28 February 2011

Julie, Julia


Salah satu hal yang dulu di Jakarta selalu saya lakukan tetapi sekarang tidak lagi, adalah memborong dvd (bajakan) di Mangga Dua atau Ambassador. Sekarang saya tidak lagi melakukannya, bukan hanya karena di Samarinda harga satuan dvd bajakan mahal, tapi juga karena saya sibuk menonton film-film di HBO (yang juga dari tv kabel bajakan). Saya suka karena HBO memutar film yang sama beberapa kali dalam seminggu pada jam yang berbeda-beda, jadi jika saya tidak sempat menonton di hari Selasa, saya bisa menontonnya di hari Rabu, dan jika saya belum puas, bisa menontonnya kembali di hari Sabtu.

Film yang terakhir saya suka, adalah Julie and Julia. Film tentang seorang PNS bernama Julie Powell yang merasa kehidupannya datar dan begitu-begitu saja, lalu menemukan kesenangan baru dengan sebuah proyek: mencoba semua resep dalam buku Julia Child (mungkin obsesifnya dia terhadap Julia adalah satu-satunya passion dalam hidupnya), seorang juru masak terkenal berumur 90 tahun yang dikagumi Julie, dalam jangka waktu setahun, dan menuliskannya dalam blog. Kisah pontang-pantingnya Julie ini diseling dengan flashback kehidupan Julia Child di masa lalu, yang ternyata tak selalu seindah dan semulus yang disangka Julie sebelumnya.

Karena saya memang tidak sedang membuat resensi atau sinopsis cerita film ini, maka saya akan menulis poin-poin yang saya suka dari film ini:
  • Kepribadian Julia Child, yang sangat-sangat menyenangkan, positif, baik hati, optimis, membuka diri pada semua kesempatan, yang bisa membuat semua orang jatuh sayang padanya, walaupun secara fisik dan penampilan dia tidak terlalu menarik. Saya langsung ingin menjadi Julia Child, sama seperti Julie Powell.
  • Julia Child dan Julie Powell ternyata dua orang yang benar-benar ada, blog Julie/Julia Project benar-benar ada, buku Mastering The Art of French Cooking benar-benar ada, Paul Child, suami Julia yang sangat suportif dan Eric Powell, suami Julie yang sangat pengertian dan penyayang itu benar-benar ada! Mengagumkan!
  • Cerita film ini sungguh sederhana, sederhana bukan dalam arti klise atau mudah ditebak, tapi tentang orang yang sederhana, mimpi yang sederhana, kehidupan yang sederhana. Bukan tentang menyelamatkan dunia atau menjadi superstar terhebat di dunia, tapi tentang hal kecil, yang dilakukan dengan penuh cinta, dan betapa impian kecil bisa sangat berarti bagi seseorang. Dan hidup butuh tujuan walaupun kecil, orang butuh hal yang benar-benar dia suka melakukannya, agar saat hal-hal lain dalam hidup menjadi kacau, dia bisa melarikan diri ke dalamnya.
  • Memiliki pasangan hidup yang mencintai kita dengan seluruh hatinya, seperti suami-suami Julie dan Julia, adalah anugerah yang sangat luar biasa, itu adalah hal yang terbaik yang bisa terjadi dalam hidup seseorang, itu adalah hal yang benar-benar bisa menghapus kesedihan dan kekecewaan atas apapun (seperti kesedihan Julia yang tidak bisa memiliki anak atau keputusasaan Julie terhadap pekerjaan dan hidup yang begitu-begitu saja).
Oh ya... satu lagi:
  • Blogging ternyata bisa berbahaya kalau atasan kita membaca blog kita, dan kita menulis tentangnya :P
Setelah selesai menontonnya (dua kali dan kemungkinan masih akan nonton lagi minggu ini) saya jadi bersemangat lagi untuk memasak :) Walaupun tidak ada suami yang harus dibuatkan makan malam, rasanya menyenangkan juga ide membeli satu buku dan mencoba semua resepnya dalam setahun seperti yang dilakukan Julie (walaupun mungkin tidak sempat menuangkan semuanya dalam blog). Ada ide buku apa yang patut dicoba? Yang cukup tebal, beragam, lengkap dari sambel sampai kue, dan ditulis oleh chef terpercaya. Apa ya?

