Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2011

Tanpa Alasan Khusus

Sebagai penjelasan yang (mungkin) ditunggu oleh teman-teman yang kemarin sempat tahu bahwa kami, saya dan Mr Defender, sedang mempersiapkan pernikahan (dan menanti undangan yang tak kunjung datang) maka saya merasa perlu memberitahukan bahwa kami sepakat untuk menunda menikah dalam waktu yang belum ditentukan.

Kalau di antara teman-teman ada yang bertanya mengapa, atau lebih tepatnya ada apa, maka kami akan menjawab, tidak ada apa-apa. Pernikahan, memang kami tunda, tapi bukan karena alasan finansial (walaupun ya, saya dan dia memang kebetulan sama-sama sedang dalam kondisi finansial kurang bagus), bukan karena ada masalah dengan keluarga (bukan berarti masalah itu tidak ada, tapi bukan itu penyebab tertundanya pernikahan kami), juga bukan karena kami mendadak tidak yakin pada satu sama lain.

Kami menunda karena belum siap (klise bukan). Atau tepatnya belum ingin. Tentu saja kami masih saling mencintai dan ingin menikah, suatu hari nanti. Tapi sekarang, kami merasa cukup nyaman denga…

Ha-ha!

Saya sedang dalam tahap belajar untuk bisa menertawakan segala hal, yang paling menyebalkan sekalipun. Ini seiring sejalan dengan tekad untuk selalu bersyukur dalam kesulitan seberat apa pun. Karena, saya ingin panjang umur, tetap cantik dan tidak keriput :)
Jadi, daripada bergabung dengan mereka yang mengeluh gara-gara setiap hari Jumat bapak bos yang agak aneh mewajibkan semuanya senam pagi, saya memilih untuk menertawakan gerakan senam si bapak dan mengamati baju olahraga siapa paling kedodoran atau kesempitan sampai terlihat seperti lemper. Ingat ya, menertawakannya dalam hati, atau kalaupun sampai tertawa keras, simpanlah untuk sendiri. Tidak perlu jadi nyinyir dengan mengomentari atau mengajak teman sebelah bertukar pikiran, karena kalau sudah melibatkan orang lain, nanti jatuhnya sama saja dengan yang mengeluh, capek di hati.
Yuk, cari hal baru untuk ditertawakan.

Surat Cinta di Sore yang Cerah

Hai Mr Defender.
Iya.
Aku tidak punya sesuatu yang spesifik yang padanya aku tergila-gila. Aku suka John Mayer, tapi tidak menggilainya. Aku suka seafood, tapi aku bisa berhenti makan udang untuk selamanya kalau memang harus. Aku suka lagu-lagu Adhitia Sofyan, tapi tidak semua. Suka sepatu-sepatu lucu dari Wondershoe, tapi yang seratus ribu tiga pun tak mengapa. Aku suka mendaki gunung, juga suka belanja, keduanya olahraga kaki dan angkat beban bukan? :D Aku tidak suka naik pesawat, lebih suka susu dibandingkan kopi, suka parfum wangi citrus tapi memakai wangi musk. Aku selalu menggumamkan lagu saat jalan kaki atau mengendarai sesuatu, tapi saat jogging aku memasang musik dari ipod. Aku suka main keyboard, aku belajar main biola dan baru tau beberapa bulan yang lalu kalau biola tidak punya fret.  Aku suka bermain dengan kain felt, namun tak pernah bisa menciptakan sesuatu yang lucu dan orisinal. Aku suka seluruh dunia ini, namun tidak ada seujung kuku pun dari cintamu pada futsal, at…

Tentang Cinta yang Menjadi Rasa Takutmu *

Kamu, adalah orang yang paling takut mencintai dan dicintai, yang aku kenal. Kamu mengurung diri di dalam ruangan gelap, mengunci pintunya dengan anak kunci tanpa duplikat, dan menyimpannya rapat dalam saku, berharap cinta tak akan pernah menemukanmu. 
Kamu bergaul, mengenal semua orang di sekitarmu dengan menutup hati rapat-rapat, berkencan, bercumbu, lalu pergi seperti pria brengsek, bertemu lagi dengan orang baru dan menjalani siklus itu. Mungkin, jika kamu memberi mereka kesempatan, salah satu dari mereka, mungkin punya duplikat kunci ruang gelapmu, atau menawarkan diri untuk mendobraknya dengan paksa dan mengeluarkan kamu dari sana. Tapi, kamu tidak mau.
Mungkin, seandainya mereka tahu, mereka akan mengulurkan tangan walau tak kamu sambut, mereka akan bertahan sedikit lebih lama tanpa mengumpat, dan akhirnya, ada di antara mereka yang akan menjadi orang yang menangkapmu kapanpun kamu terjatuh. Memberikan tangan, cinta, hati, dan seluruh hidupnya, menukarnya dengan segala beban d…

