27 December 2011

malam dan segelas bir


Di suatu malam, kamu mengajak saya keluar, minum segelas dua gelas bir atau anggur kolesom cap orang tua. Bicara tentang apa saja, atau bukan tentang apa-apa. Saya tahu itu adalah bahasa kode untuk "aku sedang tidak baik-baik saja, tapi tolong jangan tanya kenapa", maka saya mengambil helm dan duduk di boncengan motormu. Dan mesin pun menderu.

Dalam perjalanan melintas pelabuhan, saya iseng berkomentar tentang seorang lelaki kurus setengah baya yang menyandang tas punggung, menunggu angkutan, ataukah jemputan. "Dia baru datang dari pekerjaannya di rig, dan membawa satu tas penuh uang untuk dihabiskan selama dua minggu sebelum harus pergi lagi selama enam minggu."

Kamu tertawa. "Mungkin dia cuma baru pulang berjualan tiket speed di pelabuhan."

"Kamu kurang imajinasi," kata saya sambil melingkarkan tangan di pinggangmu. "Sedikit khayalan tidak akan membunuh."

"Kalau aku punya setengah saja imajinasimu, aku bisa gila." Kenapa, saya bertanya.

"Hidupku tidak perlu lagi drama."

Lalu senyap hingga botol kedua. 

"Over thinking ruins you. It makes you worry and makes thing worse than it actually is."

"Seperti cerita cabut gigi-nya Dalai Lama..."

Kamu mengambil gelas dari tanganku. "Ayo kuantar pulang."

"Lho, kenapa?"

"Karena kamu sudah sangat mabuk, atau mengantuk sampai tidak bisa membedakan Ajahn Brahm dan Dalai Lama."

Kita tertawa. Kamu tertawa. Dan kita memang mabuk atau mengantuk karena saya tidak ingat meninggalkan helm kesayangan saya di sana. Tapi kamu tak sedih lagi. Dan saya tak bosan lagi.

yang lebih hangat dari minyak telon

Jadi, menurut ayah saya yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat Jawa, hari baik untuk pernikahan saya jatuh pada hari... SELASA. Jengjeng. Sedih dong kami, sebab sudah pasti hampir tak ada teman-teman dekat kami (yang lokasinya sudah di luar kota semua) yang bisa hadir dalam pernikahan kami. Selasa gitu, hari kerja, dan di tengah-tengah pula. kalau misalnya Jumat atau Senin kan masih bisa capcus sehari.

Karena saya dan Mr Defender sudah sepakat bahwa acara pernikahan ini tidak akan menjadi drama (baca: akan sepenuhnya jadi harinya orangtua saya, dan kami akan sebisa mungkin menurut baik soal lokasi, waktu, acara adat, termasuk hal-hal remeh seperti suvenir atau band pengisi acara yang nampaknya sudah pasti gamelan jawa) maka kami tidak memprotes. Apa kata mereka saja deh, lagian kami juga nggak akan bisa mengurus acara itu kan, jadi pasrah total. Lalu kami memberitahukan beberapa teman dekat kami tentang rencana ini, dan jawaban mereka sungguh mengejutkan.

"Aku pasti datang, JANJI, nanti aku pikirin enaknya cutinya Selasa ke belakang atau Jumat ke depan."
(Andi, drummer amatir (^_^) dan pekerja urban berjadwal padat, berlokasi di Jakarta)

"Wah alhamdulillah sudah dapat tanggal, harinya bagus banget lagi karena pas ulang tahunku. Nanti mau dibuatin surat sakit ya buat bolos kalau nggak bisa cuti."
(Yella, calon pegawai yang belum tahu di mana lokasi dia akan bertugas di hari pernikahan saya)

"Aku PASTI datang, sudah kupasang reminder di hapeku biar ingat untuk cuti."
(Prabu, martir kebijakan perekonomian Indonesia, berlokasi di Banten)

"Siap! Kalau nggak terbentur sama jadwal ujian pasti datang kok."
(Hanung, fotografer dan mahasiswa tua, berlokasi di Surabaya)

"Insya Allah dateng. Bener-bener harus dateng."
(Viona, pegawai dan seleb dunia maya, berlokasi di Surabaya)

Saya dipenuhi rasa bahagia yang menghangatkan hati, sebab hari itu saya hanya memberitahukan tanggal pasti pernikahan kami kepada lima orang, dan kelima-limanya tanpa kecuali tidak keberatan untuk menempuh jarak yang jauh dan merelakan tiga hari dari jatah cuti yang hanya dua belas hari setahun (pun masih dipotong cuti bersama) untuk menghadirinya. Well, sebenarnya ada dua orang lagi yang udah dikasih tahu tapi belum merespon, bahkan smsnya pun belum terkirim karena sedang berada di tengah hutan tanpa sinyal, hehehehe. Ditunggu kabarnya ya Mund! 

Dan untuk semua teman-teman lainnya yang saya tahu selalu dengan tulus mendoakan keberhasilan hubungan kami, mereka yang selalu menyemangati dan turut berbahagia dengan rencana pernikahan kami, terima kasih banyak!



Update terbaru:
Jawaban dari Mundhi, pekerja yang berkantor di belantara timur Indonesia: Kenapa sih harinya Selasa? Gak ada pilihan lain apa dari orangtua?

Dan Mr Defender menjawab: Ada beberapa pilihan tanggal Mun, tapi harinya Selasa semua!

Mundhi: ..................................

Hahahaha! Tapi biar begitu Mundhi tetap memastikan datang (dan beserta orang tuanya yang sudah menganggap Mr Defender anak sendiri). Buat saya itu sangat menyentuh hati, apalagi mengingat rute (juga waktu dan biaya) yang akan ditempuh Mundhi untuk menghadiri pernikahan kami: Manado-Makassar-Surabaya-Kediri-Jogja.

Jawaban dari Bustanul, pegawai pajak yang berlokasi di Mamuju:
Insya Allah aku usahain, acaranya di rumahmu?

Saya  hampir nangis loh,  soalnya Mamuju itu kan  jauh banget... plesetan dari maju mundur jurang, dan saya bahkan nggak bisa membayangkan posisinya dalam peta Indonesia dan apakah mata uangnya rupiah atau barter hahaha.

Terima kasih teman-teman semuanya, kalian benar-benar membuat saya bahagia. Bahkan membaca kembali sms-sms kalian pun membuat saya berkaca-kaca.

23 December 2011

ada tangan Tuhan dalam tanganmu yang menyapaku pagi ini

Ada yang mendesak keluar dari dada dan turun ke mata,
di pagi itu, saat dalam senyummu engkau sentuh tanganku,
dan kaukatakan dalam sorotnya yang kautahu aku akan mengerti.
Aku, dan hanya aku, karena itu sudah cukup.
Aku cinta, katanya.
Itu, dan hanya itu, karena sudah lebih dari cukup.
Akan kugali lubang lebih dalam lagi untukmu menumpahkan rindu dan dendam.
Aku berjanji.

15 December 2011

satu kali sebelum semboyan 35


pernah kutanyakan, bagaimana rasanya menjadi saksi jutaan perpisahan.
dan engkau menjawab:
seluruh dindingku adalah deras air mata,
pilar-pilar penyanggaku adalah janji yang menguatkan,
dan bangku-bangku berderet itu,
keping-keping harapan dan penantian.

13 December 2011

musim basah


Desember datang mengantarkan sahabat terbaiknya, Hujan, kepada Bumi yang melayu. Mengembalikan segurat hijau cerah di senyum Bumi, meriuhkan harinya oleh tawa anak-anak kecil yang bermain bola di lapangan becek, di hari ketika Bumi menari bersama Hujan.

Selamat musim hujan bagi yang merayakan. Menyemangati diri untuk menikmati saja, lengkap dengan banjir dan cucian yang tak kering-kering :)

12 December 2011

dan aku akan tetap menjadi diriku, hanya (semoga) lebih baik

Saya pernah bertanya kepada beberapa teman terdekat saya: seandainya suatu hari lo ketemu sama diri lo sendiri sebagai orang lain, lo bakal suka nggak sama diri lo itu?

Sebenarnya itu adalah kegelisahan saya sendiri yang (mungkin) pada saat itu merasa bahwa saya (mungkin) tidak akan menyukai diri saya sendiri seandainya saya ini orang lain. Banyak sifat saya sendiri yang tidak saya sukai, misalnya: saya orang yang nggak bisa menyembunyikan perasaan nggak suka, saya egois, saya sering menilai diri sendiri terlalu tinggi dan sering meremehkan orang (karena kebiasaan menjadi yang nomor satu), saya  bersikap buruk justru pada orang-orang yang paling mencintai saya, saya sering berlebihan menanggapi suatu masalah dan merasa paling malang di dunia, saya hedonis dan belum banyak yang saya lakukan untuk orang lain, dan sebagainya.

Dan yang paling saya benci... saya (kadang) munafik. Dalam banyak hal. Misalnya, saya melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin saya lakukan karena saya pengen dianggap baik. Ini lebih banyak kaitannya dengan perintah agama sih. Dan walaupun itu secara norma baik, tapi hati saya tetap tersiksa karena saya tahu itu bukan saya. Contoh kecilnya, saya sebenarnya sangat ingin memeluk Miki, anjing saya, dan saya sebenarnya tidak keberatan mencuci seluruh tubuh saya tujuh kali termasuk salah satunya dengan tanah setelahnya, namun seringkali tidak saya lakukan lebih karena orang lain merasa itu tidak pantas dilakukan oleh saya yang muslim dan dianggap mengerti agama.

Itu contoh yang kecil tentang hal kecil. Masih banyak lagi kemunafikan saya, dan mungkin tentang hal-hal besar, dan itu sangat menggelisahkan saya karena pada dasarnya saya ingin menjadi diri sendiri dan diterima orang lain sebagai diri saya sendiri. Saya yang (dianggap) tidak menjaga pergaulan dengan lawan jenis karena punya pacar dan berteman akrab dengan cowok-cowok, masih suka ngomongin orang kalau lagi sama sahabat terpercaya, tidak lembut dan sabar hati seperti tokoh utama sinetron Ramadhan, suka datang ke gig musik, termasuk yang kadangkala digelar di pub, tidur setenda dengan teman-teman cewek dan cowok saat naik gunung, ikut meditasi di klenteng, berteman sama orang-orang yang alkoholik, dan memelihara anjing pula. Inilah diri saya yang sebenarnya.