25 February 2011

B.A.H.A.G.I.A.

gambar dari sini

Tentang Hal-Hal Kecil
Ternyata, memang hal-hal kecil yang paling bisa membuat hari menjadi indah. Minum susu cokelat yang enak sampai tetes terakhir, mencicipi kue lapis Surabaya yang enak (kok makanan semua ya?), mandi air hangat dari shower (alhamdulillah, ada enaknya juga tidur di hotel), merasa cantik ketika bercermin, menatap jalanan yang sepi di pagi hari dari jendela mobil sambil berkendara setengah jam, lalu menemukan hal-hal kecil yang menarik perhatian. Anak kecil berseragam batik Kaltim dengan tas Cars yang terlalu besar, penjual bakpau hangat di emper toko, tukang sapu yang membersihkan taman kota. Entah bagaimana, semuanya menimbulkan rasa hangat di hati. Lalu sesampainya di kantor, tersambung dengan internet, melihat foto-foto langit rasa vanilla di flickr, mendapat sms-sms manis dari teman-teman. Menyenangkan. Aku senaaaang :)

Tentang Rasa
Perasaan itu, ternyata bisa ditipu. Saat merasa sedih, saat merasa sendiri, saat merasa semua sepertinya meninggalkan kita (dan bahkan Tuhan juga), lalu kita tersenyum, lalu kita meraih toples berisi Chitato dan menyalakan televisi, menonton beberapa film di HBO (semalam saya marathon The Ugly Truth, When In Rome, dan Couple's Retreat, serangkaian film yang kebetulan romantis) berbaring sambil memerintah tubuh kita 'rileks, rileks' maka perasaan kita akan membaik dan melupakan warna kelam yang tadi menyelimutinya. Walaupun seorang teman pernah bilang, orang yang bahagia nggak akan bilang 'aku bahagia' atau sekedar bertanya 'apakah aku bahagia'. Yang pertama adalah semacam penyangkalan, dan yang kedua adalah tanda bahwa dia sudah tidak bahagia. Saya percaya itu. Tapi saya juga percaya bahwa berusaha untuk terlihat bahagia bukan sekedar manupulasi, tapi juga wujud rasa syukur, pasrah, penerimaan. Ah, entahlah. Yang jelas, saya memilih untuk mencoba bahagia.

Tentang Prioritas
Akhirnya saya menyerah. Akhirnya saya sadar bahwa, walaupun ada seorang perempuan yang bisa menjadi cantik, pintar, menyenangkan, religius, anak baik-baik dari keluarga bahagia, punya hubungan yang mengagumkan dengan suami/pacar, sukses dalam pekerjaan, punya teman-teman yang menyenangkan dan bervariasi (mungkin teman main tenis, teman fitness, teman dari klub fotografi, teman ke salon dan sebagainya), dan sepertinya bisa melakukan segala hal, mulai dari menyanyi dengan skor 99 di Happy Puppy sampai memasak kepiting saos Padang, tapi, saya tidak akan bisa menjadi perempuan itu. Saya tidak bisa melakukan segala hal atau menyenangkan semua orang. Saya tidak bisa menjaga semuanya selalu seimbang dalam komposisi yang sama. Saat saya memutuskan untuk menjadi anak yang baik bagi orangtua saya dan kakak yang baik bagi adik-adik saya, saat itu mungkin saya menjadi teman yang mengabaikan sahabat terbaiknya. Saat saya memutuskan untuk menjadi yang terbaik dalam pekerjaan saya, saat itu saya mungkin mengurangi perhatian saya kepada pasangan, dan saat saya berusaha menjadi teman dan pacar yang baik secara seimbang, mungkin, saya menelantarkan diri sendiri. Saya harus memilih. Harus merelakan, harus mengorbankan. Tapi, walaupun tidak akan mungkin seimbang, saya akan berusaha, melakukan yang terbaik, memberikan yang terbaik, walaupun bagi mereka, mungkin bukan yang terbaik.

