31 January 2011

Tanpa Alasan Khusus

Sebagai penjelasan yang (mungkin) ditunggu oleh teman-teman yang kemarin sempat tahu bahwa kami, saya dan Mr Defender, sedang mempersiapkan pernikahan (dan menanti undangan yang tak kunjung datang) maka saya merasa perlu memberitahukan bahwa kami sepakat untuk menunda menikah dalam waktu yang belum ditentukan.

Kalau di antara teman-teman ada yang bertanya mengapa, atau lebih tepatnya ada apa, maka kami akan menjawab, tidak ada apa-apa. Pernikahan, memang kami tunda, tapi bukan karena alasan finansial (walaupun ya, saya dan dia memang kebetulan sama-sama sedang dalam kondisi finansial kurang bagus), bukan karena ada masalah dengan keluarga (bukan berarti masalah itu tidak ada, tapi bukan itu penyebab tertundanya pernikahan kami), juga bukan karena kami mendadak tidak yakin pada satu sama lain.

Kami menunda karena belum siap (klise bukan). Atau tepatnya belum ingin. Tentu saja kami masih saling mencintai dan ingin menikah, suatu hari nanti. Tapi sekarang, kami merasa cukup nyaman dengan status saat ini. Cukup puas dengan hak dan kewajiban terhadap satu sama lain yang saat ini. Bukan berarti kami tidak percaya dengan lembaga pernikahan (kepada mereka yang menanyakan ini) tapi kami belum siap dengan segala konsekuensi yang mungkin timbul. Kami tidak keberatan disebut pengecut atau cemen. Kami tidak ingin menikah karena pertimbangan terburu-buru atau karena semua teman yang seumuran sudah menikah. Kami percaya, segala sesuatu telah diatur tempat dan waktunya, dan saat ini, mungkin bukan waktu yang tepat.

Bukan berarti kami akan menunda dalam waktu yang lama sekali. Bisa saja, lusa atau minggu depan, atau bulan depan, atau beberapa tahun ke depan, kami memutuskan bahwa akhirnya kami siap. Sampai saat itu tiba, biarlah kami begini saja.

21 January 2011

Ha-ha!

Saya sedang dalam tahap belajar untuk bisa menertawakan segala hal, yang paling menyebalkan sekalipun. Ini seiring sejalan dengan tekad untuk selalu bersyukur dalam kesulitan seberat apa pun. Karena, saya ingin panjang umur, tetap cantik dan tidak keriput :)

Jadi, daripada bergabung dengan mereka yang mengeluh gara-gara setiap hari Jumat bapak bos yang agak aneh mewajibkan semuanya senam pagi, saya memilih untuk menertawakan gerakan senam si bapak dan mengamati baju olahraga siapa paling kedodoran atau kesempitan sampai terlihat seperti lemper. Ingat ya, menertawakannya dalam hati, atau kalaupun sampai tertawa keras, simpanlah untuk sendiri. Tidak perlu jadi nyinyir dengan mengomentari atau mengajak teman sebelah bertukar pikiran, karena kalau sudah melibatkan orang lain, nanti jatuhnya sama saja dengan yang mengeluh, capek di hati.

Yuk, cari hal baru untuk ditertawakan.

20 January 2011

Surat Cinta di Sore yang Cerah


Hai Mr Defender.
Iya.
Aku tidak punya sesuatu yang spesifik yang padanya aku tergila-gila.
Aku suka John Mayer, tapi tidak menggilainya. Aku suka seafood, tapi aku bisa berhenti makan udang untuk selamanya kalau memang harus.
Aku suka lagu-lagu Adhitia Sofyan, tapi tidak semua. Suka sepatu-sepatu lucu dari Wondershoe, tapi yang seratus ribu tiga pun tak mengapa.
Aku suka mendaki gunung, juga suka belanja, keduanya olahraga kaki dan angkat beban bukan? :D
Aku tidak suka naik pesawat, lebih suka susu dibandingkan kopi, suka parfum wangi citrus tapi memakai wangi musk. Aku selalu menggumamkan lagu saat jalan kaki atau mengendarai sesuatu, tapi saat jogging aku memasang musik dari ipod.
Aku suka main keyboard, aku belajar main biola dan baru tau beberapa bulan yang lalu kalau biola tidak punya fret. 
Aku suka bermain dengan kain felt, namun tak pernah bisa menciptakan sesuatu yang lucu dan orisinal.
Aku suka seluruh dunia ini, namun tidak ada seujung kuku pun dari cintamu pada futsal, atau Liverpool, atau gitar, atau apa saja yang kamu suka.
Karena itulah, mungkin kamu merasa kamu bukan sepatu favoritku (ah, aku tidak punya sepatu favorit. aku menyambar yang mana saja yang kelihatan menarik di rak). Bukan barang kesayangan yang kujaga dengan hati-hati (kalau kamu ingat lagi, aku menjatuhkan 5800 express music-ku lebih dari lima kali sehari). Dan sebagainya.
Tapi kamu salah.
Kamu mainan kesayanganku. Setiap waktu.