Saya sadar bahwa saya muslim yang memilih untuk melaksanakan perintah agama. Bahwa kemudian ada perintah lain yang saya langgar, bagi saya bukan alasan untuk berhenti melakukan perintah lainnya. Sebab menjadi beragama bukan ijasah kelulusan yang mensyaratkan saya untuk harus sudah menjadi 100% baik ketika memeluknya. Makanya saya tidak setuju dengan yang mengatakan muslim tapi kok begini, solat tapi kok begitu. (Setidaknya bagi saya) setiap perintah agama itu adalah ibadah, sama saja dengan solat, puasa, berinfaq, berbuat baik pada orang tua. Hanya karena kita belum melaksanakan salah satunya, tidak berarti kita harus meninggalkan semuanya kan? Sebagai manusia, sebagai muslim saya terus mencari dan terus berproses, mungkin tidak seluruh prosesnya adalah kemajuan, bisa jadi saya jalan di tempat atau malah mundur, tapi itulah proses saya, dan saya tidak merasa bahwa kesalahan-kesalahan yang saya lakukan adalah aib. Kesalahan-kesalahan itu ingin saya akui dengan lapang dada, dengan penyesalan yang tulus, namun tidak akan saya ingkari bahwa saya melakukannya.

Dan saya ingin dicintai dan diterima sebagai mana adanya saya. 100% diri saya, tanpa sedikit pun bahan palsu dan KW di dalamnya. Amin.

06 December 2011

kegalauan sebelum menikah

Menikah itu keputusan yang berat bagi sebagian orang.  Walaupun Icha pernah tulis bahwa ternyata marriage is not that scary (lucky you, Cha, I envy), nikah itu ya gitu doang, tapi sepertinya buat saya  oh yes, marriage is that scary. Pernikahan adalah hal yang sejak dulu membuat saya galau segalau-galaunya, dan kalau bisa pengen ditunda-tunda aja terus. Hahaha. Dalam pernikahan kan kita harus menyesuaikan diri dengan orang lain, walaupun orang lain itu pasangan sendiri. Dan kalaupun bagi sebagian orang, termasuk saya misalnya, beruntung bahwa dia dan pasangan tidak terlalu banyak membutuhkan penyesuaian karena sudah kenal luar dalam, tetap saja banyak hal-hal yang harus disesuaikan: teman-teman, pekerjaan, dan terutama keluarga.

Kita tidak bisa memilih keluarga. Pasti ada saja kelakuan ayah, ibu, adik kakak kita yang menjengkelkan. Tapi mereka adalah keluarga yang Tuhan berikan untuk kita. Juga dengan keluarga pasangan. Kita tidak bisa memilih pengen mertua seperti apa, bagaimana pun adanya orang tua pasangan, itu yang harus kita terima, kalau memang mau sama anaknya. Bagi yang punya mertua dan keluarga besar pasangan yang asyik, ya syukur. Kalau dapat yang biasa-biasa saja dan nggak reseh pun masih untung. Dapat yang reseh pun nggak boleh protes kan ya, kan beda dengan beli barang cacat yang bisa dikembalikan. Ya sudahlah, suka-suka Tuhan mau kasih kita mertua kayak apa, toh hidup ini nantinya break even point kan ya, kalau dikasih cobaan dengan mertua, pasti dikasih juga plus plus di sisi kehidupan lain kan ya. Dan kalau kita tabah menjalaninya, pasti nanti karma baiknya kembali ke kita. Dan entah kenapa kok saya lebih suka pakai istilah karma baik daripada pahala, hahaha.

Ini ceritanya saya sedang galau, karena membayangkan kehidupan pernikahan saya yang mungkin akan sedikit berbeda dengan banyak pasangan lainnya. Sebab Mr Defender adalah anak tunggal dari seorang ibu yang karena suatu kondisi penyakit dan kejiwaannya, tidak bisa tinggal sendirian. Yang artinya, sejak awal pernikahan sampai seumur hidup saya atau ibunya (tergantung siapa yang lebih panjang umur ya, kan umur nggak ada yang tau) saya harus tinggal bersama mertua yang terganggu secara kejiwaan. Tadinya sih saya yakin saya pasti bisa ya, cewek-cewek di sinetron aja bisa, masa saya enggak sih. Tapi ternyata setelah masa percobaan selama sebulan, hidup berdampingan sama calon mertua itu nggak semudah yang dibayangkan. Serius deh. Apalagi kalau membayangkan ibu ini nggak bisa ditinggal sama sekali, saya jadi stress.

Contoh beberapa kegalauan saya:
  1. Saya pengen ambil S2 di luar negeri, insya Allah kalau ada beasiswa. Mr Defender juga sama. Masalahnya siapa nanti yang bakalan tinggal sama ibu kalau kami di luar negeri? Di luar sana kan pembantu mahal.
  2. Saya dan Mr Defender bekerja di instansi yang sering memutasikan pegawainya ke seluruh Indonesia. Kalau di Samarinda masih ada keluarga dekat. Yang saya nggak kebayang, nanti kalau kami mutasi ke tempat yang jauh dari mana-mana dan kulturnya beda dengan kami. Kalau ikut kami, apakah ibu bisa menyesuaikan diri? Apakah di tempat baru ada dokter yang cocok dengan ibu dengan fasilitas yang cukup?
  3. Saya suka jalan-jalan. Dan kayaknya nggak seru aja jalan-jalan sambil bawa ibu. Sebut saya egois, tapi saya nggak mau. Kalau masalah yang ini sih mungkin bisa diatasi dengan ninggalin di rumah dengan pembantu sih ya, tapi tetap bikin galau.
  4. Males aja membayangkan nggak bisa ngapa-ngapain semau saya, kayak misalnya pengen ikutan Earth Hour tapi si ibu nggak mau (bahkan untuk hal sesimpel ini aja jadi nggak simpel kalau ada orang lain ya, hehehe), trus mau pergi seharian sama pasangan juga nggak bisa, banyak hal-hal kecil yang harusnya simpel tapi jadi ribet karena harus dikompromikan.
Masih banyak sih, tapi cukup ini dulu deh. Hahaha. Untungnya, pasangan saya adalah orang yang bisa membuat saya yang egois ini (sekarang) rela mengkompromikan itu semua (sekarang sih, entah nanti ya) demi bisa bahagia berdua. Mungkin banyak hal seru yang terlewat kami alami nanti, karena harus merawat ibu (yang mana sekarang ini saya belum bisa seratus persen ikhlas sih melakukannya, masih merasa itu jadi beban. boleh sebut saya egois atau durhaka, tapi sejujurnya saya merasa terbebani karena mendadak harus mengurus orang lain, walaupun orang lain itu ibu Mr Defender). Tapi kan namanya hidup orang macem-macem ya, mungkin saya nggak bisa dapat suatu hal, tapi akan memperoleh hal manis lainnya.

Sering sih kalau lagi kesal dan bete dan capek saya protes ke Tuhan, kenapa sih Tuhan? Kenapa harus saya yang mengalami ini? Kenapa saya nggak dapat mertua yang masih sehat dan bisa tinggal sendiri aja? Kenapa Mr Defender harus anak tunggal sehingga saya jadi harus merawat orangtuanya seumur hidup? Dan kenapa lain yang nggak selesai. Dan Tuhan bertanya balik, tebak, kenapa coba? Pastinya ini karma buruk saya di masa lalu, atau sebaliknya, akan menjadi karma baik saya nanti kalau saya tabah menjalaninya. Atau lebih gampangnya sih, ini ujian yang akan membuat saya lebih kuat dan lebih berkarakter. Cailah.

Wish me luck, and wish me patience, and wish me persistency.

snow on the sahara


Hidup kini berkali lipat lebih melelahkan untukku. Aku yang kecil, yang lari dari duniaku yang pernah sederhana, yang tersesat di teritorimu dan tak mampu berlari lebih jauh lagi. Sungguh, aku ingin sekali pergi. Bersamamu. Membuang semua yang mengikat di dunia ini, dan menemukan kebahagiaan untuk kita sendiri.

Hanya saja, aku tak tahu apakah masih ada kebahagiaanmu, jika kita tak lagi di sini.

Tapi satu yang pasti, aku saat ini tidak bahagia. Dan aku tidak siap dengan segala hal yang harus kurelakan untuk bersamamu, hanya untuk menjadi tidak bahagia. Ah, sekarang aku bahkan tidak mengerti, apa itu bahagia. Tanpamu aku merana. Tapi bersamamu, di titik ini, aku sangat menderita.

Kita sama-sama tidak bahagia, berpisah ataupun bersama. Dan aku tidak tahu apakah masih ada jalan menuju negeri bahagia, untuk kita.

29 November 2011

tentang kita, yang kini tak lagi peka

headline Kompas awal November tahun lalu

Katanya, di dunia jurnalistik, bad news is good news. Suatu kejadian yang buruk adalah sesuatu yang bagus dari segi pemberitaan, karena sesuatu yang buruk itu langka, dan tidak diharapkan. Makanya berita seperti kecelakaan, bencana alam, perang, krisis, kerusuhan, perceraian para artis menjadi sasaran para pemburu berita. Mungkin, seiring dengan semakin mudahnya kita memperoleh informasi sekarang ini, informasi menjadi sesuatu yang hanya lewat sambil lalu saja di telinga kita. Tidak sempat masuk ke otak, apalagi hati.

Sadar nggak sih, kalau sekarang ini kita bisa dengan mudahnya membuat candaan tentang berita buruk? Atau melontarkan komentar yang tidak berempati seperti:
"Aceh kena tsunami tuh azab buat GAM." Saya dengar langsung dari seorang kerabat.

"Wah, Ritz pasti dibom sama pendukung Liverpool yang nggak pengen MU datang deh." Komentar jahat dari seorang teman, menanggapi komentar saya (yang mungkin juga jahat) "Aduh tiket nonton MU gue gimana cara reimbursenya dong!" (tidak sensitif sekali, padahal banyak nyawa melayang)

"Kaliurang habis tuh kena lahar Merapi, habis tempatnya dijadiin hotel mesum sih." Yang ini saya baca di twitter, yang membuat saya sedih karena ketika itu adik perempuan saya terpisah dari keluarga, desa tempat keluarga saya tinggal disterilisasi, dan anjing saya hilang tak sempat diselamatkan.

Pernahkah kita pikirkan betapa sedihnya orang-orang yang sedang tertimpa musibah ketika mendengar komentar kita yang seolah-olah mengecilkan bencana yang mungkin memporakporandakan kehidupan mereka? Kita bicara tentang bencana sambil makan siang, dengan ringan seperti sedang membahas pertandingan bola. Kita berspekulasi, menyalahkan sana-sini, berkata harusnya begini harusnya begitu, tanpa berbuat sesuatu yang nyata untuk mereka, bahkan meskipun hanya doa.