Tentang Mencintai Diri Sendiri
Udik, sahabat yang sudah seperti adik sendiri, pernah bilang bahwa kunci kebahagiaan adalah, jangan terlalu banyak memikirkan orang lain. Jangan pernah berpikir bahwa kebahagiaan atau kesedihan orang lain adalah tanggung jawab kita. Pilihlah yang terbaik, pilihlah apa yang benar-benar diinginkan dan buanglah sisanya, jangan pernah khawatir apa yang kita lakukan mungkin membuat orang lain sedih atau bahagia. Kebahagiaan setiap orang adalah tanggung jawabnya masing-masing. Dan kalau kita terlalu banyak berpikir, kita tidak akan ke mana-mana. Walaupun terdengar egois, tapi memang, kebahagiaan kita adalah yang terpenting (jika kamu memilih bahwa kebahagiaanmu adalah melihat semua orang bahagia, maka itulah yang terpenting). Dan ingatlah bahwa, orang-orang yang benar-benar mencintaimu akan bahagia melihatmu bahagia.

Semoga semua makhluk berbahagia.

23 February 2011

Keseimbangan


Ternyata ya, saya nggak bakat jadi wanita karir, apalagi yang workaholic. Sama sekali.

Ternyata ya, saya nggak cocok jadi auditor. Nggak sedikit pun.

Duh, pengen nangis bombay rasanya. Pengen jadi ibu rumah tangga aja, tapi bagaimana mungkin, berumah tangga saja aku sulit. Lagipula tugas ibu rumah tangga kan juga berat, belum tentu nanti rasanya lebih menyenangkan dibandingkan jadi wanita bekerja.

Padahal ya, rasanya, menjadi wanita bekerja itu impian saya sejak masih kanak-kanak. Dan menjadi auditor itu cita-cita saya sejak kuliah semester pertama. Sekarang, saya rasa saya mulai membenci pekerjaan saya. Benci tidur sebulan penuh di hotel, kerja pagi pulang malam, berinteraksi hanya dengan teman satu tim, tanpa kesempatan ngopi-ngopi cantik atau ngerumpi dengan teman-teman dekat walau di hari Sabtu Minggu. Apalagi kalau kota tempat penugasannya terpencil, lengkap sudah penderitaan. Seminggu pertama masih berasa piknik, minggu kedua mulai bosan dan minggu keempat sudah tak sabar pulang. Pergi tugas ke luar kota selama sebulan itu sama sekali tidak menyenangkan buat saya, kenapa? Karena perginya bukan sama keluarga, pasangan, atau teman sehati sejiwa. Tidak menyenangkan rasanya bekerja dengan tekanan, jauh dari semua orang di kehidupan sosial kita. Rasanya jauh lebih baik kerja lembur di kantor tapi begitu pulang, atau di akhir pekan, bisa memberi makan jiwa kita dengan jalan-jalan atau sekedar ngobrol dengan teman-teman terdekat.

Ternyata, saya tidak siap mengorbankan kebahagiaan-kebahagiaan kecil dan besar saya, seperti nonton setumpuk dvd malam-malam sebelum tidur, jogging pagi di hari Sabtu, merawat diri di salon, kumpul sama teman-teman, dan kencan dengan pasangan, demi karir.

Dan tahun ini, di tahun pertama saya bekerja kembali di kantor, saya sudah membulatkan tekad untuk mengajukan pencabutan jabatan fungsional auditor. Saya akan menjadi staf bagian apa saja, apa pun tugasnya, mungkin hanya menjawab telepon atau mencatat surat masuk, dan saya berjanji akan menjalaninya segembira mungkin. Walaupun bagi banyak orang aneh, biarlah. Mungkin saya sudah sampai pada titik di mana saya merasa bahwa apa yang saya korbankan dengan tidak menjadi auditor lebih kecil daripada apa yang harus saya korbankan dengan tetap menjadi auditor.

Dan saya sangat bahagia karena sekali ini, orang tua saya, setelah banyak sekali keputusan saya yang tidak mereka dukung, untuk hal ini mendukung sepenuhnya. Ayah saya bahkan berkata bahwa tidak ada pekerjaan yang jelek, tidak ada pekerjaan yang rendah, selama kita memberikan yang terbaik.


Ini memang keputusan yang aneh, kalau saya menengok empat tahun ke belakang. Saya menjadi tepat seperti yang saya inginkan bertahun-tahun yang lalu, tapi ternyata, sekarang saya tidak menginginkannya lagi. Dan walaupun sekarang saya mulai membayangkan seperti apa pekerjaan yang saya inginkan di masa depan, mungkin saja kelak saya tidak menginginkannya lagi, atau ternyata pekerjaan itu tidak semenarik yang saya bayangkan. Tapi, mungkin memang begitulah manusia. Bukan tak pernah puas, hanya saja, saya, seperti juga orang lain, terus berubah, hingga apa yang hari ini begitu menarik, besok terasa membosankan.

