Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2009

Mandalawangi

Selalu ada secuil Gie setiap aku menapakmu, selalu aku ingin berpuisi: hari pun menjadi malam dan sesuatu tentang Jakarta yang tua dan terlena dalam mimpinya.
Lebih dari itu, selalu ada pahit manis yang bersamaan mendekapku, berebut ruang dalam memoriku. Dia. Dia. Dan dia. Dia yang tatapannya menguatkan. Dia yang senyumnya menenangkan. Dia yang menghanguskan semua bara.
Lalu aku akan kembali mengenang Gie, dan anjing-anjingnya yang nakal dan lucu. Sama sepertinya aku pun ingin menjadi tua bersama seseorang, berbicara tentang Tuhan dan kehidupan, tak satu setan pun tahu, katanya.
Aku tak tahu siapa yang harus kukenang saat meneguk susu coklat dan kerah kemeja siapakah itu, namun kau selalu ada, Pangrango. Bersama hamparan edelweis, di alun alun Suryakencana, ataukah Mandalawangi?
Aku tak bisa lagi mengandalkan memoriku, namun perasaan ini terlalu nyata untuk hanya jadi mimpi.

Cinta Itu...

Mencoba naik bis kota lagi setelah sekian lama. Naik dari ujung ke ujung, berhenti di Blok M lalu balik lagi. Keliling kota murah. Di Blok M berhenti beli minum dan gorengan buat dimakan di perjalanan pulang.
Sepanjang perjalanan Bintaro-Blok M lewat Ulujami, Ciledug, Kebayoran Lama, Mayestik, Bulugan, Barito, saya mendengarkan playlist dari hape. Persis kayak jaman awal kuliah dulu saya juga sering naik bis kota sampai mentok sambil dengerin mp3 player.
Cuaca lagi menyenangkan hari itu, mendung, gerimis, tapi nggak hujan deras. Jalanan juga nggak macet. Pokoknya memang pas banget buat keliling kota tanpa tujuan jelas.
Dari balik jendela kopaja saya melihat berbagai macam hal. Sepasang anak kuliahan di atas motor, dengan tas punggung dan buku-buku tebal di tangan si cewek, mengobrol sambil terkadang tertawa kecil. Seorang ibu dan anak berseragam SD berteduh di halte, si anak minum es cendol dari plastik. Sebuah movil VW tua dengan jendela mobil transparan sehingga saya bisa lihat isi…

Sikuai

Debur ombak.
Angin meliuk. Ombak menampar kaki telanjangmu. Hamparan pasir. Kerang kerang kecil. Desir kecil berbisik. Jantungnya di rahimmu.
Kecantikanmu sempurna, perempuan, sebagaimana laut, yang menampung seisi dunia di rahimnya. Cita dan petaka. Harap dan asa.
Berdeguplah denyut kecil di nadimu, di nadinya, di nadanya, di dalam darahnya.