Kita jadi tak ubahnya infotainment.

Kita haus akan pemberitaan yang wah. Kita senang mendengar tragedi. Seakan hal buruk yang menimpa orang lain bisa membuat kita merasa lebih baik. Ah, sungguhkah kita sudah sebebal dan sejahat itu?

28 November 2011

and maybe this is what they called unconditional love


untuk dia.
aku ingin mengatakan ini:
kita akan bisa melewati ini semua.

P.S. dan untuk kalian semua yang menyemangati dari pinggir arena, terima kasih untuk dukungan dan doanya. you know who you are.

25 November 2011

sepatu

Pengakuan. Saya (pernah) punya lebih dari 50 pasang alas kaki. Terdiri atas sepatu olahraga, sneakers, high heels, wedges, flat shoes, sandal-sandal cantik, flip flop, sendal gunung, hampir semua model sepatu dan sandal (waktu itu) saya punya. Ada yang dibeli dengan tabungan beberapa bulan, khususnya yang sepatu kantor dan olahraga, tapi sebagian besar berasal dari rak diskon (untungnya ukuran saya 35 up to 36 sehingga sewaktu sale di mana-mana penuh ukuran itu dengan harga super miring, bahkan sering saya dapat sepatu Yongki dengan hanya 20 ribu rupiah saja) atau hasil jalan-jalan di Melawai.

Sewaktu saya pindahan dari Jakarta ke Samarinda, Mr Defender sangat syok dengan paket yang berisi baju, sepatu, tas, dan asesoris saya yang jumlahnya mencapai 20 kardus Aqua besar (jangankan dia, saya pun syok). Lalu ketika akhirnya lemari di kos baru saya nggak muat menampung itu semua dan akhirnya sebagian besar dari 20 kardus itu terpaksa tetap dikardusin, setiap saya naksir baju, sepatu, atau tas di mal, Mr Defender selalu nyindir, "Itu baju-baju yang di kardus juga belum dibongkar, mending beli lemari aja dulu (loh?)." Yang akhirnya membuat saya menghibahkan sebagian besar isi kardus itu kepada mereka yang lebih membutuhkan. Walaupun belinya pakai uang sendiri, dan bajunya juga bukan baju-baju mahal, tetap aja rasanya malu juga punya sebanyak itu baju dan sepatu padahal badan cuma satu, kaki cuma dua. Mr Defender pernah bercanda bahwa saya bisa ganti baju tiga kali sehari selama dua bulan tanpa dicuci dan belum akan kehabisan baju, hahahaha.

Nah, singkat cerita, sekarang ini saya cuma punya sekitar 15 pasang sepatu, yang terbagi menjadi sepatu kantor, sepatu pesta, sepatu olahraga, sneakers, dan sandal buat main. Berbulan-bulan saya nggak beli sepatu, mengingat pengalaman 20 kardus itu, sampai suatu hari, saat saya naksir sepasang kitten heels lucu KW Christian Louboutin....

bagus ya? (melihat, membelai dengan sayang, mencoba, dan meletakkan kembali di rak)
loh, kok dilihat aja, nggak dibeli?
enggak ah, kan katanya yang di kardus aja masih adaaaa
kan udah lama nggak beli sepatu, nggak apa dong, beli aja
enggak ah, mahal
masa? (membalik sepatu melihat harganya) murah kok, 400 ribu buat sepatu kantor
mahal ah, aku jarang-jarang beli yang segitu, beli yang diskonan aja di bawah 300
ya gapapa sekali-kali
iya sih tapi sepatu kantor aku udah ada enam...
yah, cuma enam, sepatu futsal aku aja ada 20 lebih...
APAAAAA??? 20? sepatu futsal doang??
ya kan ada yang buat lapangan rumput, vinyl, karpet, lantai biasa...
trus ngapain selama ini komentarin sepatu aku?
ya aku pikir sepatu kamu yang 50 biji itu harganya sama kayak sepatu futsalku, makanya kupikir kamu boros banget...
(syok berat, soalnya tahu kalau sepatu futsal termurahnya dia itu harganya 600-an ribu,  kebanyakan seri yang nggak keluar di Indonesia dan biaya kirimnya bikin pengen seppuku, bahkan ada yang harganya mencapai ribuan euro. sakit!!)

Arrrrggghhh! Ini sebenarnya siapa yang boros siiihhh??

24 November 2011

Obsesi

gambar dari sini

Tentang Mr Summer
Saya dan Mr Summer pernah saling tergila-gila. Mungkin kadarnya berbeda terhadap masing-masing. Mungkin juga Mr Summer bukan tergila-gila, tapi hanya sedang penasaran. Seperti anak kecil yang menginginkan mainan baru yang dipajang di etalase toko, lalu setelah mendapatkannya ia akan tidur dan makan dan mandi bersamanya berhari-hari tanpa mau sedetik pun lepas, untuk kemudian melupakannya seminggu kemudian. Mungkin. Tapi saya lebih senang membayangkan (dan meyakini) bahwa waktu itu perasaan kami sesederhana ini: saling cinta. Walaupun cinta tak pernah sederhana.

Tentang Musim Panas Abadi
Barangkali semua benda yang nampak maupun tak nampak punya masa kadaluarsa. Juga dengan cinta. Juga dengan ketertarikan. Ada yang terus dimiliki biarpun sudah kadaluarsa, ada yang terlepas dari tangan sekalipun masanya masih lama. Maka tibalah kami di hari itu. Hari di mana saya akhirnya dipaksa melihat, dan mengakui, bahwa perasaan Mr Summer untuk saya tak lagi sama. Atau barangkali perasaannya memang selalu sama, hanya saja kami tak menyadarinya. Bahwa mungkin hatinya tidak benar-benar pernah menjadi milik saya. Entahlah.

Mengetahui bahwa laki-laki yang kita cintai memendam cinta untuk perempuan lain itu, saya pikir rasanya memuakkan. Namun ternyata tidak. Rasanya sakit, namun entah mengapa masih indah. Juga walaupun dia berbohong dan mengingkari janji dan kata-katanya sendiri. Tapi entah kenapa saya tak bisa benci. Yang saya lakukan hanyalah bertanya pada diri sendiri, apa kekurangan saya dibandingkan perempuan itu. Walaupun saya tahu perasaan tidak bisa dipaksakan.

Saya yakin Mr Summer memiliki hati yang hanya untuk saya. Atau akhirnya akan menjadi hanya milik saya. Kalaupun saat itu dia mencintai gadis lain, saya meyakinkan diri bahwa itu semu. Bahwa nantinya ia pasti akan menjadi hanya milik saya, karena saya yakin tidak ada orang yang bisa mencintainya lebih dari saya. Kami diciptakan untuk satu sama lain. Dan saya yakin nantinya dia akan menyadari itu dan mengejar saya balik. Saya yakin hanya bersama saya dia akan bahagia.

Keyakinan itu membuat saya mengingkari banyak hal. Saya menjadi tidak bisa melihat bahwa Mr Summer mencintai orang lain, dan orang lain itu juga mencintainya, dan walaupun saya menjadi pihak yang dicurangi, namun saya harus tetap menghormati itu. Dan siapa yang bisa membenci dua orang yang begitu saling cinta?

Tentang Apa yang Saya Sesali
Saya menyesal karena sebentuk cinta itu telah berubah menjadi obsesi. Saya menyesali titik di mana saya tidak bisa menerima kenyataan. Tidak menghormati perasaan orang lain, bahkan meskipun orang itu menyakiti saya. Dan sebenarnya dia tidak menyakiti saya. Sayalah yang menyakiti diri saya, dan membiarkan dia menyakiti saya. Obsesi sayalah yang menyakiti saya. Obsesi juga menjadikan saya manusia yang tidak menghormati diri sendiri. Mengiba cinta orang lain dan menyalahkan orang lain atas ketidakbahagiaan saya. Membenci dia yang mendapatkan apa yang saya inginkan.

Ya, ketika itu saya membencinya. Perempuan itu. Kini setelah tahun berlalu dan saya sedikit terdewasakan, bisa saya mengerti bahwa dia hanya menjalani garis hidupnya. Bahwa kebetulan saya tersakiti oleh lintasannya, itu bukan kehendaknya.

Saya menyesal karena pernah membuat diri saya hanya menjadi figuran dalam kehidupan saya sendiri.

Tentang Apa yang Saya Lepaskan, Saya Rindukan, dan Kini Saya Syukuri
Hidup bertahun-tahun dalam sebuah obsesi itu menyesakkan. Saya tak tahu lagi apakah saya sungguh menginginkannya atau semua itu hanya keinginan menang semata.

Entah di titik mana saya disadarkan, namun akhirnya saya tahu bahwa saya telah melewati itu semua, dan melepaskan obsesi saya. Sungguh, bukan waktu yang menyembuhkan. Bertahun-tahun berlalu dan obsesi itu tetap tinggal. Namun, di detik ketika saya memutuskan saya ingin melepaskan, detik itu juga ia terbang, menguap bersama udara. Dan saya merasa lapang.

Saya merasa bahagia, bahwa saya dulu mencintainya. Dan kami pernah punya kisah yang manisnya terasa hingga kini, dan pasti akan lebih manis lagi nanti, ketika kami kebetulan bertemu di usia setengah abad untuk mengenang masa lalu, sebagai teman baik. Saya merasa ringan, bahwa saya bisa melepaskan tanpa melupakan. Bahwa saya bisa mengenang genggaman tangannya sama seperti mengenang rasa ketika pertama kali naik sepeda. Dia adalah bagian dari kisah hidup saya, dan itu tidak bisa saya ubah. Peristiwa akan tetap tinggal, kitalah yang terus berubah.
Semoga hidup selalu manis padamu, hai pria musim panasku.

08 November 2011

Perempuan Berkalung Sorban


Idul Adha kemarin saya habiskan di rumah orangtua teman saya (yang sudah saya anggap om dan tante sendiri) di Balikpapan, karena Mr Defender pulang ke Pulau Jawa untuk merayakan Idul Adha bersama keluarga besarnya. Sesiangan itu saya nonton film Perempuan Berkalung Sorban yang diputar di SCTV. Dan... saya sangat menyesal kenapa dulu nggak nonton film ini ketika diputar di bioskop, atau minimal menontonnya setelah DVD-nya keluar. Telat banget, ahahahaha.