Tentang Cinta yang Menjadi Rasa Takutmu *

gambar dari sini
Kamu, adalah orang yang paling takut mencintai dan dicintai, yang aku kenal. Kamu mengurung diri di dalam ruangan gelap, mengunci pintunya dengan anak kunci tanpa duplikat, dan menyimpannya rapat dalam saku, berharap cinta tak akan pernah menemukanmu. 

Kamu bergaul, mengenal semua orang di sekitarmu dengan menutup hati rapat-rapat, berkencan, bercumbu, lalu pergi seperti pria brengsek, bertemu lagi dengan orang baru dan menjalani siklus itu. Mungkin, jika kamu memberi mereka kesempatan, salah satu dari mereka, mungkin punya duplikat kunci ruang gelapmu, atau menawarkan diri untuk mendobraknya dengan paksa dan mengeluarkan kamu dari sana. Tapi, kamu tidak mau.

Mungkin, seandainya mereka tahu, mereka akan mengulurkan tangan walau tak kamu sambut, mereka akan bertahan sedikit lebih lama tanpa mengumpat, dan akhirnya, ada di antara mereka yang akan menjadi orang yang menangkapmu kapanpun kamu terjatuh. Memberikan tangan, cinta, hati, dan seluruh hidupnya, menukarnya dengan segala beban dan kebencianmu.

Mungkin, andaikan saja kamu memberi kesempatan.

*) dari salah satu lirik lagu Melancolic Bitch

Kopi Pagi Ini

gambar dari sini
Setiap pagi, seperti biasa dijalani setiap hari, adalah saat memulai kehidupan baru. Kalau kata Sudjiwo Tedjo, setiap pagi ketika bangun pagi adalah saatnya bagi kita untuk bertanya kepada diri sendiri 'apakah hari ini masih layak dijalani?' dan saatnya mendaftar, apa saja hal yang membuat kita harus tetap hidup hari ini (dan alasannya tidak termasuk 'bunuh diri itu dosa'). Jika hidup kita memang masih layak untuk dijalani, maka lanjutkanlah hari ini dengan penuh semangat. Jika memang tidak bisa menemukan satu alasan pun untuk menjalani hidup ini, maka tanpa bunuh diri pun, kita sesungguhnya telah mati.

Bagi sebagian besar orang, hidup mungkin sudah menjadi rutinitas dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi. Kita bangun, beribadah, mandi, pergi ke kantor atau kuliah atau mengurus rumah, makan, dan seterusnya, karena setiap hari yang kita jalani memang harus begitu. Karena kebiasaan. Dan tanpa kita sadari hari sudah berlalu tanpa menyisakan apa-apa di hati kita. Dan umur kita terbuang lagi, sia-sia, sehari ini.

Sejak beberapa waktu yang lalu, saya berjanji pada seseorang di dalam tubuh saya, untuk benar-benar menikmati hidup, dengan cara yang saya mau. Dan pada pasal berikutnya saya tambahkan, bahwa kalaupun saya, karena satu dan lain hal tidak bisa hidup dengan cara yang saya mau, saya akan tetap menikmatinya, dengan cara yang akan saya temukan sendiri. Itulah saat saya memutuskan untuk membuang semua target dan perbandingan yang menyakiti diri sendiri, dan menjalani hidup sesuai keinginan saya. Itulah saat saya tidak pernah mengkhawatirkan kapan saya bisa mulai kredit rumah atau memiliki portofolio investasi, asalkan saya punya cukup uang untuk perjalanan yang nyaman mendaki Rinjani atau Kinibalu. Itulah saat saya berhenti merasa bersalah menghabiskan hampir seluruh tabungan untuk membeli sepeda lipat yang benar-benar saya inginkan. Berhenti mengharuskan diri menyukai semua band atau penyanyi yang muncul di Rolling Stones, dan mendengar apa yang benar-benar saya suka saja. Saya tidak lagi takut untuk dikucilkan oleh mereka yang mayoritas, juga tidak takut untuk dianggap tidak keren oleh mereka yang minoritas. Saya akan memilih, dari seluruh hal, yang benar-benar saya suka. Saya tidak merasa bodoh karena menganggap Efek Rumah Kaca biasa-biasa saja, tidak merasa malu menyukai komedi romantis Hollywood, dan tidak merasa ke-keren-an diri saya berkurang dengan tidak menonton Glee.

Saya, secara ajaib, tidak lagi khawatir pada apa pun penilaian orang, begitu saya berhenti membandingkan diri saya dengan semua orang. Saya tidak panik meskipun teman yang kuliahnya seangkatan sudah bisa beli ini itu, tidak juga merasa perlu buru-buru menikah karena hampir semua teman dekat saya yang seumuran sudah berkeluarga. Tidak merasa iri dengan mereka yang bisa liburan keluar negeri atau selalu nonton konser band kesukaan. Jangan salah sangka, saya tetap menganggap semua itu keren dan menyenangkan, dan saya juga menginginkannya, hanya saja, saya telah berhenti membandingkan, berhenti mewajibkan diri begitu karena yang lain juga begitu. Saya ingin merasa merdeka, menentukan tujuan hidup dengan cara menengok ke dalam hati, menanyakan kepada diri sendiri yang paling sejati, apakah yang sungguh-sungguh ingin saya capai dalam hidup ini, dan berhenti membuat target hidup dengan cara melihat kepada orang lain yang saya anggap sukses ataupun dari panduan tabloid wanita dan majalah keuangan. Dan kalaupun nantinya tujuan hidup saya sama persis atau sangat berbeda dengan panduan, itu akan menjadi kebetulan saja, dan tidak berpengaruh apa-apa pada diri saya.

