22 March 2011

Waktu

Kesempatan itu mahal. Betul sekali. Sehat itu terasa mahal saat kita terkapar sakit. Waktu luang itu baru terasa berharga setelah kita sibuk bermain sirkus dengan waktu. Keluarga itu terasa sangat berarti ketika kita berada jauh dari mereka. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Setelah jatuh sakit dan harus bedrest selama dua minggu, barulah saya sadar dan menyesali banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan di waktu masih sehat, tetapi tidak saya lakukan, dan nanti, entah apakah masih bisa saya lakukan atau tidak karena sakit ini. Banyaaaaak sekali hal-hal yang sering saya tunda, banyak hal yang saya mulai tetapi saya tinggalkan sebelum benar-benar selesai, banyak rencana yang saya buat tapi tak pernah saya realisasikan. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Kemudian, karena pada dasarnya saya adalah manusia paling optimis, saya menutup semua penyesalan-penyesalan kecil itu dan memutuskan untuk mengambil sebanyak-banyaknya kesempatan yang lewat di depan saya, sebelum benar-benar berlalu dan mungkin akan saya sesali nanti. Yah, semacam menjadi Yes-Man. Saya akan mengiyakan ajakan semua orang di sekitar saya (orang-orang yang saya sayangi, yang misalnya, mengajak saya jalan-jalan di saat saya sebenarnya bisa tapi malas). Yah, semacam itulah. Sebab, siapa tahu esok hari saya tak punya kesempatan lagi memenuhi ajakannya? Bukankah selalu menyenangkan membuat penghujung yang indah, seandainya hari ini hari terakhir saya bertemu dia?

Sekarang, rasanya baru mengerti kenapa orang bilang hiduplah seperti hari ini hari terakhirmu. Jangan menunda apa yang seharusnya bisa disegerakan. Dan itu berlaku untuk semua hal. Tugas kuliah, beres-beres kamar, mengqadha puasa ramadhan, memberi hadiah kejutan pada orang tua, merajut sweater untuk pacar, memberitahu sahabat kita betapa kita menyayanginya. Dan seterusnya.
Sebab, siapa yang tahu apakah esok hari kita masih diberi nafas oleh-Nya?

Dan sungguh demi masa, kita benar-benar berada dalam kerugian.