Sebenarnya ada beberapa alasan kenapa waktu itu saya nggak tertarik nonton film ini. Pertama, judulnya norak. Dan dari judul itu saya menyimpulkan film ini paling-paling kayak Ayat-Ayat Cinta atau Ketika Cinta Bertasbih, yaitu film-film cinta yang (menurut saya loh) nggak beda sama film-film chicklit macam Eifell I'm in Love atau Dealova, bedanya cuma Parisnya diganti Mesir dan Shandy Aulia diganti Oky yang berkerudung. Film yang sama sekali nggak meninggalkan bekas apa-apa di hati setelah menontonnya. Jadi, saya bikin sumpah darah sama diri sendiri nggak akan menghamburkan uang untuk nonton film beginian di bioskop.

Kedua, poster filmnya juga membuat saya menyimpulkan bahwa film ini mirip-mirip film Ayat-Ayat Cinta. Dan ketiga, pemainnya Revalina, yang membuat saya agak curiga film ini akan berasa sinetron yang penuh kalimat-kalimat yang hanya mungkin ditemukan dalam buku, yang bahkan Aa Gym sekalipun tidak akan memakainya di dalam tabligh-nya saking tidak real-nya kalimat itu. Haha, jahat ya saya menghakimi film ini.

Tapi ternyata, Perempuan Berkalung Sorban tidak seperti itu. Film ini lumayan bagus, apalagi ide awalnya, yaitu tentang perempuan yang merasa Islam itu tidak adil terhadap perempuan, lalu berusaha protes dengan caranya sendiri, namun terhalang oleh cinta kasih dan baktinya kepada orangtua. Cerita setelah Revalina dan Oka Antara mau dirajam mending di-skip aja, ya-sudahlah-yaaa, yang penting dari awal film sampai pas adegan Reva dirajam itu saya suka. Dan film ini memang agak lebay sih endingnya, tapi saya suka karena sebenarnya ini film tentang budaya (agama termasuk budaya juga kan ya), bukan film dakwah (atau film cinta pakai embel-embel dakwah). Film ini mengingatkan saya pada My Big Fat Greek Wedding, dan film apa saya lupa judulnya tentang seorang gadis India muslim yang pacaran backstreet, walaupun tema yang diusungnya lebih berat, dan bisa dibilang sensitif (apalagi buat khalayak Indonesia yang sumbunya pendek :D). 

jadi penasaran sama film '?' yang juga dibuat oleh Hanung dan katanya dilarang itu.

04 November 2011

rileks

gambar dari sini

Ketika Anda memandang, ia tak dapat dilihat. Ketika Anda mendengarkan, ia tak dapat didengar. Ketika Anda menjangkaunya, ia tak dapat digapai. Ketika yang terjadi dalam pembelajaran itu tidak jelas, janganlah terlalu keras bekerja untuk memahami segalanya. Melainkan, rilekslah dan biarlah mata pikiran Anda melihat apa yang sedang terjadi. Biarlah persepsi Anda dan intuisi Anda menjadi pemandu Anda.

Anda tidak mungkin mengenali segalanya, tetapi Anda bisa terbuka terhadap yang tak dikenal dan rileks menghadapi misteri.

Ketika Anda sadar akan sumber segalanya, Anda kenali jantung nikmat.

(Tao Te Ching oleh Lao Tzu)

19 October 2011

Manjali dan Cakrabirawa


Akhirnya saya menulis juga tentang buku ini, setelah membacanya lima kali, hahaha.

Saya suka semua buku Ayu Utami, dan yang satu ini bukan perkecualian. Buku ini merupakan buku kedua dari seri Bilangan Fu, begitu kata tulisan di sampul belakangnya. Bilangan Fu sendiri merupakan buku yang juga sangat saya sukai (bahkan sebenarnya saya tidak bisa memilih mana buku favorit saya dari semua buku Ayu, semuanya sangat indah dan saya jatuh cinta!), merupakan roman yang sangat ideologis dan spiritual bagi saya, yang mungkin akan saya benci seandainya saya membacanya empat atau lima tahun lalu saat saya belum se-open minded sekarang.

Manjali dan Cakrabirawa, adalah novel yang mengambil setting waktu pada saat Marja berlibur bersama Parang Jati (dalam Bilangan Fu diceritakan bahwa Yuda menitipkan Marja untuk berlibur), jadi novel ini semacam fragmen yang belum diceritakan di tengah novel Bilangan Fu. Kalau Bilangan Fu lebih banyak bercerita dari sisi Yuda, maka novel ini bercerita dari sisi Marja si gadis kota. Dan kalau ada beberapa review yang mengatakan bahwa dalam novel ini Bilangan Fu kehilangan 'kedalaman'-nya, menurut saya tidak begitu, sebab bukankah novel ini memang mengisahkan Marja si anak metropolitan yang baru memulai hidup sadar dan sehat holistik (menurut istilah Reza Gunawan, hehehehe).

Novel ini, sebagaimana novel-novel Ayu yang lain, adalah karya yang sangat 'kaya', sangat humanis, dan dia hanya berkisah, tidak mendogma, tidak berusaha meninggalkan pesan moral atau memaksakan ending yang indah. Novel ini indah di semua bagian, hingga ending yang indah terasa tidak perlu. Dan novel ini membuat saya merasa manusia, merasa tidak hidup dalam dikotomi, merasa tidak hitam putih, sebaliknya saya adalah kanvas yang penuh spektrum warna, dan seperti kata Jerinx SID: memiliki hitam dan putih secara seimbang, sebab keduanya menjadikan kita seutuhnya manusia. 

Saya sangat suka bagian di mana Marja mencintai Yuda dan Parang Jati lebih dari eros, lebih dari percintaan pria dan wanita. Saya suka bahwa Ayu menggambarkan Marja sebagai manusia, bukan cuma perempuan, manusia yang bisa mencintai dua kekasih seperti ibu mencintai dua anaknya. Saya suka bahwa kisah Marja yang mencintai dua lelaki tidak dikisahkan seperti pengkhianatan, atau perselingkuhan, atau poliandri (karena memang bukan begitu. karena hati manusia memang sungguh tidak sesederhana itu). 
Ayu Utami resmi menjadi penulis Indonesia yang semua bukunya akan saya beli tanpa ragu, setelah Umar Kayam dan Pramudya Ananta Toer :)

11 October 2011

menjadi dewasa itu (bukan cuma karena) pilihan

gambar dari sini

Aku rindu masa belia, di mana hidup masih sederhana, di mana hari yang baru hanyalah tentang mandi matahari dan memikirkan jajanan apa yang bisa dibeli dengan uang dua ratus perak di kantong. Aku rindu masa di mana cinta belum dibuat rumit oleh keinginan memiliki dan segala pertimbangan logis omong kosong lainnya. Aku rindu pikiran muda yang belum menghitam warnanya, di mana kejahatan terbesar yang bisa dipikirkannya hanyalah bagaimana menyembunyikan nilai ulangan merah dari orang tua. Aku rindu hati yang memaafkan lebih cepat dari hilangnya lebam di muka.

Rindu masa di mana suka dan tidak suka adalah hanya tentang suka dan tidak suka.

tentang keluarga, cinta orang tua dan rock n roll

Saya belum menjadi orang tua, jadi saya memang tidak tahu apa rasanya perjuangan sembilan bulan mengandung dan bertaruh nyawa melahirkan seorang anak ke dunia. Saya juga belum tahu rasanya membanting tulang mencari nafkah menghidupi buah hati. Saya juga tidak bermaksud mengecilkan jasa para orang tua, namun tulisan ini merupakan isi hati saya, sebagai anak dan manusia.

Kepada para orang tua yang terhormat,
Sadarkah kalian bahwa terkadang kalian memberi beban yang berat kepada anak, baik yang masih anak-anak maupun yang sudah dewasa? Semacam keinginan atau keharusan agar anak itu menjadi rangking satu atau masuk sepuluh besar, agar si anak menjadi orang berprestasi, kuliah di universitas negeri dengan mengambil jurusan  mayor (baca: standar), kerja di tempat yang gajinya besar, menikah, dan sebagainya-dan sebagainya.

Oke, mungkin saat ini ada orang tua yang mengatakan bahwa apa yang mereka inginkan itu adalah untuk kebaikan si anak sendiri. Oh ya? Benarkah? Yakinkah semua usaha memasukkan anak ke sekolah mahal bahkan sejak dari playgroup, ikut les ini itu sampai si anak nggak punya banyak waktu untuk bermain di alam bebas seperti anak-anak di film Laskar Pelangi itu adalah demi membuat anak bahagia? Bukan cuma biar para orang tua bisa pamer anaknya sekolah di SD unggulan atau juara satu di kelas? Bukan? Baiklah.

Tidak ada yang salah dengan memberikan pendidikan terbaik untuk anak, begitu para orang tua mengatakan. Mereka rela memberikan apa pun asal anaknya sukses. Benarkah? Untuk siapa sukses itu? Sungguhkah untuk si anak sendiri? Bagaimana dengan anak-anak yang mungkin berbakat menjadi drummer, komikus, atau penata cahaya film, tetapi bakatnya mungkin dimatikan sejak dia masih SD dengan beragam les yang sesungguhnya ia tidak perlu?

Atau, pernahkah para orang tua merenung, mungkinkah saat ini, anaknya yang sedang kuliah semester terakhir di Teknik Informatika ITB, sebenarnya sedang menyesal mengapa dulu tidak masuk kedokteran hewan, mengapa ia memilih jurusan bergengsi yang tidak diminatinya? Kemungkinan alasan anak itu cuma dua: ingin pekerjaan yang menjanjikan setelah lulus, dan ingin membuat orang tua bangga. Bahkan alasan pertama pun ujungnya adalah untuk membuat orang tuanya bangga.

Orang tua sering membuat anaknya merasa bersalah dengan jurus 'capek-capek mama kerja buat nyekolahin kamu tapi kamunya begini' atau 'mama iri sama mamanya si A yang pintar dan berprestasi' yang akhirnya memacu si anak untuk berusaha lebih keras demi membahagiakan orang tuanya. Mungkin bagi orang tua, semuanya itu untuk kebaikan si anak. Kebaikan yang seperti apa? Apakah sukses sekolah, kerja dengan gaji besar itu menjamin si anak hidupnya baik dan bahagia?

Jika seandainya anak kalian hidup sebagai musisi miskin yang tak laku, diremehkan orang namun tetap bahagia karena dia sedang menghidupi mimpinya, apakah para orang tua tetap bisa bangga dan bahagia? Atau, apakah kalian bisa percaya anak itu bahagia? Mungkin tidak. Padahal, anak itu sungguh bahagia.

