskannya. Semuanya, yang masih saya ingat hingga saat ini. Tanpa menyebut nama atau tanggal kejadian secara spesifik, agar tidak membuat orang menebak-nebak.

Ada seseorang yang selalu ingin saya ingat setiap kali saya menyebutkan 'mantan'. Bahkan sesungguhnya saya tidak ingin menyebutkan mantan. Mr Backpack. Dia adalah orang yang mengajari saya banyak hal. Orang yang akan selalu saya kagumi, hormati, dan sayangi. Orang yang selalu saya doakan kebahagiaannya, bersama siapa pun dia sekarang, dan orang yang kebahagiaannya adalah kebahagiaan saya juga.

Jangan salah mengartikan kalimat saya sebelumnya sebagai kalimat patah hati-putus asa seseorang yang ditolak. Tidak. Saya mengucapkannya dengan besar hati, bahkan saat kemungkinan kami kembali bersama masih terbuka lebar. Yang bisa saya katakan adalah, mungkin benar cinta sejati tidak harus memiliki, mungkin bahkan mereka tidak perlu dan tidak ingin memiliki. Dan cinta sejati tidak harus antara laki-laki dan perempuan yang dimabuk asmara bukan?

Jadi, saya menganggapnya apa sekarang, setelah masa percintaan lewat? Sahabat? Mungkin tidak. Kakak, saudara? Entahlah. Saya lebih suka menyebutnya orang yang pernah (dan selalu) saya sayang. Yang entah karena apa tak bisa menjalani sisa hidupnya bersama saya, seperti yang pernah kami impikan. Yang diperkenalkan alam semesta kepada saya, lalu ditumbuhkannya perasaan sayang, lalu diciptakannya jalanan panjang untuk kami lewati bersama, lalu akhirnya dipisahkannya kami pada sebuah persimpangan. Tanpa air mata, tanpa dendam. Hanya cinta, dan terimakasih yang dalam.

Apa? Kau tanya kenapa kami berpisah? Tidakkah penjelasan dipisahkan oleh alam semesta sudah cukup? Kita tidak harus selalu bertanya. Dan alam tidak harus memberikan penjelasan untuk semuanya.

09 May 2011

Pojok Beteng

Kota itu menyimpan segala yang mula-mula.
Surat-suratmu yang pertama, ciuman,
juga kata cinta yang malu-malu terucapkan.

Di sudut kota itu aku kuburkan sebuah buku.
Ensiklopedia tentangmu.
Bagaimana engkau memanggilku, juga caramu menghiburku.

Hari ini, aku datang, mencari bagai menggali kapsul waktu.
Mimpi manis masa muda.

05 May 2011

Hujan Bulan April


Saya tidak menyangka hari ini akan berakhir sebagai salah satu hari paling indah sepanjang bulan April tahun ini.

Saya lelah. Kaudengar itu? Seharian aku mengukur tangga, atas bawah, atas bawah, dan sekarang seharusnya saya sedang berbaring di atas tempat tidur yang spreinya baru diganti, biru lembut dengan wangi lavender. Mungkin ditemani Olivia Ong atau Adelle, juga setumpuk novel lama yang mengajak bernostalgia. Seharusnya ada limau plum buatan sendiri di meja itu, mungkin dengan satu dua lumpia. Tapi saya malah ada di sini, padahal udara dingin dan hujan akan segera turun.

"Pak, kita ini mengejar pesawat!" protes laki-laki di sebelahku. Sejak tadi dia hanya melakukan dua aktivitas: memandangi jam tangan dan mendesah. Akhirnya, dia tak tahan juga dan menambahkan berteriak sebagai aktivitasnya.

Pengemudi itu tersenyum, seperti meminta maaf, lalu menyalakan mesin dan kami pun berdelapan meluncur, merayapi jalan yang mulai licin. Oh, hujan rupanya sudah turun. Dan jalanan macet.

Hotma Roni berbisik padaku, 'dan lalu...' Oh sial, saya jadi merasa kesepian. Dan sekarang layar 21 inchi itu memutar Alice in Wonderland. Saya membayangkan kisah itu ceria, warna-warni, tidak suram. Dan Alice itu cantik imut, bukan sok seksi seperti di film ini. Film ini membuat saya sakit kepala. Dan di luar hanya gelap. Hutan tropis di waktu malam, tanpa satu pun kunang-kunang.

Dua jam, tiga jam, lambat sekali lajunya karena jalanan licin. Adhitia Sofyan menghibur, let me be the gold and I will put the shine on you, katanya. Pelan-pelan saya tertidur. Dan terbangun ketika lampu-lampu kota sudah mulai nampak. Hutan belantara telah terlewati. Dan sinyal operator sudah kembali. Saya mengambilnya dari saku. Satu-satunya cara kita saling terhubung beberapa minggu ini.

