22 February 2017

Catatan Ulang Tahun

Hey orang tua, jangan umbar kata. Ingatlah bahwa kau juga penuh muda, pernah lucu pernah lugu dan tak bijaksana.

Sebentar lagi, saya akan memasuki usia kepala tiga. Pergantian usia yang menjadi momen besar bagi sebagian orang, dan menjadi penanda bagi sebagian besar wanita untuk mulai membeli produk perawatan kulit dengan embel-embel 'anti-aging'. Di sisi lain, jelang usia tiga puluh bagi banyak orang diidentikkan dengan peralihan fase dari muda menjadi dewasa. Dewasa dalam hal bersikap, berperilaku, termasuk mungkin dewasa dalam penampilan dan dewasa dalam hal sudah mapan, entah dalam wujud pekerjaan, penghasilan, atau berkeluarga. Mungkin sebagian orang memasang target menikah di usia ini, atau membeli rumah, memiliki anak atau hal-hal besar lainnya.

Hey kau yang muda, jadilah berguna bagi dirimu dan sanak saudara. Sudahi saja pestamu dan luangkan waktu, melakukan sesuatu untuk masa depanmu.

Sepenggal lirik lagu dari salah satu band favorit saya, Silampukau, mengusik pikiran saya beberapa waktu yang lalu ketika saya menulis resolusi untuk tahun baru. Dari luar, saya tidak tampak sama sekali seperti party girl (dan memang bukan, sih), tapi percayalah, saya menjalani masa muda dengan bersenang-senang, cukup menantang, sedikit nakal dan bahkan beberapa di antaranya melanggar hukum walau tak jadi catatan kriminal. Tentu saja saya sudah meninggalkan sebagian besar 'pesta' masa muda saya. Namun, sudahkah saya meluangkan, benar-benar menyediakan waktu untuk melakukan sesuatu demi masa depan saya? Atau lebih jauhnya, menjadi berguna bagi diri sendiri dan sanak saudara? Mungkin belum.

09 February 2017

Sumarah

Tahun ini berawal dengan cukup berat bagi orang-orang di sekeliling saya: seorang anggota keluarga inti sakit, seorang kolega yang cukup dekat dengan kami kehilangan posisi penting di tempat kerjanya, dan beberapa kawan lama mengalami masa-masa yang sulit. Bukan cara paling menyenangkan untuk mengawali tahun baru, tentunya. Belum lagi cuaca yang tidak menentu, pemadaman listrik yang rasanya kok makin sering saja di pulau kecil kami, dan kenyataan bahwa hujan tidak turun di salah satu hari favorit saya dalam setahun: tahun baru imlek. 

Sangat mudah untuk pupus harapan bahkan sebelum bulan Februari dimulai. Namun, minggu lalu kami mengalami satu kejadian yang lucu-lucu menyebalkan. Sepatu anak laki-laki saya, si Racun Api, tertukar di sekolah. Sepatu ini sepatu biasa sebenarnya, namun sedang hits di kalangan anak seumurannya. Sekolah anak-anak saya, Mbak Rocker dan si Racun Api, memang mewajibkan anak-anak melepas alas kaki sebelum memasuki sekolah. Ini bukan pertama kalinya si Racun Api tertukar sepatunya. Seperti yang saya bilang tadi, sepatu itu sedang hits banget, jadi banyak anak yang mempunyai sepatu yang sama. Sebelumnya, pernah ketika pulang sekolah dia mengeluh kakinya sakit, dan ketika saya periksa, rupanya dia mengambil sepatu yang bukan miliknya. Sepatu itu sama warna dan modelnya, tapi ukurannya lebih kecil. Sorenya saya woro-woro di grup whatssap wali murid bahwa sepatu si Racun Api tertukar, dan besok siangnya ada ibu-ibu yang menukarkan sepatu yang seharusnya dipakai anak saya. Pernah lagi, si Racun Api yang memang dasarnya sender lewer alias suka sembarangan terhadap barang-barangnya itu membawa pulang sepatu yang sama model warna dan ukurannya, hanya saja..ehm...lebih lawas. Tentu saja sebagai emak irit yang tak mau rugi saya kembali woro-woro di grup dan besoknya sepatu anak saya kembali.

16 January 2017

Selamat Tahun Baru

Di akhir tahun lalu, saya sempat berpindah tempat menulis. Bukan hanya berpindah tempat, sebenarnya, tetapi secara keseluruhan saya mengubah apa yang saya tulis, karena... yah karena. Just because. Sebelumnya saya merasa bahwa tulisan di blog ini kurang positif, dan saya ingin menjadi orang yang lebih positif, lebih ceria, menuliskan hal yang lebih bermanfaat apalagi karena sekarang saya telah menjadi istri dan ibu. Jadi menulislah saya tentang berbagai hal itu: tentang bagaimana menjadi seorang ibu.

Lalu saya menyadari bahwa blog baru saya tidak mencerminkan diri saya. Saya merasa menulis apa yang tidak saya minati. Tentu apa yang saya tulis itu nyata dan tidak palsu: saya menulis tentang traveling, tentang tips-tips memerah ASI dan hal kekinian lain berdasarkan apa yang saya alami, namun tetap saja itu bukan diri saya. Diri saya, tidak akan menulis hal-hal seperti itu, karena... yah karena. Dan lagipula, bukankah sudah banyak tulisan bermanfaat seperti itu, tidak ada orang lain yang membutuhkannya dari saya, kok.

Dan saya sadar: kemarin itu saya menulis untuk orang lain. Saya tidak seharusnya begitu. Seharusnya saya menulis apa pun yang saya inginkan, menulis apa yang menggerakkan saya, menulis apa yang bermakna untuk saya. Walaupun isinya cuma kegalauan, hahaha, setidaknya itu kegalauan yang jujur, bukan hal-hal yang saya kira berguna dan akan disukai orang namun sebenarnya kosong. Untuk apa menulis jika kita tidak menikmatinya.

Jadi, saya akan kembali menulis di sini dan menulis hal-hal yang saya sukai.

Selamat menyongsong matahari 2017, teman-teman.