Mengapa para orang tua begitu ingin anaknya hidup aman secara finansial, lulus kuliah langsung dapat bekerja dengan layak tanpa kesulitan hidup berarti? Mengapa orang tua tidak banyak yang membiarkan anaknya hidup susah demi mengejar mimpinya? Putus sekolah demi menjadi musisi, misalnya. Atau berhenti kuliah untuk menjadi pemain bola. Mengapa jarang orang tua yang mengizinkan anaknya mencicipi kerasnya kehidupan, bekerja dengan tangannya sendiri mengejar apa yang menjadi panggilan hidupnya?

Mengapa orang tua mengukur kebahagiaan anak dengan ukurannya sendiri? Saya yakin semua orang tua ingin anaknya bahagia, begitu pun si anak ingin orang tuanya bahagia, karena itulah mereka sering mengorbankan mimpinya demi mimpi orang tuanya. Apakah akhirnya anak itu bahagia? Mungkin dia bahagia karena telah membuat orang tuanya bahagia, namun apakah secara pribadi, individu, dia sungguh bahagia? Mungkin tidak.

Saya tidak tahu kelak akan jadi orang tua seperti apa. Tapi saya berjanji anak saya harus bahagia dengan caranya sendiri, dengan ukurannya sendiri, dengan mimpinya sendiri. Saya tidak ingin anak saya nanti memparalelkan kebahagiaannya dengan kebahagiaan saya sebagai orang tuanya. Sebab dalam hati saya tidak percaya individu yang tidak bahagia bisa membahagiakan orang lain. Saya percaya pada prosedur pemakaian masker oksigen di pesawat: semua orang harus menolong dirinya sebelum menolong orang lain. Orang baru bisa menolong orang lain dengan menolong dirinya sendiri. Seorang anak harus bahagia sebelum membahagiakan orang tuanya.

tulisan ini dibuat sebagai pengingat, semoga kelak saat menjadi orang tua saya tidak bertranformasi menjadi tipe orang tua yang saat ini saya benci, apa pun kondisinya nanti

thank you for loving me

Pulau Beras Basah, April 2011

Berharap aku bisa memainkan lagu ini untukmu dengan biola beberapa minggu lagi :)

Terima kasih, untuk selalu mengangkat telepon dariku jam berapa pun itu. Terima kasih untuk kesediaanmu mengantarku ke mana pun dan kapan pun saat aku membutuhkanmu. Terima kasih untuk kerelaan menahan hasrat membeli sepatu futsal demi tiket PP Balikpapan-Jakarta setiap dua bulan, selama dua tahun penuh. Terima kasih untuk seluruh minggu pagi yang kauhabiskan menemaniku mengangkut belanjaan dari pasar.
Terima kasih untuk tidak mengambil hati semua yang kukatakan saat aku sedang PMS. Terima kasih untuk tidak pernah pergi saat aku marah. Terima kasih untuk selalu percaya bahwa dalam segala perdebatan dan pertengkaran, aku selalu cinta.
Terima kasih untuk seluruh perjalanan dan tamasya yang kita lakukan bersama. Terima kasih untuk semua sesi-sesi foto gila di pinggir jalan raya. Terima kasih untuk kesediaanmu menghamburkan pertamax ymenemaniku keliling jalanan Samarinda tiap malam sebelum tidur.
Terima kasih untuk selalu bersedia membeli tiket ekstra dan menemaniku ke mana pun aku terbang, untuk selalu menggenggam tanganku yang dingin hingga lampu sabuk pengaman dipadamkan, untuk terjaga sepanjang penerbangan selama apa pun itu, memastikan aku tidak sesak nafas, dan selalu menjawab aku yang bertanya berapa lama lagi kita mendarat tiap lima menit sekali. Terima kasih untuk mengerti bahwa tidak semudah itu bagiku menginjakkan kaki ke gedung bioskop. Terima kasih untuk memahami bahwa aku tidak bisa menyetir dengan kecepatan di atas 60 dan selalu senewen jika di depan kendaraanku ada truk beroda enam.
Terima kasih untuk memberikanku waktu bersama teman-teman perempuanku walaupun itu di malam Minggu. Terima kasih untuk tetap membiarkanku keluar malam dengan teman-teman lelakiku kapan pun aku mau. Terima kasih untuk tidak bersusah payah mengecek inbox ponsel atau meminta password emailku. Terima kasih untuk membiarkanku naik gunung atau melakukan perjalanan berhari-hari ke tempat-tempat tanpa sinyal operator. Terima kasih untuk selalu mengizinkanku pergi ke Rolling Stone Party dan ke konser artis apa pun yang aku mau.  Terima kasih untuk tidak protes pada dua rak buku penuh komik atau rak sepatu yang kini tak muat lagi. Terima kasih untuk tidak berusaha memodifikasiku menjadi perempuan yang lebih sempurna.
Terima kasih untuk tidak pernah menanyakan masa laluku, sekaligus kesediaanmu mendengarkan jika aku ingin menceritakan. Terima kasih untuk tidak pernah membandingkanku dengan orang dari masa lalumu. Terima kasih untuk menerima dan memaafkan kesalahan dan aib-aibku di masa lalu.
Terima kasih untuk memanggilku cah ayu dan bukan sayang atau beb atau mama. Terima kasih untuk selalu mengatakan aku cewek tercantik dan terkeren di dunia. Terima kasih untuk semua rekaman gitar lagu-lagu cinta untukku. Terima kasih untuk kata-kata aku sayang kamu yang kauucapkan setiap hari dan semua sms-sms cintamu dalam bahasa Jawa yang selalu membuat hariku lebih berwarna.
Terima kasih untuk selalu menyediakan bahu, telinga, dan genggaman tanganmu untukku setiap kali aku menangis. Terima kasih untuk bertanya di saat memang harus dan tidak bertanya saat kesedihanku tidak butuh alasan. Terima kasih untuk selalu memberiku alasan tersenyum kembali setelah deraian air mata.
Terima kasih untuk selalu menegurku jika suatu hari aku terlalu judes pada waiter Pizza Hut yang lelet. Terima kasih untuk selalu mengingatkanku saat aku terlalu banyak mengeluh. Terima kasih untuk selalu mengajakku jogging pagi setiap kali kau merasa pipiku bertambah chubby. Terima kasih untuk selalu jujur berkata aku tidak pantas memakai warna biru dan hijau atau jika bajuku mirip emak-emak arisan.
Terima kasih untuk menjadi teman diskusi yang menyenangkan tentang musik dan film dan agama dan spiritualisme dan hidup. Terima kasih untuk sebagian pandangan hidup yang sama dan sebagian lagi yang berbeda. Terima kasih untuk selalu berpikiran terbuka dan sekaligus menerima keterbukaanku. Terima kasih untuk menjadi manusia yang memandang dunia ini tidak dengan kacamata norma. Terima kasih untuk tidak menilai manusia dengan apa yang asalnya bukan dari hati. Terima kasih untuk jiwamu yang merdeka.
Terima kasih untuk tetap menjadi lelaki yang sama yang membuatku jatuh cinta. Terima kasih untuk tidak membiarkanku mendominasi atau mengubahmu menjadi seperti yang aku mau. Terima kasih untuk tetap menjadi dirimu, yang tetap tak pernah memberiku bunga, yang tetap menyisakan dua malam dalam seminggu untuk futsal dan teman-teman prianya, yang tetap punya ruang dan hidupnya sendiri. Terima kasih untuk tetap menjadi individu yang bahagia.
Terima kasih untuk tetap menjadi dirimu yang mencintaiku.

Yes I kow perfect guy doesn't exist. But yes, I have a perfect boyfriend. So perfect I couldn't ask for more.
Yes I'm a lucky girl.

10 October 2011

tahun kesekian

Kata orang, selembar foto bisa bicara lebih banyak daripada seribu kata.
Hari ini aku memandangi ratusan fotomu dan aku di layar komputerku, mengingat masa-masa ketika foto-foto itu terjepret. Ratusan kali akhir pekan, puluhan liburan long weekend dan cuti bersama yang kita habiskan bersama. Kota-kota dan pulau-pulau yang kita datangi, lorong-lorong jalan yang pernah menyaksikan kita berjalan di atasnya, bergandeng tangan.
Hari ini, beberapa tahun yang lalu (biarlah nominalnya rahasia agar orang-orang penasaran) kita memutuskan menjadi teman seperjalanan. Dan sejak hari itu, sudah sering kita menapaki jalanan terjal, turunan dan tanjakan, kelok-kelok kehidupan, tersesat, berdebat tentang arah mana yang harus diambil. Bertahun sudah kita berjalan beriring, saling menguatkan, bertukar beban di pundak, beristirahat ketika memang harus. 
Perjalanan kita tanpa peta, tanpa rencana, pun tak pasti apakah esok kita masih berjalan bersama. Namun dengan siapa pun aku menghabiskan sisa perjalananku nanti, perjalananku denganmu akan tetap seindah seperti saat aku mengenangnya sekarang.
I love you.

07 October 2011

tanpa facebook, twitter, dan BBM

Saya punya nomor ponsel dan alamat email.

Saya juga punya alamat tinggal yang nyata ada.

Kalian yang benar-benar peduli, bisa menghubungi saya di sana. No social media, for now.

(sedang rindu jaman di mana tanpa ponsel pun semua baik saja. lebih baik, malah)

23 September 2011

titik.period.

Saya tidak setuju bahwa:
pacaran adalah senang-senang sama-sama, menikah itu susah dan senang bersama.
Atau lebih tepatnya, saya tidak suka orang menggunakan kalimat itu untuk menghakimi kenyataan bahwa saya dan Mr Defender, pasangan saya sekarang ini, belum juga menikah setelah berpacaran sekitar... 3 tahun? 3,5 tahun? Ehm, entahlah, saya lupa sesungguhnya di titik mana (bagi orang-orang) kami bisa disebut mulai pacaran (bahkan saya sendiri sebenarnya malas memakai kata pacar, dia adalah pasangan dan partner hidup saya).

Percayalah, saya sudah sangat lelah dengan pertanyaan (dan penilaian macam-macam) tentang belum menikahnya saya. Tapi, sangat menyakitkan dikatai 'tidak mau menjalani kesusahan bersama dalam pernikahan' atau 'mau enak dan senangnya saja pacaran'.

