26 April 2011

Merah Muda

Mereka berbicara dalam bahasa bunga-bunga,
seakan-akan dalam setiap kata yang diucapkannya,
ada semburat merah muda melayang ke udara.
Mereka berbicara dalam dialek para peri,
seakan mereka tak benar-benar berbicara,
hanya melayang dan menari.
Mereka menautkan tangan,
namun di mataku bagai tanda tangan darah,
di atas selembar janji kepada kehidupan.
Mereka membuatkanku sekat kaca dengan pemandangan indah,
mereka terus berbicara, namun di telingaku kini terdengar suara mereka bernyanyi.
Tidakkah kau dengar? Pekik bunyinya menembus semua surga yang tak kutahu ada.

bold meski tanpa capslock

bahagia itu menerima diri dan keadaan kita saat ini, atau berusaha mengubahnya tanpa mengeluh atau minta dikasihani, titik.

25 April 2011

Girl, Interrupted


Oke, saya tahu ini film dua belas tahun yang lalu dan alangkah ketinggalan jamannya saya yang baru nonton. Tapi, sungguh, ini menjadi salah satu film terbaik yang pernah saya nikmati (hanya pendapat, jangan ajak berdebat). Dan juga, film pertama di mana saya mengagumi Angelina Jolie tak sebatas eksotismenya (pantaslah dia dapat Oscar di film ini).

Dan sungguh, mungkin menggila adalah satu-satunya cara bertahan waras. Dan mempertanyakan kewarasan diri, mungkin adalah salah satu tanda kewarasan sesungguhnya. Yang terlalu gila sunggguh takkan merasa dirinya gila.

dan kau berikan aku setangkai primrose*


Percakapan di malam terakhir liburan pendek kami, saat dia sedang memegang tangan saya.

Saya : Lihat nih tanganku pecah-pecah beb, gara-gara kena deterjen cair.
Dia   : Hmmm... gak papa, ini kan tangan yang penuh kasih sayang. Udah banyak yang dilakukan tangan ini     buat aku, masakin aku tiga kali sehari, ngompres aku waktu sakit, dan yang paling penting selalu ada buat dipegang waktu aku sedih.

Adakah yang bisa membuatku tersenyum lebih lebar?


*bahasa bunga primrose adalah: aku tak bisa hidup tanpamu

15 April 2011

Violet Biru*


percayalah, hati lebih dari ini pernah kita lalui. jangan henti di sini. (Float)

*silakan menemukan sendiri :)

14 April 2011

ingin kusampaikan kepadamu, hari ini, karena dinding hatiku mendadak dicat biru


tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu 

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu



(Sapardi Joko Damono)

13 April 2011

kuberikan (lagi) setangkai mawar kuning*


hari ini, lagi-lagi, cubitan itu terasa di hati.
dia datang seperti aroma bawang goreng dari dapur yang belum tertutup pintunya.
sejujurnya aku malu.
pada ketidakrelaanku, juga keegoisanku.
kau melihatnya?

*saya tidak tahu bagaimana di Jepang yang terkenal dengan bahasa bunga, tetapi di Inggris pada zaman Victoria, mawar kuning memiliki bahasa bunga "kecemburuan"

12 April 2011

G, G, Go, Google!


Pernah berharap bisa meng-google perasaan seseorang tentang kita?

Saya sering. Dulu saat hati masih selabil tanah rawa, saya selalu ingin tahu tentang apakah cowok lucu yang sedang saya suka juga paling tidak menyadari keberadaan saya. Atau apakah dia yang selalu mengisi hari-hari alam mimpi saya juga merasa yang sama, atau menganggap saya cuma teman, keranjang sampah tempat berbagi keluhan dan lelucon konyol.

Mengapa saya ingin meng-google-nya? Diakui atau tidak, saya sebenarnya sudah tahu, tanpa perlu meng-klik "I'm feeling lucky". Segalanya terlukis sejelas tanda dilarang parkir di depan zebra cross, tapi saya sedang tidak rasional. Saya sedang jatuh cinta. Mata saya tertutup oleh bunga-bunga perasaan saya sendiri. Kalaupun saya menduga-duga (baca:yakin) dia juga mempunyai perasaan yang sama, saya ingin tetap bertanya-tanya seperti akuntan yang berpegang pada konservatisme dalam menakar untung rugi. Saya tidak mau terbang tinggi lalu dikecewakan ketika ternyata dugaan saya salah (yang sungguh, tidak mungkin salah). Kalau saya, sebaliknya, setengah yakin kalau dia tidak membalas perasaan saya, saya tetap ingin bertanya-tanya, karena saya bahagia hanya dengan berandai-andai dan saya tidak ingin membunuh harapan yang ada sungguhpun kecil nyala lenteranya.

Saya meng-google, karena saya berharap.