Kopi Pagi Ini

Setiap pagi, seperti biasa dijalani setiap hari, adalah saat memulai kehidupan baru. Kalau kata Sudjiwo Tedjo, setiap pagi ketika bangun pagi adalah saatnya bagi kita untuk bertanya kepada diri sendiri 'apakah hari ini masih layak dijalani?' dan saatnya mendaftar, apa saja hal yang membuat kita harus tetap hidup hari ini (dan alasannya tidak termasuk 'bunuh diri itu dosa'). Jika hidup kita memang masih layak untuk dijalani, maka lanjutkanlah hari ini dengan penuh semangat. Jika memang tidak bisa menemukan satu alasan pun untuk menjalani hidup ini, maka tanpa bunuh diri pun, kita sesungguhnya telah mati.
Bagi sebagian besar orang, hidup mungkin sudah menjadi rutinitas dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi. Kita bangun, beribadah, mandi, pergi ke kantor atau kuliah atau mengurus rumah, makan, dan seterusnya, karena setiap hari yang kita jalani memang harus begitu. Karena kebiasaan. Dan tanpa kita sadari hari sudah berlalu tanpa menyisakan apa-apa di hati kita. Dan…

Yang Nomor Satu

Sepanjang hidup, kita masih akan terus bercerita, tentang mimpi-mimpi kita, yang sebagian di antaranya, kita tahu pasti tak akan jadi nyata. Tentang harapan-harapan, tentang dunia yang lebih indah, yang kita berharap lahir di sana. Tentang dunia, yang tak habis-habis kita tertawakan. Kadang kita bertengkar tentang apakah MU atau Liverpool yang akan jadi juara. Kadang kita memilih kota yang berbeda saat liburan tiba. Kita tak selalu menyukai film yang sama, dan aku membenci Slash yang kamu puja. Namun entah bagaimana aku tak pernah bosan dengan semua pertengkaran kita tentang Tuhan, lagu, buku, dan sepatu. Seperti kamu yang tak  pernah memprotes aku yang melupakan tanggal ulangtahunmu, aku pun akan menerima, kalau seumur hidup kita, kamu tetap memilih tidur dibanding jogging pagi. Dan aku akan tetap mendengarkan semua rekaman gitarmu, bahkan yang aku paling tidak mengerti. Dan, yakinlah, bahwa sebagaimana aku pengkritik terbesarmu, aku juga fansmu yang nomor satu. Kita bagaikan dua h…

Dari Lini Khatulistiwa

Halo semuanya! Ini posting pertama saya di tahun 2011 (tahun yang masih terasa aneh untuk ditulis dan diucapkan) dan posting pertama saya dari Borneo. Akhirnya, setelah akhirnya lulus kuliah dan menjadi sarjana, setelah dua tahun menjalin hubungan jarak jauh yang penuh tawa dan (tapi lebih banyak) keluhan dan air mata, ternyata tanpa disangka-sangka, di awal tahun ini begitu cepat dan mudah proses saya menuju Samarinda, tinggal dan berkantor di sini.


Di samping proses pindahan yang menghabiskan banyak biaya, tenaga, dan psikis saya, perjalanan udara yang seperti biasa membuat saya nervous, proses adaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, kerepotan mencari tempat kos baru dan mengisinya dengan perabotan, dan sebagainya dan sebagainya, saya bahagia. Sangat bahagia, sampai-sampai semua orang bilang wajah saya selalu berseri-seri, bahkan di hari Senin pertama saya masuk kantor. Rasanya seperti mimpi, bisa bertemu Mr Defender setiap hari, bisa pulang kantor bersama, bisa kencan di ha…