Tapi, ya, akan saya katakan (dan memang begitulah kenyataannya) bahwa saya (dan semoga juga pasangan) memang selalu senang selama menjalani hubungan kami yang entah apa pun lah labelnya ini, semuanya bagi kami enak, tidak ada kesusahan, tidak ada penderitaan. We're in love, we always are

It's (Not That) Complicated


Mumpung hasrat menulis sedang bagus, saya akan menulis tentang film-film yang kemarin ingin saya tulis (untuk dikenang sendiri) tapi nggak sempat sempat (baca: malas). Sekali lagi saya memberi disclaimer bahwa tulisan saya bukan resensi, tidak memuat alur, nama pemain dan sebagainya, hanya tentang perasaan saya setelah menonton film ini.

Tapi, kali ini, biarlah saya menulis sedikit. Film ini berkisah tentah Jane, seorang janda yang telah bertahun-tahun berpisah dengan Jake, mantan suami dan ayah dari ketiga anaknya, karena Jake berselingkuh darinya. Jane merasa setelah bertahun-tahun berlalu, dia dapat mengatasi kesedihan, kehilangan, kemarahan, apa pun emosi yang tersisa dari perceraian itu, tapi kemudian sesuatu terjadi dan tadaaa, Jane tiba-tiba sudah berkencan dengan Jake (yang sudah menikah lagi), padahal saat itu, arsiteknya, Adam, diam-diam menyukainya dengan tulus.

Saya suka film ini karena penuh kejutan, endingnya (menurut saya) tidak klise, dan karakter para tokohnya tidak berlebihan. Saya sangat suka bagian di mana Jane bertanya pada terapis/psikolog tentang kencannya dengan Jake. Jane mendaftar alasan yang kira-kira membuat dia bisa-bisanya bersama Jake lagi: masalah yang belum selesai, cinta yang belum hilang, balas dendam, ataukah sekedar kesepian. Film ini penuh dengan percakapan kocak namun menyentil, yang membuat saya tertawa sekaligus menangis membayangkan apa jadinya pernikahan saya 20 tahun ke depan (menikah saja belum ya). Lucu sekaligus menggelitik pas menyaksikan momen-momen Jane antara merasa bersalah atau seru-seru menantang dalam perselingkuhannya. Gemas dengan kelakuan Jake yang kadang sangat tidak gentleman. Suka dengan penggambaran hubungan Jane dan Adam yang begitu pas, tidak romantis berlebihan, juga tidak kaku. Saya kira semua wanita dewasa akan menyukai film ini sebagai versi perempuan dari film The Hangover, hahahaha.

jangan mau jadi palsu

Kamu positif palsu kalau kamu:
  1. membeli tas haute couture KW super lalu bertingkah seolah itu tas orisinal (plus mencela orang lain yang membeli dress korea KW 3 di ITC)
  2. berkampanye tentang membeli cd asli dari musisi (plus nyela mereka yang mengunduh dari internet) tapi memakai windows bajakan
  3. ikut sibuk acara selamatkan bumi dan paling getol update twitter tentang earth hour tapi hobinya jajan minuman botol plastik, meninggalkan kamar dengan lampu menyala, dan naik mobil isi satu orang kemana-mana
  4. mencoba impersonate (apa ya bahasa Indonesianya yang pas) seseorang yang kamu kagumi sampai kamu lupa siapa diri kamu
  5. punya agenda gaul rutin dengan satu geng yang membuatmu merasa lebih keren, padahal sebenarnya kamu benci setengah mati dengan acara bergosip mereka
  6. memaksakan diri nonton film yang bikin pusing cuma biar dibilang cool
  7. suka setengah mati sama Westlife tapi nggak mengakuinya karena takut dibilang cupu sama teman-teman
  8. sewaktu memilih buku di toko, selalu berpikir apa yang dipikirkan orang lain kalau kamu membaca buku itu di kereta atau busway
  9. menghujat seorang cewek berjilbab yang pakaiannya (kebetulan) terlalu ketat, sementara kamu sendiri berjilbab panjang tapi masih buka jilbab kalau pacarmu lagi apel ke rumah
  10. ikut nimbrung obrolan yang sebenarnya super membosankan hanya karena topik itu sedang hype dan kamu nggak mau dibilang kuper
  11. memanggil seseorang say, honey, darling, sister, tapi di belakang menggosip tentang alisnya yang ditato atau kukunya yang dicat merah darah
................. dan apa pun itu, yang menjadikanmu orang yang berbeda dengan dirimu yang sesungguhnya. Silakan tambahkan daftarnya.

22 September 2011

kita semua begitu




Lagu yang sesuai dengan isi tulisan nggak penting saya (boleh dibaca sambil diputar lagunya biar lebih 'dapat' suasana hati saya pas menulis ini)

Saya punya seorang sahabat, Miss Turquoise, yang pernah mengalami patah hati berat dan membutuhkan waktu yang (menurut banyak orang) sangat lama untuk sembuh dari patah hatinya itu. Banyak orang, bahkan di lingkungan pertemanan kami berdua yang heran kenapa butuh waktu yang lama sekali untuknya sembuh dan melupakan mantan pacarnya itu.

Kemarin, seseorang bertanya kepada saya, bagaimana saya dan Mr Backpack bisa berpisah 'baik-baik' dan tetap berhubungan baik pasca perpisahan kami. Dia bilang, sebenarnya dia nggak percaya ada yang namanya putus baik-baik (kalau baik-baik ya nggak putus dong, begitu logikanya). Maka, maksud sebenarnya pertanyaannya adalah, apakah saya dan Mr Backpack benar-benar putus baik-baik dan apakah saya dan Mr Backpack saat ini sebenarnya cuma pura-pura tetap berteman baik padahal dalam hati masih ada yang mengganjal. Sebab, ia sendiri sudah setahun putus dengan pacarnya dan sampai sekarang, jangankan untuk berteman, bertegur sapa sekedarnya pun ia tak sudi.

"Kok lo bisa sih putus dengan tenang dan santai banget gitu?" begitu ia bertanya. "Apa emang lo udah benar-benar sedewasa itu dalam sebuah hubungan?"

Oh, saya nyaris tertawa. Seandainya saja dia tahu betapa saya pernah meneror Mr Summer, mantan pacar pertama saya karena tidak rela dia pindah ke lain hati (akan saya tulis tersendiri nanti), atau bahwa saya pernah sampai sakit seminggu, mengasihani diri seperti orang putus asa, bahkan sampai melakukan perjalanan keliling Kalimantan sewaktu baru putus dengan Mr Ladykiller (nanti akan saya tulis juga kalau sempat tapi yang ini nggak janji, soalnya kalau ingat masa itu rasanya saya pengen terjun ke sumur sambil teriak 'what  the hell was I thinking?!'). Ya, intinya, saya juga nggak sedewasa itu kali. Saya juga pernah mengalami masa-masa kelam setelah putus cinta, baik yang norak menye-menye maupun yang benar-benar menyakitkan hati.

Tapi, menjawab jujur pertanyaannya, apakah saya dan Mr Backpack putus baik-baik? Jawaban saya adalah, tidak tahu. Saya tidak tahu definisi pasti putus baik-baik. Tetapi, saya dan Mr Backpack berpisah karena di antara kami memang sudah tidak ada percikan-percikan kembang api di mata dan tarian kupu-kupu di perut yang mendebarkan hati itu. Jangan kira kami berdua (atau setidaknya saya) kurang berusaha untuk mempertahankan. Tapi seperti yang dulu pernah saya tulis di sini, yang terjadi antara saya dan Mr Backpack itu sungguh hanya alam semesta yang tahu. Mungkin itu kebenaran dari kalimat klise 'kalau nggak jodoh mau apa lagi'. Saya dan Mr Backpack tidak ada keluhan tentang satu sama lain, tapi setelah menjalani hubungan selama tiga tahun lebih (dengan dua kali putus sambung) kami memutuskan bahwa kami bukan orang yang tepat untuk satu sama lain.

Dan untuk pertanyaannya, apakah saya hanya pura-pura berteman, maka saya bisa menjawab tegas, tidak. Saya tulus dengan seluruh persahabatan dan doa saya untuknya, sebelum dan sesudah saya putus. Perpisahan kami (juga perpisahan saya dengan semua mantan saya) tidak mengubah apresiasi saya kepadanya, bagi saya dia masih orang yang sama: baik hati, lembut, sederhana, dan sangat gentleman.

Apakah ada yang penasaran, apakah saya menyesal? Tidak. Saya tidak menyesali tiga-empat tahun kebersamaan saya dengan Mr Backpack. Tidak pernah menganggap itu sebagai kesia-siaan, meskipun kami akhirnya berpisah (sejujurnya sih saya memang nggak pernah berpikir 'sayang ah, udah tiga tahun masa  harus pisah' saya lebih berpikir 'masa sih mau seumur hidup sama orang yang salah'). Masa saya bersama Mr Backpack sangat indah dan menyenangkan, dan dia adalah orang yang banyak mengubah saya menjadi orang yang lebih baik dan dewasa. Tapi, saya juga tidak menyesal berpisah dengannya. Memang sih, setahun lalu saya masih sering terkenang padanya, terutama saat saya jalan-jalan keliling Jakarta di malam hari, atau saat saya mendaki gunung. Bahkan sekarang pun, kenangan tentang dia kadang-kadang masih muncul, menyisakan perasaan yang manis, namun hanya itu saja. Saya tidak berandai-andai kami bersama lagi. Bahkan seandainya waktu bisa berulang pun, saya akan mengambil keputusan yang sama. Tapi, itu tidak mengubah kenyataan bahwa Mr Backpack pernah menjadi bagian penting dalam hidup saya, pernah saya cintai dan mencintai saya, pernah memberi saya begitu banyak kebahagiaan, dan selamanya akan seperti itu. Mr Backpack adalah sebagian dari diri saya yang tidak akan bisa saya mutilasi, suka atau tidak.

Jadi, saya pikir, sebenarnya saya sama saja dengan Miss Turquoise dan teman yang bertanya pada saya itu. Kami sama-sama belum (atau mungkin tidak akan) melupakan mantan pasangan, walaupun mungkin caranya berbeda. Saya, tentu saja juga sedih, kehilangan, bahkan sempat bertanya-tanya apakah saya sudah membuat keputusan yang benar. Tapi pada akhirnya saya merasa lega dengan apa yang telah saya lakukan. Saya telah menutup satu pintu dan membuka kesempatan bagi pintu lain untuk terbuka. Dan sekali lagi saya ingin bilang, bahwa sekalipun perasaan cinta (yang romantis) antara daya dan Mr Backpack mungkin sudah meredup saat kami berpisah, namun saya tetap luar biasa sedih dan luar biasa kehilangan setelah perpisahan itu. Siapa sih orang yang nggak sedih berpisah dengan pasangannya? Reaksi kita semua terhadap perpisahan itu sebenarnya sama kok. Tidak ada orang yang bisa benar-benar  menjadi 'orang dewasa berkepala dingin' (apa pun artinya itu) ketika berpisah dengan orang yang dicintainya. Sama seperti yang dikatakan Bob Dylan di lagunya, "you make love just like a woman, you ache just like a woman, but you break just like a little girl".