Ada pesan darimu. "Aku sudah di sini, Cah Ayu." Tapi saya sudah terlalu lelah untuk merasa bersemangat. Mengapa harus selalu saya yang bermain sirkus dengan waktu?

Ketika kami membelok dan memasuki pelataran tempat yang sama-sama kita akrabi, kamu menyambut saya dengan senyum. Hujan masih rintik-rintik yang tak reda-reda. Kita menepi di kedai yang dari luar tampak tak menjanjikan, namun dari sana sayup-sayup kita mendengar sebuah band memainkan Home dari Michael Bubble dengan petikan gitar yang jernih dan sempurna. Maka kita pun masuk ke dalamnya, walaupun saya tidak lapar.

Kamu memesan segelas kopi dan makan malam. Saya cukup segelas soda susu. Dan kita memang tidak salah. Band ini luar biasa untuk kelas kedai yang harga makanannya tiga sampai dua puluh ribu. Mungkin mereka main untuk bersenang-senang, katamu.

Kita tidak mengobrol, saya masih lelah. kamu menghabiskan makan dalam diam. Satu band lain mendapat giliran. Dan kita mendengar hentakan musik latin. Easy. Saya terpesona. Kamu memegang tangan saya. Terasa nyaman walau dalam diam. Mungkin rasa benar-benar bisa berbicara, saya melirik penuh kemenangan pada Hotma Roni.

"Jangan marah," katamu. Saya masih diam. Sesungguhnya mata saya mencari-cari seseorang dalam mata vokalis itu. Di suaranya ada Enrique Iglesias. Di wajahnya ada seorang sahabat dari masa lalu yang saya rindu. Di bahasa tubuhnya ada seseorang entah siapa, saya coba ingat-ingat namun kenangan itu memburam. Kini dia menyanyikan Madu Tiga, masih dengan swing dan tabuhan cajoon penuh semangat dari sang drummer berponi lempar.

"Somehow someday we will find a way." Saya tidak tahu sungguhkah saya mendengarnya darimu. Saya merasa seperti Alice dalam chapter di mana dia menangis hingga air matanya menjadi sebuah kolam dan dia dapat berenang di dalamnya. Saya sungguh butuh jeda, sebentar saja. Kadang saya sungguhan ingin menenggelamkan diri dalam kolam dan bangun dari mimpi ini dengan tubuh bugar. Apakah ini nyata? Apakah ini mimpi? Mengapa burung gagak seperti meja tulis? Hatter mengedipkan mata, menggerakkan kelima jari tangannya, menggoda.

Oh, Maria Maria.

Tabuhan cajoon semakin menghentak. Dan saya tersesat. Sungguh saya tak boleh membiarkan diri terlalu lelah, atau saya akan menjadi putus asa.

See mi y Maria on the corner.
Thinking of ways to make it better.
In my mailbox there's an eviction letter.
Somebody just said see you later.


Sosok dari dalam mata itu nampak berenang-renang. Hei, dia pun ada di kolam saya. Ditariknya saya menepi, wajahnya muncul dari dalam gelap. Wajahmu.

Adakah yang lain? Tempat berteduh hati kala biru?

"Somehow someday we will find a way." Sekarang kata-kata itu terasa nyata di telinga. Saya tersenyum. Mungkin saya hanya terlalu rindu. Dan lelah.


"Kita pergi sekarang?"


"Masih hujan."


"Nggak apa-apa. Ada hairdryer untuk mengeringkan rambutmu."
Ahora vengo mama chula mama chula. Ahora vengo mama chula mama chula.


Saya tersenyum menyambut tanganmu. Kita harus berjalan. Lagi.

03 May 2011

Seribu Anak Panah (2)

Stasiun Tugu, 2009

Pada barisan toples-toples kuno,
yang menangkap mataku di peron Stasiun Tugu.
Pada hilir mudik manusia di lorong Jalan Malioboro,
dan wangi kuah santan mengental, dalam seporsi gudeg kranggan.

Beri tahu aku di mana lagi kausembunyikan seribu anak panah itu.

02 May 2011

Seribu Anak Panah (1)

Sembalun Lawang, Rinjani, 2005
Ada rasa sakit yang kautinggalkan,
pada aroma tanah basah di kaki gunung itu.
Ada jejak luka yang kautitipkan,
pada desau angin di sela-sela dedaunan pinus.
Ada busur-busur tegang dengan anak panah kenangan yang siap kaulesatkan,
menantiku di setiap tikungan jalan.

Lereng gunung yang dulu kukenal,
tak pernah begini terjal.