Sekarang, saat masa berjerawat telah lewat, ternyata saya masih tak jera menebak-nebak. Tentu saya lebih pintar sekarang untuk tahu bahwa pertemuan kembali dengan seorang temannya-temanlama-yang-dulu-tampak-menggoda-dan-kini-ternyata-bekerja-di-kota-yang-sama itu bukan tanda dari Tuhan bahwa kami ditakdirkan bersama. Tentu saya tidak akan lagi sekonyol itu (mungkin nanti saat cinta datang  dan ketidakwarasan yang ditimbulkannya begitu hebat, siapa tahu?)

Saya yang sekarang, menebak-nebak justru tentang kebencian. Apakah orang itu membenciku? Atau ya, aku tahu dia membenciku, tapi kenapa? Apa salahku?

Sama seperti cinta atau rasa suka, kebencian juga sesuatu yang berat dan butuh keberanian untuk ditanyakan langsung pada objek perasaan kita. Nggak mungkin kan menanyakan 'kamu benci aku ya?' kepada si 'tersangka'. 90% orang akan menjawab 'ah, nggak, kok kamu nanya gitu' walaupun mereka benci setengah mati sama kita. 10% persen sisanya, orang yang tidak munafik akan menjawab 'iya, mau apa kamu?' Keduanya bukan pilihan yang menyenangkan.

Maka kita tetap lebih suka menebak-nebak. Waspada. Membentengi diri terhadap segala kemungkinan disakiti. Bersiap menyerang sebelum dijatuhkan.

Sungguh, itu melelahkan.

Tidakkah kamu pun lelah dan ingin merasa lega setelah semua terselesaikan?

Equator


yang terik namun selalu berhujan.
yang rapuh tapi bebas guncangan.
yang gulita meski energimu berjuta.
mari kita saling menerima, walau ini kencan buta.
kubiarkan keras tamparanmu menempaku jadi baja.
dan lembut sinarmu kala pagi menyapa, mengubah krisan kuning jadi biru muda.
langitmu, hitam mataharimu, dan tetes embun pagi yang tak pernah hadir.
mengaliri darahku, selamanya.

Tak Perlu Surat Balasan, Kawan

The only true love is unrequited love. (Signora Malena)

Hai, kamu. Terkejutkah kamu kalau saya mengatakan dengan jujur dan setulusnya, seandainya seluruh pria yang saya kenal di dunia ini dinilai berdasarkan berbagai aspek kualitas dan seluruh nilainya digabungkan dan dirata-rata, kamu adalah yang rangking satu buat saya?

Tidak? Ya? Harusnya tidak. Atau ya. Tapi lebih tepat tidak karena begitu sering saya mengucapkan itu sama kamu.

Dulu, saya menjadi sangat tergantung sama kamu. Secara emosi. Apakah saya mencintaimu (dulu)? Entahlah. (sekarang, saya pun tak bisa pasti menjawab tidak, apalagi ya). Saya membutuhkanmu. Secara kedekatan emosi. Saya tidak rela sewaktu kamu memilih malam mingguan di tempat itu bersama teman-temanmu. Saya benci setengah mati ketika kamu tenggelam di bagian lain duniamu, pulau tropis milikmu dan mereka di mana di sana saya tidak eksis buat kamu.

Saya menyeberangi laut itu untuk bisa bersama kamu. Kamu mengulurkan tangan menyambutku, mereka tersenyum mengucapkan selamat datang. Kita tertawa. Kita bahagia, tanpa perlu mempertanyakan apa-apa. Tidak ada yang harus dibuktikan, tidak ada yang diubah, tidak ada yang perlu dijelaskan. Tidak ada garis yang harus dilewati, atau jembatan yang harus diseberangi. Tidak perlu ada jawaban.

Tapi tak ada jawaban itu tak bisa bertahan selamanya, kan? Matahari akan tenggelam dan pesta pasti berakhir. Ada saatnya kita harus benar-benar melambaikan perpisahan. Dan saya, saya manusia egois yang tidak bisa melepaskan. Apalagi dengan kerelaan. Padahal saya ingin kamu bahagia, sumpah.

Sungguhkah tak perlu ada jawaban?

Mungkin karena saya sudah tahu apa jawaban kamu. Atau saya belum tahu, tapi saya tahu konsekuensi yang akan timbul apa pun jawabanmu, dulu atau kini. Tak ada yang kupilih dari  seronoknya merah atau pedihnya biru. Aku mau yang warna ungu.

Maka biarkan saya, yang egois dan pengecut ini, berenang sendiri di tepi pulau tropismu. Memandangi liuk lambai pohon kelapamu. Menatapi mereka yang pergi dan yang singgah di pasir pantaimu.

Hanya dalam jarak ini kita sama-sama bahagia. Kamu tahu itu, kan?

pulang



Dan lalu, air mata tak mungkin lagi kini bicara tentang rasa. Bawa aku pulang, rindu! Segera. (Float)

"Aku menghormatimu karena aku menghargai dia yang kucintai dan mencintaimu." Pernah kuucapkan kalimat sekejam itu padanya, entah nyata atau dalam mimpi. Apa reaksinya saat itu? Menangis? Membisu? Bagiku semuanya seperti tawa mengejek di masa itu, dan aku muak. Muak akan segala.