Jadi, hari ini, saya tetap menemukan hal-hal kecil yang membahagiakan dari rutinitas harian saya. Sensasi  segar jeruk dari sabun baru saya, perasaan cantik saat memakai rok kembang-kembang ke kantor, nikmatnya suapan pertama sarapan hari ini. Walaupun dengan meminum kopi yang sama, membaca koran pagi yang sama, kantor dan orang-orang yang sama, selalu ada kegembiraan kecil (dan yang besar) yang telah disiapkan Tuhan buat saya (dan semua orang) di hari ini, dan setiap hari berikutnya. Dan jika kita bergegas terlalu cepat, kita mungkin terlewat untuk menangkapnya.

Selamat berhari Kamis.

19 January 2011

yang nomor satu


Sepanjang hidup, kita masih akan terus bercerita,
tentang mimpi-mimpi kita, yang sebagian di antaranya,
kita tahu pasti tak akan jadi nyata.
Tentang harapan-harapan, tentang dunia yang lebih indah,
yang kita berharap lahir di sana.
Tentang dunia, yang tak habis-habis kita tertawakan.
Kadang kita bertengkar tentang apakah MU atau Liverpool yang akan jadi juara.
Kadang kita memilih kota yang berbeda saat liburan tiba.
Kita tak selalu menyukai film yang sama,
dan aku membenci Slash yang kamu puja.
Namun entah bagaimana aku tak pernah bosan
dengan semua pertengkaran kita tentang Tuhan, lagu, buku, dan sepatu.
Seperti kamu yang tak  pernah memprotes aku yang melupakan tanggal ulangtahunmu,
aku pun akan menerima, kalau seumur hidup kita,
kamu tetap memilih tidur dibanding jogging pagi.
Dan aku akan tetap mendengarkan semua rekaman gitarmu,
bahkan yang aku paling tidak mengerti.
Dan, yakinlah,
bahwa sebagaimana aku pengkritik terbesarmu,
aku juga fansmu yang nomor satu.
Kita bagaikan dua himpunan yang sangat berbeda,
dengan satu irisan kecil di antaranya.
Dan kita telah sepakat,
walaupun kita tak akan bisa menikmati hidup dengan cara yang tepat sama,
namun kita tak akan sanggup menjalani hidup, bila tak bersama.
Aku mencintaimu, sebesar aku tahu dan yakin pasti,
kamu pun mencintaiku.

18 January 2011

Dari Lini Khatulistiwa

Jembatan Mahakam Hulu
Halo semuanya! Ini posting pertama saya di tahun 2011 (tahun yang masih terasa aneh untuk ditulis dan diucapkan) dan posting pertama saya dari Borneo. Akhirnya, setelah akhirnya lulus kuliah dan menjadi sarjana, setelah dua tahun menjalin hubungan jarak jauh yang penuh tawa dan (tapi lebih banyak) keluhan dan air mata, ternyata tanpa disangka-sangka, di awal tahun ini begitu cepat dan mudah proses saya menuju Samarinda, tinggal dan berkantor di sini.


Di samping proses pindahan yang menghabiskan banyak biaya, tenaga, dan psikis saya, perjalanan udara yang seperti biasa membuat saya nervous, proses adaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, kerepotan mencari tempat kos baru dan mengisinya dengan perabotan, dan sebagainya dan sebagainya, saya bahagia. Sangat bahagia, sampai-sampai semua orang bilang wajah saya selalu berseri-seri, bahkan di hari Senin pertama saya masuk kantor. Rasanya seperti mimpi, bisa bertemu Mr Defender setiap hari, bisa pulang kantor bersama, bisa kencan di hari Sabtu dan bermalas-malasan bersama di hari Minggu. Rasanya menyenangkan sekali bisa sesekali sarapan bersama (mencuri-curi beberapa puluh menit jam kerja), membuatkannya bekal makan siang, nonton bioskop yang walaupun sebagian besar filmnya menyisakan tanda seru di kepala bahkan waktu baru membaca judulnya. Berkali-kali saya bilang itu ke Mr Defender, betapa saya sangat bahagia dan semua terasa seperti mimpi, setiap bangun pagi rasanya seperti memulai mimpi indah.


Saya memang benar-benar bahagia, dan penuh energi, sampai-sampai saya tidak mengeluh sama sekali walaupun masih terlantar tanpa unit kerja dan pekerjaan di kantor, juga walaupun saya setengah kesepian karena belum menemukan lagi sahabat-sahabat baru. Saya terlalu gembira untuk mengeluhkan apa pun, dan dalam hati berharap semua ini akan bertahan lama, bukan sekedar euforia bulan pertama. Semoga.