Yah, tapi memang begitulah hidup kan? Seperti menaiki sepeda, agar keseimbangan tetap terjaga, kita harus terus mengayuhnya.

18 February 2011

Aku Mencintaimu, Sampai Perih Hatiku

gambar kami berdua, oleh Mr Defender, liburan yang lalu di pulau parai kumala
Cinta itu membuat hati jadi lembut, seperti es krim yang memakai susu skim. Di saat yang sama cinta juga menguatkan, membuat setiap mereka yang jatuh cinta rela menerjang kebakaran di depan mata, demi orang(orang) tersayang.

Cinta itu menyejukkan, membuat hati menjadi tenang, tidak peduli masalah seperti apa yang kita hadapi dalam pekerjaan, keluarga, dan orang-orang sekitar yang tak selamanya menyenangkan. Cinta menjadikan kita berani mengambil resiko, keluar dari zona nyaman dan bernegosiasi dengan penghalang-penghalang yang ada.

Harga cinta, untuk masing-masing orang tak pernah sama. Ada yang harus memperjuangkannya melalui perdebatan panjang sampai mulut berbusa dengan sahabat-sahabatnya ada yang harus menukar keyakinannya, ada yang harus melintasi setengah bola dunia, ada yang harus terbuang dan tak lagi tercatat di daftar nama keluarga. Tapi, tak ada cinta yang lebih berharga atau kurang berharga dibanding yang lain. Semuanya sama, perasaan lengkap, utuh, perasaan bahwa kita tak perlu takut berbuat bodoh atau kesalahan sebesar apa pun karena tahu pasti ada seseorang yang menerima kita, apa adanya, klise seperti buku dongeng.

Cinta, akan kuberikan bagi hatimu yang damai.

16 February 2011

Hatiku Membiru

gambar dari sini

Ini adalah sebuah notes yang saya temukan ketika membuka kembali facebook saya setelah sekian lama.

maaf...

by Wulan Hermawati on Thursday, August 6, 2009 at 2:02pm
kepada semuanya. untuk spedometer semangat saya yang terus menurun dalam setengah tahun ini.

maaf untuk teman-teman sekelompok saya di perkuliahan, atas segala kinerja dan sumbangsih yang tak pernah maksimal. sungguh, tak pernah, bukannya hampir tak pernah. maafkan kalau saya jadi sama rendahnya dengan mereka yang bikin PT KAI rugi dengan tak bayar karcis kereta api alias free rider. maaf, maaf, maaf.

maaf untuk bapak dan ibu dosen, khususnya dosen-dosen semester ini, yang begitu antusias dan penuh dedikasi. maaf untuk tidak menghargai perjuangan bapak mengendarai kuda besi dari kelapa gading ke bintaro, untuk pengorbanan bapak yang lain lagi bermain sirkus dengan waktu sebab jadwalnya yang padat, dan bapak ibu yang lain yang tak kalah menginspirasi, maaf jika semua itu hanya terbalas dengan tatapan kosong dan pikiran yang entah kemana melajunya. eh, tapi mungkin juga saya ge-er, memangnya mereka datang cuma buat saya?

