Skip to main content

Posts

Kacang Polong dan Caca Boudin

Sebagai seseorang yang menjalani masa remaja dan dewasa muda bersama orang-orang 'jalanan', misuh atau mengucapkan makian menjadi hal yang biasa buat saya. Biasa bukan dalam artian saya biasa misuh-misuh setiap hari, tapi lebih ke saya paham bahwa kadang pisuhan atau kata umpatan itu tidak bermakna apa-apa. Tidak bermaksud buruk, kadang hanya sebagai ungkapan ekspresi (seperti jancok-nya Sujiwo Tedjo) dan bahkan kadang dalam konteks pujian (misalkan dalam "Jancok ayu tenan arek iku"). Intinya, saya sangat menolerir kata umpatan sepanjang bukan yang kasar dan merendahkan, misalkan anjing. Walaupun saya sangat menyukai anjing, tetapi saya mengerti bahwa bagi sebagian orang dikatai anjing terasa merendahkan. Kalau saya pribadi sih, lebih tersinggung kalau dipanggil maling, hehehe.

Setelah saya menjadi orang tua, bisa dibilang saya tidak terlalu menyaring 'keanekaragaman bahasa' yang diperoleh anak-anak dari pergaulan dengan anak-anak tetangga maupun teman-teman…
Recent posts

Everybody's Changing

Pernah nggak sih, ketemuan sama teman lama secara tak sengaja, lalu dapat komentar, "Kamu berubah, ya." Pernah? Saya sering.
Terus, pernah nggak setelah diklaim berubah oleh si teman lama itu, hubungan kalian berubah renggang? Saya juga pernah.
Apakah saya sebagai pihak yang diklaim berubah itu memang merasa berubah? Ya iyalah, bray, namanya juga hidup. Memangnya ada orang yang bertahun-tahun nggak berubah selain keluarga The Cullens dan Syahrul Gunawan? Sejujurnya, ada kali ya. Tapi kodrat manusia itu kan memang berubah ya, seiring perputaran bumi dan planet-planet. Ya nambah umur, nambah ijazah, nambah anak, rumah, mobil, pokoknya berubah lah.
Buat sebagian orang termasuk saya, perubahan yang dialami bukan cuma perubahan superficial yang tampak di luar, tapi mungkin isi jeroan saya banyak berubah, termasuk cara pandang saya terhadap hidup, yang mungkin membuat perubahan saya langsung terasa sehingga langsung menuai klaim: KAMU BERUBAH!
Tapi coba deh, ya, pikir lagi, apa s…

Merantau

Sudah lebih dari sepuluh tahun saya hidup di rantau, dalam artian jauh dari orang tua dan keluarga. Selama sepuluh tahun itu saya berubah-ubah aktivitas dan pekerjaan: mahasiswa, karyawan, lalu mahasiswa lagi dan karyawan lagi. Selama itu juga status dan predikat saya berubah-ubah: dari single and available, in a relationship, single lagi, it's complicated (serasa status facebook ya, hahaha) sampai pada in a relationship with 50% chance of marriage, kemudian engaged, married, married with a kid, married with two kids...  Bahkan saya juga berpindah kota, negara, dan pulau selama sepuluh tahun ini.

Semua perjalanan dan tahapan kehidupan itu saya lalui dalam keadaan jauh dari keluarga inti. Bahkan saya melahirkan kedua anak saya tanpa didampingi ibu saya, yang dulu saya kira pasti akan ada menemani di sisi ranjang di ruang bersalin, sebab siapa lagi yang akan menenangkan saya?

Tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelum merantau, saya akan menjadi sangat detached dari keluarga inti s…

Mata yang Enak Dipandang

Saya punya beberapa teman perempuan yang mempunyai kualitas yang menurut saya langka: mata yang enak dipandang. Bukan mata yang indah secara fisik, atau mata yang dibalut make up mata yang sempurna dan alis yang paripurna, tetapi yang punya kemampuan ajaib meneduhkan hati mereka yang menatapnya. Bukan hipnotis lho ya, cuma menyejukkan, begitu.
Saya paling sering mendatangi teman-teman dengan mata yang enak dipandang ini setiap saya sedang  ada masalah, rindu rumah, penat, atau cuma resah yang nggak jelas juga sebabnya apa. Pokoknya sewaktu perasaan saya nggak enak. Biasanya secara otomatis saya terpikirkan si teman ini, lalu saya mendatangi mereka, dan mereka hampir selalu available serta menerima saya dengan tangan terbuka. Kadang saya menceritakan masalah saya pada mereka, dan mereka mendengarkan dengan penuh perhatian, menggenggam tangan saya, menemani saya ngobrol dengan secangkir teh hangat dan cemilan. Kadang mereka memberikan nasihat, kadang juga tidak, namun mereka mendengark…

Jajan

Cus Demimoore (yang saya sebut demikian karena model rambutnya yang ala Demi di film Ghost), sering mengkritik saya tentang kebiasaan jajan Mbak Rocker dan si Racun Api. Banyak dan ada-ada saja lah protes Cus Demimoore ini soal jajannya anak-anak: yang kebanyakan lah, yang nggak sehat lah, yang nggak dimakan lah... Eman Bu, eman... kata Cus selalu yang cuma saya balas dengan tertawa.
Sebenarnya, bukan cuma Cus Demimoore yang hobi berkomentar tentang jajan ini. Kayaknya, banyak deh teman yang sering syok melihat si Racun Api makan oreo sambil minum es puter (terutama yang anaknya hanya ngemil granola bar dan salad zukini). Ada juga yang syok melihat Mbak Rocker sudah pintar memanggil tukang cilok, tukang bakso, tukang es, sementara dia baru berniat mengenalkan wacana jajan pada anaknya di usia SD. Belum lagi kebiasaan saya memberikan uang jajan kepada anak-anak sepulang sekolah setelah saya mengantar mereka pulang dan berpamitan kepada mereka untuk kembali ke kantor.

"Anak sekeci…