20 September 2011

kebebasan (menikmati) musik

gambar dari sini
 Saya seorang yang visual, menyukai segala sesuatu yang visual (foto, gambar, lukisan, bahkan saya lebih suka membaca komik atau buku dongeng anak yang banyak gambarnya daripada novel tebal), namun selain itu, saya juga (bahkan cenderung lebih) adalah seseorang yang sangat audio, atau katakan sajalah sangat musikal. Saya salah satu yang tergambar dalam survey tentang musik yang diadakan majalah Rolling Stones tahun lalu, bahwa jika saya diharuskan untuk membuang semua jenis hiburan yang bisa saya dapat kecuali satu, maka musiklah yang akan saya pilih untuk tidak dibuang. 
Sejak TK saya mendengar berbagai jenis musik dari bapak saya yang seniman (amatir) kerawitan namun juga menyukai lagu-lagu Iwan Fals, Rahmat Kartolo,  Ebiet, God Bless, Koes Plus, Michael Jackson, dan tentu saja Beatles :D dan ibu saya yang penggemar Iga Mawarni, Anggun, Dian Piscesa, Betharia Sonata, dan (pada dasarnya) semua penyanyi cewek era mudanya. Saya mendengarkan semua kaset  yang ada di rumah (termasuk lusinan kaset tembang jawa full orchestra gamelan milik bapak saya yang merupakan warisan dari kakek saya) dan menonton semua acara musik di TVRI (oh silakan mengejek). Saya juga senang memainkan alat musik (tapi tidak bisa menyanyi) yang dimulai dengan belajar memainkan saron dan gambang waktu kelas satu SD karena selalu diajak bapak saya ke tempatnya latihan gamelan, belajar harmonika dari almarhum om saya, bermain gitar (asal-asalan) milik sepupu, lalu ikut les ansambel dengan tekun selama dua tahun sewaktu SMP. Dalam kurun waktu dua tahun itu alat musik  yang berhasil saya kuasai (sekadarnya) adalah rekorder, tamborin, pianika, keyboard, dan berbagai jenis alat musik ritmis seperti marakas, triangel, dan entah apa lagi namanya (sejujurnya saya holaholo ala orang linglung kalau kebagian main alat musik ritmis waktu itu, habis cuma berapa kali beraksi sepanjang lagu). Jaman itu juga adalah masa-masa saya menikmati musik dengan tulus, saya mendengarkan semua band pop rock yang sedang ngetop waktu itu, lagu-lagu cinta klasik berbahasa Inggris, Britney Spears dan Mandy Moore dan Jessica Simpson, juga simfoni-simfoni Bach dan Beethoven. Saya yang waktu itu mendengarkan musik tanpa memisahkan genre (seperti yang saya lakukan sekarang) dan tanpa berkomentar musik ini keren musik itu sampah (yang sekarang sedang saya usahakan saya hentikan setelah saya lakukan bertahun-tahun). Waktu itu saya belum punya akses informasi yang luas dari majalah musik atau internet seperti sekarang, paling dari koran atau majalah langganan bapak ibu (saya menggunting semua artikel tentang musik dan membuat klipingnya, waktu kelas 3 SMP sudah ada sekitar 4 kliping dengan tebal masing-masing 5 cm) tapi seluruh opini saya tentang musik kesukaan saya waktu itu (Beatles, Gigi, Metallica, Koes Plus, Naif, The Corrs, di antaranya) adalah dari musik yang saya dengar, bukan opini orang yang saya baca (well, saya dan banyak orang sekarang rasanya sering sekali menghina Kangen Band and the gank lebih karena apa kata majalah Rolling Stones dibanding karena beneran nggak suka, akui sajalah -- eh dan jangan salah, saya bukan fans Kangen Band, ini contoh saja).

Saya merindukan masa-masa itu, di mana kebahagiaan mendengarkan dan memainkan musik masih belum tercampur gengsi bisa menonton gigs besar dan konser tunggal berharga sejuta rupiah, belum tercampur kebanggaan membeli CD musisi indie atau demi sekedar bisa nyambung ngobrol dengan sesama pecinta musik 'bermutu' lainnya. Saya rindu masa SMA di mana saya pelajar miskin yang setiap siang sebelum les selalu mampir ke tempat teman yang punya kaset satu rak penuh demi mendengar koleksinya yang mungkin cuma bisa saya beli sebiji tiap bulan (makasih ya Tia, selalu kangen masa-masa itu). Saya rindu masa saya memainkan semua lagu yang saya suka (termasuk jingle iklan dan soundtrack Putri Huan Zhu) dengan keyboard atau rekorder sampai tetangga sebelah rumah muak. Saya rindu masa-masa pertama kalinya saya jatuh cinta pada John Mayer atau Bob Dylan tanpa punya pengetahuan cukup tentang musik mereka.

Saat ini, jujur saja saya sering menilai orang dari selera musiknya (yah wajar aja sih, mungkin sebagian besar pecinta musik juga begitu) dan saya sedang berusaha keras menghilangkan kebiasaan ini. Terlepas dari saya benci media (TV) yang mengekspos musik yang itu lagi-itu lagi, saya sesungguhnya berpikir tidak ada jenis musik yang boleh dianggap 'hina', karena bukankah musik itu sesungguhnya media berekspresi? Well, mungkin ada juga sih yang bermusik untuk uang (dan saya rasa itu yang bikin musisi dan penikmat musik 'beneran' gerah). Tapi saya tidak setuju dengan pelecehan terhadap musik apa pun, sesungguhnya, apalagi jika itu bukan karena kita beneran nggak suka (mungkin banyak yang udah say no duluan sebelum mendengarkan Smash) tapi karena opini orang lain, biarpun orang lain itu adalah majalah musik atau orang-orang keren di sekitar kita.

Yah, bagi saya juga, ini mungkin saatnya bertanya kembali, kapan terakhir kalinya membeli CD musik karena suka, bukan karena pengen sok-sokan beli CD asli musisi indie (ini bukan kegiatan yang jelek, mulia bahkan, hanya saja pastikan kita beneran suka musiknya, bukan karena gengsi-gengsian aja). Kapan terakhir kali saya membeli tiket konser karena benar-benar suka, bukan cuma karena semua teman juga nonton dan takut dianggap nggak keren. Mengunduh mp3 ilegal mungkin kejahatan ya terhadap si musisi, tapi kalau membeli CD asli, nonton konser, apalagi pura-pura ngefans padahal cuma demi gengsi, ini sih namanya kejahatan terhadap diri sendiri. Itu namanya pembunuhan karakter sendiri, itu yang namanya palsu dan tidak jujur pada diri sendiri. Dan adakah kejahatan yang lebih besar dari itu?

13 September 2011

yakin dengan komentar anda?


Kemarin saya nggak enak badan, jadi saya tidak masuk kantor. Siang hari saat saya tidur-tiduran di bawah selimut (yang mana hari berhujan jadi terasa sangat nikmat) saya iseng-iseng berkirim pesan dengan Miss Sunshine, sahabat perempuan saya yang berdomisili di ibukota.
Blablabla dan blablabla, lalu dia mengirim : baca versi online koran X deh, sedih baca komentar-komentarnya.

Saya, karena penasaran, tapi sedang nggak bisa online karena laptop ditinggal di kantor, akhirnya ngesot ke kamar sebelah meminjam laptop dan modem demi membuka laman yang dimaksud. Dan di situlah saya baca sebuah berita tentang kegagalan tim eskpedisi Gunung Elbrus mapala kami mencapai puncak karena badai salju. Beritanya sih fakta ya, tapi lalu di bawahnya banyak sekali komentar pedas, mulai dari yang membodoh-bodohkan manajemen dan atlet, menyayangkan, mempertanyakan sumber dana, sampai menjelek-jelekkan mapala kami, melenceng dari isi berita. Miss Sunshine mencantumkan komentarnya juga, menyatakan kebanggaannya menjadi bagian dari manajemen ekspedisi dan terutama menjadi bagian dari mapala kami.

Waktu itu saya nggak seemosional Miss Sunshine sih, soalnya sejak beberapa waktu lalu Mr Defender memaksa saya menempelkan tulisan 'berpikir dengan pola pikir orang lain, melihat dari sudut pandang orang lain' di cermin. Jadi pas mau emosi otomatis ingat. Yah kan di mana-mana yang namanya berkomentar lebih mudah, lagipula yang namanya penonton kan maunya melihat hasil, mana mau mereka melihat proses di balik jungkir baliknya mapala kami mengumpulkan dana dan memberangkatkan atlet ke Rusia. Jadi ya sudahlah. Tapi kemudian, saya jadi merasa tertohok juga kalau ingat betapa mudahnya saya selama ini juga memberikan komentar di berita, thread, atau postingan di dunia maya.

Selama ini, alangkah mudahnya saya memberikan komentar, misalnya terhadap kebijakan pemerintah, berita kerusuhan, atau kejadian apa pun, dari sisi saya. Walaupun saya selalu mencantumkan identitas (tidak seperti mereka yang menjelekkan mapala kami dan tentunya memilih anonim) tapi kemarin setelah dipikir lagi, ternyata saya juga nggak jauh beda dengan mereka. Menghakimi hanya dengan sepotong berita yang bahkan tidak bisa saya yakini kebenarannya, apalagi repot-repot melihatnya dari sudut pandang orang yang diberitakan. Kadang lucu juga sih, kalau sadar bahwa kebebasan berpendapat justru membuat kita jadi orang yang kurang beradab dan tidak bertanggung jawab. Coba, sering kan ngomentarin RT-an dari tweet seleb atau politikus yang kita bahkan nggak tau apa yang terjadi. Asal nyela, asal ikut menghakimi, hanya karena banyak orang yang juga melakukannya. Coba kalau kita sendirian, jangankan menghujat, jangan-jangan kita malah ikut mendukung.