maaf untuk stapala. yang dulu jadi salah satu alasan yang memanggil-manggil saya kembali, menabuh hati dengan rindu yang bertalu. sekarang, setelah dekat, entah mengapa saya tak lagi rindu. eh, bukan tak rindu sih, mungkin saya malah semakin rindu. tapi, rindu ini rindu yang menjauhkan, bukan yang membuat saya ingin selalu dekat dan tak ingin pergi dari posko. entahlah, semuanya tak lagi terasa menggairahkan. saya tak tahu di mana yang salah, tapi saya tak suka merasa menjadi orang asing yang tak bisa orientasi medan di rumah sendiri. mungkin semuanya kembali ke semangat, dan saya hampir di titik kosong. jangankan untuk naik gunung atau turun ke gua, untuk amanah-amanah lain yang diberikan kepada saya pun, banyak yang belum terselesaikan. maafkan, stapalaku. maafkan saya yang cuma bisa meminta maaf. saya tak enak pada adik-adik yang minta transfer ilmu rescue tali tegang. saya tak enak pada adik yang berulang kali menanyakan standar kemampuan teknis yang masih belum jadi. saya tak enak ketika ada undangan rapat atau permintaan bantuan untuk outbound, namun di saat itu saya harus mengerjakan tugas kuliah. dan ini bukan salah tugas kuliah, sebab harusnya mereka sudah selesai saat adik-adik mengundang saya ke posko. ah, maaf. maaf. maaf. bukannya saya tak suka posko bersih dan rapi sampai bisa dijilat. tak ada yang bisa dijelaskan mengapa posko tak terasa lagi seperti rumah, dan bukan salah siapa-siapa. perasaan tak bisa dipaksakan bukan? saya tak ingin mencari analogi. sungguh saya tak ingin tahu sebabnya. saya tak ingin membenci apapun.

maaf untuk dia yang sedang belajar english grammar dari saya, yang bahan ajarnya selalu tertunda dan sekarang berhenti sama sekali. tapi aku berjanji, semuanya akan kuganti di lain hari.

maaf untuk semuanya yang ada di sekitar saya, karena untuk tersenyum pun aku tak ada semangat. maaf untuk segala ketidakramahan dan ketidakwelcome-an saya. maaf.

dan saya tak tahu lagi pada siapa harus meminta maaf, bukan karena tak ada lagi, tapi karena banyaknya. dan maaf tak pernah menggantikan apapun, saya tahu. tapi semoga kalian semua dan mereka semua memaafkan saya. amin.
Saat membaca ini, ada sesuatu yang menyentuh perasaan saya. Sesuatu yang kurang lebih sama persis dengan yang saya rasakan ketika saya menulis notes itu. Perasaan yang kurang lebih sama dengan yang saya rasakan sekarang, rasa bersalah dan sesal kepada teman-teman, pekerjaan, rekan kerja, keluarga, pasangan, dan bahkan, kadang, pada diri sendiri.

Saat ini, saya merasa tertinggal dalam banyak hal, dan seperti dulu saat saya menulis notes ini, rasanya sulit mengembalikan spedometer semangat saya ke puncak, seperti yang saya alami saat pertama kali saya terbang ke Samarinda. Saat itu, perasaan semangat untuk tinggal sekota dengan pasangan, mulai bekerja setelah lulus kuliah, bertemu dengan salah satu sahabat yang tinggal di kota tetangga, kota baru, menemukan teman-teman dan petualangan baru sangat menguasai saya. Saya ingin melakukan banyak hal, saya membuat agenda dalam hati saya.

Sekarang, sebulan dari saat itu, lihatlah betapa saya berada di titik yang jauh dari harapan. Pekerjaan, yang langsung menyambut saya dengan keras, tidak begitu maksimal dapat saya kerjakan. Saya kecewa, merasa lemah, dan lebih dari semuanya saya merasa bersalah. Saya, yang membuat janji pada diri sendiri untuk mencari teman baru, ternyata karena tidak semudah itu beradaptasi, menjadi sangat tergantung pada pasangan, yang akhirnya membuat saya frustrasi. Kota tempat tinggal sahabat saya, yang jauhnya hanya tiga jam perjalanan, terasa sangat jauh untuk dikunjungi setiap minggu, dan saya selalu kesulitan menemukan jadwal untuk menemuinya. Sepeda saya, kamera saya, kertas-kertas dan kain flanel yang biasanya menjadi pelampiasan kesuntukan saya, sama sekali tidak menggerakkan tangan saya untuk meraihnya. Saya selalu pulang dengan kelelahan, bahkan hanya untuk sekedar memasak makanan sehat untuk diri sendiri.

Saya lelah. Juga karena meskipun tinggal sekota, namun pekerjaan saya dan pasangan membuat kami tak bisa bertemu sebulan ke depan. Saya sedih, tapi saya bisa apa? Hidup ini keras, dan harus dijalani. hidup tidak ramah pada mereka yang lemah dan mengeluh.

Maaf, kali ini bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk seseorang yang penuh semangat di dalam diri saya, yang saya selalu membunuhnya, berkali-kali.