"Aku tidak pernah memilihmu. Bukan mauku kita bertemu di dunia ini." Itu juga pernah kuteriakkan. Lalu aku berdemonstrasi memprotes Tuhan.

Kini, bertahun kemudian, setelah aku berdamai dengan diriku sendiri dan juga dengan Tuhan, baru aku bisa sedikit menakar seperti apa perasaannya. Dulu dan juga saat ini.

Beberapa hal di dunia ini adalah vonis tanpa opsi banding. Aku hanya harus mencuci otakku sendiri bahwa hukuman seumur hidup bisa menyenangkan kalau aku memandangnya sebagai: punya tempat tinggal bebas sewa, makan gratis, tidak perlu mencari pekerjaan yang membayarkan uang pensiun.

Kini, setelah kuperoleh tiket kebebasan itu, setelah ribuan mil kaki ini melangkah, setelah entah berapa kali jatuh cinta dan patah hati yang kualami, dengan besar hati harus kuakui bahwa dialah yang pertama terlintas di kepalaku saat aku memikirkan kata itu. Tempat berteduh hati kala biru.

Apakah Tuhan akan menghukumku? Ataukah kini Dia sudah?

Aku benci pulang karena tiap detik di sana menyesakkan.

Jangan lagi datang. Jangan lagi pulang, rindu! pergi jauh.

08 April 2011

satu-satunya

gambar dari sini
Aku terlalu mudah berubah, juga terlalu banyak mau. Seperti bunga pukul empat atau sutra bombay, sebentar bermekaran indah sebentar layu, hanya saja dalam siklus tak tentu. Sebentar bersenang sebentar menangis. Punya keinginan segudang yang sebentar juga hilang, seperti ibu hamil yang sedang ngidam, hanya saja sayangnya tak cuma minta nasi liwet Solo atau martabak kubang.

Bersamaku tak hanya seperti mengasuh bayi, tapi lebih dari itu, mengasuh bayi alien, yang bahasanya sama sekali tidak bisa dimengerti, yang menyukai hal-hal yang kadang kamu benci, dan kadang tidak kamu mengerti.

Terima kasih untuk tetap mau berbagi kehidupan di sepetak tanah ini. Meskipun mungkin ini satu-satunya tempat kamu eksis buat aku.

07 April 2011

tolong berhenti.


Di dalam otakku ada segerombolan teroris yang sampai hari ini masih eksis. Tidak tersentuh, tidak terlacak keberadaannya, dan bahkan aku, sang tokoh utama kehidupanku, yang seharusnya berkuasa atas setiap pergerakan molekul sekecil apa pun dalam diriku, tidak mampu menjerat mereka dengan undang-undang dan membunuhnya, atau memenjarakannya selamanya.

Mereka datang sewaktu-waktu, kadang di saat aku paling tidak menginginkannya, dan seringnya di saat aku yakin mereka sudah pergi, angkat kaki untuk selamanya. Mereka bisa dalam waktu dua detik memporakporandakan puzzle kebahagiaan yang sudah kususun keping dari keping setiap hari sebelum akhirnya memperoleh bentuknya, dan ketika bentuk puzzleku mulai tampak, segerombolan teroris datang dan segala yang telah hampir sempurna pun musnah.

Sering aku merasa diri menyedihkan setiap kali aku tersadar bahwa mereka tidak pernah pergi. Mereka ada di sana. Mereka benar-benar ada, namun aku selalu menghindar dan berpura-pura. Mereka nyata, seperti teroris di Indonesia, dan aku presiden yang berpura-pura tidak ada apa-apa, bahkan walaupun seisi kota porak poranda dan berdarah di mana-mana. Aku tersenyum dan memasang wajah manis pada dunia. Berpura-pura kokoh padahal aku ini tulang yang sudah kena osteoporosis. Menunggu runtuh.

"Aku akan menganggap waktu itu tidak kumulatif," begitu aku pernah berkata padamu, dan selalu pada diriku sendiri. "Hari ini adalah masa yang terpisah dari hari kemarin, dan kemarinnya lagi, dan setiap hari segala sesuatunya adalah masa yang berbeda. Karena itu, aku tidak akan pernah bertanya 'sampai kapan?'. Tidak akan."

Kamu selalu menjawabku dengan genggaman tangan. Tidak akan ada penjelasan yang lebih baik, tidak akan ada kata penghiburan yang mampu. Kamu tahu bahwa segala kata tidak akan dari mulutku adalah penyangkalan, adalah cara menghibur diri yang paling konyol.

Dan teroris-teroris di otakku juga tahu, bahwa seluruh kata tidak yang kuucapkan adalah cara terbaik untuk menyakitiku. Membuatku gila dengan seluruh pertanyaan-pertanyaan itu. Menenggelamkanku dalam pusaran apapun itu, yang jelas dia adalah kebalikan dari harapan. Keputusasaan? Ketakberdayaan?

Aku lelah bertanya sampai kapan.