Yah, mau gimana pun juga yang kayak gitu udah jadi konsekuensi kebebasan berekspresi dan berpendapat sih. Nggak berharap juga orang bakalan lebih beradab dalam memanfaatkan informasi dari internet. Yang penting buat saya kejadian kemarin itu cukuplah menjadi sebuah tamparan dan balasan atas apa yang selama ini saya sering lakukan (walaupun nggak bisa jadi pembenaran ya buat mereka yang komentar anonim di artikel dimaksud). Semoga di kemudian hari saya bakalan ingat kejadian ini dan ingat betapa nggak enaknya menjadi pihak yang dihakimi, sebelum saya mengomentari orang lain, walaupun itu hanya di dunia maya.

kemarin saat ini esok selamanya*

Life'll only be crazy as it's always been
Wake up early, stay up late, having debts
Things won't be as easy as it often seems
And yet you want me
This cliché's killing me
Still I need more I need more
This I’ve never thought before

Chi trova un amico, trova un tesoro*
We can look for many other foreign lines to make me survive your love
You said "To the future we surrender.
Let's just celebrate today, tomorrow's too far away.
What keeps you waiting to love?
Isn't this what you've been dreaming of?"


Life's to live and love's to love

Sundays will be empty as it's always been
Watching TV, wake up late, playing dead
Mondays won't be easy with no plans and schemes
Now that you’re still here
The silence shouts it clear
You’re still here
The silence shouts it clear


To the future we surrender
Life's to live and love's to love
To the future we surrender
Life's to live and love's to love


To the future we surrender
Life's to live and love's to love
To the future we surrender
Life's to live and love's to love


*one who finds a friend finds a treasure (italian proverb)



You said "To the future we surrender. Let's just celebrate today, tomorrow's too far away. What keeps you waiting to love? Isn't this what you've been dreaming of?" Life's to live and love's to love.
(Float)


Senyum-senyum sendiri menemukan selembar foto dari masa tiga tahun yang lalu, saat kami masih sering nonton di bioskop 21 murah dan menghabiskan waktu menunggu dengan foto-foto di photobooth yang juga murah, di mana kita bisa mengedit background dan efek-efeknya sendiri (entahlah ini bentuk layanan atau justru kemalasan si empunya photobooth, hehehe). Dan kita menghabiskan puluhan menit mencoba semuanya di semua foto karena toh nggak ada lagi orang lain yang mengantri (siapa juga yang bakalan foto-foto di situ selain orang kurang kerjaan). Norak? Tahu kok.

Tapi, sekarang, tiga tahun setelahnya, segala hal norak terasa manis. Mengingatkan bahwa kita pernah sekanak-kanak itu, se-dimabuk asmara itu, mengingatkan betapa jauhnya kita sudah bersama di jalanan yang seringnya tak datar. Bahwa seperti yang dibilang di film Just Married, masa-masa yang sulit tidak pernah terekam di foto, namun masa-masa sulitlah yang mengantarkan kita dari foto bahagia satu ke foto norak yang lain. Mengingatkan bahwa di antara apa pun itu kesulitan, kita selalu bahagia. Bertahun-tahun ke belakang, hari ini, dan mudah-mudahan juga nanti.


*) dari lirik lagu Seumur Hidupku milik Boomerang


sepotong senja untuk pacarku*

senja di pelabuhan tanjung laut, april 2011
Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.
(Seno Gumira Ajidarma)

Saya adalah orang yang melankolis. Mungkin seluruh dunia sudah tahu. Walaupun dalam menyikapi berbagai hal saya selalu pragmatis, namun sebenarnya saya melihat seluruh kehidupan dari sisi emosional, bahkan spiritual. Mungkin saya punya bakat depresif. Mungkin saya ingin jadi penulis atau penyair, namun tidak punya bakat :D
Ada sesuatu antara saya dan senja, walaupun saya tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata seperti Seno Gumira Ajidarma. Saya selalu menyukai senja, dan membayangkannya sebagai momen di mana matahari memberikan kecupan terakhir untuk bumi, dan meninggalkannya dalam kelam yang panjang, sebelum bertemu lagi esok hari.

*) dari judul cerpen Seno Gumira Ajidarma

10 September 2011

Mendung Meracau


Hari ini adalah hari Sabtu yang biasa. Ada masalah remeh temeh: saya yang jadi susah masak di kosan karena kos 60 kamar (betul sekali, 60 kamar, nggak salah baca) ini penuh sehingga listrik sering turun dan mbak penjaga kos yang karena hamil jadi ngomel-ngomel kalau kami masak di dapur (tapi sebenarnya sih dia memang selalu ngomel walaupun nggak hamil), dan lagi-lagi, karena beralasan sedang hamil dia nggak mau lagi membersihkan kamar mandi dan membuang sampah ke TPA yang selama ini juga tugasnya, sehingga kosan kami sangat kotor, berantakan, jorok, dan nggak nyaman (karena nggak semua anak kos mau dan sadar untuk menjaga kebersihan, sebagian lagi sebagai aksi protes 'loh ini kan kerjaanmu mbak, buat apa kamu dibayar coba'). Dan saya jadi agak malas berada di kos (yang ngomong-ngomong, karena isinya 60 orang, jadi super berisik). Tapi selain masalah remeh temeh itu ada juga keceriaan-keceriaan kecil : cuaca mendung dan hawa sejuk sepanjang hari, setumpuk DVD yang saya jarah dari kamar Mr Defender untuk menemani saya 40 hari ke depan (karena lagi-lagi ditinggal tugas ke luar kota), teman-teman satu blok di kos yang sangat menyenangkan.

Sekarang ini, saya sedang menemani Mr Defender lembur agar semua tugasnya bisa selesai sebelum dia berangkat ke luar kota Senin ini. Saya tidak pernah suka pekerjaan Mr Defender (dan itu juga sebabnya saya berhenti) namun bagian yang paling tidak saya suka adalah karena sebagian besar waktunya (6-7 bulan dalam setahun) dihabiskan di luar kota (dan bukan untuk berlibur, cuma pindah tempat kerja). Saya sendiri tidak bisa membayangkan hidup seperti itu (terutama karena saya bukan makhluk soliter atau makhluk virtual. Saya butuh kehadiran teman-teman saya secara fisik, karena itu saya tidak suka pergi ke tempat terpencil dalam waktu lama kalau tujuannya untuk bekerja). Dan saya tidak terlalu suka terlalu sering ditinggalkan, sebab saya tahu saat Mr Defender pergi bertugas dia akan sangat sibuk sehingga saya jarang  dapat berkomunikasi dengannya lewat pesan singkat atau telepon. Tapi saya berusaha suportif, lagipula untuk saat ini pilihan yang tersisa buat kami tidak banyak. Berusaha bersabar sampai kami punya kemungkinan untuk mengubah hidup kami ke arah yang kami mau.

Jadi, Sabtu ini tetap Sabtu yang biasa, kami tidak bisa bersepeda atau jalan-jalan karena mendung menggantung tebal dan air hujan sudah mulai membasahi jendela. Saya, seperti biasa, memandangi rintiknya jatuh ke tanah dari balik kaca. Membayangkan hujan seperti lelaki pengembara yang selalu pulang pada bumi, perempuannya.

09 September 2011

Norwegian Wood


Sebelum memulai postingan ini saya akan membuat pengumuman: Norwegian Wood adalah salah satu buku yang paling saya suka. Saya sudah membacanya sekitar 40-50 kali dan masih tetap merasa tersihir setiap kali membacanya. Dalam satu kata, buku ini bagi saya adalah kepahitan, bitterness. Mungkin dalam kondisi tertentu, di suatu titik buku ini bisa menginspirasi seseorang untuk bunuh diri, atau minimal mengembara tanpa kabar. Kalau saya sih, membaca buku ini bisa membuat saya diam seharian, berpikir dan merenung seminggu berikutnya, dan membekas sampai sekitar dua minggu setelahnya. Demikian setiap saya membacanya, siklus itu selalu berulang. Mr Defender bilang membaca buku ini seperti menyiksa diri a.k.a self torturing buat saya, hahahaha. Saya setuju dengan komentar seseorang (lupa) di halaman belakang buku ini, yang kira-kira berbunyi: begitu halusnya Murakami menulis sehingga apa yang ditulisnya tanpa disadari menggerakkan sesuatu dalam diri pembacanya, sesuatu yang bahkan si pembaca sendiri tidak tahu apa.

Ah ya, tapi kali ini saya tidak akan menulis tentang buku ini, tetapi filmnya. Sejak melihat trailer film ini di HBO beberapa bulan yang lalu, saya langsung ingin menontonnya. Bukan saja karena trailernya bagus, tapi terutama saya memang ingin menyaksikan visualisasi buku ini. Saya menunggu-nunggu, membayangkan adegan Naoko dan Watanabe berjalan di padang, membayangkan Naoko dengan jas hujan kuning di hari bersalju, dan secara umum saya membayangkan Naoko. Wajahnya, bahasa tubuhnya, kecantikannya yang sempurna dan misterius.


Lalu ketika akhirnya saya menonton film ini, apa ya... latar belakang filmnya memang secantik yang saya bayangkan. Juga Naoko. Filmnya seperti diambil di negeri khayalan, begitu indah, saking indahnya terasa tidak nyata (apa ya kata pengganti bahasa Indonesia yang tepat untuk whimsical?). Tapi yang agak sayang sih karena sudut pandang 'aku' di buku ini hilang, jadi terasa ada yang mengganggu, sebab keseluruhan emosi yang timbul saat membaca buku ini dibangun dari keakuan Watanabe, keacuhtakacuhannya menghadapi segala hal, cara hidupnya yang mengalir, dan karakternya yang tak berkarakter namun justru itu menjadikannya menonjol. Dalam film ini, penonton yang belum membaca tidak akan tahu latar belakang perilaku seksual Watanabe, dan jadinya Watanabe malah terlihat seperti seks maniak (atau mungkin cuma perasaan saya). Film ini jadinya seperti cuma berkisah tentang Watanabe dan cinta segitiganya dengan Naoko dan Midori, padahal yang di buku, sebagian besarnya adalah tentang hidup dan kematian itu sendiri. Ikatan Watanabe dengan masa lalunya tidak terasa menonjol, dan hubungan Watanabe dan Midori di film ini sangat terasa seperti happy ending love story, padahal sebenarnya tidak tepat begitu. Tapi mungkin itu adalah interpretasi si pembuat film saat membaca buku ini, sedangkan saya memperoleh interpretasi yang berbeda saat membacanya. Bukankah justru itu menariknya sebuah karya?


Yang saya paling suka dari film ini justru penokohan Midori, yang paling mirip dengan karakter di buku, bahkan lebih berwarna. Juga gaya berpakaian Kiko Mizuhara yang memerankan Midori, saya suka sekali gaya vintage yang tidak suram, ceria, manis tapi juga lembut. Juga, tentu saja, lagu-lagu the Beatles yang menjadi nuansa film ini, seperti juga bukunya.